Married With Teacher

Married With Teacher
6


.


.


.


Seminggu setelah perbincangan malam itu, sekarang Melisa sedang menunggu hukuman eksekusi mati yang akan diberikan Keland padanya karna tak mengumpulkan tugas matematikanya saat itu. 


Bagaimana ia bisa mengumpulkannya jika mereka semua mengadakan pertemuan seperti itu sampai jam 22.00 dan saat itu Melisa sudah sangat mengantuk dan tak mengecek notif ponsel nya kemudian tertidur. Keesokan harinya pun ia jadi gegabah sendiri ketika si ketua kelas meminta tugas tersebut. Karna ia baru ingat jika si Keland sialan memberi tugas sangat banyak. Dan menyontek pun ia tak sempat lagi.


Jadilah sekarang ia menunggu hukuman eksekusinya karna pria itu pasti mengungkitnya. Tolonglah selamatkan nyawanya saat ini juga.


Dan semua penghuni tiba-tiba diam. Itu menandakan Keland telah datang dan Melisa semakin ketakutan. Ketiga temannya pun menatapnya prihatin. 


"Selamat siang, silahkan berdoa" perintah Keland berhasil membuat Melisa kikuk saat melihat hanya ia sendiri yang masih terpelongo melihat kiri-kanan. Ia belum tau sama sekali peraturan baru Keland itu.


Setelah semuanya selesai berdoa Melisa pun makin takut. Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi padanya kali ini?


"Mengapa kau tidak berdoa?" Tanya Keland tajam menatap Melisa yang kini tampak gugup sambil menggigit bibir bawahnya.


"Ak..aku...."


"Apa?"


"Maaf pak..." ucap Melisa sambil menunduk namun Keland mengabaikannya. Kemudian beralih menatap yang lain.


"Siapa yang tidak mengumpulkan tugas yang saya berikan minggu lalu?" Tanya Keland membuat semua diam menunduk. Kini Melisa merasa neraka nya telah tiba. 


"Dari 40 siswa, hanya ada 39 buku, dan siapa satu orang lagi yang tidak mengumpulkan?" Tanya Keland semakin geram karna tidak ada yang mengaku. Melisa semakin gemetaran ditempatnya.


"Mengaku atau saya sendiri yang akan memeriksanya" ucapan Keland kali ini berhasil membuat Melisa mengangkat tangannya. Gadis itu kini menelan liurnya kasar, ia sangat ketakutan. Wajahnya seketika memucat. Gurunya satu ini sangat menyeramkan.


"Kau lagi dan lagi.... sepertinya kau sangat senang di hukum" ucap keland berhasil membuat ketakutan Melisa semakin menjadi. Seluruh penghuni kelas bisa merasakan aura dingin. Dan mereka bisa melihat sepertinya Melisa tidak akan lolos kali ini. Dipertemuan kedua saja dengan Keland berhasil membuat semua siswa/i merinding ketakutan. Penilaian pertama mereka tentang pria itu yang begitu tampan dan sangat memikit terutama dikalangan para gadis kini sudah luntur sudah karna ketakutan mereka lebih mendominasi. Tapi masih banyak juga diantara mereka yang menaruh hati diam-diam pada gurunya tersebut. Entah mengapa ada yang merasa saking dingin semakin cool. Memang pesona Keland tak bisa diragukan begitu saja. Lelaki itu sangat luar biasa menggoda dan begitu tampan. Perempuan yang akan mendapatkannya pasti akan sangat bahagia nantinya. 


"Kau temui aku setelah jam pelajaran ini selesai" perintah Keland membuat Melisa menghembuskan nafas kesal. 


"Baik pak" jawabnya, kemudian Kalend berlalu dan memulai pelajaran kembali.


Selama jam pelajaran matematika berlangsung, pelajaran paling ia benci itu memang tampak berbeda kali ini. Melisa yang pada dasarnya memang sangat sulit mengerti angka-angka tapi entah mengapa saat Keland yang menjelaskan ia merasa itu seakan lebih mudah ketimbang penjelasan dari guru lain yang bertele-tele. Keland membuat semuanya menjadi lebih simpel dengan penjelasan yang simpel dan rumus yang gampang diingat. Dan sepertinya bukan hanya ia saja yang menganggap begitu. Saat melihat ke samping kiri-kanan, ia yakin teman-temannya pun mengerti, melihat dari keseriusan mereka sangat tampak jika mereka sangat puas dan senang dengan cara mengajar Keland. 


