
Suara lirih ayunan pintu terdengar. Ghea masuk kemudian. Senyum cerah mengembang indah di wajah. Binar mata bahagia terlalu sulit untuk wanita itu sembunyikan.
Suara langkah kaki Ghea tidak menciptakan bunyi, karena teredam oleh karfet abu tua berbahan bulu. Sandal rumahan membuat kakinya merasa nyaman dan tentu saja ia bisa bergerak sesuka hati. Wanita itu sudah tidak lagi mengenakan baju pasien. Dress modelan sabrina yang kini melekat cantik di tubuh. Terlihat sangat pas di tubuh Ghea dan tentu saja begitu elegan serta sedap dipandang.
Empat minggu yang singkat Ghea lalui dengan bolak-balik ke rumah sakit setelah ia pun keluar dari tempat beraroma obat tersebut. Itu karena Ghea yang harus melihat malaikat kecil tampannya di sana. Di ruang NICU.
Tapi sekarang, semua itu sudah berlalu. Kesedihan itu berlalu dengan meninggalkan jejak yang akan menjadi pelajaran berharga untuk Ghea sendiri.
Jika menjalani hidup, tidak semudah membalikan telapak tangan. Atau pula menjentikkan jari lalu keluar suara bunyi. Bahkan juga tidak semudah mengedipkan kelopak mata.
Tuhan sudah memberinya cobaan sesuai porsi masing-masing. Tinggal bagaimana cara kita saja untuk menghadapi segala bentuk macam angin topan yang menerjang. Tinggal bagaimana cara kita menikmati semua itu agar tetap dalam pikiran yang positif.
Tuhan tidak pernah salah untuk memberikan cobaan pada pundak siapa. Berat menurut kita, belum tentu menurut Tuhan. Sebab, tuhan tahu jika kita mampu menopangnya. Mampu menjalaninya, bahkan mampu untuk melewati semua cobaan itu.
“Hai, anak Bunda…”
Ghea selalu bermimpi seperti ini. Masuk ke dalam satu kamar kecil. Yang mana kamar itu beraroma wangi khas. Dindingnya penuh dengan berbagai Disney. Banyak mainan di sana dan tersimpan secara acak. Dinding berdominasi putih, terutama dengan tempat tidur yang Ghea harap ada makhluk mungil yang menempatinya. Tidur terlentang di sana. Kedua kakinya terbuka serta kedua tangan yang tersimpan di atas kepala mungil itu. Terlihat gemas, bukan?
Terkadang mimpi benar-benar menjadi kenyataan. Bahkan, mimpi yang patah milik seorang Ghea Virnafasya.
Kedua tangan berjari lentik itu mengarah pada tubuh sang bayi yang baru berusia empat minggu, untuk kemudian menggendongnya penuh perasaan. Mengecup dahinya, menghidu aroma khas darinya. Sambil memejamkan kelopak mata. Meresapi semua yang ada pada putranya. Sekali lagi Ghea menghidu. Merasakan bahwa dia (bayinya) benar-benar nyata.
“Tidur terus, sih, anaknya Bunda? Hem? Udah sore juga loh, sayang.” Menimang tubuh mungil sang bayi tampan, Ghea menjauhkan wajah. Malah menggesekan puncak hidung mancungnya pada puncak hidung sang bayi. Ini sangat menggemaskan.
**
Lama sekali Ghea berada di dalam kamar dengan ukuran tidak terlalu besar seperti kamar pribadinya dengan Gery. Selain merasa nyaman, kamar itu juga membuat Ghea betah berlama-lama. Ia bahagia melakukan hal yang masih baru baginya ini.
Sejak dinyatakannya kondisi sang malaikat mungil yang begitu tampan sudah membaik. Ghea mengurusnya sendiri. Tidak ingin ada bantuan tangan dari orang lain, selain Mama Sora dan Mama Dian. Meski Gery menawarkan untuk memperkerjakan jasa baby siter. Tetap saja Ghea tidak ingin.
