Married With Teacher

Married With Teacher
Cowok Triplek


...Maaf jika ada tipohhh aku langsung up aja soalnya gak edit dulu. wkwk...


...Happy reading guys .......


**


"Cha, lo dimana? Gue udah bubar. Sekarang di parkiran." Ghea mengapit benda persegi di telinganya. Menghubungi sang bodyguard yang tidak ada di tempat.


"Siap. Saya tadi keliling sebentar. Saya kesana sekarang." Chacha di seberang sana menjawab.


Ghea memutar bola matanya, "oke deh. Gue tunggu di gerbang aja. Jangan lama, Cha!"


 Lalu Ghea berjalan ke depan gerbang setelah sebelumnya memasukan handphone ke dalam saku roknya.


Tak lama dari Ghea berdiri di depan gerbang sekolah, mobil sedan hitam yang dikemudikan Chacha berhenti tepat di depannya. Tangan Ghea langsung membuka pintu penumpang dan langsung duduk di kursi sebelah Chacha. “Keliling kemana, Cha?” tanya Ghea tanpa menoleh, ia memasangkan sabuk pengaman pada dadanya.


Chacha memperhatikan dari sampingnya. “Keliling daerah sini aya.”


“Oke, Cha, langsung jalan aja!”


“Langsung pulang ke rumah, atau mau kemana dulu?”


Sebenarnya Ghea ingin sekali pergi ke rumah orang tuanya. Sudah lama juga kan Ghea gak berkunjung ke sana. Ia sangat merindukan makanan yang dimasak sang Mama. Setelah acara pernikahan yang sudah Ghea jalani hampir satu bulan ini dengan Pak Gery, ia sempat beberapa kali bertemu dengan Mama. selain itu Ibu dan anak itu hanya berkomunikasi lewat sambungan seluler saja. Namun, sayang, mungkin keinginannya harus Ghea tunda dulu. Pak Gery yang sebelum keluar dari kelas mengatakan jika suaminya itu akan menunggunya di salah satu butik ternama di Jakarta.


Ghea sempat mengernyitkan keningnya saat Pak Gery mengatakan hal itu. Ingin bertanya untuk dan mau apa, tapi cowok itu malah keburu keluar dari kelas. Selain buru-buru, kebetulan ada satu siswa yang kembali masuk ke dalam kelas karena alasan bukunya ketinggalan. Al hasil sekarang Ghea hanya mengikuti Pak Gery saja yang sudah lebih dulu berangkat ke butik itu dengan motor trailnya.


“Lo tau butik Casmira gak, Cha?” tanya Ghea yang tadi tidak menjawab pertanyaan Chacha.


“Butik Casmira?”


“Iya.”


Chacha diam sebentar mengingat-ngingat. “Iya tau. Kamu mau kesana?” tanyanya setelah ia ingat salah satu  nama butik ternama itu.


“Iya. Tadi Mas Gery nyuruh gue kesana. Gak tau juga tuh suami gue mau apa ngajakin gue ketemu disana.” Bibirnya mencebik bersama kedikkan di kedua bahunya.


Chacha mengangguk tidak ingin bertanya lagi. Sedan hitam pekat itu bergerak meninggalkan jalan aspal gerbang sekolah Garuda. Teriknya matahari sore itu membuat Ghea kepanasan walau ia berada di dalam sebuah mobil mewah. Chacha melajukan mobil itu dengan kecepatan tidak lebih dari 60 km perjam. Tangan Ghea bergerak menyalakan AC mobil, menikmati sejuknya. Ghea memejamkan matanya sesaat sambil bersandar, guna meringankan rasa berat yang bersarang di kepalanya.


Chacha menoleh sebentar. Tersenyum simpul melihat Ghea yang malah tertidur. Terdengar dari deru nafasnya yang sangat teratur.


“Dasar!” decak Chacha lalu terkekeh sebelum kepala itu menggeleng samar.


**


Butuh waktu 45 menit untuk Chacha sampai di depan butik yang tadi Ghea sebutkan. Ia memarkirkan mobil tepat di depan gedung dengan dua lantai itu. Namun, Chacha bingung saat ia ingin turun sesaat setelah sabuk pengaman itu sudah ia lepaskan. Ia menghela nafas sembari pandangan mengarah pada Ghea yang masih terlelap di kursi samping kemudi. Chacha mengarahkan tangannya untuk membangunkan Ghea. Dan tangan itu belum juga menyentuhnya, sudah Chacha tarik kembali. Sang bodyguard Ghea itu merasa sungkan. Ia lebih baik keluar saja. Membiarkan Ghea bangun dengan sendirinya.


