
Reza memperlambat laju motor sebelum ia menepikannya. Mematikan mesin kendaraan besi itu, lalu ia membuka helm yang menutupi kepalanya.
Reza merogoh saku saku jaket dalam. Menatap benda pipih yang ada di tangannya. Kemudian membuka aplikasi galery di dalam handphone itu. Melihat bahkan menggeram saat layar itu lagi-lagi menampilkan sosok Pak Gery yang tertangkap camera sedang mencium Ghea di dalam mobilnya.
"Kalau lo suka sama Ghea, kenapa gak lo ungkapin aja, sih, Rez? Udah gak zaman kali memendam perasaan kaya lo ini. Ck, zama apa, sih, sekarang ini, Rez? Udah mau ganti tahun jadi 2021 juga, masih aja main petak umpet sama hati. Lama-lama karatan juga hati lo, Rez."
Masih terngiang jelas apa yang dilontarkan Yura padanya beberapa jam yang lalu. Ketika Yura memberikan handphone miliknya dan ia jujur jika ia tak sengaja melihat foto Pak Gery sedang berciuman dengan Ghea. Ah ralat, bukan saling berciuman, tapi Pak Gery yang mencium.
"Lagi juga, di sekolah kita gak boleh kan, ya, guru sama murid berhubungan kaya gitu? Apalagi guru yang mencium muridnya. Oh, astaga, udah masuk pelecehan itu. Mustinya lo lapor aja ke pihak sekolah kalau Pak Gery udah lecehin Ghea! Jangan didiemin, lah, Rez. Kasihan juga Ghea-nya kan?"
Reza mendesah kesal saat kata demi kata terlontar begitu saja dari mulut Yura. Cewek itu gak tahu aja jika Pak Gery memang ada hubungan sama Ghea. Namun Reza tak bisa memberitahu siapa pun tentang hubungan guru dan murid itu. Ia terlanjur memendam hati untuk Ghea.
"Udah lo tembak aja Ghea! Jangan terlalu lama lagi lo menunda!"
Lagi, kalimat terakhir yang Yura ucapkan sebelum Reza meninggalkan kediamannya terngiang. Dan serasa menusuk tajam ke dalam indra pendengaran Reza. Ia kepalkan tangan di atas helm yang tersimpan di body depan motornya.
Apa yang sekarang harus Reza lakukan? Merebut Ghea dari Pak Gery atau membiarkannya saja. Walau pastinya hati itu akan terluka?
Entah lah. Saat ini Reza tidak bisa berfikir jernih. Kepalanya sedang dikuasi rasa amarah yang membuncah.
**
Sedangkan di dalam kamar. Di tempat yang berbeda itu. Pak Gery baru saja keluar dari kamar mandi. Ia baru selesai meredamkan otaknya yang mendadak panas.
Panas karena isinya hanya ada nama Ghea saja. Bayangannya saat pertama kali ia bertabrakan dengan tubuh Ghea. Sampai cewek itu menindihnya. Lalu bertabrakan lagi saat di depan pintu kelas. Kemudian saat di restoran dan saat cewek itu menyiram wajahnya dengan air minum yang keluar dari mulutnya.
Gila, ini benar-benar gila. Pak Gery tidak bisa jika Ghea ambek padanya. Pasalnya sudah berapa kali Pak Gery mencoba menghubungi Ghea, namun tak mendapat jawaban jua darinya. Mengirim pesan pun hanya diread doang.
Bisa-bisa besok pagi saat bangun Pak Gery sudah ada di rumah sakit karena kejiwaannya terganggu oleh cewek bernama Ghea itu. Karena ia tidak bisa jika beneran diperlakukan demikian oleh Ghea.
Walau ia tidak pernah menunjukan perasaannya pada cewek itu. Namun Pak Gery berharap jika Ghea peka dan mengerti. Tapi sayangnya tidak. Jadi, disini siapa yang tidak peka?