Daun pintu tiba-tiba terbuka dari luar. Kepala Ghea menoleh kesana. Lalu menghela nafas kasar sambil mengukir senyum cantik disaat tahu siapa orang yang sekarang malah berdiri melipat satu kaki bersama satu sisi bahu bersandar di ambang pintu sana. Terlihat gagah dan memesona bersama kedua tangan terlipat di depan dada. Tersenyum bahagia melihat pemandangan di depannya itu. Sangat menyejukkan pandangan.
Ghea membalas senyum. Lalu kembali lagi atensinya pada sang makhluk mungil yang sedang menendang-nendang angin, kedua kakinya tertarik ke atas. Jari-jari mungil itu pun tidak lepas mencengkeram ujung rambut Ghea yang terjuntai ke arahnya.
“Betah banget kayaknya di sini? Hem? Sampe aku pulang aja gak disambut.” Gery berkata sambil melerai kedua tangan yang terlipat. Kakinya melangkah maju, perlahan mendekat. Lalu, senyum di bibirnya tidak pudar.
“Hai …. Jagoan Ayah? Bahagia, ya, sama Bunda? Hem?” Berdiri di samping sang wanita bersama punggungnya yang membungkuk, Gery pun malah ikut membungkukkan punggung. Menoleh sesaat pada wajah Ghea. Sungguh pula sampai pipi keduanya saling bersentuhan sebelum bibir tebal Gery mengecup pipi Ghea dari samping.
Ghea terkekeh dengan perlakuan lelakinya ini. Menegakkan punggung kemudian, setelah sebelumnya melepaskan jari-jari mungil dari mencengkeram ujung rambutnya. “Justru kamu kayaknya yang lagi bahagia? Ada apa? Hem?” tanya Ghea sambil membuka simpul dasi Gery. Tatapannya tertuju pokus ke sana.
“Huh.” Gery mengebuskan nafas. Demi apa, aroma mint dan tembakau sampai tercium pula oleh Ghea. Simpul dasi itu sudah terbuka dan sekarang Ghea menariknya untuk terlepas dari kerah kemeja sang lelaki menawan ini. Menggulung rapi dasi itu kemudian. Ghea berniat ingin menyimpan gulungan dasi itu di atas meja. Tetapi, Gery malah mengambil dari tangan berjari lentik itu.
Ghea mengedikkan kepala dengan bibir tersenyum miring. Serta satu alis tertarik setengah senti.
Gery membuka gulungan dasi itu. Menggapai dua ujungnya, hingga memanjang. Dikalungkan Gery dasi itu ke belakang pundak Ghea kemudian. Menariknya mendekat.
“Hk.” Ghea menahan nafas sesaat ketika wajahnya tertarik mendekat ke wajah Gery. Demi apa, bibir Ghea hampir menyentuh bibir tebal nan seksi lelaki itu. Dilipat Ghea bibirnya menahan senyum yang akan tercipta.
“Tentu saja aku sedang bahagia,” kata Gery. Betapa meresahkannya bagi Ghea saat Gery bicara, bibir itu bergerak di dekat bibirnya. Sesekali pula saling bergesekan. Membuat bulu kuduk Ghea meremang.
Tatapan Ghea sesaat terpaku karena bibir menggoda lelaki ini.
Gery mengerlingkan mata dan sudut bibir yang kata Ghea menggoda itu tertarik. Ia tersenyum miring dengan sejuta pesona yang ada di dalam diri lelaki itu.
Seketika Ghea merinding dibuatnya. Kedua bahunya bergerak untuk dibebaskan. “Mas…” desaah suara Ghea pelan.
“Hemm.”
