
...Warning 21+ !!!...
Perlu waktu beberapa menit untuk Pak Gery dan Ghea sampai ke rumahnya. Keduanya sepakat tidak kembali lagi ke rumah Papa Dika, jika tidak ingin kedua orang tua itu khawatir pada sang putra dengan sudut bibir yang terluka.
Ghea sama sekali tidak mengerti dengan kedua cowok yang tiba-tiba saja seperti sengaja sedang mencari masalah.
Mengambil kotak P3K di dalam laci kamar, Ghea meringis pelan ketika pergelangan tangannya yang sedikit membiru terbentur tepi meja.
"Kenapa?" Pak Gery yang duduk di sofa sudut kamar pun bertanya. Khawatir, tentu saja pada cewek itu.
Ghea menutup laci meja. "Gak kenapa." Kemudian berjalan sambil membawa kotak obat itu di tangannya. "Sini aku obati luka kamu dulu," sahut Ghea seraya membuka tutup kotak obat yang sudah ia simpan di atas meja nakas.
Mengambil kapas lalu menuangkan sedikit alkohol ke kapas itu. Ghea mengobati luka Pak Gery di sudut bibirnya.
"Aw ..." Dan Pak Gery tidak bisa, jika tidak terpekik keras ketika kapas itu menyentuh luka di sudut bibirnya. Padahal Ghea baru juga menempelkan ujungnya. Tidak benar-benar menekankan kapasnya. Dasar Pak Gery manja.
"Pelan-pelan, Ghe. Perih."
Lalu Ghea menurunkan tangannya. "Kita ke dokter aja deh, yuk, Mas!" Tidak sanggup juga jika Ghea harus mengobati luka sang suami. Apalagi Pak Gery yang terus meringis.
"Gak deh. Kamu aja yang obati!" Pak Gery menolak. Jujur saja, cowok itu sangat benci dengan gedung yang selalu berdominasi putih tersebut. Entahlah, Pak Gery selalu saja tidak suka dengan aroma dari obat-obatan yang baunya selalu menyeruak tajam ke dalam indera penciumannya.
"Tapi aku gak bisa denger Mas Gery yang kayak gini," sahut Ghea duduk di samping cowok itu. Memiringkan duduknya sebelum kemudian mencoba lagi menempelkan kapas yang masih ada di tangannya pada sudut bibirnya.
"Aw!" Pak Gery kembali terpekik.
"Ih, belum aku obatin, Mas. Ini masih mau," kata Ghea mengkerutkan keningnya. Tangannya tergantung tepat di depan bibir Pak Gery.
"Oh belum, ya?" ujar cowok itu kembali meringis pelan. "Perih, Ghe."
"Terus gimana? Ke dokter aja, yuk!"
"Gak. Gak usah. Ini kamu coba pelan-pelan aja, ya, obatin lukanya!" pinta Pak Gery yang kemudian dengan gerakan pelan Ghea mengobati luka di sudut bibir cowok itu.
...**...
"Eh, Mas, ngomong-ngomong, kok Chacha sama Ilham ada di sana juga, ya?" tanya Ghea sambil menggosok rambutnya yang basah, keluar dari kamar mandi.
Setelah tadi selesai mengobati luka Pak Gery bersama dengan drama-drama lebay sang suami, Ghea pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritualnya. "Mereka pacaran?" lanjutnya kemudian. Lalu Ghea berdiri di depan meja rias. Menyisir rambutnya seraya menatap dirinya di pantulan cermin.
Pak Gery yang sedang duduk selonjoran di atas kasur sembari punggung yang bersandar pada kepala ranjang pun, bulu matanya mengerjap pelan. "Gak tahu." Dan hanya itu yang menjadi jawaban dari suami Ghea.
Ghea berbalik. Tangan yang sedang menyisir rambutnya yang basah pun refleks berhenti. "Kok gak tahu?" Dilangkahkannya lah kaki cewek itu mendekat pada Pak Gery lalu duduk di tepi ranjang samping kaki sang suami yang sedang selonjoran santai.
Pak Gery menekuk kaki kanannya. Menegakkan duduknya lalu mengambil sisir dari tangan Ghea. Memutar kedua bahu cewek itu agar berbalik memunggunginya. Pak Gery menyisir rambut panjang nan hitam Ghea. "Kamu kenapa jadi kepo gini, sih?" tanya Pal Gery kemudian.
"Aku gak kepo ih, Mas. Cuma aneh aja gitu. Kenapa Chacha kok bisa sama Mas Ilham?"
Tanpa menghentikan gerakan tangannya menyisir, Pak Gery bersuara lagi. "Ilham suka sama Chacha," kata Pak Gery bercerita pada Ghea. "Ini gak dikeringin rambutnya?"
