Married With Teacher

Married With Teacher
Abisnya Kamu Cantik Sih


Pada dasarnya sebuah cinta memang akan lekat dengan sebuah kata maaf. Begitu juga dengan Ghea. setelah Alvin tadi mengajaknya berbicara baik-baik, Ghea terus saja berdiam diri. Berpikir keras mencerna apa yang dibicarakan Alvin siang tadi. Duduk di salah satu meja cafe yang direkomendasikan oleh Pak Gery, yang juga dirinya ada disana.


Ya, beberapa saat yang lalu setelah bel pulang sekolah berbunyi, Ghea mendapat pesan dari suaminya itu. Awalnya Ghea membalas tidak karena ia masih ingin mengerjai suaminya itu. Namun, saat Pak Gery ingin membicarakan sesuatu hal yang penting, akhirnya mau tak mau Ghea juga mengalah. Penasaran kan hal penting apakah itu?


“Ghe …, hey, Ghea.”


Ghea tidak menggubris. Dan malah terlihat melamun saja sedari tadi. Lalu baru tersadar saat tangan besar menyentuh tangan yang sedang terkepal di atas meja.


“Sayang?”


Uh manis sekali Pak Gery memanggil.


“Kok malah diam aja, sih, dari tadi?”


Ghe tersentak. Kaget. Lalu mengerjap kaku ke arahnya. “Ya. Kenapa, Mas?”


“Kenapa lagi? Hem? Masih marah? Kan semalam aku udah jelasin semuanya.”


“Fara? Kamu kenal cewek yang namanya Fara, kan?”


Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Ghea justru menanyakan hal lain.


Seraya melepaskan sentuhan pada tangan Ghea, Pak Gery terkejut tentu saja. “Kamu tau Fara darimana?”


“Iiihhh …, Mas jawab aja, sih! Kenal kan kamu?”


“Iya. Tapi kamu tahu dari mana soal Fara? Kamu jangan salah paham lagi sama aku. Fara itu bukan cewek aku. Dia--”


“--iya aku tahu. Aku cuma nanya doang,” decaknya santai lalu menyedot jus yang sudah dipesan Pak Gery. “Takut banget emangnya, ya?" tanya Ghea menjauhkan sedotan dari bibirnya seraya menaikan kedua alisnya.


Maksudnya Pak Gery takut jika Ghea salah paham dan marah lagi padanya. Susah payah semalam Pak Gery menjelaskan semuanya dan membuat keadaannya sekarang kembali pada hal yang diharapkan. Yaitu baik-baik saja dengan Ghea.


Pak Gery mendesah. Lalu menghela. “Iya. Takut. Sekarang aku kan tahu kalau kamu marah nyeremin.” Kemudian terkekeh.


“Ih apaan, sih, Mas? Kamu tuh yang kalau ngejar-ngejar nyeremin.”


“Kaya apa?” tanyanya pada Ghea bersama tarikan di kedua sudut bibirnya.


“Kaya yang butuh pelepasan aja tau gak, sih.” Ghea terkekeh. Kemudian kembali meraih sedotan di dalam gelasnya, menyedot jusnya lagi.


Pak Gery menatap Ghea sebelum ia menyesap kopinya. Melihat senyum yang tersungging di wajah itu. “Aku harap kamu akan selalu tersenyum seperti ini ya, Ghe! Jangan nangis apalagi karena aku! Karena aku benar-benar gak sanggup melihatnya. Hem!” Kemudian di raihlah tangan yang tersimpan di atas meja tersebut sebelum Pak Gery mengecup punggungnya.


Sumpah Ghea malu banget. Ini adalah hal pertama yang Pak Gery lakukan padanya di tempat umum seperti ini. Seperti yang kalian tahu jika suami dari Ghea ini sangatlah tidak romantis. Tak terkecuali jika sedang di atas ranjang. Bukan romantis lagi. Tetapi panas.


