
Jantung Ghea berpukul. Tusukan terasa di perut buncitnya ketika ia akan membuka pintu mobil. Untuk kemudian duduk lagi, menarik punggungnya untuk bersandar pada sandaran kursi kemudi. Mengeluarkan nafas yang terasa sesak lewat mulut secara pelan-pelan dan teratur sambil mata tidak lepas memandang dia yang justru Ghea lihat kakinya mulai menapaki teras rumah sederhana itu.
Jika Ghea terus melihat dari kejauhan seperti ini, rasa penasarannya tidak akan kunjung reda. Maka dari itu, dengan menahan rasa nyeri di bawah perut, Ghea harus tahu apa yang dilakukan suaminya di rumah yang sama sekali asing baginya.
“Terimakasih, Pak, sudah mengantar saya,” ujar Airin pada Gery ketika cowok itu ke luar dari balik gordeng yang selalu terlihat tertutup itu.
"Not a problem. Saya melakukan ini karena kamu karyawan saya,” kata Gery mendongak, kedua tangannya berada di atas gesper celananya.
Rasa hangat menjalar di setiap detak nadi wanita yang berdiri itu. rasa mendamba dan ingin memiliki pun mencuat di dalam kepalanya. Menatap bola mata abu-abu itu, membuat bibir Airin berkedut. Keinginan untuk mencicipinya begitu dominan.
Sial!
Lagi-lagi Airin perlu menggelengkan kepala untuk menyadarkan otaknya dari hal gila.
Sudut bibirnya tertarik. “Sekali lagi terimaka—“
“Airin!”
Panggilan itu berasal dari ambang pintu kamar Airin.
Bukan hanya wanita yang mendapat panggilan saja yang menoleh, namun juga dengan Gery. Cowok itu juga mendongak, melihat wajah Ibu Nana yang bersirat. Dan matanya berkilat-kilat. Nafas wanita yang di sepanjang lehernya selalu melingkar syal itu memburu dengan dada kembang kempis.
Sejenak, Ibu Nana memegangi dadanya yang terasa sesak.
“Ibu!”
Segera dihmpiri Airin wanita tua yang sudah melahirkannya itu.
Sementara di luar sana. Tepat di depan pintu masuk yang terbuka lebar, Ghea mengamati semuanya.
Dahi Ghea berkerut-kerut. Banyak sekali pertanyaan di kepalanya yang membuat Ghea ingin meledak.
Bukan kah Ghea pernah berpapasan dengan wanita yang tengah membawa Ibunya untum duduk di kursi rotan?
Tentu saja. Namun, yang menjadi pertanyaan terbesar Ghea. Siapa dia? Kenapa suaminya ini bisa ada di dalam rumahnya?
“Ibu gak papa?" tanya Airin pada Ibu sambil memegang kedua bahunya. Suara dan wajahnya panik. “Bentar, Airin ambil minum dulu untuk Ibu.”
Namun, sebelum Airin beranjak, segelas air sudah diberikan pada Ibu Nana.
“Terimakasih, Nak Gery,” ungkap Ibu Nana usai meneguk air yang dibawakan oleh Gery.
“Apa anda perlu ke rumah sakit?” tanya Gery sambil menyimpan gelas bekas di meja rotan yang dikelilingi oleh kursinya.
Digelengkan Ibu Nana kepalanya pelan. “Tidak perlu, Nak Gery. Saya hanya ingin tahu … Ini apa, Airin?” kemudian tangan wanita tua itu menunjukannya pada Airin.
Airin menelan ludah. Dipalingkan Airin wajahnya. Ia tidak sanggup menatap wajah Ibu dengan penuh luka dan kesedihan yang dominan di sana.
“Airin! Jawab Ibu! Ini apa?!” Diraih pipi Airin oleh tangan bergetar yang sudah keriput untuk menghadapnya. Dengan satu tangan Ibu menunjukan benda persegi kecil padanya.
"Ibu dapat itu dari mana?"