Refleks Ghea berbalik. Menghadap Pak Gery dengan rahang yang terbuka. Bukan untuk menjawab pertanyaan dari sang suami, namun Ghea tidak percaya dengan apa yang dibilang jika Ilham suka Chacha. "Mas Ilham suka sama Chacha?" Bahu Pak Gery mengedik. "Sejak kapan?"
"Gak tahu. Aku cuma nebak doang." Pak Gery berujar. Kembali menyisir rambut Ghea dari depannya. Lebih tepat keduanya saling berhadapan. Satu tangan Pak Gery menyisir rambut Ghea sedangkan satu tangan yang lain cowok itu gunakan untuk menyentuh pipinya.
Ghea diam. Cewek itu tidak bertanya apapun lagi. Ia hanya mengerjapkan bulu matanya berulang. Melihat mata Pak Gery yang menatapnya sangat intens, membuat Ghea meneguk ludahnya kelat.
Karena tatapan itu, Ghea tahu, tatapan apa yang sedang Pak Gery berikan padanya.
"Udah, ah. Daripada bahas orang lain, mending bahas kita aja!" sahutnya. Dan tangan yang tadi menangkup pipi Ghea, Pak Gery alihkan ke belakang lehernya.
Tenggorokan Ghea semakin kering. Seperti ada sebuah biji yang mengganjalnya. "Mas." desah Ghea menggerakan satu bahunya ketika tangan Pak Gery memijat tengkuknya penuh dengan tekanan sensual.
"Hem ..." Pak Gery bergumam sembari kepalanya melewati sisi tubuh Ghea untuk menyimpan sisir di atas meja nakas. Dan ketika pipi keduanya saling bersentuhan, Ghea menahan nafasnya. Hanya kedua matanya saja yang terus mengerjap pelan.
Butuh beberapa detik Ghea menahan nafas sampai tubuh Pak Gery sudah duduk kembali tegak di depannya. "Belum juga aku apa-apain, kamu udah tahan nafas aja." Pak Gery terkekeh geli melihat wajah Ghea yang polos.
"Heuh?"
"Ghe, boleh gak aku minta jatah malam ini?"
"Heuh?" Lagi-lagi Ghea hanya bergumam. Entahlah, itu otaknya sedang berada dimana. Lagi juga, kenapa Pak Gery bertanya padanya lebih dulu? Biasanya kan langsung gepruk aja. Membuat Ghea jadi malu sendiri kan? Lihatlah wajahnya yang sudah merasakan panas. Seperti terbakar.
Setahu Ghea, dirinya itu tidak mengangguk atau pun menggeleng. Namun, bibir cowok itu sudah melahap bibirnya bersama satu tangan tetap berada di tengkuk leher dan tangan yang lain menangkup satu pipinya.
Tanpa melepaskan tautan bibirnya, Pak Gery membaringkan tubuh Ghea. Kemudian cowok itu naik ke atas tubuhnya.
Melepaskan tautan bibirnya, Pak Gery beralih menggerayapi rahang Ghea hingga turun ke lehernya. Kemudian satu tangannya mengusap sisi tubuh Ghea dari atas sampai bawah.
Ghea mendongakan wajahnya bersama kedua mata yang terbuka menatap langit-langit kamar. Memberikan akses jalan pada suaminya untuk terus memberikan jejak-jejak merah di bawah dagunya. Ghea mendesah pasrah. Rasa nikmat bercampur geli datang dalam waktu bersamaan. Membuat pusat tubuhnya di bawah sana basah. Apalagi ketika tangan Pak Gery masuk ke dalam sana. Mengusapnya lembut sebelum jari telunjuknya menyentuh lalu memutar sesuatu yang membuat bibir Ghea kering karena terus mengeluarkan suara-suara ekstrimnya.
"Kamu basah banget, Ghe," kata Pak Gery memberi tahunya. Tanpa menjauhkan jari telunjuknya dari pusat kenikmatan Ghea. Juga dengan Pak Gery yang memberikan jarak antara matanya dan mata Ghea. Agar dapat melihat raut wajah istrinya itu.
Ghea tidak menggubris ucapan suaminya. Perasaannya terlalu fokus pada rasa nikmat yang menjalar di urat-urat tubuhnya. Membuat Ghea merasakan aliran darahnya seperti berdesir cepat saat ia membusungkan dadanya dan merapatkan kedua pahanya. Ghea mencapai pelepasan pertamanya.
Pak Gery tersenyum samar lalu menarik jari telunjuknya dari dalam celana piyama Ghea. "Suka?" Pertanyaan Pak Gery itu jelas saja membuat Ghea mengangguk dalam kedua mata yang terpejam. Merasakan sisa-sisa pelepasannya dalam nafas yang masih tidak beraturan.
Pak Gery bangkit dari atas Ghea. Cowok itu meloloskan t-shirt hitam melalui kepala. Lalu membuka pengait celana berbahan kain selututnya hingga menyisakan celanaa dalaamnya saja yang masih menutupi gundulan gairah yang sudah menengang itu.
