
Ah sial, ini semua gara-gara Pak Gery, nih ngajak gelut dulu di ranjang. Jadinya Ghea kesiangan kan. Duh, pasti ini bakal kena hukuman Pak Ghani. Ah, Pak Gery, awas aja nanti kalau Ghea kena hukuman tapi dia gak nolongin.
Memarkirkan mobil milik sang suami di parkiran sekolah, Ghea membuka pintu mobilnya dengan buru-buru. Iyalah, itu mending gerbangnya belum ditutup. Masih beruntung juga dia, Pak Gery sendiri sepertinya belum datang. Dia tadi sebelum berangkat nyuruh Ghea buat bawa mobil aja. Biar cepet katanya. Sedangkan dia sendiri bawa motor trailnya.
Ghea berlari melewati koridor sekolah. Biar apa coba?
Ya biar cepet sampai kelas lah. Mumpung guru yang menjadi suaminya itu belum datang. Pasti jam pelajaran pertama juga belum dimulai.
Eh, pas Ghea sudah sampai di depan kelasnya, suara barinton milik Pak Ghani menghentikan Ghea. Ah sialan. Keburu ketahuan tuh jadinya.
"Kamu telat 20 menit, Ghea," kata Pak Ghani sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Lagian itu guru killer ngapain sih masih keliling aja. Aduhhh.
"Sedikit kan, Pak, telatnya. Gak banyak juga? Biasanya juga telat satu jam." Dasar Ghea. Ada saja jawabannya. Membuat Pak Ghani menggelengkan kepala. "Lagian Pak Gerynya juga belum datang kan?" Ia menoleh ke arah kelasnya yang memang suaminya itu belum tiba di sekolah. "Saya masuk, ya, Pak!"
"Lari lapangan 20 putaran!" Tegas Pak Ghani. Ah, guru BP killer itu mana bisa dibujuk, sih?
Ghea hanya menghela kasar. "Ck, jahat banget deh, Bapak. Sumpah. Ini cuma masuk gerbang aja yang telat. Belajarnya kan belum, Pak Ghani yang gantengnya kaya Tukul Arwana," canda Ghea bersama cengiran khasnya saat berhadapan dengan guru BP itu. "Masuk, ya, Pak." Lalu melangkah ke arah pintu. Namun terhenti lagi saat tangan Pak Ghani menarik tas yang Ghea gendong di punggungnya. "Lari lapangan 30 putaran!"
"Ck, jangan dong, Pak. Capek saya tuh, Pak. Udah olahraga juga di kamar. Masa saya harus lari lagi, sih, Pak? Nanti betis saya yang seksi ini berubah jadi talas bogor lagi, Pak." Ghea memasang wajah sememelas mungkin. Tapi yakin, itu guru BP gak bakal mempan deh.
"Ya, udah. Jadi 50 putaran!"
"Lah, kok malah jadi banyak, pak?"
"Ayo sekarang! Atau saya tambah jadi-"
"Astaga jangan, Pak! Iya, deh, iya. Ya ampun."
**
Ini baru putaran ketiga Ghea berlari di lapangan. Dan, capeknya udah kerasa banget, serius. Mulai ngos-ngosan juga. Terus walau matahari belum mulai meninggi, tapi pelipis Ghea udah dipenuhi kristal keringat. Terus ngucur ke rahangnya.
Ghea terus mengumpat pada guru BP itu sambil mengelap keringatnya. Eh tiba-tiba di koridot dia lihat Pak Gery yang sepertinya baru nyampe. Tapi lagi jalan bareng sama Bu Novi. Ish … nyebelin. Pasti aja itu membuat api cemburu Ghea merasa berkobar.
Ghea menatap Pak Gery dengan wajah yang memberengut tidak suka. Dadanya juga kembang kempis. Sumpah, Ghea ingin banget sekarang mencakar tembok. Terus itu Bu Novi kok kelihatan centil banget, sih? Pake senyum-senyum segala lagi pada Pak Gery.
"Ini, nih, murid pemegang record terlambat di sekolah ini," ujar Bu Novi. Guru judes itu sengaja banget menghentikan langkahnya tepat saat Gjea sedang menatap ke arahnya.
Bukan.
Bukan Bu Novi. Tapi Pak Gery.
Ghea menatap Pak Gery dengan wajah kesal.
"Sepertinya kamu bakal menang reward deh, Ghe, kalau terus-terusan terlambat datang." Bu Novi berujar lagi. Pak Gery hanya diam mengatupkan bibirnya. Namun matanya mendelik ke arah Bu Novi tidak suka.
Oy, istri gue itu!
Ih, ingin sekali Pak Gery menyahut seperti itu. Tapi jangan dulu. Takut Ghea yang nantinya jadi korban. Bisa saja kan kalau mereka tahu Ghea sudah menikah dengan statusnya masih sekolah, teman-temannya bakalan berpikiran buruk pada Ghea. Apalagi menikah dengan gurunya. Wah bakal heboh tuh satu sekolah.
"Dih, Ibu sirik banget, sih, Bu?" Ghea mencibir sambil bibirnya mengerucut. Duh, kok buat Pak Gery jadi gemes kaya gini, sih?
