
Sedangkan di sisi lain.
Chacha yang setengah ragu mendekat, berjalan menghampiri salah satu cowok yang sedang berdiri bersama temannya yang lain. Tak lupa, Chacha membawa satu gelas minuman di tangannya.
“Aduhh …” tak disangka, Chacha akan menabrakan dirinya pada bahu cowok itu dan sengaja menumpahkan minuman pada baju bagian lengannya. “Sorry.” cicitnya dengan wajah yang ia buat-buat menyesal.
“Anjirrr, baju gue basah, oy! Lo kalau jalan hati-hati dong! Ah sial!” umpat cowok itu dengan kesal sambil mengibas-ngibaskan tangan yang terkena siraman.
Chacha menyimpan gelas yang sudah kosong itu ke atas meja. Lalu mengarahkan kedua tangannya untuk membantu membersihkan cairan yang mengenai baju bagian lengannya itu. “Aduh, sorry-sorry gue gak sengaja, serius. Ini baju lo jadi basah gini. Sorry, ya,” cicit Chacha yang masih membantu cowok yang sedang menunduk membersihkan baju bagian lengan dengan tissue yang sebelumnya ia ambil dari atas meja bundar yang terletak di dekatnya.
Ghea yang melihat itu memejamkan matanya erat sambil berujar, “aduh.” dengan pelan seperti sebuah bisikan. “Toloolll banget, sih, si Chacha. Kenapa pake siram baju cowok itu dengan minuman? Kaya kagak ada cara yang lebih kerenan dikit apa?”
Gampang banget buat Ghea berkata demikian. Padahal saat ini Chacha sedang pusing memikirkan keinginan anehnya itu. Udah untung juga Chacha bantuin.
Cowok itu mendongak setelah tangannya menjauh dari bagian lengannya yang basah, ia sedikit kaget melihat Chacha dengan penampilannya yang menurut cowok itu terlihat keren. “Iya gak papa. Lain kali hati-hati!” ujarnya pelan bersama wajahnya yang datar tanpa ekspresi.
“Iya. Sorry, ya, sekali lagi.” cicit chacha kembali.
Cowok itu mengangguk.
Sedangkan Chacha bingung harus bagaimana lagi. Lalu atensinya beralih pada Ghea yang sedang duduk di tempatnya. Chacha mengedik. Menaikan kedua alisnya tinggi-tinggi seolah ia sedang bertanya pada Ghea.
Ghea menggerakkan tangannya memberi isyarat pada Chacha agar cewek itu untuk mengajaknya berkenalan. Beruntung Chacha memahami bahasa isyarat dari tangan Ghea.
Namun, tanpa Ghea atau Chacha sadari, Pak Gery dari tempatnya berdiri mengamati setiap gerak-gerik sang istri yang bertingkah aneh.
“Eum, sorry,” sahut Chacha. Cowok itu menoleh kembali. “Ya?”
“Gue … gue … geu …”
“Eh, Cha lo gak papa?” adalah Ilham yang datang tiba-tiba. Sebelumnya Ilham melihat Chacha tadi jadi dia yang sedang bersama beberapa temannya yang lainnya memutuskan untuk menghampiri Chacha.
Chacha menoleh refleks. “Gak papa.” Dalam hati mengutuki Ilham yang datang secara mendadak itu membuat aksinya yang dipastikan akan gagal.
Sedang Ghea kembali memejamkan matanya erat-erat. “Ihh … itu Mas Ilham ngapain lagi nyamperin Chacha? Bakal gagal ini rencana gue. Sialan,” decaknya memukul sisi sofa dengan kesal. bahkan sangat terlihat kentara dari wajahnya. Dan lagi-lagi Pak Gery melihat itu.
“Eh, Bro, sorry, ya itu baju lo jadi basah,” ujar Ilham pada korban yang kena siram sengaja dari Chacha.
“Sans, Ham. Cuma kesiram doang. Gak papa,” jawab cowok itu sambil menepuk bahu Ilham.
Selanjutnya, Ilham menarik pergelangan tangan Chacha. Lalu membawa cewek itu pada pojok ruangan yang agak sepi. Chacha mengikuti langkahnya terpaksa. “Eh saya mau dibawa kemana?” tanyanya, Ilham tidak menggubris.
“Ih bener kan, gagal, deh, rencana gue. Chacha sih pake cara yang udah basi kayak gitu. Coba aja kalau disentil sedikit pinggangnya. Pasti bakal berhasil.” Ghea lagi-lagi berdecak. Mendengus dengan wajah yang memberengut.
Tak lama Indah menghampiri. Ia baru saja dari toilet. Entah abis ngapain tuh Indah lama banget dari toiletnya.
“Lo kenapa, Ghe?” tanya Indah pada Ghea sebelum ia dudukkan bokongnya pada sofa samping Ghea.
