
Gery keluar dari pintu belakang hotel dengan tergesa menuju basemen. Wajah tampan itu berkeringat campur panik. Hand phone masih ia genggam di tangan. Sementara pandangan mengedar mencari sosok wanita yang baru saja menghubunginya. Memberikan kabar yang paling membuat kepalanya seakan meledak oleh bom yang sengaja dimasukan ke dalam mulut.
Mulut seksinya itu terus mengeluarkan umpatan. Disaat-saat seperti ini, hand phone Adi juga malah sibuk dengan panggilan lain. Sedangkan, ketika dirinya mencoba memanggil nomor Ghea lagi, hand phone itu justru tengah sibuk dan dipanggilan ketiga kalinya nomor Ghea pun tidak dapat dihubungi.
Gery berdiri di samping mobil.
Bukan hanya umpatan. Akan tetapi, kaki indah terbungkus oleh sepatu pantofel hitam mengkilat kini menendang ban mobil sedan miliknya untuk melampiaskan kekesalan mendalam.
Seseorang menghamipiri. Nafasnya tersenggal karena berlari. Pun, bersama kristal keringat yang mencuat keluar dari dalam pori-pori dahi.
“Eh setan! Elo kemana aja, sih, gue hubungi malah sibuk aja!” Umpat Gery memutar kedua bola mata abunya. Memasukan benda canggih ke dalam saku jas yang terbuka kancingnya. Menampilkan warna putih dari kemeja yang membaluti tubuh.
Adi menyugar rambut. “Entaran aja lo ngatain gue setannya. Ini—“ keadaan genting maksud Adi. Karena ia tidak bisa menyelesaikan kalimat. Nafasnya seakan sudah habis sebab ia yang berlari.
“Ngomong yang bener. Ini perasaan gue lagi gak enak banget. Ghea tadi—“
“—ya itu. Tadi Ghea nelponin gue. Airin katanya diculik,” kata Adi. Nafas cowok itu sudah tidak berantakan seperti tadi. Dan bisa menyampaikan kalimat dengan baik juga jelas.
“Itu cewek emang ngerepotin bisanya. Lagi juga Ghea ngapain, sih, repot-repot pake mau nolongin segala?!” Itu kalimat milik Gery. Nyesel pula rupanya cowok itu dulu memposisikan dirinya menolong Airin.
“Ha ha ha.” Adi tergelak kencang. “Syukur kalau lo sadar, Ger.” Sindir Adi begitu puas.
“Kan, udah bilang. Akan ada waktunya dimana Airin bakalan ngebuat Ghea dalam bahaya. Sekarang syukur kalau lo sadar akan hal itu. Gak nyesel gue karena udah sering ngingetin lo soal ini.”
Seseorang, tolong sumpel mulut Adi menggunakan apa saja!
“Udah puas lo ngetawain gue? Heuh?” tanya Gery melipat kedua tangan di dada dengan punggung bersandar pada pintu mobil miliknya. Tidak lupa, akan bola mata yang berotasi malas.
“Puas banget.”
“Karena lo udah ngetawain gue, lo harus ganti rugi dengan cara bantu gue cari Ghea!”
“Ger. Lo—“
“Gak ada tapi, ya, Di. Udah muak gue sama lo yang sok suci ini,” kata Gery. Mulutnya memang pedas untuk ukuran cowok sepertinya ini. Dibuka pintu mobil itu kemudian. Gery masuk ke dalam. Memposisikan dirinya sebagai pengemudi. Meski ia masih bisa bercanda dengan Adi, sungguh pun. Demi semesta. Nyawanya seakan dicabut paksa karena Ghea kini sedang memposisikan diri dalam bahaya.
“Ghea ada bilang posisinya dimana gak tadi?” tanya Gery. Matanya fokus pada jalan gelap di depannya. Hanya saja cahaya memantul dari lampu mobil. Menyoroti jalanan aspal ketika mobil sedan hitam yang dikendarai Gery keluar dari basement untuk kemudian belok ke kanan.
“Nah … itu dia masalahnya,” ujar Adi membuat Gery memalingkan wajah ke arah cowok itu. Sementara kedua tangan mencengkram bundaran setir mobil. “panggilannya keburu mati. Pas gue hubungi lagi…” Adi menahan kalimat sekedar mengambil nafas dari paru-paru. “Udah nggak bisa, Ger.” Kini wajah kedua cowok itu berubah serius. Kalau Adi tidak salah melihat, ada kerutan panik di dahi Gery. Rahang-rahang sang sepupunya itu mengencang. Mengancam.
