
Raungan serta jeritan menjadi musik pengantar. Derai air mata bagai gelombang sungai yang tak dapat dibendung. Luluh lantah mengoyak perasaan Ghea saat ini. Hancur lebur tak tersisa. Sekarang, ia bagai seonggok hewan tidak bernyawa.
Tubuhnya merosot ketika sampai sofa ruang tengah. Ia duduk rapuh tepat di atas karfet bulu berwarna senada dengan sofa itu. Kepalan dua tangan memukul-mukul sofa begitu lemah. Ghea terisak. Meraung tidak berdaya.
“Kenapa… kenapa ini bisa terjadi sama aku?”
Ia harus protes pada siapa?
Pada Tuhan yang telah memberi keadilan padanya?
Atau…
Pada keadaan yang sama sekali tidak ia harapkan?
**
Terbukanya pintu serta suara tangisan menandakan jika sang wanitanya sudah pulang. Gery meyakini itu. Namun, gelap yang menyambut membuat dahi Gery mengernyit. Seluruh lampu di rumah tidak menyala, padahal sore sudah semakin larut dan sebentar lagi langit bergati gelap.
Gery sempat mencari Ghea ke setiap tempat yang sering wanita itu kunjungi. Berkali-kali mencoba menghubungi namun selalu berakhir gagal. Untuk itu, Gery memutuskan pulang.
Gery terkejut ketika lampu rumah ia nyalakan. “Astaga, Ghea…”
Cowok itu menemukan Gheanya sedang terduduk di atas karfet bulu sembari kepala ia tekankan pada atas sofa. Tangisannya masih saja keluar. Entah sudah berapa lama Ghea terisak di sana sampai sebuah tangan besar merengkuh kedua bahunya kemudian. Menekan sisi kepalanya lembut untuk Gery tempelkan pada dadanya yang bidang.
“Aku khawatir, Ghe,” ucap Gery sembari mengencangkan dekapan hangat. “Jangan kayak gini lagi, ya! Jangan pergi tiba-tiba tanpa aku lagi, ya, sayang!”
Didorong kedua pundak Ghea pelan untuk kemudian bola mata abu itu menatapnya dalam. Merangkup kedua sisi wajah Ghea serta menyematkan semua jari ke dalam rambut kusutnya.
“Jangan buat aku khawatir, sayang!” Lantas bibir merah nan seksi yang kini bergertar itu mengecup dahi Ghea lembut dan lama. Menyalurkan semua gelombang rasa yang bercampur ke sana.
Kesedihan serta kehancuran telah mereka berdua dapatkan dalam waktu bersamaan. Entah, sekarang apa yang harus Gery lakukan? Ia sendiri takut mengambil keputusan.
Membujuk Ghea agar mau melakukan operasi pengangkatan janin serta tumor? Atau mendukung keputusan dengan resikonya?
“Aku gak mau kehilangan anak kita, Mas. Aku gak mau.” Kepala itu digelengkan Ghea meski lemah di dalam rangkupan kedua tangan besar Gery. Air mata yang seakan tidak mau habisnya itu sialnya tidak dapat Ghea hentikan. Ia sesegukan. Dadanya terasa sakit. “Jangan paksa aku buat lakuin itu, Mas!”
Gery menarik lagi kepala Ghea ke dalam dadanya kemudian. Mengecup berulang kali puncak rambut sekaligus membaui aroma yang selalu memabukan dari sana. Cowok itu menyimpan dagu lancip di atas kepala Ghea.
“Dokter bilang kamu masih bisa hamil kan meski sudah operasi. Masih banyak kesempatan buat kita untuk punya anak, sayang. Aku gak mau mengambil resiko kalau kamu mempertahankan kandungan ini—“
Gery terkesiap dan jatuh akibat dorongan dari kedua tangan Ghea. “Kamu gila, Mas. Kamu bener-bener udah gak waras! Aku gak mau lakuin itu…, aku gak mau.” Kepala itu menggeleng keras. Tubuh Ghea meronta saat Gery mencoba meraih kedua bahunya.