Ghea mengerjap sebentar. “Gak papa. Udah dari toiletnya?”
“Udah.”
Ghea mendongakan wajahnya saat Pak Gery sudah berdiri di hadapannya kemudian bertanya.
“Hah? Kenapa? Chacha? Itu, anu. Dia …” Ghea harus jawab apa, ya? gak mungkin Ghea jawab kalau dirinya yang menyuruh Chacha mendekati salah satu teman suaminya itu untuk mencari tahu masa lalu sang suami.
“Permisi, Pak. Minumnya!” Kemudian kalimat Ghea terpotong saat salah satu pelayan wanita menghampiri sambil membawa nampan. Namun anehnya, pelayan itu hanya membawa satu gelas minuman saja, dan hanya menawari Pak Gery seorang.
“Oh, ya, terimakasih.” Pak Gery mengambil gelas yang berisi minuman sirup tersebut. Lalu meneguknya sedikit setelah pelayan itu berlalu.
“Chacha kenapa, Ghe?” Pak Gery kembali bertanya.
“Oh … itu …” Ghea sedikit gelagapan. Ah bukan sedikit, tapi banyak. Cewek itu sedang berpikir harus menjawab apa. Menggaruk rambut belakangnya dengan gerakan mata yang terus berputar. Berpikir.
“Ah, udah lupain aja!” sahut Pak Gery lalu mendekatkan bibir gelas pada bibirnya. Pak Gery meneguk minuman yang dibawakan pelayan tadi. Barulah Ghea bisa bernafas lega sebelum ia menganggukan kepalanya.
Sesaat hening itu mendominasi Ghea dan Pak Gery. Sedangkan Indah tadi permisi untuk menghampiri Adi yang sedang berkumpul bersama teman-temannya.
Saat Pak Gery melepaskan bibirnya dari bibir gelas itu, ia menoleh ke arah kanan dimana arah itu menuju toilet cewek. Pak Gery menurunkan gelasnya dengan gerakan pelan. Pandangannya lalu tak sengaja mendapati satu sosok cewek yang masuk ke lorong kecil itu. Mungkin ia akan masuk ke dalam toilet. Buru-buru Pak Gery meletakan gelas kosong itu di atas meja bundar depan Ghea. Berlari. Meninggalkan Ghea yang merasa kebingungan dengan sikap sang suami yang mendadak aneh.
“Mas, mau kemana?”
Pak Gery mengabaikan teriakan Ghea.
Ghea berdecak di tempatnya. Sedikit aneh lalu berdiri. Melangkah ke arah yang sama dengan Pak Gery untuk menyusul sang suami.
**
Pak Gery terus berlari di lorong kecil itu. Mengabaikan kepalanya yang tiba-tiba merasa pening. Ia harus mendapatkan cewek itu. Dia gak boleh lari lagi dari Pak Gery apalagi menghilang.
Pak Gery mencari ke toilet. Membuka setiap pintu kamar mandi itu. Namun kosong. Tidak ada siapapun disana. Kemudian menyandarkan punggung dan kepalanya sebentar pada dinding bercat putih di dalam toilet sana. Memijat tengkuknya yang terasa berat. Kepalanya mendadak pusing lalu pelipisnya berkeringat walau keringat yang muncul masih tidak seberapa.
“Sial! Kenapa kepala gue pusing gini, sih?” Kembali memijat tengkuknya. Kali ini sedikit lebih keras. Pak Gery merasa ada yang aneh dengan minuman itu. Awalnya ia baik-baik saja bukan? Kenapa setelah meneguk satu gelas minuman yang diberikan pelayan padanya kepalanya sekarang merasa pusing?
"Sial! Jangan-jangan minuman itu?" Decaknya sembari memejamkan matanya erat-erat.
Selanjutnya, dirasa kepalanya sudah sedikit lebih ringan. Pak Gery keluar dari toilet itu. Berjalan di lorong kecil dengan penerangan yang sedikit temaram. Mengabaikan rasa pusing di kepalanya. Berjalan tertatih dengan satu tangan yang memangku belakang kepalanya dan satu tangan yang lain meraba-raba dinding tembok lorong itu.
Sampai pada satu suara yang membuatnya diam membeku dengan pandangan yang sedikit mengabur. Pak Gery menajamkan matanya lebih. Barulah ia merasa emosinya membakar jiwa sampai pada puncak ubun-ubun. Ia menggeram dengan gigi yang bergemeretak. Mengepalkan kedua tangannya erat bersama kedua mata yang menyiratkan amarah besar yang terpancar disana.
“Halo, sayang?”
TBC
Ayo spam next di kolom komen biar aku up lagi.
Seizy
Si penulis amatir yang sayang kalean semua. Jangan lupa makan ya guys!!!!!