"Di bawah bantal tempat tidur kamu, Rin."
Dan Airin hanya diam. Menunduk.
“Jangan bilang kamu hamil, Airin?!” Lalu Ibu mengguncangkan bahu Airin dengan cengkraman keras.
“Maafin Airin, Bu.” Isakan kecil pun terdengar. Airin tidak bisa mengelak. Berbohong apa lagi. Ia tidak pandai menyembunyikan hal apa pun dari Ibu.
Dan, kekecewaan bukan hanya terlihat dari raut Ibu Nana saja. Tetapi juga dengan seorang wanita yang sedari tadi menguping, bahkan melihat mereka yang ada di dalam sana.
Shock mendominasi Ghea saat ini. Kepalanya berdenyut. Satu tangannya menutup mulut yang terbuka karena ketidakpercayaan. Kemudian mengguyar rambutnya. Mengusap kening turun ke pipi sambil melipat bibir.
Tubuh Ghea bergerak gelisah. Ia ingin menghampiri dan bertanya ‘apa maksud semuanya ini?' Tapi, di sisi lain, tubuhnya tidak berani masuk ke dalam rumah sana, sampai suara pecahan pot bunga terguling pun terdengar nyaring akibat senggolan kaki Ghea.
Ghea panik sambil menunduk. Melihat pot bunga yang sudah pecah itu dan tanah yang berserakan di sekitarnya. Kemudian kepalanya mendongak saat suara berat yang ia kenal memanggilnya di ambang pintu.
“Ghea?!”
Ghea melihat ketidakpercayaan di sorot mata abu-abu yang tengah memandangnya sekarang ini. Mata Gery berkilat penuh kerinduan.
Keinginan besar Ghea adalah melangkah untuk mendekap tubuh tegap suaminya. Membaui aroma maskulin yang sudah empat hari ini Ghea rindukan. Mencium bibirnya yang sudah menjadi candu bagi wanita yang tengah mengandung anaknya itu.
Alih-alih demikian, yang Ghea lakukan justru sebaliknya.
Perlahan ia langkahkan kakinya mundur sebelum berlari ke arah mobilnya kemudian.
“Ghea tunggu!" Panggilan Gery pun tidak didengarkan Ghea, sampai Ghea membuka pintu mobil lalu pergi dari sana.
Gery kembali ke dalam. “Maaf. Saya permisi," kata cowok itu tergesa dan pergi menyusul Ghea dengan mobilnya yang sudah tidak terlihat lagi.
Entah ini hari apa sehingga membuat Ghea yang akan memberi kejutan pada Gery karena kepulangannya dari Bandung. Justru dirinyalah yang mendapat kejutan dari sang suami.
Bibir merah dan tipis itu meraung di dalam mobil sambil menyetir. Saat ini kepala Ghea tidak bisa berfikir secara normal. Emosi jiwanya sedang mencapai puncak kemarahan yang tidak stabil.
“Berengsek kamu Mas!” umpat Ghea sambil menutup pintu mobil dengan dentuman keras. Lalu ia membuka kunci slot pagar yang menjulang. Sambil terisak dan dada yang kembang kempis, Ghea membuka kunci pintu rumah yang sebelumnya kunci itu sudah Ghea temukan di bawah kesed.
“Sayang!” Tangan besar menarik tangannya ketika Ghea akan menginjak tangga. Dibalikan tubuh wanita itu lembut dengan kedua tangan Gery berada di atah bahunya. “Kamu kenapa pergi gitu aja?” tanyanya. Mata keduanya saling bertemu dalam satu garis lurus.
Mata Gery berkilat penuh kerinduan. Sedangkan sorot mata yang selalu teduh memandangnya itu berkilat penuh kebencian, kekecewaan, kemarahan sekaligus rasa ingin menghajar.
Ghea berdecih. Memalingkan wajah sambil memutarkan bola mata.
“Sayang …” suara berat itu begitu terdengar lembut—selembut sutra.