Baru juga Chacha menutup pintu mobil setelah sebelumnya ia menginjakkan kedua kakinya di atas paving block, handphone yang disimpan di dalam saku celana jeansnya berdering nyaring. Chacha berdecak sembari merogoh benda canggih miliknya. “Ya, Pak?” seru Chacha pada sang penelepon di seberang sana yang tak lain adalah Pak Gery.


“Sudah sampai, Pak, tapi Ghea nya tidur di dalam mobil, Pak. Saya tidak berani membangunkannya. Kelihatanya Ghea kecapean, Pak,” kata Chacha saat Pak Gery bertanya mereka masih ada dimana, apa sudah sampai atau belum.


“Siap, Pak.” Lalu ditutup lah sambungan seluler itu. Pak Gery menyuruhnya menunggu. Juga jangan membangunkan Ghea!


Pak Gery berjalan dibalik pintu kaca butik yang terbuka secara auto. Memasukan satu tangan pada saku celananya, ia menghampiri mobil sedan miliknya yang sudah satu bulan ini selalu digunakan oleh Ghea.


“Pak.” Chacha mengangguk sopan. Pak Gery tidak menggubris. Ia selalu bersikap datar dan dingin pada orang lain, yang terkadang membuat orang itu merasa teracuhkan walau memang kenyataannya benar. Dan kali ini terjadi pada bodyguard cewek cantik itu. Namun Chacha tidak ambil pusing. Dia mengedik santai. Niatnya, hanya untuk bekerja dan mencari uang.


Tangan kekar berotot itu membuka pintu mobil lebar. Membuka seat belt yang terpasang di dada Ghea. Lalu tanpa pikir panjang lagi mengangkat tubuh cewek itu keluar dari dalam mobil. Pak Gery menutup pintu mobil itu kembali dengan kakinya.


“Kamu tunggu disini aja!” katanya pada Chacha saat melihat kaki jenjang miliknya ingin melangkah.


“Iya, Pak,” jawabnya dengan wajah cengo. Pasalnya, Chacha belum melangkahkan kakinya itu tapi Pak Gery sudah menyuruhnya diam lebih dulu. Seakan tahu aja jika Chacha ingin mengikutinya.


Cenayang kali tuh cowok?


untung saja saat itu Ghea tertidur sangat lelap dalam gendongan Pak Gery. Jika saja Ghea ingat dan terbangun. Mungkin saja Ghea sudah loncat dari gendongan suaminya itu. Malu. tentu, karena banyak pasang yang dari tadi tetap memandang punggung Pak Gery sampai menghilang di balik pintu. Pak Gery masuk ke dalam sebuah ruangan dengan daun pintu yang terdapat tulisan Direktur.


“Weh weh weh … stop-stop! Lo bawa siape, tuh, Ger?” seorang cowok. Gaya stay cool. Rambut klimis dan jangan lupakan, tampangnya yang tampan dan terlihat sangat nyeleneh. Dia, bangkit dari balik kursi kerjanya lalu berjalan menghampiri Pak Gery sambil mengarahkan satu tangan pada Pak Gery, pertanda jika cowok itu melarang Pak Gery membawa orang yang ada dalam gendongannya ke dalam ruangan.


“Jangan banyak ngomong! Buka pintunya!” Alih-alih menjawab pertanyaan cowok itu, Pak Gery malah menyuruhnya untuk membuka pintu lain yang ada di ruang kerja itu.


“Ehh … ini bini lo? Kenapa sama dia, Bro?” Bertanya di depan Pak Gery yang sedang menunjukan wajah kesalnya. Percaya atau tidak, walau Pak Gery mempunyai tubuh yang oke, kekar dan perfect dengan otot-otot menonjol yang terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Kini kedua tangannya terasa sangat pegal dan bahkan linu. Tubuh Ghea begitu berat, Makan apa, sih, tuh cewek?


“Buruan!” sengit Pak Gery diakhiri decakan kesal.


“Santai, Bro! Gak sabaran banget sumpah, nih, gue punya temen satu ini.” Gerutunya, namun tak ayal ia membuka pintu kamar yang ada di ruang kerja itu untuk Pak Gery.