“Bisa lo tebak, siapa yang culik Airin?” tanya Adi setelah beberapa saat. Sedangkan mobil itu sialnya berhenti karena lampu merah. Bersama suara mesin mobil menderu, detak jantung Gery pun sama kencangnya berpecut.
“Ada dua kemungkinan,” ujar Gery serius. Dan tidak kalah seriusnya dengan wajah Adi saat ini ketika menengokkan pandangannya pada Gery.
“Nandan dan mantan bos Airin yang memiliki club malam.”
“Lo yakin?”
“ya. Karena setahu gue, Airin tidak punya masalah dengan siapa pun kecuali dengan mereka berdua.”
Well, karena insting Gery terlalu kuat untuk mengklaim semua kejadian yang menimpa hidup Airin. Namun, di sisi lain dalam dirinya tidak merasa yakin pada Nandan. Karena sejak Gery bersama Wira Adiguna sampai ia mendapat telepon dari Ghea, Nandan masih duduk di sofanya. Bersama Gery di dalam ruangan itu.
“Di, coba lo buka GPS di hand phoe gue!” suruhnya sambil menyodorkan benda canggih itu ke Adi setelah Gery merogohnya dari dalam saku.
“Ngapain buka GPS, sih, Ger? Kita gak untuk cari Ghea ke jalur yang nggak lo tahu tujuannya, ya!”
“Gue akan selalu tahu kemana Ghea pergi. Sekali pun dia pergi ke ujung dunia.”
Gery selalu serius untuk urusan Ghea. Cowok itu tidak akan pernah membahayakan nyawa wanitanya untuk yang kesekian kali. Oleh karenanya, Gery memberikan jam tangan yang sudah terpasang alat pelacak di benda itu.
“Lepas!” Airin menggerakan tubuh dalam cengkeraman . Kedua lengannya dipegang kuat-kuat oleh kedua orang pria yang tentu Airin tahu siapa mereka yang menculiknya ini. Tubuhnya diapit oleh tubuh kekar dua pria itu, di dalam mobil.
“Kita bakal lepasin lo setelah kita memberikan lo sama Bos.” Salah satu dari mereka menyahut. Wajahnya terlalu muak untuk Airin lihat meski itu dari kaca spion yang menggantung di tengah depan mobil.
Diambil Airin nafas dalam-dalam. Terus menggerakkan kedua bahu. Sungguh! Cengkeraman ini terlalu menyakitkan untuk Airin rasa. Warna merah mencuat dari lengan karena Airin yang mengenakan dress tanpa lengan.
Dibulatkan kemudian bola mata berair Airin sempurna ketika mobil yang dibawa mereka berhenti di depan bangunan.
Bangunan itu tidak asing bagi Airin. Ia menoleh pada lelaki di samping kananya. Menggelengkan kepala kemudian. “Please. Jangan bawa saya ke sini!” Permohonan sia-sia tentu saja. Mereka tidak akan melepaskan Airin meski air mata darah sekalipun menetes dari kelopaknya.
“Saya tidak mau balik lagi ke tempat ini! Saya mohon. Lepaskan saya! Kalian tidak lihat kalau saya sedang hamil? Heuh?” Ditatap Airin pria di sebelah kirinya. Lalu kepala itu bergerak menoleh ke kanan. Memohon.
“Memangnya kami peduli?” salah satu pria dari mereka bersuara. Menyeringai. “Buruan turun!" Dibuka pintu mobil untuk kemudian menarik lengan Airin setelah kaki dari pria tersebut menginjak bumi.
Digelengkan kepala Airin. Ia mempertahankan dirinya agar tidak keluar dari dalam mobil, apalagi untuk menginjakkan kakinya kembali ke tempat terkutuk itu. “Tidak! Saya tidak mau,” katanya. Suaranya parau dengan isakan menyedihkan.
Sementara di dalam mobil lain, Ghea mengamati situasi. Mengerutkan kening saat pandangan jernih bercampur khawatir mengedar. Dicondongkan tubuh Ghea dengan satu tangan bertumpu pada belakang kursi kemudi taksi. “Pak, ini tempat apa?” tanya Ghea pada supir taksi yang ia suruh untuk mengikuti mobil yang menculik Airin.