Dua-duanya.
Ghea yang tidak peka dengan perhatian Pak Gery. Sedangkan Pak Gery tidak peka pada apa yang selalu dimau oleh cewek.
Ingat. Cewek itu selalu ingin dimengerti. Dia sejenis makhluk yang selalu memberi kode dengan sejuta gengsi untuk bisa mengungkapkannya.
Tapi cowok sejenis Pak Gery itu. Oh, ya ampun!
Pak Gery berjalan ke arah nakas dimana benda pipihnya tersimpan di sana setelah setelan piama melekat pada tubuh seksinya. Ia kembali membuka aplikasi hijau. Mengecek apa sudah ada balasan dari Ghea atau belum?
Dan gurat kecewa itu muncul lagi saat pesannya tidak dibalas sama sekali oleh Ghea. "Ah ... sialan, Ghea beneran marah sama gue," decaknya melempar handphone ke atas kasur. Ia mengusak rambut basahnya. Lalu meraup wajahnya yang sudah frustasi. "Sama sekali gak ada niat gue nyakitin bibir dia. Ini kenapa lagi gue cemburuan banget, sih?"
Tanpa sadar Pak Gery mengucapkan kata 'cemburu' yang sangat anti banget bibirnya bilang begituan. Bisa diketawain oleh Adi kalau sampai cowok rese itu mengetahuinya.
"Hahaha ..."
Ish, bener kan kalau Adi tahu pasti bakal diketawain?
Dan sekarang itu lagi dilakukan Adi.
Ah, double sial jadinya.
"Bentar-bentar, tadi lo bilang apa? Gue kaya denger nama cemburu ya? Boleh dikenalin ke gue gak, Bro?" ujar Adi main nyembul masuk saja ke kamar Pak Gery. Sesekali tawa itu masih keluar daru mulutnya.
"Ish ... jangan mulai rese, deh, lo, Di!" ambek Pak Gery seraya melempar bantal pada Adi. Yang langsung ditangkis oleh cowok paling rese menurut Pak Gery itu. "Ngapain, sih, lo masuk kamar gue? Ganggu! Sana, dah, lo pergi!" decaknya tidak terima jika makhuk itu ada di kamar besarnya. Dan lebih parahnya Adi malah sengaja menghempaskan punggungnya ke atas kasur empuk di dalam kamar Pak Gery.
"Lo cemburu? Sama siapa?" tanya Adi. Namun Pak Gery ogah mengakuinya. Tak menggubris Adi yang santai tengkurap di atas kasurnya. Pak Gery malah menyuruh Adi untuk mengambilkan handphone yang ia lempar tadi.
Adi berdecak. Namun urung juga ia mengambil handphone milik saudaranya itu. "Main suruh-suruh aja emang lo bisanya. Kapan, sih, lo gak nyuruh-nyuruh gue terus?" protes Adi seraya memberikan handphone pada Pak Gery.
"Sampai gue bosen!" Dan Pak Gery menerima handphone-nya. Ia kembali membuka salah satu aplikasi di layar benda canggih itu. Lalu untuk menghilangkan rasa gundahnya, Pak Gery membuka aplikasi play musik. Memutar salah satu lagu kesukaannya dengan sangat keras. Sampai Adi pun protes seraya menutup kedua telinga. Untung kamar besar Pak Gery itu kedap suara. Kalau tidak satu RT mungkin sudah pada bangun untuk demo ke rumah Pak Gery. Memutar musik malam-malam dengan suara begitu keras. Apa tidak mengganggu?
Pak Gery memutar lagunya dan meresapi setiap lirik demi lirik. Ah, rasanya Pak Gery semakin menggila kala lagu itu berputar bersama kepala Pak Gery yang berputar memikirkan Ghea.
Tolong siapa pun beri tahu Pak Gery bahwa perasaannya pada Ghea sungguh terlalu!