Bukannya melepaskan, malah Gery semakin menggoda wanitanya itu. Disatukan Gery kedua ujung dasi yang melingkari pundak Ghea, menggenggamnya dengan satu tangan kemudian. Sungguh pun, kepalan tangan Gery yang menempel di antara belahan dadanya, membuat Ghea salah tingkah dan tidak keruan. Gery juga pasti merasakan debaran di dalam sana.
“Lepasin! Kamu gak malu dilihatin? Heuh?” ujung mata Ghea melirik pada bayi tampan yang tengah menguluum jari jempol mungilnya.
“Siapa?” Lelaki itu semakin menggoda.
“Astaga.” Lalu, tidak sanggup Ghea untuk tidak merotasikan kedua bola hitam pekatnya.
Ditarik Gery kedua ujung dasi yang digenggamnya. Semakin merapat saja tubuh mereka. Lalu, lelaki itu menyimpan satu tangan yang lain di belakang punggung Ghea. Mengusapnya naik turun penuh kelembutan. Tapi, yang Ghea rasakan malah sensasi berbeda. Perutnya terasa diaduk-aduk. Dijepit Ghea bibirnya kemudian.
Sialnya, Gery semakin menyeringai dengan wajah tampan. Aroma keringat tubuh memabukan. “Aku bahagia sekarang. Di sini. Bersama kamu dan Noah,” ucap Gery tiba-tiba. Kepala lelaki itu miring. Membisikan kalimat sederhana namun penuh makna tepat ke telinga Ghea. Demi apa, jika Ghea tidak salah, bibir Gery sempat-sempatnya mengecup lalu menggigit sisi daun telingannya. Pelan, lembut, erotis, memabukan, entahlah semua rasa itu menjadi memuncak untuk Ghea. Wanita itu tidak bisa memendam.
Ditarik Gery kepalanya setelah puas menggoda sang wanita terpuja. Ia menikmati sensasi wajah terbakar Ghea. Menatap dalam pada sorot matanya kemudian. Gery tersenyum puas lagi.
“Apa kamu juga bahagia di sini? Bisa bersama dua cowok tampan yang tidak terkalahkan? Hem?”
Selama mereka bersama, memang tidak ada yang perlu untuk disedihkan lagi. Gery tentu tidak akan membuat Gheanya menderita. Itu sudah dipastikan dan lelaki itu sudah berjanji di awal bibirnya mengucapkan ikrar janji suci.
Hidup bersama dengan Gery pun adalah pilihan Ghea. Sebisa mungkin juga wanita itu akan selalu membuat bibir lelaki tampan di dekatnya ini tersenyum. Saling menjaga dan berusaha saling membahagiakan.
Apalagi dengan kehadiran Noah sekarang. Tidak ada alasan untuk keduanya tidak bahagia menjalani sisa-sisa kehidupan.
Gery menatap Ghea kemudian begitu saja menyambar bibir merekahnya. Menarik tengkuknya dengan kelima jari panjang Gery. Semakin memperdalam lumataan, ciuman bahkan saat bibir Ghea sedikit terbuka untuk menghirup oksigen, itu dijadikan kesempatan Gery menyusupkan lidahnya. Merongrong semua area di dalam sana.
Lumataan berbahaya itu terlepas. Ghea terengaah dengan kelopak terpejam. Kedua telapak tangan yang tadi mengalung turun lalu menyimpannya di atas dada Gery.
“Aku nggak bisa nahan-nahan lagi, sayang.” Disisa nafas-nafas Gery yang terengaah, Ghea terkekeh sambil menggelengkan kepala pelan.
Kelopak Ghea terbuka dan langsung mempertemukan tatap dengan bola mata abu bak kristal itu. “Masih belum bisa, Mas,” ujar Ghea mengusapi dada Gery naik turun.
Semakin saja membuat lelaki itu tidak bisa menahan hasrat serta gairah yang sudah sangat lama ditahannya.
