
Kata terlambat hanya dimiliki oleh orang yang tidak mau berpikir tuk berubah. Penyesalan gak akan ada artinya bagi insan yang tidak mau merubah hidup. Begitupun hidup tak akan berarti tuk orang yang selalu putus asa. Harapan tak pernah ada bagi manusia yang tidak mau berjuang. Angan dan cita-cita akan tetap menjadi khayalan bila kita tidak pernah berusaha.
Berusaha, berjuang dan berteguh hatilah. Rubahlah dan berpikirlah semaksimal mungkin. Sebisa mungkin untuk wujudkan semua yang diharapkan untuk hari ini, esok dan seterusnya.
Seperti halnya Pak Gery dan Ghea.
Hidup yang mereka berdua jalani tidak mudah seperti akan membalikan telapak tangan. Juga tidak selurus jalan tol yang dimana tidak ada tikungan. Banyak pelajaran yang keduanya ambil dari semua pengalaman yang hampir berujung kematian. Namun, semua itu, berhasil keduanya lewati.
Dan malam ini, Ghea sudah siap dengan gaun indah berwarna merah darah melekat di tubuhnya yang sedikit berisi. Sepatu hak tinggi berwarna hitam pekat menambah kesan anggun yang sempurna. Cantik dengan wajah yang terpoles make up natural. Bibirnya yang sudah merah alami pun hanya sedikit diberi polesan gincu. Sudah pernah dikatakan belum, sih, jika Pak Gery tidak suka bibir Ghea yang diberi polesan gincu itu?
Cewek itu sedang berdiri di depan cermin. Melihat pantulan dirinya yang sudah siap berangkat ke satu acara pesta pertunangan. “Mas, udah siap belum?” Ghea bertanya sambil sedikit menambahkan maskara pada bulu matanya. Sejujurnya, bulu mata cewek itu sudah lentik dan panjang. Hanya saja tidak tebal. Jadi Ghea mengaplikasikan maskara tersebut untuk menyempurnakan bulu matanya.
Pak Gery keluar dari kamar mandi. “Udah,” katanya sambil merapikan kerah kemeja berwarna putih tulang yang terhalang oleh jasnya berwarna hitam. Menghampiri Ghea yang terpaku di tempatnya. Menatap Pak Gery dari bawah sampai atas kemudian berkata, “kok belum pake dasi, sih, Mas? Bakal lama lagi kan. Ini acaranya udah mau mulai loh, Mas.” Gerutu cewek itu dengan bibir yang mengerucut sebal.
Pak Gery lalu mengecupnya singkat. “Jangan manyun! Nanti kita gak bakal berangkat kalau aku lihat bibir kamu maju kayak gitu.” Kelakar cowok itu. Lalu berdiri menghadap cermin untuk menyisir rambutnya. “Jangan ngambek cuma gara-gara aku belum pasang dasinya,” sahutnya menyimpan sisir di atas meja rias kemudian memutar tubuhnya saling berhadapan dengan Ghea.
Karena tubuh Ghea yang sedikit kurang tinggi. Ia mendongakkan wajahnya. Menatap wajah Pak Gery yang begitu terlihat lebih indah dan tampan dari biasanya. Dan debaran itu kembali datang dan Ghea merasa perutnya seakan ditekan lebih dalam lagi. Ia menggigit bibirnya. Entah pikiran dari mana, tiba-tiba Ghea ingin mengecup bibir tebal yang ada di depannya ini.
Oh sial. Sudah kotor sekali pikirannya itu.
“Kenapa?” Pak Gery lalu menundukan wajahnya. Mensejajarkan pandangannya dengan pandangan Ghea.
Ghea berdehem singkat untuk menetralisir pikiran kotornya itu. “Gak!” jawabnya sembari memutar tubuh membelakangi Pak Gery. “Udah cepet, Mas, pake dasinya. Nanti kita bakal telat lagi!” Kaki Ghea berjalan mendekat ke bibir ranjang untuk mengambil clutch bermerek yang sudah siap ia tenteng ke acara tersebut.
“Gak kamu pakein dasinya?” Seraya menghampiri, Pak Gery mengulurkan dasi yang ada di tangannya pada Ghea dari belakang punggung cewek itu.
Ghea tersentak. Sedikit gelagapan sebelum menegakkan punggungnya dan berbalik menghadap cowok itu. Padahal Pak Gery tidak melakukan apa pun. Hanya menyuruh Ghea untuk membantu memasangkan dasinya saja. Tapi, entah kenapa itu berefek besar untuk Ghea. Dan lagi-lagi jantungnya kembali berdebar.
“Ka-kamu kan bisa pasang sendiri, Mas?” Dan justru kalimat itu yang keluar dari bibir merahnya sebelum melangkahkan kakinya dari hadapan suaminya.
