
Sudah lebih dari lima belas menit Gery duduk di sofa lobi. Membujuk. Menenangkan Ghea. Ia sendiri lupa jika Adi sudah menunggunya lama di mobil. Mengirim pesan namun diabaikan cowok itu. Tidak mungkin Gery meninggalkan Ghea dengan keadaannya yang sedang tidak dapat dipahami.
“Sayang …,” Sudah yang kelima kalinya pula Gery memanggilnya dengan rendah. Namun, Ghea tetap bergeming. Mencebikkan bibir bersama ekspresi wajah yang sama sekali tidak bersahabat. Terkadang menunduk. Terkadang pula menoleh, mendelik pada cowok yang duduk menyamping di sampingnya. Menyandarkan bahu pada sandaran sofa.
“Apa?” Kedua mata itu mendelik, membuat Gery mendesah. Meraup wajah lalu tangan kanan bergerak, menyentuh Ghea. “Aku ada pertemuan dengan klien—“
“Ya, udah. Sana aja pergi! Gak usah urus aku!” Ghea menyentak tangan besar itu. Menggerakkan tubuhnya, semakin memberikan jarak antara dirinya dan Gery.
Ditariknya nafas Gery untuk kemudian ia keluarkan lewat mulut. Dengan kasar. “Oke. Sekarang maunya kamu gimana?” tanyanya Gery. Berusaha meredam amarah yang sesungguhnya sudah ingin sekali ia semburkan.
Wajah Ghea menoleh. “Kamu marahin aku?”
Aduh, salah lagi dia.
“Nggak, sayang!" katanya pelan.
“Iya, kamu marah sama aku, Mas.”
“Oke-oke. Aku minta maaf,” ujar Gery. Mengalah pada sang istri tidak akan membuatnya mati berdiri, bukan? Justru jika Gery tidak mengalah. Kematian mungkin akan semakin mendekat.
Dengan Ghea yang akan menyuruhnya tidur di luar. Hal yang sangat buruk dan tentu sangat menakutkan untuk cowok itu. Mana bisa coba, Gery tidur tanpa mendekap tubuh yang membuat dirinya tenang hanya sekedar membaui aromanya saja.
Mendengar permintaan maaf darinya, bukannya senang. Justru Ghea semakin mendelik. “Gak mau!” tubuhnya bangkit. Ghea berdiri dengan hentakan, yang justru membuat tumit kakinya oleng. Untuk kemudian dengan kedua tangan sigap dan tubuh yang sudah berdiri Gery menahan pinggang Ghea. “Pelan-pelan!” katanya mengingatkan.
Gery lalu menarik pinggang yang mulai melebar itu. Tanpa ba bi bu Gery menyelipkan tangan yang lain ke balik lutut. Membawa Ghea untuk ke ruangannya dalam gendongan. Berjalan bak seorang pangeran yang menggendong sang permaisuri dalam setiap pasang mata yang mengarah terpana pada keduanya.
“Mas!” Ghea terpekik. Ia malu. Lantas cewek itu menyembunyikan wajah pada bahu kokohnya “Turunin aku! Kamu apa-apaan, sih?”
Menulikan pendengaran dan membutakan penglihatan, Gery sama sekali tidak menggubris Ghea yang terus memintanya untuk menurunkan tubuhnya. Sampai di dalam lift pun, Ghea masih berada dalam gendongan. Kedua tangannya sama sekali tidak merasa terbebani dengan beban tubuh Ghea yang mulai melar. Justru tangan itu
menahannya dengan kokoh.
“Mas, turunin gak?” tubuh Ghea meronta.
Gery menundukkan wajah sampai puncak hidungnya dan Ghea saling bersentuhan. Untuk beberapa detik pula kedua netra saling mengunci satu sama lain.