"Demen banget lo puter lagu itu? Sampe bosen gue dengernya?" ujar Adi. Ia masih tenang dengan posisinya.
"Kepo banget, sih, lo jadi cowok. Udah kaya mak-emak aja," jawab Pak Gery acuh. Ia tidak perduli dengan cibiran sepupunya itu. Justru Pak Gery semakin larut dalam lagu mmmh dari salah satu penyanyi asal negeri dengan julukan Negeri Gingseng tersebut.
Dari lirik demi lirik yang seolah mewakili perasaan Pak Gery yang mungkin jahat karena ingin mencuri seluruh hati Ghea. "Kamu sudah mengambil seluruh duniaku, Ghe."
Ah, kenapa Pak Gery jadi bucin, sih? Omegatt jangan sampai Adi tahu lagi soal ini. Bisa kena cibir parah dari lambe turahnya itu.
"Btw napa, sih, lo, ngedadak minta kawin sama Om Dika?" Dengan tiba-tiba Adi bertanya tanpa mengubah posisi wenaknya.
"Belum minta kawin gue mah. Minta juga buat dinikahi dulu." Pak Gery menjawab. Ia meraih handphone lalu mengecilkan volume musik di handphone-nya itu. Terkekeh geli dengan keinginannya tersebut. Gue bener-bener gila. Kenapa juga gara-gara gue cemburu sampai pengen cepet-cepet nikahin Ghea. Astaga. Baru lah sadar cowok itu dari hal gilanya.
"Sama aja. Nikah sama kawin sama."
"Beda!"
"Heuh? Bedanya?"
"Nikah, tuh, menyatukan dua insan yang berbeda."
"Ya. Setuju gue. Kalau kawin?"
"Kawin?" ulang Pak Gery menguluum bibirnya. Adi mengangguk penasaran. "Kawin, tuh, ya, menyatukan dua kelamin yang berbeda, lah. Apalagi emangnya?" Kelakar Pak Gery yang langsung tergelak kencang.
"Ish ... sialan, lo, Ger. Gue kira paan. Otak lo, tuh, ya, kudu di rendem pake soklin. Biar putih bersih. Mesum mulu perasaan lo. Gini, nih, contoh orang yang udah kebelet kawin."
"Lah, emang lo nggak?"
"Kagak gue mah, lah. Masih santai gue, tuh. Masih nikmati masa pacaran sama doi."
"Doi siapa maksud lo? Jangan bilang bukan Indah, ya? Gue gibek juga lo kagak berubah-rubah dari dulu, lo, sama cewek." hardik Pak Gery seraya mengangkat kepalan tangannya pada depan wajah Adi.
"Ya, elah, sans dong. Main gibek-gibek aja bisanya. Mentang-mentang demen berantem lo." sindir Adi menahan kepalan tangan Pak Gery.
"Serius gue, Di. Lo tahu sendiri Indah itu-"
"Iya-iya, tahu gue, Ger, tahu. Udah lah jangan bahas lagi!" pasrah Adi akhirnya. Lalu dalam detik selanjutnya hanya keheningan yang mengambil alih semua candaan keduanya tadi.
"Btw, serius gue. Ngapain lo ngedadak minta nikah sama Om Dika?" Kali ini Adi bertanya serius. Gurat wajahnya membuktikan itu.
"Reza."
TBC
wkwkakaka, sabar guys bentar lagi Pak Gery bakal nikah sama Ghea. Masih stay kan di sini? Btw itu covernya aku ganti. Anggap aja itu visualnya Pak Gery. Kalau visual Ghea nya bayangin sendiri aja ye.
Okeh jangan lupa like komennya biar Up nya cepet lagi. Secepat kalian Like dan Komen. Bakal secepat itu pula aku up. Poinnya jangan pelit-pelit. Nanti karatan loh. wkwkak_
Oke guys salam dag dig dug. Selamat berspekulasi tentang Apa yang dimaksud Pak Gery tentang Indah.