Married With Teacher

Married With Teacher
Rooftop Rumah


Beberapa jam sebelumnya.


Pak Gery yang nampak memasang pendengarannya dengan sangat tajam saat Ilham menjelaskan semua detailnya tentang Dita. Dari pertama cewek itu yang bertemu dengan Ghea dan dirinya di cafe. Lalu Dita yang datang setelahnya pada Ilham dan mendengarkan semua apa yang dikatakan cowok itu.


Pak Gery menyugar rambutnya ke belakang. Ia nampak kusut dengan penampilannya yang tidak biasa. Seperti seorang yang frustasi. Rasanya baru semalam Ghea mengacuhkannya dan itu sudah membuat dirinya hilang akal. Pada sampai sebuah panggilan masuk pada nomernya dari orang yang kini menjadi kepercayaannya selain Adi tentu saja.


Pak Gery menggeram, meremat handphone yang sedang menempel di telinganya ketika orang kepercayaannya itu memberitahukan sesuatu. Tidak banyak menjelaskan pada Ilham yang terlihat sangat penasaran, Pak Gery beringsut lalu meninggalkan ruangan sang direktur casmira.


Dengan melajukan kendara besinya sangat cepat, Pak Gery mengumpat entah itu sudah yang keberapa kalinya saat jalan di depannya terlihat macet.


“Shit,” umpatnya saat ia memarkirkan mobilnya di carport. Melihat sebuah mobil jazz terparkir juga di sana.


Nafasnya seakan tercekat tatkala melihat  Ghea tengah duduk berdampingan dengannya. Auto Pak Gery menahan kalimat Ghea saat cewek itu akan menceritakan sesuatu padanya.


**


“Lagi apa, sih?” Seraya berjalan mendekat pada Ghea yang sedang bersandar di hearboad, Pak Gery bertanya.


Refleks pandangan Ghea berpaling dari handphone yang ada di depannya ketika Pak Gery menghampiri lalu duduk di sisinya. “Cek Ig aja. Bosen abisnya,” sahut Ghea bersama tarikan di kedua sudut bibirnya. “Kenapa?” Lalu bertanya.


Kepala Pak Gery menggeleng. “Nggak.”


Saat ini keduanya sudah membaik setelah Pak Gery meminta maaf atas sikapnya yang tidak ingin mendengarkan Ghea. Kemudian hening mendominasi kamar itu bersama tangan Pak Gery yang mengusak puncak kepalanya.


Seperti akan ada yang ingin cowok itu katakan, tetapi ragu untuk melakukan.


Ghea mengernyit heran sampai kepalanya tertarik ke belakang. “Ada apa, Mas?” Ghea bertanya.


“Kaki kamu gimana? Udah mendingan? Atau besok perlu ke dokter aja?”


Kepala Ghea menggeleng. “Gak usah, Mas. Udah gak papa kok.” Lalu keduanya kembali diam saat Pak Gery hanya menganggukkan kepalanya sebagai sebuah tanggapan.


Tidak ada lagi yang bersuara. Keduanya hanya saling membisu lalu saat matanya tidak sengaja saling bertemu, keduanya akan saling memberikan senyuman bersama wajah Ghea yang bersemu malu-malu.


“Kita gak akan bicara atau ngobrol gitu? Mau main senyum-senyuman aja?” celetuk cowok itu yang sedang duduk di sisi Ghea sambil memainkan ujung rambut panjangnya.


“Kamu yang senyum-senyum terus sama aku.”


“Aku berasa jatuh cinta lagi soalnya,” katanya. “Aku ada yang mau ditunjukin sebenarnya sama kamu. Mau ikut gak?”


Ghea sempat tertegun beberapa saat sebelum menjawab atau hanya sekedar mengatakan ‘ya’ saja. Karena Pak Gery saat ini terlalu aneh menurutnya. Terlalu banyak kejutan yang Ghea dapatkan dari cowok itu. Memang Ghea sudah berapa kali mendengar hal romantis yang cowok itu katakan atau bahkan melakukan hal yang tak terduga. Namun pada kenyataannya Ghea masih belum percaya. Benarkah ini Pak Gerynya yang datar sedatar tembok rumahnya?


Oh sepertinya bukan.


“Apa?”


Pak Gery tidak menjawab. Cowok itu justru malah berdiri kemudian membungkuk kembali. Menyimpan satu tangan di belakang lututnya lalu satu tangan yang lain meraih tengkuknya. Ghea merasakan saat tiba-tiba tubuhnya melayang bersama Pak Gery yang memangkunya, Refleks kedua tangan Ghea mengalung pada leher Pak Gery dengan sempurna. “Kenapa malah gendong aku?” tanyanya terkekeh.


“Biar kaki kamu gak sakit,” ujar cowok itu. Tak lama Ghea merasakan kecupan basah di bibirnya walau dengan gerakan yang sangat singkat.


Ghea tidak bertanya atau bersuara lagi. Ia pasrah saja pada Pak Gery yang akan membawanya kemana.


Kaki panjang itu melangkah menaiki anak tangga. Sepertinya ke lantai tiga yang merupakan rooftop rumahnya. “Buka pintunya!” pintanya yang membuat Ghea harus melepaskan satu tangannya yang melingkari leher Pak Gery untuk memutar handle pintu yang berwarna coklat tua di depannya.


