
.
.
.
Melisa menatap Keland yang sedang asyik main game sambil bersandar di ranjang dengan kesal. Pria itu dangat santai seakan tak perduli dengannya. Pria itu bahkan menganggap liburan mereka seperti biasa berada di rumah, dan bahkan ia tak berucap satu katapun untuk mencoba menyapa nya. Sementara ia sudah sangat bosan sedari tadi. Melisa benar-benar kesal hingga kehilangan kendali dan akhirnya ia pun lebih memilih keluar dari kamar itu. Ia akan berjalan-jalan di sekitaran pantai di belakang hotel, karna kebetulan memang hotel mereka di dekat pantai, pasti akan sangat menyenangkan bisa berjalan malam disana meskipun tanpa Keland si pembuat kesal, bodo amat dengan pria itu. Jika Keland saja mengabaikannya dan tak ingin bicara dengannya, maka ia pun tak akan meminta ijin pada nya. Lebih baik ia bersenang-senang sendiri karna tujuan awalnya liburan memang kan untuk bersenang-senang.
Sementara Keland yang memang sedari tadi asyik main game untuk mengalihkan perhatiannya dari Melisa yang membuatnya kesal agak merasa heran, karna ia seperti tak menemukan siluet Melisa lagi dari ujung matanya. Tadi ia masih bisa merasakan keberadaan gadis tersebut, kemana dia?
Setelah menyadari seutuhnya jika Melisa memang sudah tidak ada dengan cepat segera ia beranjak dari ranjang kemudian berlari keluar mencari istri nakal nya tersebut. Kemana Melisa semalam ini? Berani sekali dia keluar tanpa minta ijin? Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Melisa baru pertama kali kemari dan ia tidak terlalu pintar berbahasa korea. Astagaa, seketika Keland di landa rasa cemas.
Dengan tak sabaran ia menunggu lift segera terbuka, saat ini tujuannya sudah pasti lantai dasar. Karna pasti Melisa pergi keluar dari hotel untuk berjalan-jalan. Keland benar-benar Kesal di campur takut saat ini, Melisa pergi tanpa minta ijin dan bahkan gadis bodoh itu tak membawa ponselnya. Ia jadi merutuki dirinya sendiri yang sangat asyik tadi hingga tak menyadari lagi kepergian gadis itu.
Dengan langkah panjangnya ia segera berlari menyusuri pekarang hotel, siapa tau Melisa masih ada di sekitar itu, tapi ia benar-benar tak menemukan gadis itu sama sekali. Kemudian ia teringat akan pantai yang ada di belakang hotel. Ya, seharusnya ia mencari kesana. Karna sudah pasti Melisa akan ke tempat itu, tak mungkin Melisa berani pergi lebih jauh lagi tanpanya, jadi sebaiknya ia kesana saja.
___
Akhirnya kini ia berlari di sepanjang pantai untuk mencari sang istri yang sangat menyebalkan itu. Ingin rasanya ia memarahi Melisa jika ia menemukannya.
Di pantai memang tampak masih ramai di penuhi dengan berbagai pasangan dan ada yang mengadakan acara BBQ, hanya saja dari banyak orang ia tak menemukan keberadaan Melisa, dimana? Apakah tebakannya salah? Apakah Melisa tidak ke pantai? Atau ia lebih baik mancari tempat lain saja.
Ohh shitt...
Jika tau seperti ini lebih baik ia memasang gps saja di cincin pernikahan mereka, dengan begitu saat ini ia pasti tak akan sulit menemukan Melisa, oh astagaa... ia tak habis fikir kemana lagi ia harus mencari Melisa saat ini.
Ia melihat ke se keliling untuk memastikan sekali lagi keberadaan Melisa, tapi benar-benar tak ada. Akhirnya dengan ragu ia pun melangkahkan kakinya untuk menjauh dari area pantai dan mencari kembali ke tempat lain.
Namun sebuah suara minta tolong membuatnya menghentikan langkahnya, itu...
Seperti suara Melisa, benarkah itu Melisa?
"Tolong...." oh astaga bodoh, itu suara Melisa. Dan gadis itu berbicara menggunakan bahasa indonesia untuk berteriak minta tolong, mana ada orang yang akan mengerti disana. Akhirnya dengan sigap pun ia mencari sumber suara, hingga ia mengikuti terus arah suara Melisa, suara itu mengarah ke arah balik pohon besar yang tampak sepi.
Hingga pandangannya tertuju pada segerembolan pria yang sepertinya mabuk dan disana...
Hanya ada Melisa sendiri yang berdiri ketakutan sambil mencoba berontak dari pria yang ingin mencoba menyentuhnya sambil terisak meminta tolong.