“Look at me, hay!”
“You have betrayed me,” ungkap Ghea tanpa Gery duga sekaligus membaca raut wajah cantik yang serius itu.
“What?" Digelengkan Gery kepalanya tidak percaya. Tubuhnya mundur dua langkah sambil kedua tangan tersimpan di pinggang.
Sejenak, Gery menarik nafas dalam lalu ia embuskan lewat mulut secara kasar, sambil menatap pagar pembatas di lantai dua.
“Kamu fikir, aku selingkuh, Ghe?”
“Ya,” kata Ghea tegas, lalu membalikan tubuh. Menaiki setiap anak tangga sambil melipat bibir, menahan tusukan di bawah perutnya yang kembali Ghea rasakan.
“Ghe, kenapa fikiran kamu bisa sependek itu?” Suara Gery setengah berteriak. Namun, Ghea menghiraukan dan malah terus menaiki tangga. “Ghea!Kamu Cuma salah paham.”
Saat Gery melontarkan kalimat itu, Ghea sudah sampai anak tangga terakhir.
“Gimana kamu mau tahu yang sebenarnya coba? Kalau kamu gak nanya atau setidaknya kamu dengerin aku ngomong! Dengerin penjelasan aku!”
Gery menatap punggung wanita yang terus berjalan itu, melihat pintu kamar yang terbuka kemudian. “Ghea!” Gery pun masih meneriaki namanya yang terus Ghea hiraukan.
Disandarkan Ghea punggungnya pada daun pintu yang sudah ia tutup. Bulir-bulir keringat keluar di sepanjang dahi, pelipis lalu menetes melewati sisi wajah, bercampur dengan air mata yang keluar dari pelupuknya.
Sungguh! Bukan hanya hati saja Ghea merasakan sakit, tetapi juga dengan bawah perut yang terasa tercabik. Tertusuk-sukuk oleh benda tak kasat mata.
Ghea bukan tidak ingin mendengarkan penjelasan dari Gery. Ia hanya menghindarinya. Karena Ghea tidak ingin menunjukan pada suaminya bahwa ia tengah menahan nyeri di bawah perutnya.
Dengan menahan rasa nyeri itu, kaki Ghea melangkah pelan-pelan menuju tepi ranjang untuk kemudian ia duduk di sana.
Dibungkukkan kedua bahunya sambil memegangi perut. “Sebenarnya kenapa, sih, dengan perut aku ini?" gumamnya dalam hati.
Sedangkan dengan Gery … Cowok itu duduk di kursi makan. Pikirannya tidak tenang tentu saja. Gery sengaja tidak buru-buru mengejar Ghea. Karena, Gery ingin menjernihkan kepalanya juga kepala Ghea. Agar tidak ada perang mulut di antara keduanya.
Kepalanya menoleh ke lantai atas. Menatap pintu kamar tidurnya yang terlihat dari tempatnya duduk sambil memasukan tangannya ke dalam saku jas. Mengambil amplop putih lalu menatap aksaranya.
Jarinya bergerak ingin membuka segel amplop. Namun, Gery urungkan. Dan malah memasukan kembali amplop tersebut ke dalam saku semula sembari beranjak. Setengah berlari menaiki anak tangga.
Pintu kamar dibuka oleh Gery dari luar, membuat Ghea tersentak dan buru-buru menegakkan duduknya. Menjauhkan kedua tangan dari perut lalu mencengkram seprai pinggir tempat tidur.
“Ngapain kamu?" Ghea memalingkan wajah, menatap meja rias.
Dan Gery mengamati ke mana arah pandang wanita yang ia rindukan. “Apa meja rias lebih menarik dari pada aku?” kata cowok itu sambil mendekat padanya.
Melihat pergerakan tubuh suaminya dan mendengar kata-kata itu, Ghea berdiri. Bermaksud untuk menjauh dengan pergi ke toilet.