“Ini sepertinya sebuah penginapan, Bu.” Supir itu menjawab sopan. Karena jika dilihat dari depan memang bangunan itu seperti sebuah penginapan biasa. Tidak ada mewah-mewahnya.
Bangunan tiga lantai. Dinding-dinding itu dicat hitam dan abu muda. Namun, lebih berdominasi hitam. Lampu bermacam warna kerlap-kerlip menggantung panjang ke samping. Ini bukan seperti penginapan. Namun, Ghea berasumsi bahwa tempat ini tidak baik. Pandangan Ghea terus mengedar, banyak pria keluar masuk tempat itu. Beberapa pula yang keluar berjalan sempoyongan. Ada yang dipapah oleh seorang wanita muda berpakaian seksi.
Ditarik Ghea punggung untuk bersandar sembari pandangan terus mengedar. Otaknya berputar. Bagaimana cara Ghea menyelamatkan Airin dari mereka? Jika saja hand phone sialan ini tidak mati daya. Ghea bisa menghubungi Gery agar membantu.
Mata jernih dengan bola mata hitam pekat indah itu melihat Airin yang ditarik paksa. Tubuh Ghea mencondong lagi. Mengamati Airin dari dalam taksi. “Pak, boleh gak saya pinjam hand phone untuk menghubungi suami saya?”
“Silahkan, Bu." Supir itu kemudian memberikan Ghea hand phone. Ingin bertanya tetapi merasa ini bukan urusannya.
Ghea berdecak. Nomor yang dipanggilnya dialihkan ke pesan suara. Double sial! Mungkin karena nomor masuk tidak dikenal.
Kepanikan melanda begitu dahsyat saat Airin sudah tidak terlihat lagi oleh matanya. Buru-buru Ghea membuka pintu taksi setelah sebelumnya menyerahkan hand phone. “Pak, saya minta tolong, nanti kalau bisa tolong hubungi polisi terdekat daerah sini, ya, Pak! Saya takut terjadi sesuatu pada teman saya!” Kata Ghea. Turun dari taksi
setelah ia memberikan uang ongkos.
**
Satu dari pria yang menarik Airin membuka pintu yang berbeda dari yang lainnya. Digelengkan kepala Airin dan kedua kaki yang terus bertahan agar tidak masuk ke dalam ruangan yang sekarang pintunya sudah terbuka setengah.
“Saya gak mau masuk!” Kedua kaki Airin tidak ingin melangkah. Bergerak saja ia tidak mau. Namun, kedua pria itu tetap menggusur kedua lengan Airin hingga terasa menggerus di kulit yang sudah memerah. Kedua kaki pun bertahan kuat. Sampai pula harus tergusur karena tarikan tersebut.
Tubuh Airin dengan gusuran. Di hadapannya seorang pria berdiri memunggungi dengan tempat tidur berukuran besar terletak tidak jauh dari cowok itu berdiri. Dada Airin sampai naik turun. Dibalikkan tubuhnya untuk kabur. Namun, segera pula ditahan oleh kedua pria yang masih setia berdiri di kedua sisi Airin.
“Bos,” panggil salah satu dari kedua pria.
“Pergi!” Pria berpunggung tegap itu mengangkat tangan kiri sambil menggerakan kelima jari.
Kedua pria sialan itu menyeringai puas. “Selamat bersenang-senang,” ujarnya tepat di telinga Airin.
Airin semakin kalut saat pintu tertutup. Tidak terdengar suara pintu dikunci. Namun, Airin tetap saja tidak bisa kabur. Airin yakin jika kedua pria itu tetap berjaga di pintu. Kedua tangan Airin mengepal kemudian. Kakinya perlahan melangkah mundur meski samar-samar. Bibir pucat itu terbuka mengeluarkan nafas sesak.
“Kamu gak bisa kabur kemana-mana lagi, sayang!” Dibalikan tubuh tegap sang pria. Lalu, seringai itu muncul di wajah iblisnya.
Airin semakin dibuat tak kuasa. “Mau apa lagi kamu, Nandan? Belum puas juga kamu hancurin hidup dan masa depan aku? Heuh?” Dada wanita itu kembang kempis. Kedua tangan semakin erat mengepal hingga buku jarinya memutih. Bahkan pula kuku runcing itu menusuk kulit telapak tangannya. Menggerusnya. Namun rasa sakit sepertinya sudah tidak Airin rasa.