“Kamu jangan kayak gini, sayang! Kamu harus pikirin semua orang yang ada di sekitar kamu! Mama Sora, Papa Jordan, Mama Dian yang kamu tahu sendiri, dia begitu sayang sama kamu. Papa Dika dan… aku, Ghe. Mereka semua pasti bakal sedih kalau kamu mempertahan kandungan ini, tetapi nyawa kamu sendiri dalam bahaya. Mereka—" Bibir Gery terkatup tidak dapat melanjutkan. Dadanya sakit hanya membayangkannya saja, jika suatu saat cowok itu akan kehilangan Ghea. Yang begitu berarti untuk raganya. Ia tidak mampu. Tidak sanggup.
“Heuh…” Bibir manis dan merah Ghea terkekeh pelan serta gelengan samar di kepala. “Kamu egois, Mas." Seketika raut cantik itu menatap Gery dingin. “Kamu takut kehilangan aku. Tapi kamu gak takut sama sekali kehilangan anak kamu? Aku gak percaya. Ada, ya, sosok Ayah kayak kamu, Mas. Egois!”
“Aku nggak egois, sayang. Aku percaya setelah operasi ini aku akan diberi kesempatan lagi untuk punya anak—“
“Kalau kesempatan itu gak ada? Apa kamu akan terus paksa aku buat gugurin anak ini?”
“Jika kesempatan buat kamu hamil lagi sangat kecil, permintaan aku akan tetap sama.” Sorot mata abu itu berkital-kilat. Rapuh. Hancur serta harapan kebahagiaan seakan tertelan dan tak mencuat lagi. “Dan sekali pun kamu di diagnosa gak bisa hamil…” Gery menelan ludah. “Aku gak akan mempermasalahkan soal anak, Ghe. Yang aku butuhin itu kamu, Sayang.” Gery merangkup kedua sisi wajahnya kemudian. “Kita masih bisa mengadopsi anak, kan?”
Gery terluka. Itulah yang dirasakan Ghea ketika wanita itu menatapnya.
Kedua tangan besar Gery ditarik Ghea untuk kemudian membawanya mendekat ke arah bibir tipis itu. Kedua tangan yang disatukan Ghea itu dikecupnya lama. Ada beberapa tetes air mata yang mengenai punggung tangan dalam bentuk kepalan Gery.
Mata Ghea terpejam sesaat sebelum mengatakan sesuatu pada lelaki dihadapan yang begitu dicintainya ini. “Aku minta maaf, Mas,” ucap Ghea. Mengangkat pandangannya kemudian. Ia tatap lamat bola mata abu yang memerah milik Gery. Wajahnya ia miringkan ke satu sisi. Menggenggam kedua kepalan tangan besar Gery dalam pangkuan.
“Kalau itu yang kamu inginkan.” Sorot mata berair itu menatap Gery dalam dan serius. Sungguh pun, sekarang di bibir Ghea yang Gery lihat bukan senyuman. Justru wajah dingin.
“Okay, Mas.” Sebelum melanjutkan, Ghea menarik nafas dalam-dalam hingga dadanya yang sesak ikut naik. “Aku akan gugurin anak ini. Aku siap untuk kehilangan anak ini.”
Seulas senyum terlihat dari bibir Gery. Benarkah?
“Tapi, aku akan melakukan itu setelah kamu menandatangani surat perceraian yang akan aku ajukan, Mas.”
Seketika senyum itu sirna dari bibirnya. Ujung belati yang runcing tepat mengenai jantung Gery. Ia tertawa hambar penuh kesakitan. Bibir dibuka Gery sedikit lalu dijilatinya untuk membasahi bibir yang mendadak kering itu.
“Yang kamu mau kesembuhan aku, kan, Mas? Dengan mengorbankan anak ini.” Sungut Ghea berapi-api. Sungguh pun dengan sorot mata yang berkilat penuh emosi. “Dan sebelum itu terjadi… kamu harus ngerasain gimana rasanya kehilangan. Kalau aku kehilangan anakku, kamu juga akan kehilangan aku, Mas.” Suara serak Ghea penuh penekanan.
Wanita itu berdiri setelah melepaskan genggaman tangan Gery di atas pangkuan. Menyeka air mata yang sialnya tidak bisa berhenti, Ghea naik ke lantai atas yang ada di rumah itu untuk masuk ke dalam kamar.
Demi kehidupan anak di dalam rahimnya, Ghea akan melakukan apa saja untuk mempertahan. Tidak peduli jika mempertahankan akan membuat dirinya tersiksa karena penyakit. Tidak peduli sekali pun mereka bilang egois.
Ibu mana yang rela calon anaknya akan dilenyapkan?