Pandangan Ghea mengedar saat Pak Gery membawa tubuhnya lebih masuk ke rooftop. Rahang Ghea sampai terbuka saking kagumnya melihat keindahan malam ini ketika tubuhnya diturunkan.


“Suka?” Pak Gery bertanya seraya bersedekap di belakang punggung Ghea.


Di tempat itu tidak ada hal yang istimewa. Namun pemandangan malam yang membuatnya begitu terkesan berbeda. Sebuah tikar dilapisi karpet bulu yang tebal menghampar di tengah-tengah rooftop, dan ada dua bantal yang Ghea lihat tergeletak di atasnya. Lalu Ghea berjalan pelan ke arah sana.


“Sini, Mas. Duduk!” Ghea melambaikan tangannya pada Pak Gery yang masih berdiri di tempatnya seraya bersedekap.


“Indah banget sumpah. Aku suka …” Pandangan Ghea mendongak menatap langit yang memang sudah terlihat menghitam itu seraya duduk bersila di atas karpet bulu berwarna coklat muda.


Angin malam itu sedikit kencang hingga membuat rambut Ghea yang terurai tersibak sebelum menyapu sisi wajahnya. Pak Gery menyingkirkan itu. Menjumputnya dalam satu genggaman lalu menyelipkannya ke belakang telinga cewek itu. Sesudahnya merangkul pundak Ghea dengan selimut menutupi punggung.


Akan terasa sangat lebih romantis jika kepala Ghea sandarkan pada bahu Pak Gery. Maka itu ia lakukan bersama kedua tangannya melingkar pada pinggangnya. Saling berpelukan hangat sehingga dingin pun tak terasa merayapi tubuh keduanya lagi dengan satu selimut yang menutupi punggung keduanya.


Wajah keduanya sama-sama mendongak menatap bulan sabit dan bintang-bintang yang bertebaran di langit hitam. “Indah banget bulannya, Mas.” celetuk Ghea mengeratkan dekapannya pada pinggang Pak Gery.


“Iya. Apalagi kalau udah sempurna bulatnya.”


Lalu diam kembali mengambil alih sampai pada Ghea mendengar kembali suara darinya.


“Maafin aku …” bisik Pak Gery. “Maaf.” Ghea masih memeluk erat Pak Gery ketika mendengar cowok itu bersuara. “Belum bisa bahagiain kamu seperti apa yang seharusnya.”


“Makasih juga, ya, udah mau ingetin aku!”


“Lupain aja, ya. Yang penting sekarang kamu tahu kalau tidak ada salahnya memberikan kesempatan pada seseorang walau dia udah banyak jahatnya sama kita.”


“Kok aku ngerasa kamu makin hari makin tambah dewasa aja, ya.” Pak Gery terkekeh gemes. Yang refleks langsung mendapat capitan panas di pinggangnya itu. “Ngeledek nih kamu pasti.”


“Nggak. Serius aku malah.”


Ghea tidak dapat lagi menyembunyikan gurat malu di wajahnya yang merah. Maka dari itu agar Pak Gery tidak dapat melihatnya, ia sandarkan wajahnya pada dada bidang sang suami.


Sedikit Pak Gery mengurai dekapan Ghea. Menyimpan kedua tangannya pada bahu cewek yang malam ini terlihat sangat begitu cantik, sampai mata Pak Gery terpana menatapnya. Mengusap bibir bawahnya dengan jari telunjuk, mengikuti garisnya seraya berkata, "aku ingin selalu melihat bibir ini tersenyum untukku!"


Ghea tersipu. Sedikit menarik ujung bibirnya. Sebelum kemudian bibir itu dikecup oleh bibir tebal miliknya. Tidak lama karena sedetik kemudian Ghea merasakan bibir itu menjalar ke lehernya. Berhasil membuat kulit leher Ghea yang mulus itu merasakan remangan nikmat.


"Geli," sahut Ghea saat bibir Pak Gery menyecap basah belakang telinganya.


Lalu cowok itu memberikan jarak antara wajah dengan wajahnya. "Geli?" tanyanya. Ghea mengangguk malu.


"Kalau di sini?" Pak Gery bertanya seraya melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ghea bersamaan dengan bibirnya yang mengecap tulang selangkanya. Kemudian naik ke bawah dagunya sehingga membuat Ghea mendongakkan wajah. Kedua matanya sesekali terpejam merasakan getaran-getaran di sekujur tubuhnya sebelum kemudian menatap langit malam yang hitam namun bertemankan bulan dan bintang.


"Mas," desahnya. Pak Gery menghentikan kecupan basah di bawah dagunya itu. Lalu tak lama kedua tangan yang melingkar sempurna pada pinggang Ghea, beralih ke sisi pinggangnya.


Tergelak. Ghea merasakan kegelian disekitaran sana saat Pak Gery menggelitik pinggangnya.


"Geli? Hem?" tanya Pak Gery sama sekali tidak menghentikan gelitikkan tersebut.


"Udah, Mas ... geli ... udaaaahahahaaa ..., ampun!!!"


......TBC......


Gengsss sebelumnya maaf ya kalau kurang ngefeel kurang gremet krang nyes kurang sekurang-kurangnya pokoknya.


Semoga tetap suka dan tidak bosan ya kamu yang masih disini dengan cerita sederhana yang dibuat kang ngetik amatiran ini.


Seizy


Kang ngetik amatiran yang berada belum bisa buat cerita sempurna yang kamu mau. huhuuu