Nandan tertawa. Bibir cowok yang ternyata sang pemilik pub itu mencebik bersama kedua bahu mengedik. “Mau
apa, ya?” sahutnya lebih kepada bermain-main. Langkah Nandan mendekat. Alisnya menukik. “Oh, ya … aku lupa. Kalau aku mau kasih selamat pada adik perempuanku yang sudah bertemu dengan Ayahnya kembali. Cek cek cek.”
Disimpan kedua tangan Nandan di pinggang bersama ekspresi wajah menyebalkan. Tatapannya dingin mengancam. “Oh … tidak-tidak. Kamu bukan adikku, Airin. Kamu hanya seorang bicth!” Suara Nandan menekan. Langkannya semakin dekat dengan Airin yang semakin melangkah mundur. Dan berhenti ketika punggungnya membentur sebuah dinding tepat di samping pintu. Tangan Airin meraba-raba untuk menggapai handle pintu.
Tatapan Nandan begitu mengancam. Dan Airin takut untuk melihat itu. Seakan ada trauma yang menyiksa diri. Kedua kaki Airin lunglai. Tubuh pun gemetar. Sementara kelopak matanya menatap waspada.
Saat handle itu ditarik ke bawah oleh tangan gemetar Airin, Nandan bergerak terlalu cepat. Menggapai tangan bergetar itu lalu meremat pergelangannya. Kasar.
“Aw … sakit, Nandan.” Airin memekik. Tangan yang satunya mencoba melepaskan. Membuka jari-jari panjang Nandan yang menggerus pergelangannya.
Kepala Airin memang miring. Tetapi mata berair itu memohon pada Nandan yang justru menundukan tatapannya. Menuju perut besar Airin. Nandan menyeringai. Jenis seringai iblis.
Airin mungkin dapat membaca isi kepala cowok itu. Hingga digelengkan Airin kepalanya. “Jangan Nandan, jangan sentuh dia!”
“Kenapa, sayang?" Nandan mendekati wajah Airin. Demi apa pula, nafas cowok berbau mint itu dapat Airin rasakan. “Sepertinya akan sangat seru jika aku menyentuhnya. Iya, kan, Airin?”
“Tidak Nandan, jangan!” suara itu bergetar ketakutan.
Airin kenal siapa cowok di hadapannya ini. Dia sejenis makhluk yang tidak punya belas kasih. Tempramen. Dan seperti psikopat yang haus akan kehancuran juga penyiksaan. Lalu, entah iblis yang mana sedang ada di dalam diri Nandan hingga tangannya bergerak cepat menuju leher Airin. Mencekik wanita hamil itu sekuat tenaga. Airin meronta. Memukul tangan Nandan. Tidak dilepaskan juga, Airin lantas memukul dada cowok itu. Namun, tenaga Airin tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan Nandan yang menyerupai iblis.
Rahang Airin sampai terbuka. Sungguh pula ia tidak bisa bernafas. Tenggorokannya sakit tentu saja. Sementara bola mata bergoyang mencari sesuatu yang bisa menolongnya. Alih-alih hanya diam. Airin tidak akan membiarkan dirinya mati di tangan cowok iblis seperti Nandan ini. Jika ia membiarkan dirinya mati sekarang juga, sama saja
dengan ia membunuh anak dalam kandungannya sendiri.
Dilihatnya Airin sebuah bufet panjang terletak tidak jauh dari posisinya. Lantas, ia menggeserkan punggung yang tetap bersandar dengan tangan Nandan masih mencekik lehernya.
“Mau kemana kamu, sayang? Kamu tidak bisa lepas lagi dari aku, Airin!” Wajah beringas dan tatapan mata menakutkan.
Nandan terlalu fokus pada Airin yang kesakitan. Cowok itu tidak waspada. Lalu, lemparan sebuah guci kecil dari atas meja membuat Nandan semakin beringas. Kesetanan. Guci yang dilempar Airin memuncratkan darah dari pelipis Nandan.
“Airin. Sialan!”
“Heh heh heh." Nafas Airin tersengal. Kepalanya menunduk dengan tangan mengusap-ngusap leher. Ia menelan saliva kelat sambil memejamkan kelopak.
Disaat kelopak Airin terbuka, dilihatnya Nandan yang menggeram kesakitan. Dan ini waktu yang tepat untuk Airin kabur.
.
.
To be continued…
Maaf masih menyangkut Airin. Tapi aku sangkutin ini, salah satu untuk menyelesaikan konflik menuju ending. Jika kurang tidak suka. Boleh skip aja lah gak papa dari pada hahah hihi huhu