Married With Teacher

Married With Teacher
Ghea Tak Tau Harus Apa


Ini warning. Jadi LIke sama Komennya harus banyak. Dibawah umur mending menyingkir dulu. Takut gak bisa nahan. Takut dosa juga.


**


Entah bagaimana awalnya, kini Ghea berada dalam kungkungan Pak Gery. Ia merasa sesak nafas saat wajah Pak Gery begitu dekat dengannya. Pun dengan jantungnya yang berdentum kencang seperti genderang yang akan perang. “Pak …, Bapak mau anu-anuin saya? Beneran, Pak?” Pertanyaan macam apa yang Ghea tanyakan pada suaminya itu?


Ah suami?


Oh ya ampun, rasanya Ghea masih tidak percaya dengan apa yang beberapa jam terjadi padanya dan Pak Gery. Ia merasa ini seperti mimpi yang memang sulit sekali Ghea yakini.


Menjadi pacar Pak Gery memang adalah harapan Ghea. Tapi saat ia menjadi tunangan bahkan sekarang menjadi istri darinya adalah hal yang mustahil bagi Ghea. Ah, sulit sekali untuk Ghea mendeskripsikan semua rasanya saat ini.


“Sekarang saya adalah suami kamu. Jadi saya berhak untuk meminta hak saya sebagai seorang suami sama kamu.” Pak Gery menjawab dengan santai. Bahkan sangat santai sekali. seolah ia merasa tidak berdosa.


Pak Gery semakin mendekatkan wajahnya, sampai ujung hidung keduanya itu saling bersentuhan. Ghea semakin sesak nafas. Dadanya kembang kempis bersama debaran yang semakin menggila. Jika saja Ghea bisa kabur. Ia akan memilih kabur saja, dari pada harus merelakan keperawanannya malam ini pada Pak Gery. Walau tak bisa dipungkiri juga jika dia adalah suaminya dan berhak atas segalanya dari Ghea. Termasuk haknya sebagai suami yang menginginkan sebuah penyatuan.


Tapi bukan itu maksud Ghea. Ia kan masih belum tahu betul perasaan Pak Gery bagaimana padanya? Jangan sampai Pak Gery hanya menginginkan tubuh Ghea saja tanpa adanya perasaan di dalam hati Pak Gery.


“Tapi saya masih sekolah, Pak. Kalau nanti saya hamil gimana?” elak Ghea mencoba menolak dengan cara halus. Sehalus mungkin.


Pak gery sedikit menjauhkan wajahnya sebelum ia menatap mata Ghea dalam-dalam. Pak Gery berpikir, dalam hati bergumam. Benar juga apa yang Ghea bilang. Ia masih sekolah, kalau nanti Ghea hamil bagaimana? Ghea maupun Pak Gery tidak pakai pengaman.


Sedetik kemudian Pak Gery seperti mendapat lampu yang menyala di atas kepalanya. Lalu ia berujar, “besok kita bisa ke rumah sakit untuk konsultasi mencegah kehamilan pada dokter.”


“Tapi, aku belum siap. Benar, deh. Besok aja, deh, ya?”


Gak bisa!


Walau Ghea belum siap, Pak Gery yang gak bisa menahannya lagi. Apalagi saat tak sengaja matanya menunduk dan melihat belahan dada Ghea di balik bathrobe yang sedikit terbuka. Juga tali bra berwarna putih tulang yang terpampang melekat pada bahu Ghea. Pak Gery gak bisa menahannya lagi. Kemudian yang dia lakukan sekarang adalah membuka tali simpul bathrobe dengan gerakan pelan.


“Ih, Pak Gery mau apa?” tanya Ghea saat merasakan gerakan tangan Pak Gery.


“Mau buka talinya. Kenapa?” Jawab Pak Gery tanpa berpaling dari Ghea. Dan tangan yang tak menyingkir dari tali bathrobe itu walau ditahan oleh tangan Ghea.


“Ih jangan!”


“Kenapa?”


“Kalau dibuka, nanti aku telanjang, Pak. Malu, ih.”


Astaga …


Bukannya itu memang tujuan Pak Gery?


Menelanjangi Ghea.


Gemas sekali Pak Gery ini pada Ghea.


Dipikir Pak Gery, kenapa juga ia bisa menikahi cewek macam remaja polos ini. Oh ya ampun.


“Hah … kok Pak Gery jadi mesum gini, sih?” Ghea menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Merapatkan bathrobe yang masih melekat itu. Matanya melotot. Malu.