Dengan perlahan, Gery memiringkan wajah. Mendekat. Hingga wajah keduanya tidak lagi berjarak. Memecut detak jantung Ghea semakin kuat saat bibir Gery melewati pipinya lalu embusan nafas panas dapat Ghea rasakan di telinga. “Gak!” kata cowok itu dengan tegas di telinga Ghea.
TING
Bersamaan dengan Gery menjauhkan wajah, kakinya melangkah ke luar dari dalam lift saat terdengar suara pintu lift terbuka. Mengabaikan hand phone yang bergetar di dalam saku celana. Gery yakin jika itu pasti panggilan dari Adi.
“Buka pintunya!" serunya. Tubuh jangkung yang membawa beban tubuh Ghea itu sudah sampai di depan pintu ruang kerjanya.
“Ya, udah, sih, turunin aku dulu!” pinta Ghea dengan wajah yang bersembunyi di bahu Gery. Dikarenakan, di lantai delapan itu beberapa mata terlalu memperhatikannya. Ghea malu tentu saja.
Hela nafas kasar Gery keluarkan lagi sebelum menyuruh seseorang yang kebetulan lewat, untuk membukakan pintu ruangannya.
Dihempaskan lah tubuh Ghea dengan pelan ke atas sofa panjang di ruangan saat cowok itu lebih dulu menutup pintu dengan rapat menggunakan satu kaki.
“Kamu gak malu apa dilihatin sama karyawan dan stap-stap kamu?” Mata indah itu mendelik. Bersedekap bersama punggung yang ditarik menyentuh sandaran sofa.
Alih-alih menjawab, Gery menggelengkan kepalanya dengan wajah dan pandangan menunduk pada kaki Ghea. Dihembuskan lagi Gery nafas kasar. Membalikan tubuh, berjalan menuju sebuah lemari di belakang meja kerja sebelah kanan. Persis di samping jendela yang menampakkan sebuah pemandangan gedung-gedung tinggi juga sebuah jalan Ibu kota yang selalu terlihat ramai.
Ghea tidak dapat melihat sedang apa cowok itu. Namun, ketika punggung tegap Gery berbalik, barulah Ghea melihat sebuah kotak di satu tangannya. Sedang tangan yang lain membuka kancing jas untuk kemudian diloloskan jas mahal itu melewati tangan. Jas itu kemudian ia sampirkan di tangan sofa.
“Jangan pake sepatu hak tinggi kayak gini lagi!” serunya. Kepala Gery menunduk sambil tangan melepas tali sepatu berwarna hitam pekat untuk kemudian ia loloskan dari kaki sang pengguna sepatu itu. Lalu Gery menyisikan kedua sepatu Ghea.
Membuka kotak obat yang sebelumnya telah disimpan di atas meja sofa, Gery mengambil kaki kanan Ghea. Menyimpan satu kaki jenjang itu di atas pahanya.
Tentu pergerakan-pergerakan Gery tidak lepas dari pengamatan mata jernih Ghea. Sudut bibirnya sangat gatal jika tidak tertarik. Menguluum bibir itu dalam-dalam agar ukiran indah di bibir merah alami itu tersembunyi.
Gery mengambil kapas. Membuka tutup botol lalu menuangkan cairan antiseptik pada benda putih lembut yang sudah ia genggam sebelumnya.
“Kalau mau berdiri juga pelan-pelan!” Kapas itu menyentuh tumit Ghea yang merah kebiru-biruan. “Jangan ceroboh!” Lalu diusapkannya benda putih itu pada tumit Ghea. Tangan Gery melakukannya dengan begitu lembut dan penuh kehati-hatian.
Bibir Ghea semakin tidak bisa menahan senyum. Lantas ia menggigit dalam bibir itu kuat.
“Pake sepatu flatshoes aja!” Lagi. Gery mengingatkan dengan posesif. Luka itu telah selesai Gery obati. Menurunkan kaki Ghea dari atas paha sembari satu tangan menutup kotak obat.