Tidak ada, bukan?
Justru seorang Ibu akan mempertaruhkan nyawa demi keselamatan anaknya. Demi sebuah nafas kehidupan yang dibutuhkannya.
Ghea meraung di dalam kamar kemudian. letupan pilu tidak dapat ia tahan. Didudukan tubuh itu di atas kasur sembari meremat kain yang melapisi dadanya.
“Pa, aku udah benar kan ambil keputusan ini? Jika Papa ada di sini, apa Papa juga akan nyuruh aku buat gugurin anak ini? Aku butuh Papa ada di samping aku.”
Raungan wanita itu menjadi musik pengantar kematian untuk Gery dengar. Sungguh pun, Gery tidak sanggup melihat. Ia berdiri di ambang pintu yang terbuka. Matanya basah dan memerah.
Cowok dengan sejuta karismatik itu menekan garis bibirnya. Air mata yang sudah mengumpul di pelupuk itu terjun bebas tanpa mengedip.
Gery menangis…
Jika diingat-ingat kapan terakhir kali cowok itu menangis?
Ah, ya. Terakhir kali ketika terbaringnya Ghea dalam koma. Hampir setiap malam Gery menangisi Ghea yang tak kunjung membuka mata.
Kini, dengan dinding pertahanan yang kuat, kakinya dilangkahkan Gery kemudian. Karfet bulu meredam ketukan sepatu hitam pantofel milik Gery sampai tubuh cowok itu menjulang tinggi di depan Ghea.
Diangkat Ghea pandangannya hingga tatapan itu saling bertemu dengan kilatan-kilatan yang susah untuk diartikan.
Perlahan, Gery bersimpuh. Melipat kedua tungkai dengan kedua lutut bertumpu pada karfet bulu. Menarik kedua tangan Ghea yang terkepal di atas paha untuk kemudian menariknya pelan dan ditempelkan ke atas dada Gery yang terlapis kemeja abu serta kedua tangan kemeja itu yang sudah tergulung sebatas siku.
Bola mata abu itu menatap tepat ke wajah merah dan mata sembab Ghea. “Siapa sih, Ghe, yang mau kehilangan seorang anak?” suaranya pelan, serak dan lembut. “Apa lagi aku belum sempat melihatnya.”
Ghea melipat bibirnya. Diam dan bergeming.
“Tapi… aku juga gak mau sampai kehilangan kamu, sayang,” kata Gery bersungguh-sungguh.
Dan dapat Ghea lihat memang tidak ada kedustaan di sorot mata abu yang kini terluka itu.
“Kalau emang kamu mau mempertahankan dia—“ Satu tangan Gery menyentuh perutnya. “—kita bakal berjuang bersama.”
Demi apa! Tidak ada alasan untuk Ghea tidak percaya pada Gery. Sedikit bahagia meletup sampai sudut bibirnya tertarik. Kamar luas berdominasi wangi maskulin Gery itu belum dinyalakan lampunya. Hingga kamar luas itu bagai bermandikan cahaya bulan yang mengintip dari balik jendela kamar yang tidak tertutup tirai.
“Aku ingin untuk malam ini saja melupakan semua kesakitan dan kesedihan ini, Mas,” ujar Ghea sembari melengkungkan bahu. Menarik kedua tangannya dari genggaman Gery dan ditangkup Ghea kedua sisi wajah yang begitu dicintainya.
Ghea mendekatkan wajah. Menempelkan dahi pada dahinya. Digigit Ghea bibir bawahnya kemudian.
“Ghea… Apa yang kamu inginkan malam ini untuk menghilangkan semua rasa itu, sayang?”
“Kamu,” ungkap Ghea dalam mata yang terpejam dan bibir yang ia gigit.
TO BE CONTINUED...
Mewek udah mewek.. Tapi bercampur gairah ini... haduh haduh akak mamen ...
Ya udah sih, Ger, turutin aja napa sih. Ghea maunya kamu ceunah.
Yuk kita main buka-bukaan dulu...
Untuk yang mau tahu kapa waktu update cerita ini bisa follow akun Ig seizyll_koerniawan.
Anw, thanks buat akak-akak yang udah foloow dan DM aku. Gak bisa aku sebutin satu-satu di sini. Tapi aku ucapin makasih atas dukungan semangatnya lewat DM.
kecup basah dari aku buat akak semuanya. ILY