"Maaf, ya. Gak minat saya sirik sama kamu, Ghea. Dasar anak bandel!" ucap Bu Novi tanpa filter. Tuh mulutnya emang gak dikasih bon cabe udah pedes aja. Apalagi kalau dikasih, ya. Makin tambah pedes aja kali, tuh mulut.
"Bandel-bandel gini juga gue mah laku kali, Bu. Dari pada Ibu. Udah mau kepala tiga. Belum nikah-nikah mulu. Gak laku apa, Bu? Awas jangan lama-lama menjombi. Nanti nikahnya ketuaan. Kalah sama gue." Sumpah Ghea udah kesel banget sama tuh guru. Gak mencerminkan banget, deh, serius. Pengen nampol pake sepatu kets mahal Ghea, deh.
Dan Pak Gery. Oh, cowok itu, rasanya Ghea ingin sekali menarik tangannya lalu Ghea pelintir aja. Biar tahu rasa. Istri dikatain malah diem aja.
"Kamu kalau ngomong sama guru dijaga, ya, mulutnya!" sengit Bu Novi. Gak terima kayanya sama apa yang dilontarkan Ghea untuknya.
"Elah, Bu. Gimana saya bisa jaga mulut saya, kalau ibunya sendiri gak bisa jaga mulut dan ucapan Ibu." Ghea menjawab lagi tak kalah sengit
Ini kalau dibiarin, pasti adu mulutnya gak bakalan berhenti, deh. Lalu tanpa mengidahkan dua wanita beda usia itu, Pak Gery membalikan tumitnya. Ia melanjutkan kembali langkahnya. Jam pelajaram pertama sudah mau abis juga.
Pak Gery gak boleh lemah lihat Ghea dihukum kaya gitu. Ia harus propesional dong. Walau hatinya tidak tega juga. Pasti cape tuh Ghea. Udah olahraga di ranjang. Eh, di sekolah malah ditambah olahraga lagi. Gak papa lah, biar sehat dan kuat juga kan fisiknya?
"Eh, Pak Ger, tunggu." tegurnya saat Bu Novi malah melihat Pak Gery berjalan duluan. "Awas, ya, kamu, Ghea," katanya lalu menyusul Pak Gery.
Dih apa sih maksudnya Bu Novi?
Ngancem atau apa?
"Oy, laki orang itu, oy." Ingin sekali Ghea berteriak begitu pada Bu Novi saat mengejar suaminya. Tapi ia ingat kalau ini di sekolah. Dan itu kalau yang lain tahu bakal jadi masalah juga untuknya dan Pak Gery tentunya.
**
Jam pelajaran pertama Ghea tidak mengikutinya. Ia juga baru bisa menyelesaikan hukumannya saat bel istirahat berbunyi.
Ghea tuh tidak benar-benar menjalani hukuman Pak Ghani untuk lari lapangan 50 putaran. Namun Ghea hanya jalan-jalan kecil aja sambil mendengarkan musik di telinganya yang sengaja ia pasang headset.
Kini cewek itu sedang duduk di kursi kantin tanpa melepas headsetnya. Sambil menyedot teh manisnya yang tadi ia pesan sama Ibu kantin.
"Oyyyy … pengan-"
Itu si Reza mulutnya ember banget serius deh. Untuk aja keburu Ghea bekam tuh mulut bocor. Kalau nggak satu kantin bisa pada dengar dan heboh aja kali mendengarnya.
"Sialan, lo, Rez. Jangan ember dong, ah, lo mah. Rese, sumpah," umpat Ghea kesal.
"Sorry, gak sengaja gue, tuh." Reza menjawab. "Betewe, gimana lo, udah berhasil dijebol belum?" tanya Reza berbisik
Aduh hampir saja Ghea tersedak teh manisnya. Dan untungnya ia tidak sedang menyedot teh manisnya. "Kepo amat lo, za. Rahasia perusahaan, ya, itu mah. Lo gak perlu tahu."
"Gitu amat lo sama gue. Eh betewe gimana? Gue bener dong, ya?"
Ghea menoleh mengernyit bingung pada Reza. "Bener apaa dah?"
"Itu … Pak Gery."
"Apaan? Yang jelas dong lo kalau ngomong sama gue!"
Lalu Reza mendekatkan wajahnya pada telinga Ghea. "Punyanya Pak Gery. Gede kan pasti," bisiknya nyeleneh pada Ghea.
Eh, itu sumpah ya, mulutnya si Reza kudu di sumpel pake kolor kayanya baru bisa diam.
"Berengsek lo, ah. Udah gak waras emang lo, Za. Ngapain lo bahas itu sama gue? Udah gak nahan juga lo?" Ledek Ghea bersama seringainya.
Saat Ghea sedang ngobrol random dengan Reza. Tiba-tiba handphone Gjea berdering. Satu pesan masuk pada handphonenya itu.
"Saya tunggu kamu!"
TBC
ini maaf ya bahasanya agak frontal gitu. wkwkaaa. enjoy dulu guys. sebelum konflik aselinya muncul. wkwkwkmm