Dengan langkah membara emosi ia segera berlari dengan cepat menghampiri mereka. Saat ia hampir sampai, ia masih sempat mendengar Melisa terisak sambil menyebut namanya "kak... kak Keland," lirihnya seperti sangat berharap Keland menemukannya dan menolongnya. Dan hal itu tentu saja membuat Keland semakin membara emosi ingin melenyapkan orang yang berani macam-macam pada istrinya. Sungguh ia tak tega melihat air mata Melisa. Hingga...
Brukkk....bruk....brukkkkkk
Dengan membabi-buta Keland benar-benar menghabisi mereka satu persatu hingga teronggok di tanah. Ia tak sempat menghitung entah berapa orang yang saat ini ia lawan yang jelas ia sudah sangat emosi hingga ingin mengabisi nyawa mereka semua kalau saja Melisa tak melerainya dengan air mata lalu memeluknya erat.
"Kak... sudah, aku tidak mau kau di penjara nanti" larang Melisa, ia benar-benar tak mau Keland dalam masalah nanti hanya karnanya yang sangat bodoh tadi pergi begitu saja tanpa memikirkan resikonya.
Keland yang awalnya kesal pada Melisa dan berniat memarahi Melisa jika bertemu pun jadi tidak tega. Melihat air mata Melisa dan tubuh gemetarnya, ia tau jika Melisa pasti sangat ketakutan tadi. Ia benar-benar jadi kasihan. Lagi pula ini tak sepenuhnya kesalahan Melisa, jika saja ia tadi tak asyik sendiri dan mengabaikan Melisa, mungkin saja ini tak akan terjadi. Jika saja ia bersikap lebih dewasa lagi untuk membujuk Melisa dari kemarahannya, pasti mereka akan baik-baik saja, dan pasti Melisa tak akan pergi sendiri dan sudah pasti mereka akan pergi bersama. Hanya saja ia terlalu mementingkan ego nya, seketika ia bersifat kekanakan dan seperti Melisa. Seharusnya ia bisa membujuk gadis itu lebih baik lagi.
"Maaf kan aku.... maaf kan aku..." lirih Keland sembari mengecup puncak kepala Melisa berkali-kali. Ia benar benar menyesal.
Sementara Melisa semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Keland dan membenamkan wajah sembab nya di dada bidang suaminya.
"Mengapa bisa sampai seperti ini?" Tanya Keland lembut
"Tadi... tadi di sana sangat ramai, karna itu akhirnya aku mencari tempat sepi untuk menenangkan diri. Tapi aku tidak tau kalau ada banyak pria mabuk disini," jelasnya yang masih sesenggukan. Keland pun jadi semakin merasa bersalah pada Melisa. Pasti gadis itu ingin menenangkan diri karna dirinya. Karna ia tidak bicara pada Melisa sama sekali hingga membuat gadisnya sedih dan ingin menenangkan diri. Astagaa, ingin sekali ia merutuki kebodohannya sendiri saat ini.
"Maaf kan aku..." ucap Keland kembali, namun Melisa menggelangkan kepala seakan ingin mengatakan itu bukan salah Keland
"Aku yang seharusnya minta maaf sudah buat kakak khawatir. Karna aku pergi sembarangan tanpa minta izin akhirnya kakak repot," sesal Melisa yang membuat Keland melepaskan pelukannya kemudian menangkup ke dua sisi wajah istirnya lalu mengecup bibir itu dengan lembut.
"Kau tidak boleh menyalahkan dirimu, ini semua salahku. Aku janji setelah ini, aku akan membuat mu bahagia hingga tak akan pernah melupakan moment liburan ini. Jadi kau tidak boleh menangis lagi," ucap Keland sembari mengusap air mata di wajah Melisa dengan kedua ibu jarinya, lalu mengecup kedua mata Melisa dengan sayang.
Melisa pun jadi tersenyum, entah mengapa saat ini jantungnya jadi lari maraton, Keland benar-benar sesuatu karna bisa membuatnya melupakan ketakutannya tadi hanya dalam sekejab karna perlakuan sederhananya.
Akhirnya ia pun kembali menghamburkan ke pelukan sang suami dan memeluknya dengan erat.
"Makasih kak," ucap Melisa senang. Keland pun jadi tersenyum dibuatnya. Sepertinya Melisa sudah tak setakut tadi lagi.
Kemudian mereka pun memutuskan untuk pergi dari sana meninggalkan para pria yang tadi sudah terkapar tak berdaya di tanah satu persatu. Sebelum benar-benar pergi, Keland bahkan masih sempatnya menendang salah satu tubuh itu dengan kesal.
...