Ghea seperti sudah tidak bisa apa-apa. Cewek itu terbaring pasrah bersama kedua matanya yang terpejam. Namun tidak tidur. Samar-samar Ghea merasakan gerakan Pak Gery yang menaiki kasur. Lalu tangan cowok itu membuka semua kancing piyama tidur Ghea yang bermotif bunga sakura dari atas sampai terlepas semua kemudian tangannya menangkup satu dada Ghea yang masih berpenghalang kain berenda berwarna hitam.
"Massshhhhh ..." Ghea kembali membusungkan dadanya ketika Pak Gery memutar puncak dada Ghea dengan jari jempol dan jari telunjuknya sebelum cowok itu merendahkan wajahnya untuk memberikan gigitan-gigitan geli di area sana.
Pak Gery tahu, itu adalah bagian sensitif Ghea. Maka dari itu Pak Gery melakukannya untuk kembali memancing gairah sang istri.
Membebaskan puncak dada berwarna merah kecoklatan itu, Pak Gery menegakkan punggungnya. Namun, saat Pak Gery akan membuka kain penutup pusat dirinya yang sudah menegang. Handphonenya bergetar di atas bantal samping Ghea.
Kedua mata Ghea refleks terbuka ketika Pak Gery berdecak keras melihat nama yang tertera di layar handpone.
"Kenapa, Mas?" Ghea pun bertanya dengan kedua alis yang tertaut.
Pak Gery tidak menjawab pertanyaan Ghea. Namun malah meraih handphonenya dan mematikan panggilan telpon dari Adi.
Pak Gery melanjutkan lagi aksinya pada Ghea. Namun, sial. Handphone itu kembali bergetar. Bersama Pak Gery yang kembali berdecak frustasi. Pasalnya gairahnya sudah ingin segera dilepaskan.
"Angkat dulu aja lah, Mas!" Ghea memberi saran. Yang langsung disetujui Pak Gery melalui gerakan tangannya yang mengambil handphone.
"Kenapa?" Pak Gery langsung menyahut ketika handphone itu menempel di telinganya seraya turun dari atas Ghea kemudian duduk di samping Ghea yang terbaring. Lalu menarik selimut dengan satu tangannya. Menutupi tubuh bawahnya yang hanya menggunakan penutup kain di pusatnya dan seluruh tubuh istrinya tentu saja.
"Lo katanya abis diganggu sama preman, Ger?"
Pak Gery berdecak. "Iya. Kenapa emang?" Terdengar sangat malas sekali cowok itu menjawab. Jelas saja. Kepalanya sudah pening karena menahan sesuatu di pusatnya itu.
Ghea memiringkan tubuhnya menghadap Pak Gery yang sedang bersandar pada hearboad seraya mendekap selimut di bawah dagunya. Lalu Ghea melihat cowok itu yang menyugar rambutnya yang sedikit basah oleh keringat ke belakang.
"Tapi gak kenapa kan lo?"
"Lo telpon gue cuma mau nanya itu doang?" Mata Pak Gery melirik ke arah wajah Ghea lalu tersenyum ketika Ghea memberikan senyum manis untuknya.
"Iya. Baikkan gue. Sepupu pengertian emang gue ini." Di seberang sana Adi terkekeh.
"Cih. Sepupu pengertian apaan? Elo ganggu!" kata Pak Gery dengan nada yang super duper kesal.
"Emang elo lagi paan sampai bilang gue ganggu? Lagi tanggung lo mau pelepasan?"
Oh sungguh sangat menyebalkan sekali Pak Gery mendengar kalimat Adi itu. "Ck. Udah? Gue tutup!" Sebelum menekan ikon merah di handphonenya, Pak Gery sempat mendengar Adi yang tergelak di ujung seberang sana.
"Adi sialan!" umpatnya sambil melempar benda canggih itu ke samping tubuhnya. Lalu kembali pada Ghea untuk melanjutkan lagi pekerjaannya yang tadi tertunda.
Saat mata Pak Gery melihat wajah Ghea, cowok itu menggeram kesal. Pasalnya cowok itu melihat mata Ghea yang terpejam tenang dan embusan nafas yang teratur. Sepertinya Ghea sudah terlelap.
..."Ghe ..., sayang!" Pak Gery memanggil. Semoga aja Ghea belum benar-benar tidur. Namun, sepertinya Ghea sudah bermimpi indah karena ia yang tidak kunjung membuka matanya....
Pak Gery menghela frustasi. Masa malam ini dia harus main solo?
"Gara-gara Adi, nih, ah. Sial emang tuh anak. Pengertian apa sepupu kaya gitu?" seraya handphone Pak Gery yang kembali bergetar, cowok itu berdecak kesal lalu meraih handphonenya. Membuka satu pesan yang masuk dari sepupu sialannya itu.
Adi
Besok malam gue sama Indah mau tunangan.
...TBC...
Gak bakal ngomong apa-apa lagi.
Seizy
Kang ngetik amatiran