Kini Melisa tak heran lagi, mengapa bisa semua teman-temannya selesai mengerjakan 50 soal dalam satu malam tugas yang diberikan Keland minggu lalu. Ia tampak heran, ia fikir teman-temannya terpaksa mengerjakan karna ketakutan yang luar biasa pada guru itu, ternyata mungkin selain itu juga karna mereka senang mengerjakannya karna ini sangat jarang mereka mengerti dengan pelajaran ini meski soal itu terbilang mudah sekalipun. Bahkan Erlando yang merupakan peringkat pertama dikelas itu tak jarang merasa kesal karna tak mengerti apa yang diterangkan oleh si kepala plontos yang terkesan sangat berbelot-belit.


"Sekarang kau..... silahkan kerjakan soal di papan tulis"perintah Keland pada Melisa membuat gadis itu celingak-celinguk apakah ia yang di perintahkan atau memang yang di sampingnya.


"Kau, Melisa...." panggil Kalend membuat Melisa menunjuk diri sendiri heran.


"Dari tadi saya perhatikan sepertinya kau tidak serius dalam pelajran saya, saya menjelasakan di depan tapi mata mu ke kiri-kanan, jika kau tidak mengerti silahkan tanya, jika kau tidak suka pelajaran saya maka silahkan keluar" ujar Keland tajam membuat Melisa malu lagi... dan lagi. Kini semua mata menatap iba kepadanya. Bagaimana bisa pria itu menangkap pergerakannya sementara ia saja sedang asyik menjelaskan di depan. Apa jangan-jangan mata pria itu ada juga di belakang kepala? Sangat tidak masuk akal.


"Sa..saya... mengerti kok pak..........sedikit" ada jeda dalam perkataannya dan memelankan suara ketika mengatakan sedikit. Dan hal itu sontak sukses membuat semua orang tertawa terbahak-bahak kecuali Keland tentunya yang kini semakin menatap tajam padanya.


"Baru kali ini saya menemukan orang sebodoh kamu, mulai minggu depan di jam pekajaran saya, kamu duduk di depan" perintah Keland yang memang menyadari Melisa duduk paling belakang mencari aman.


"Ia pak" jawabnya menunduk takut. Aishh.... bagaimana nanti jika pria itu jadi suaminya? Bisa mati muda dia secepatnya. Nasib sialan. 


"Hari ini saya memiliki pengumuman penting" beralih dari Melisa Keland kini menatap semua murid nya. Dan sekarang semua menatap serius padanya.


"Minggu depan, saya tidak akan masuk. Jadi saya memberikan kalian tugas untuk di kerjakan di kelas pada jam itu dan akan di kumpul saat pulang sekolah. Saya akan memberikan soalnya pada ketua kelas sebelum saya cuti jadi jika tidak ingin bermasalah dengan saya maka jangan melakukan hal-hal yang tidak saya sukai" ucapnya membuat mereka mengangguk paham. 


Kadang ada yang bertanya dalam hatinya, sebenarnya jabatan itu guru di sekolah mereka apa sih? Mengapa ia bisa ambil cuti seenaknya sementara dia adalah guru baru? Berbagai hal yang hanya bisa tersangkut di otak mereka tentunya karna mereka tak bisa menyuarakan pendapat mereka langsung.


Sementara Melisa yang sudah paham maksud cuti Keland adalah karna pernikahan mereka kini hanya menghembuskan nafasnya lagi dan lagi.


Semoga sekelas mereka tak curiga padanya karna ia juga tak akan sekolah hari itu. Mudah-mudahan.


Tidak lama bel pulang pun berbunyi segera saja mereka diperintahkan kembali berdoa oleh Keland kemudian berbenah lalu piket. Kini guru itu memerintahkan Melisa mengikutinya karna masalah mereka belum selesai. 


Sementara semua teman-temannya bernafas lega ketika guru dingin itu kini telah melangkah keluar dari kelas mereka.