Tetapi, sebelum itu terjadi, Gery mencekal sikunya. Menariknya kemudian menubrukan pada dada bidangnya. Dengan sengaja.
“Lepasin, Mas!" Ghea menggerakan bahu, mencoba melepaskan cekalan di sikunya itu.
“Nggak!” tantang Gery arogan. Dan sangat menyebalkan untuk saat ini ghea melihat wajah yang sialnya tampan itu meski terlihat kusut.
“Okay!” Ghea menyerah untuk melepaskan cekalan di siku oleh tangan besar Gery. Ia nampak pasrah. Tubuhnya hanya diam, tetapi matanya menusuk jauh ke dalam bola mata abu-abu itu.
“Kenapa, sih, kamu gak jujur ke aku, Mas. Kalau kamu udah gak tertarik lagi sama aku? Kamu bisa ngomong itu ke aku baik-baik, Mas. Biar aku gak sakit kayak gini!”
Dan barulah Gery melepaskan siku Ghea. cowok itu menatap Ghea dalam-dalam. “Kamu ngomong apa sih? Bicara kamu itu ngawur tahu gak?”
“Jadi wanita itu yang kirim pesan ke kamu pagi-pagi? Bawain kamu sarapan ke kantor? Sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah tidur sama dia? Iya, Mas?”
Gery tertawa awkward. “Bicara kamu itu ngaco, Ghe. Jangan bikin ini melebar kemana—“
“Jadi dia alasan kamu gak mau nyusulin aku ke Bandung?” Ghea menyela cepat. Dibalikan tubuh Ghea untuk memunggungi Gery, kemudian berjalan ke arah jendela kamar. Menjauh dari tempat kaki Gery berdiri.
“Kamu tahu gak sih, perasaan aku saat ini kaya gimana?” Dilipat Ghea kedua tangannya sambil menatap taman dari jendela itu. “Hancur, Mas,” ucap Ghea, suaranya parau.
“Bukan karena kamu aja yang buat hati aku hancur—“ Tubuh Ghea berbalik. “—tapi juga karena Papa, Mas.” Dan mata itu mengeluarkan cairan bening sambil kini menatap tepat pada Gery dengan kerutan di dahinya.
“Kamu tahu gak sih kondisi Papa aku sekarang kayak gimana?” Ghea tertawa hambar dengan gelengan kecil di kepalanya. “Aku gak tahu Papa bisa bangun lagi apa nggak—“
“Ghe—“
“Dan sekarang ... Kamu malah memperburuk semuanya, Mas. Aku fikir dengan aku balik dari Bandung, aku bisa ngembaliin kekuatan aku yang sudah sepenuhnya hilang karena melihat kondisi Papa dengan cara aku ketemu kamu. Ngelihat wajah kamu, dan ngerasain pelukan kamu. Tapi, justru yang aku dapatkan adalah kebalikannya.” Ghea menjeda seraya melipat bibirnya.
“Kamu udah sembunyiin ini semua dari aku.”
“Sembunyiin apa sih, Ghe? Aku sama Airin gak ada hubungan apa-apa.”
“Jadi namanya Airin? Udah berapa lama kamu berhubungan sama dia?” Pertanyaan Ghea membuat Gery geram. Terlihat dari kedua rahang cowok itu berubah mengetat.
Kemudia pertanyaan berikutnya yang sama sekali tidak Gery duga keluar dari bibir merah Ghea.
“Udah berapa kali kamu tidur bareng dia? Saking enaknya sampai kamu lupa pake pengaman—“
“GHEA!!! Jaga bicara kamu!”
TO BE CONTINUED ...
Ghe, kamu cuma salah paham astaga ....
Mamen, siap-siap tahan nafas. Dan kang ngetik amatiran mau kabur dulu aja ...
Untuk tahu jadwal update MWT bisa follow ig seizyll_koerniawan.
Anw, kalau mau komen yang bijak ya, mamen. Karena hati eike tuh gampang banget rapuhnya. Hahahahahah (Nggak ding)