“Hey, lo jangan buat noda di kamar gue!” decaknya terkekeh geli. Lupa kali tuh cowok, jika Pak Gery dan Ghea halal. Bebas untuk melakukan apa saja.


Pak Gery tak menggubris. Ia membaringkan tubuh Ghea di atas tempat tidur. Sumpah. Ghea udah kaya beruang kutub saja tidak bergerak sama sekali. Benar-benar lelah mungkin tubuh cewek itu.


“Adi kemana?” Pak Gery bertanya sambil menggerak-gerakan tangannya. Meregangkan otot-otot kedua tangannya, setelah menyelimuti sebagian tubuh Ghea.


“Gue disini. Kenapa lo? Kangen banget kayaknya gak ketemu gue sejam aja.” Adi menyahut dari pintu. Ia baru saja masuk ke dalam ruang kerja sang direktur butik yang punya nama itu. Berdiri sembari mengantongi kedua tangannya pada saku jeans yang dikenakan dengan satu bahu yang bersandar pada sisi pintu.


Pak Gery dan cowok yang mempunyai jabatan direktur butik itu menoleh dengan gerakan spontan.


“Kaget gue. sumpah.” Sang direktur menyahut sangat dramatis dengan tangan yang menyentuh dadanya. “Kalau jelangkung ya kek gini, nih.” Tunjuknya pada Adi. “Datang tak diundang pulang tak diantar.” Kemudian terkekeh. Sedangkan Adi hanya berdecak tidak peduli.


Pak Gery bangkit, ia keluar dari kamar yang diikuti Adi dan Ilham - sang direktur butik yang bernama Casmira itu lalu menutup pintu agar tak mengganggu Ghea yang sedang terlelap.


Pak Gery duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan. Adi duduk di sampingnya, sedangkan Ilham berdiri bersandar pada meja persegi yang tak lain adalah meja kerjanya. Dengan kedua tangan yang terlipat dan satu kaki yang menyilang. Gaya Ilham benar-benar sangat terlihat keren.


“Gimana? Lo yakin mau ngadain party, Ger?” Ilham bertanya. Wajahnya menampilkan wajah yang serius.


“Hem,” jawab Pak Gery, bergumam pelan.


“Ck. Yakin lo mau jadiin party ini umpan?” tanya Ilham lagi.


“Hem.” Pak Gery hanya menjawab dengan gumaman pelan saja. seolah tidak minat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Ilham.


“Elah … nih, orang dari tadi jawabnya ham hem ham hem mulu. Kagak ada kosakata lain gitu? tembok banget sumpeh deh. Mending itu ada si Ghea mau dijadiin bini sama cowok triplek kaya lo, Men.”


Pak Gery tidak menggubris sama sekali. Ia lebih memilih diam lalu berdiri dan berjalan ke sisi jendela yang terbuka. Berdiri di sana sambil memandang langit biru yang sore ini nampak sangat cerah. tak lupa dengan kedua tangannya yang berada dalam saku celana berbahan kain yang membungkus kaki panjang cowok itu. Tak kalah tampan dan keren dari seorang Ilham sang direktur butik Casmira.


“Oke-oke … lupain aja sama muka triplek lo itu.” Ilham mendekat ke arah sofa lalu duduk di samping Adi.


Adi hanya terkekeh saja menyimak. Tak ada niatan untuk menimpali Ilham.


“Lo yakin kalau ini akan berhasil? Kalau kagak? Lo cuma buang-buang duit, Bro!”


Adi yang tadinya hanya diam, kini tangan itu spontan memukul belakang kepala Ilham.


“Heh, Hamid, lo lupa siapa nih temen cowok lo yang satu ini? Heh?” tunjuk Adi pada Ilham.


Hamid adalah panggilan kesayangan Adi pada Ilham.


TBC


huaaahuaaa aku pengen nangis ih guys. Ini maaf telat up nya gak disengaja setius. Di daerah aku udah dua hari mati lampu mulu. Mana lama lagi mati lampunya. hihiiii jadinya gini deh. Up nya lama. maaf ya. Sehat sehat kalean. Aku sayang banyak untuk kalean. Cipoxxx jauh dari aku. hahaha


Seizy


Si penulis amatir yang lagi galau gara-gara mati lampu wae. Wifi mati data limit genset gak gak punya hapenya kehabisan batre mulu. Hihiiiii