Ck menyebalkan.


“Apaan, sih, Mas? Kamu salah minum obat atau apa? Kok jadi aneh kaya gini, sih?” Tentu saja Ghea akan bertanya demikian. Memangnya apa lagi?


Pak Gery terkekeh samar. “Iya. Aku salah minum obat.” Mengerti tentu saja apa yang dimaksud istri kecilnya itu. “Karena obat yang aku minum gak mempan buat nyembuhin pusing aku.”


Ghea mengernyitkan dahi seraya mencondongkan tubuhnya sedikit pada Pak Gery. Melipat kedua tangannya di atas meja setelah menggeserkan gelas yang masih berisikan jus. “Kamu serius? Pusing?” tanya Ghea bersama dengan wajahnya yang serius.


Pak Gery mengangguk meyakinkan. “Pusing karena kamu terus berputar-putar di kepala aku.”


Ghea kembali menegakkan tulang punggungnya. Bersandar pada sandaran kursi. Ia pikir Pak Gery seriusan. “Ck, receh banget. Sumpah.” Melengkungkan bibirnya ke bawah seraya melipat kedua tangannya di atas perut. Namun diam-diam dalam hatinya Ghea berbunga-bunga. Cewek itu menjadi kikuk sendiri saat melihat Pak Gery yang hanya diam menatap wajahnya.


“Iiihhh … Mas, kamu apaan sih?” Sumpah demi langit dan bumi Ghea salah tingkah sendiri. Menjauhkan kedua tangannya dari atas perut, pun Ghea malah mengambil kentang goreng yang ada di atas piring sebelum ia melemparkan cemilan itu pada cowok di depannya yang masih anteng menatap wajahnya.


“Apa?” Pak Gery terkekeh. Ia tidak menghindar saat kentang goreng itu mengenai dadanya dan sebelum terjatuh ke pangkuannya Pak Gery mengambil cemilan itu kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


“Kamu ngapain lihatin akunya kek gitu banget?” Wajah Ghea memberengut pura-pura ngambek.


“Abisnya kamu cantik, sih.”


Ghea melipat kedua bibirnya. Menahan senyum yang ingin ia tunjukan pada dunia saat ini karena tidak ingin Pak Gery melihatnya.


“Kalau mau senyum …, senyum aja. Jangan ditahan kaya gitu!”


“Heuh?” gumam Ghea bersama wajah cengonya. Pura-pura biasa aja lebih baik. Namun Ghea tidak bisa tentu saja. Ini adalah hal langka untuknya, so, lebih baik dinikmati bukan?


“Ihhh … Mas, apaan sih kamu? Jangan lihatin aku kaya gitu!” pintanya lagi malu-malu. Padahal mah seneng diliatin oleh Pak Gery kaya gitu.


Pak Gery lagi-lagi terkekeh. Merasa lucu sendiri dengan senyum Ghea yang malu-malu dan merasa geli pada dirinya yang bisa menggombal seperti tadi. Walau receh juga, kan itu bukan dirinya banget. Pak Gery kan sukanya dengan tindakan aja bukan dengan gombalan kaya tadi. Tapi jujur aja, itu bukan sebuah gombalan melainkan dari lubuk hatinya yang terdalam. Namun, seperti biasa, gengsinya amat tinggi bagaikan gunung himalaya. Ck.


“Mau ikut gak?” Lalu bertanya di sela-sela senyumannya. Duh kok mereka berdua ini kaya pasangan yang lagi kasmaran aja sih?. Ck ck ck.


Merasa suaranya yang masih tercekat Ghea kembali meraih gelas lalu menyedot jusnya lagi. “Kemana?” tanyanya pelan sesaat setelah melepas sedotan dari mulutnya.


Ok. Mungkin lebih baik untuk saat ini keduanya melupakan dulu tentang masalahnya dengan si Dita itu. Biarkan detik-detik yang berjalan menggantikan detik-detik yang telah hilang.