“Ck.” Bibir bekas memesrai bibir Ghea itu berdecak bagai frustasi. “Berapa lama lagi memangnya? Hem? Sudah satu bulan aku puasa, Ghe. Kamu gak kasihan sama aku? Gak bisa konsen kerja, kepala aku suka mendadak pening.”
“Hem.” Wanita itu malah bergumam saja.
Oh Lord!
“Astaga … Jangan bilang kamu bakal nyuruh aku main sendiri, Ghe?!”
“Hem-hem.” Ghea mengedikkan kepala.
Kepala Gery menggeleng. Tangannya masih merengkuh tubuh Ghea. “Oh nggak-nggak. Mana enak, sayang?" keluhnya menggemaskan.
Oh Tuhan … lelaki ini sedang merengek padanya.
“Terus?” Ghea bertanya. Satu alisnya naik tinggi.
“Pake mulut kamu, ya!”
“Heuh?!”
Tanpa bisa menghentikan protes dari Ghea lagi, lelaki itu kembali menarik punggungnya. Dengan sekali sentakan saja, bibir Ghea sudah dilahapnya habis. Tanpa jeda serta tanpa memberikan Ghea pasokan oksigen.
Gery siap memulai keabadian mereka—cinta dan kebahagiaan seumur hidup. Tak ada lagi rasa takut.
Dan bagi Ghea, tidak ada alasan untuk tidak menyesal dengan semua yang sudah terjadi dalam hidupnya. Termasuk dengan meninggalnya Airin.
Mungkin Tuhan lebih menyayangi Airin saat itu, hingga memanggilnya secepat yang tidak semua orang bayangkan.
Sekarang, kehidupan Ghea benar-benar hanya akan ada Gery dan Noah saja.
.
.
_SELESAI_
Note Seizy (PLEASE BACA) :
Sebenarnya, banyak sekali yang bisa kita ambil dari satu cerita ini. Tanpa disadari aku pun bisa mengambil kesimpulan, bahwa cerita ini mengisahkan tentang KESETIAAN pasangan.
Dengan Ghea yang menderita satu penyakit. Bisa dibayangkan, bisa saja Gery meninggalkan Ghea karena penyakit itu. Tapi karena kesetiaan itu tercipta di dalam diri masing-masing, akhirnya bisa saling menerima untuk kemudian saling menguatkan.
Lalu tentang sebuah kenyataan hidup.
Karakter Ghea di sini selalu diuji dengan cobaan. Dari mulai Papanya meninggal, kemudian ditembak langsung dengan kenyataan jika dirinya menderita penyakit. Tapi, karena ketegaran dan kesabaran serta menerima dengan lapang dada, Ghea bisa memetik hasilnya dengan adanya NOAH (bayinya) yang dikira sudah meninggal.
Mungkin itu diantaranya pelajaran yang bisa aku ambil. Semoga kita sama, ya.
Well. Aku berterimakasih untuk semua yang sudah mampir baca cerita ini dari awal sampai selesai. Terimakasih sudah memberikan like serta komentar terbaik dan lucunya. Aku gak bisa balas semua komentar yang masuk. Tapi percayalah jika aku membacanya. Terkadang pula itu adalah satu pemecut untukku terus berkarya (bahwa ternyata ada loh yang baca cerita aku). Gak nyangka meski view di bawah 10k. wkwkwk (harus tetap bersyukur).
Tanpa kalian semua aku bukan siapa-siapa... Ya, meski masih jadi penulis amatiran gini. Tapi tetep saja, tanpa kalian aku gak akan sampai ke titik dimana aku saat ini.
Aku sayang kalian tanpa batas pokoknya.
Anw, cek CHANNEL YOUTUBE PENULIS AMATIRAN. BANTU SUBSCRIBE, kali aja aku buat EXTRA PART GHEA DAN GERY di sana. Fallow ig penulis juga @seizyll_koerniawan atau cari nama seizy kurniawan aja. Untuk infoh aja. barangkali nanti aku infoin jika ada cerita baru lagi.