"Hufttt... aman....." Seru Rara panjang membuat yang lainnya pun ikutan mengelus dada masing-masing.


"Kasihan Melisa yah, bakal dapat hukuman lagi dia. Gimana kalo orang tuanya di panggil lagi?" Ucap Fela sekaligus bertanya yang kemudian membuat Rara dan Chaca khawatir.


"Mengapa dia galak banget sih? Chaca gak suka sama orang galak, tapi dia ganteng" Chaca yang notabenya memang manja dan terlemot selalu diantara mereka kini mengutarakan pendapatnya pada Keland dengan mengerucutkan bibir nya membuat kedua temannya gemas sekaligus kesal.


"Itu bibir jangan dimonyongin Cha, nanti dicium setan" ucap Fela sekalian memukul bibir Chaca membuat gadis itu meringis kesal. 


"Hufttt... kali ini Melmell gak bisa ikutan deh sama kita maen guys" ucap Fela yang memang mereka ada janji mau hang out hari ini.


"Sebenarnya sih bagus dia gak ikut. Habis aku kasihan sama dia, tiap kali dia ikutan sama kita... dia bakal jaga nyamuk karna gak punya pasangan. Kan gak tega juga" ucap Rara yang diangguki ia sama teman-temannya. 


Memang diantara mereka berempat hanya Melisa lah yang masih jomblo alias tak punya pasangan. Teman-temannya sudah punya pasangan dari anak sekolah lain yang merupakan sahabatan juga seperti mereka, jadi ketika mereka kumpul membawa pasangan masing-masing tidak ada kecanggungan lagi karna mereka karna semua sudah akrab. 


Sebenarnya diantara mereka semua bukan cuma Melisa saja yang jomblo. Tapi juga Reymond ketua genk mereka, dan pria itu juga menyukai Melisa hanya saja Melisa terlalu cuek pada pria untuk ukuran seorang gadis. Melisa terlalu tergila-gila pada idolanya hingga ia tak memperdulikan banyak laki-laki tampan yang ingin mendekatinya. Bukan ia tak menyadari perasaan mereka padanya, hanya saja memang ia tak terlalu membawa pusing hal itu. Ia hanya fokus mencari cara bagaimana agar bisa menonton konser idolanya dan setidaknya bagaimana ia bisa sekali saja seumur hidupnya bertemu dengan idolanya. Dan ia pun sudah berjanji akan menemukan seseorang yang akan ia nikahi nanti jika bukan idolanya maka adalah pria yang mirip dengan idolanya. Pemikiran yang luar biasa mustahil memang tapi ternyata tercapai dengan gurunya sendiri yang sangat killer.


"Lagian sudah capek-capek nyomblangin dia ke Reymond ekh si Reymond ganteng di tolak. Sepertinya otaknya sudah geser gara-gara sehun. Kapan coba dia nikah kalo nyari laki-laki yang mirip sehun? Bisa perawan tua dia" kesal Fela


"Tapi kan ada pak Keland yang mirip Sehun" ceplos Chaca membuat mereka kembali tersadar dan ingat bagaimana Melisa memeluk Keland di depan kelas dan mengatakan Sehun. Hal itu sontak membuat mereka tertawa bersama.


"Biar pun pak Keland mirip Sehun mukanya, tapi jangan tanya sikap nya yang beda jauh. Mana mau Melmell, lagian juga kalo Melmell mau pun, emang pak Keland yang sempurna mau sama bocah malang kayak Melmell?" Ucap Rara kembali mengundang tawa mereka.


"Lagian juga tuh yah, sepertinya pak Keland yang super duper tampan itu gak mudah di takhlukin, kurasa saat ia benar-benar menikah, pasti dia akan menikah dengan perempuan yang dia cintai. Dan hari itu sukses akan jadi hari patah hati sedunia yang mengenal pak Keland" jelas Fela kini membuat kedua teman mengangangguk setuju.


"Udah akhh sekarang kita berangkat, mereka kayaknya sudah nungguin di gerbang" ucap Rara saat menatap dari jendela yang memang mengarah ke gerbang dan disana sudah berjejer sepeda motor para kekasih mereka. Mereka pun beranjak dari kelas yang memang sudah kosong itu, kemudian keluar menemui para tambatan hatinya.


....