
Sedangkan ditempat lain.
Pak Gery kini sedang duduk berhadapan dengan sumber dari masalahnya. Ia menatap cewek itu dengan tatapan yang tak terbaca sama sekali. Melipat kedua tangannya di depan dada, Pak Gery tak melepaskan pandangannya dari menatap wajah cewek yang menurutnya sudah sangat memuakkan.
“Jadi, kenapa kamu pengen ketemu sama aku, say--”
“Jangan lo ganggu gue apalagi Ghea!”
Dita hanya mengedik acuh bersama bibir yang mencibir. “Kalau aku gak bisa--”
“Gue bakal masukin lo ke dalam tempat yang paling menyiksa daripada rumah sakit jiwa.”
“Ow ow owwww … serem, ih.” Lalu mencondongkan tubuhnya. Menyanggah kedua sikunya di atas meja bundar lalu saling menautkan jari jemari lentiknya. “Bahkan itu gak akan buat aku nyerah buat dapetin kamu.” Dita berdecak seraya menggeleng pelan. “Sejauh apapun kamu menjauh dari aku, nyatanya kamu gak bisa jauh dari Dita. Gery hanya milik Dita!” kalimat itu penuh dengan penekanan. Lalu mengedipkan matanya. Menggoda. namun di mata Gery itu sangat menjijikan.
Entah bagaimana lagi Pak Gery menghadapi cewek gila di depannya ini. “Lo itu gak waras--”
“--dan itu karena kamu.”
“Sinting--”
“--Dan itu juga karena kamu.”
Pak Gery menggeleng. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu embusan kasar pun terdengar. “Kalau lo masih mengganggu gue sama Ghea lagi. Bukan hanya tempat siksaan yang bakal gue berikan.” helanya sebelum melanjutkan kalimatnya lagi. “Gue punya rekaman saat lo mendorong Fara dari lantai tiga sekola SMA--,” ancamnya yang dapat dimengerti oleh Dita.
“Kamu lagi ngancam aku? Sayangnya aku gak takut.” Dita mengedipkan lagi matanya. Melipat kedua bibirnya lalu menarik kedua sudut bibir itu. Bukan sebuah seringai, akan tetapi sebuah ledekan.
“Kamu lupa kalau aku Dita? Dita nggak takut sama siapa pun. Kamu mau serahin rekaman itu pada polisi. Silahkan, sayang. bahkan sama perdana menteri atau Bapak Presiden sekalian?” Dita mengedikkan kedua bahunya acuh. “Aku gak takut.”
“Mau lo apa sekarang?”
“Kenapa gak dari dulu kamu tanya ke aku kayak gitu? Tanya, apa mau aku. Kalau gitu semuanya kan gak akan kayak sekarang ini.”
“Gak usah basa-basi lo! Buruan bilang lo mau apa dari gue?”
“Perceraian!” kata Dita semakin tidak waras. “Aku mau kamu cerai sama Ghea. Jika Dita tidak bisa memiliki kamu, cewek manapun juga tidak boleh ada yang memiliki Gerynya Dita. Mau itu Fara, Ghea atau siapapun itu.”
“Oke. Gue turutin apa mau lo. Tapi sekali aja lo sentuh dan sampai nyakitin Ghea, lo gak bakal lolos lagi dari gue. Gue pastiin lo bakal sampai di neraka secepatnya.”
Entah Pak Gery sudah gila atau memang sama tidak warasnya dengan Dita sampai menanyakan hal apa yang menjadi keinginan cewek sinting itu lalu menurutinya begitu saja tanpa beban.
**
“Serius lo, Di, si Gery lagi nemuin si Dita?” tanya Ilham pada Adi. Cowok itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai bentuk jawaban. Lalu menyesap sedikit kopinya.
“Sendiri?” Adi mengangguk lagi sebelum kemudian cowok itu menyimpan cangkir ke atas meja.
Ilham berdecak seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Udah ketularan gila aja tuh sepupu lo, Di.” decaknya seraya menengadahkan wajahnya menatap langit-langit cafe. Seakan Ilham bisa membaca situasi drama yang akan terjadi selanjutnya.
“Ngapa lo yang jadi ribet, sih?” ucap Adi santai. Menyanggah kedua sikunya di atas meja bundar di depannya seraya menautkan jari-jemarinya.
Pun dengan Ilham yang mengikuti tubuh Adi, condong. “Eh elu pikir aja, begoo! Gimana gilanya si Dita. Kalau tuh cewek minta macam-macam sama si Gery gimana? Satu macam permintaannya aja pasti bakal bikin hidup si Gery makin blingsatan aja. Gak mikir apa tuh taik kuda, urusan sama bininya aja belum kelar. Ini udah mau ditambah lagi. Ck. Otaknya disimpan dimana sih tuh taik kuda?”