“Ke suatu tempat. Nanti di sana aku bakal cerita ke kamu.”


Seraya mengernyitkan dahinya Ghea bertanya, “cerita apa?”


“Kamu mau tahu siapa Fara kan?”


“Aku udah tahu kok, Mas.” Karena Alvin yang menceritakan semuanya.


“Ya biar lebih jelas dan gak ada salah paham lagi kan kalau kamu dengar dari mulut aku langsung.” Iya, sih. Ghea juga gak mau kalau pernikahannya dihidupi dengan sebuah masalah. Ghea ingin hidup tenang bersamanya. Udah itu aja mau Ghea mah.


“Aku gak mau ada salah paham lagi di antara kita. Apalagi salah paham orang ketiga.” Lalu Pak Gery berdiri dari duduknya. Merapikan kaos yang bawahnya terlipat. Lalu mengulurkan tangannya. “Kunci mobil kamu. Biar aku yang jadi supir kamu.” Pak Gery terkekeh.


Mendengar itu Ghea menggigit bibir. Jadi inget karena pagi tadi ia bilang gitu sama Pak Gery. Duh Pak Gery sengaja banget sih. Buat Ghea malu aja.


“Mas, ih, kamu sengaja banget atau gimana, sih?” Namun juga menyerahkan kunci mobilnya pada tangan Pak Gery yang terulur.


Pak Gery lagi-lagi terkekeh. Apa sih yang bisa dilakuin Pak Gery saat ini selain hanya kekehan yang keluar dari mulutnya seakan itu adalah jawaban. Karena gak mungkin juga kan Pak Gery cium Ghea di depan umum? Yang Sebenarnya itu yang sedari tadi ingin dilakukannya. Tapi tahan dulu lah, masa iya?


“Eh tapi motor kamu?” Karena tadi Pak Gery membawa kendara beroda dua itu.


“Biar nanti diurus Adi.” Dan ditarik lah tangan Ghea hingga tubuhnya ikut berdiri. Mengikuti langkah Pak Gery seakan cowok itu sedang dikejar-kejar sesuatu.


Sesuatu yang sudah dari tadi dia tahan.


“Eh tapi itu gak nyusahin Mas Adi, Mas?” tanya Ghea seraya berjalan di sampingnya.


Pak Gery merogoh handphone yang ada di saku celananya lalu mengetikan sesuatu di sana. Sepertinya cowok itu sedang mengirim pesan pada Adi. “Udah biasa di repotin gitu Adi mah.” Lalu menoleh. “Tenang aja. Gak usah gak enakan gitu sama dia!” Seolah tahu apa yang Ghea pikirkan. Setelah selesai mengirim pesan pada Adi, ia kembali memasukan handphonenya ke dalam saku sebelum ia membuka pintu mobil penumpang untuk sang istri.


“Makasih,” sahut Ghea. Memasang seatbelt pada dadanya.


Pak Gery sedikit mengitari depan mobil kemudian membuka pintu kemudi. Dan terdengarlah hentakan saat pintu itu ditutup. Pak Gery diam sebentar. Ia tidak langsung menyalakan mesin mobil, membuat Ghea mengerutkan dahinya. Menoleh. “Kok gak jalan?”


Pak Gery masih diam. Ia tidak menjawab. Malah memiringkan duduknya menghadap Ghea.


TBC


Hayooo Pak Gery mau ngajakin Ghea kemana coba?


betewe bahasanya kaya monoton banget ya. hihiii maaf ya guys. Yang penting update kan biar kurang greget juga. Maklumin aja atuh ya aku kan bukan penulis hebat. hihiii


Kasih tahu dong bagian adegan mana yang buat kalian baper!! Bagi cerita aja gak papa yekannnn


Seizy


Si penulis amatiran yang lagi kecanduan baca novel sad. Makanya updatenya telat. Hihiii