Masih dengan posisi yang sebelumnya, wajah Gery mendongak. Bersamaan dengan Ghea yang menatapnya hingga mata keduanya saling membius. Mengunci pandangan masing-masing seolah tidak rela jika di antara salah satunya berpaling melihat yang lain.
“Apa?” sergah Ghea. Tapi dengan nada suara yang lembut dan—manja. Menggelitik perut Gery untuk tidak tertawa. Ditarik Gery satu alisnya dengan senyum geli yang disembunyikan.
“Nggak,” jawab Gery seraya menjulangkan tubuhnya, berdiri untuk kemudian ia bawa duduk di samping Ghea yang tetap menahankan delikan matanya tentu saja.
Untuk beberapa detik telah berlalu. Gery mau pun Ghea sama-sama terdiam. Mengunci mulut. Seolah kesunyian dan keheningan di ruangan itu lebih baik ketimbang Gery mendengar amarah yang tidak jelas dari Ghea.
Mempertahankan wajahnya untuk tetap memusatkan ke depan, yang sesungguhnya Ghea tidak tahan untuk menoleh pada Gery yang lebih memusatkan diri padanya bersama tubuh yang terduduk miring dengan satu kaki terlipat. Tersimpan di atas dudukan sofa. Satu tangan kekar dengan tangan kemeja yang masih tergulung sampai siku, ia sandarkan di atas sandaran sofa dengan lurus. Tepat telapak tangan besar itu berposisi di belakang kepala Ghea.
“Tadi, tuh, gak seperti apa yang kamu lihat,” ujar Gery memulai menjelaskan. Masih mengabaikan getaran yang semakin panas berasal dari hand phone di dalam saku celana.
Ghea masih bergeming ketika kalimat selanjutnya terlontar dari Gery. “Aku tadi panik. Khawatir sama kamu, pas lihat panggilan dari kamu banyak banget.” Kemudian jari telunjuk jenjang itu meraih beberapa helai rambut panjangnya. Memainkan dengan cara memelintir ujung rambut. Dan Ghea tetap bergeming. Seolah tidak ada minat dengan pembicaraan ini.
Tapi, tidak. Tentu Ghea penasaran dengan siapa sosok cewek baru yang ada di dalam kantor suaminya ini. Apalagi dengan yang Ghea tahu Gery sebelumnya tidak terlalu suka dekat dengan cewek mana pun. Pengecualian bagi Indah, Dita, dirinya tentu saja dan Mama Dian sebagai cinta pertamanya. Lalu Mama Sora—mertuanya yang sudah dianggap ibu kandung bagi cowok itu.
Atau mungkin wanita itu adalah karyawan suaminya yang tidak Ghea ketahui?
“Dan rasa khawatir aku semakin parah saat kamu gak jawab panggilan dari aku, Ghe.”
“Aku takut kamu kenapa-napa, sayang,” lanjutnya Gery kemudian.
Refleks Ghea menolehkan kepala. Dengan mata berkaca-kaca. Juga bibir bergetar menahan sesuatu yang hendak terdengar. Hanya kalimat sederhana yang Ghea dengar darinya. Tapi itu mampu membuat nalurinya luluh. Apalagi saat mendengar kalimat Gery selanjutnya.
“I don't want to lose it come again for the second time.”
TO BE CONTINUED ...
Note seizy ;
Masih kuucapkan beribu rasa terimakasih untuk teman semuanya yang masih setia nyasar di cerita ini. Jangan bosan dulu ya, mamen!!
kita buat Ghea jadi awakward dulu. Terus buat Gery jadi kelimpungan dengan sikap manja istrinya ini. Huhuuu
Love kang ngetik amatiran yang sayang kamu tanpa akhir.
Tetap jaga kesehatan dan banyak bahagia...
Kunjungi cerita aku juga di aplikasi watt-pad. Jangan lupa follow akunnya. Untuk yang lebih mau dekat follow IG aku aja. @seizyll_koerniawan. Di Igs selalu aku infoin kapan aku update cerita-cerita aku yang lainnya.