“Eh, onta. Yang namanya taik kuda ya jelas gak disimpan di otak si Gery lah. Dodol banget sumpah otak elu tuh. Gak percaya gue kalau lu jadi direktur Casmira. Cih.”
Ilham mendelikkan matanya. Mencari sesuatu kebenaran yang sedang direncanakan dua sahabatnya itu. Lalu mendesah setelahnya karena tidak dapat membaca semua itu. “Iisshhh … lu berdua lagi ngerencanain apaan dah? Curiga nih gue jadinya.”
“Ada deh … gak usah tahu lu mah. Bahaya!” sahut Adi lalu kembali menyentuh gagang cangkir kopinya sebelum ia menyesapnya lagi.
Adi mengedik. Menjauhkan bibir cangkir dari bibirnya. "Oke. Gak bakal minta bantuan sama lo. Tapi jangan nyesel kalau nanti si Chacha gue kenalin sama cowok lain."
‘Wah wah ngancem atau apa nih?” Ilham terkekeh. Dan Adi hanya mengedikkan kedua bahunya. Lagi.
Sementara di kantin sekolah.
Ghea sedang menikmati makan siangnya pada jam istirahat kedua. Ia duduk saling berhadapan dengan Ocy dan Reza. sementara disampingnya ada Tama yang hanya memainkan handphonenya saja.
“gue udah bilang belum sih?” Ghea bertanya setelah selesai menelan mie di dalam mulutnya.
“Bilang paan?” tanya Ocy menggigit biskuitnya dari tangan Reza.
Duh pasangan baru itu memang lagi dilanda kasmaran-kasmarannya. Cih. Ghea memutar bola matanya, malas banget lihat Reza dan Ocy yang so mesra gitu. Ghea juga kan jadinya mau romance-romance-an sama Pak Gery. Tapi mana bisa gitu. Ghea lagi ngerjain suaminya kan?
Eh kok Ghea jadi keinget suaminya itu, ya?
“Itu … tadi pagi gue dilabrak sama si Yura. eh bukan dilabrak juga sih. Tapi apa, ya? Ah pokoknya tuh cewek pas gue turun dari mobil main nabrak bahu gue aja. Cari ribut banget tahu gak.”
“Terus?” itu Ocy yang bertanya lagi. Tama memasang kupingnya sih walau atensinya masih pada layar pipih di depannya itu. sedang Reza sibuk menyuapi Ocy. Ck.
“Ya gitu pokoknya. Nyebelin banget. Masa bilang gue begoo karena udah percaya sama temen yang selalu gue anggap sahabat.”
“Maksud lo?”
“Ya gak tahu apa maksudnya. Yang pasti kayaknya nih ya, tuh cewek cuma mau ngadu domba gue sama lo pada aja deh.”
“Ngadu domba sama kita-kita gitu, Ghe?” Kali ini Tama pun membuka suara. Seraya memasukan handphonenya ke dalam saku celana abu mudanya.
“Kayaknya.” Ghea mengangguk lalu menyimpan sendoknya di dalam mangkuk yang masih tersisa kuah bakso. “Pokoknya kalau sampai tuh cewek ngadu domba kita nih ya, bakal gue pitesin lehernya.”
“serem amat lu, Neng?? sahut Ocy bergidik melihat tangan Ghea yang memutar seolah memang sedang mematahkan leher seseorang.
Saat keempat orang itu sedang bercanda dan tertawa, tiba-tiba seorang cowok menghampiri mejanya. Kontan saja membuat empat pasang mata itu mendongakkan pandangannya. Menoleh ke arah seseorang yang menyapa mereka.
“Sorry ganggu," katanya. “Gue mau pinjem Gheanya bentar. Boleh?”
TBC
Note Seizy :
Aduh guys maaf ya telat updatenya. Ini aku lagi gak enak body. Pening sama gak enak perut akunya. hihiii.
Ini kalau ada salah atau kurang ngefeel maafkeun ya. Nanti aku bakal revisi lagi kalau ada yang kurang gitu. Untuk sementara gini aja dulu. Hihii
Ini juga sedikit2 lagi mau di selesain konfliknya. Pokoknya jangan khawatir sama Pak Ger Neng Ghe ya. Mau dilangsungin aja konfliknya biar kaya di film film bioskop gitu. Biar entar kedepannya gak ada konflik berat lagi. Hihii biarkan ini yang menjadi konflik beratnya. Hehe saling mengerti aja ya guys!! Sayang aku ke kalian pokoknya tanpa batas dan tanpa akhir. Wkwkwkm
Yuk tambahin Like \= 150
komen \= 50
hihiii maunya aku itu mah.
Seizy
Si penulis amatiran yang lagi mual mual. hihii