Tanpa Ghea sadari, tangan Pak Gery di samping tubuhnya itu sedang sibuk membuka tali bathrobe. Pak Gery menarik sudut bibirnya. Ia ingin tertawa. Namun ia tahan. Lalu bersama tali yang terbuka, Pak Gery dengan gerakan cepat melabuhkan bibirnya pada bibir Ghea. Ia menahan, menekan itu.


Refleks Ghea membulatkan matanya dengan sempurna. ia ingin berontak, tapi tak bisa karena sekarang kedua tangannya yang menyilang itu ditekan oleh dada bidang Pak Gery.


“Eeeuummhhhh …” Ghea ingin menjerit. Namun tertahan, karena bibir Pak Gery semakin menekannya. Dan bahkan dalam satu detik kemudian bibir merah, tebal dan seksi itu sudah meluumat bibir bawah Ghea sebelum ia melumaat bibir atasnya silih berganti.


Ghea mulai tenang. Ia pasrah dalam pergerakan bibir dan tangan Pak Gery yang mulai merambat. Membuka bathrobe Ghea setelah tangan Ghea dilepaskan dari tekanan dadanya.


Tanpa melepas tautan bibir itu, Pak Gery membuka bathrobe Ghea. Meloloskan itu melewati tangan.


Ghea pasrah. Ia benar-benar pasrah. Walau tak dapat dipungkiri jika Ghea menikmati setiap sentuhan Pak Gery yang mendamba tubuhnya.


Pak Gery melepas tautan bibirnya saat tubuh Ghea sudah tanpa penghalang. Perutnya terekspos jelas. Dan hanya bagian dadanya saja yang masih terhalang oleh kain berenda.


“Pak Gery ngapain lihatin aku kaya gitu?” Malu. Ghea memalingkan wajahnya saat Pak Gery memandangnya dari atas tubuhnya. Ia sedikit memberi jarak antara tubuhnya dan tubuh Ghea.


“Kamu cantik. Gak usah malu! Sama suami sendiri ini kan?”


Ghea mendengus pasrah. Lalu menggigit bibirnya yang sedikit membengkak akibat tautan tadi yang menurutnya sangat panas.


“Tapi--”


Pak Gery tidak ingin Ghea bersuara lagi. Jadi yang dia lakukan adalah kembali membungkam bibirnya sembari tangan kekar itu menelusup masuk ke belakang punggung Ghea, Membuka pengait bra lalu melepaskannya dari tubuh Ghea. Pak Gery melempar kain itu ke sembarang arah dengan asal.


Kini tubuh Ghea sudah benar-benar polos tanpa sehelai benang yang menutupinya.


Ghea mengeluarkan suara seksinya saat bibir Pak Gery turun pada leher putih nan mulus Ghea. Menyecap di bagian sana lalu menghisap. Menggigitnya kecil sebelum ia berikan tanda merah di sana.


Ghea melenguh. ia merasa geli. Bahunya bergerak bersama deru nafasnya yang berembus berantakan. Lalu kedua tangan Ghea bergerak menyentuh bahu Pak Gery sebelum ia kalungkan pada leher Pak Gery dengan sempurna.


Puas dengan itu semua. Pak Gery menghentikan aksi bibirnya. Lalu kembali menjauh dari tubuh polos Ghea. Ia setengah berdiri. Hanya kedua lutut sebagai penyanggah. Pak gery menuntun tangan Ghea pada tali bathrobe yang masih belum terbuka. Secara tidak langsung Pak Gery menyuruh Ghea untuk membuka tali itu.


Bagai terhipnotis, Ghea membuka simpulan bathrobe Pak Gery. Sedetik kemudian bathrobe yang melekat pada tubuh Pak Gery itu terlepas. Pak Gery membuangnya dengan asal


Ghea menggigit bibir bawahnya saat melihat tubuh polos di depannya itu. Perut sixpack dengan enam otot yang menonjol sempurna. Bahu yang kekar dan dada yang bidang. Putih, mulus sudah tentu. Pak Gery benar-benar seksi. Jujur, Ghea mengagumi tubuh seksi itu. Dan entah mengapa Ghea jadi tidak rela membagi ketampanan wajah suaminya pada orang lain. Jika saja bisa, Ghea lebih baik mengurung Pak Gery di dalam sangkar saja agar tidak ada mata perempuan lain yang melihatnya. Ghea gak rela membagi itu.


Ah, kenapa Ghea jadi posesif seperti ini. Beberapa menit sebelumnya ia menolak dan sekarang malah mendamba.


Dasa Ghea.


TBC


btw bab ini aku revisi lagi. Wkwk beruntung yang udah baca lebih dulu karena buat panas banget. ahahahahhh enjoy guys