“Kamu kenapa, sih?” Tentu saja Pak Gery heran lalu menahan tangan Ghea untuk kembali menghadapnya. “Kok aneh gitu? Wajah kamu juga merah? Kepanasan? Kan AC kamar nyala, Ghe?”
Ghea menggigit bibir bawahnya bersama gelengan di kepalanya. “Eng-nggak kok. Aku gak papa.” Cewek itu menangkup kedua pipinya tiba-tiba sambil berujar, “aku gak lagi malu kok, Mas.”
Pak Gery tidak bisa jika tidak menarik kepalanya mundur. Beberapa detik kemudian keningnya mengerut. “Siapa yang tanya kamu lagi malu?” Heran. Ekspresi itu yang Pak Gery tunjukan padanya.
“Heuh?”
Pak Gery terkekeh geli. “Kenapa, sih? Ada apa? Ada yang lagi kamu pikirin?” tanya Pak Gery sambil memasang dasi pada kerah kemejanya. Ia melakukan itu sendiri setelah menunggu Ghea hanya diam dengan pikirannya sendiri.
“Eumm … gak kok. Gak papa. Udah, ah, Mas, buruan! Nanti telat. Aku tunggu di mobil aja, ya!” Dipercepatlah langkah kaki Ghea keluar dari dalam kamar itu sambil terus menoyor pelipisnya sendiri dengan perasaan kesal. Dan tingkah itu tidak lepas dari perhatian Pak Gery.
“Kenapa, sih, Ghea?” tanyanya pada diri sendiri.
“Gue bodoh banget, sih. Kenapa juga, nih, otak tiba-tiba punya pikiran mesum kayak gini. Kan malu-maluin kalau Mas Gery tahu.” Gerutu Ghea. Bicara sendiri. Dia membuka pintu mobil yang sudah terparkir menghadap pintu gerbang yang terbuka. Kemudian duduk dengan perasaan dongkol pada dirinya sendiri.
Seraya memasang seatbelt, Ghea kembali mengutuki dirinya sendiri. “Ini lagi, kenapa Mas Gery kayak beda banget dari biasanya. Wanginya juga beda. Apa Mas Gery beli parfum merk lain lagi, ya? Bikin ngudang nafsu gue aja, sih?”
Ghea melirik samping pintu mobil yang dibuka oleh cowok itu. Lagi-lagi Ghea menelan salivanya susah. Dia kembali menggigit bibir bawahnya. Melihat penampilan Pak Gery yang semakin menarik tatapan Ghea untuk terus terpusat padanya.
Cowok itu sudah duduk di kursinya. memasang seatbelt. Kemudian menghidupkan mesin kendara besi tersebut. Namun, ketika melihat Ghea yang terus menatapnya, membuat Pak Gery tak kunjung menginjak pedal gasnya.
Lalu Pak Gery kembali membuka seatbelt yang sudah terpasang. Ia memiring duduknya menghadap Ghea yang bergeming.
“Kenapa, sih? Kok lihat akunya gitu banget?”
Ghea mengerjapkan matanya kaku sebelum mengalihkan kedua mata itu ke depan. “Heuh. Gak papa.” Jawab Ghea gelagapan.
Memiringkan kepalanya sedikit seraya bibirnya mencebik, Pak Gery menangkup kedua sisi wajah Ghea lalu menghadapkan padanya. Saat itu Pak Gery melabuhkan kecupan singkat pada bibir Ghea membuat punggung Ghea menegang. Kedua tangannya kemudian beralih mencengkram pinggiran jas yang Pak Gery kenakan saat kecupan singkat itu berubah menjadi sebuah lumaatan.
Ghea merasa darahnya berdesir. Nafsunya semakin meninggi. Ini yang sedari tadi cewek itu inginkan. Namun malu untuk mengatakan.
Ghea memejamkan matanya tatkala lidah Pak Gery menerobos masuk lebih dalam. Mengeksplor semua rongga di dalam sana hingga erangan tertahan pun keluar dari mulut Ghea.
“Kenapa gak ngomong aja, sih? Apa susahnya bilang kalau kamu pengen aku cium? Hem?” Pak Gery terkekeh gemas. Dan bagi Ghea kalimat itu tidak lebih dari sebuah ledekan. Wajahnya memerah tentu saja.
“Malu, Mas.” Tentu saja Ghea seperti itu.
**
Sebelum masuk ke dalam gedung yang sudah di dekor dengan sangat indah dan mengagumkan setiap pasang mata yang memandang, Pak Gery mengulurkan tangannya pada Ghea agar cewek itu melingkarkannya dengan mesra. Kemudian keduanya berjalan melewati karpet merah yang terdampar di sepanjang jalan menuju pintu masuk.
Dari dalam sana mungkin tidak ada yang tidak memandang kagum ke arah keduanya ketika Pak Gery dan Ghea masuk lebih dalam. Semua mata terpesona. Padahal pemeran utama malam ini bukan mereka. Namun, tetap saja Pak Gery dan Ghea selalu bisa menjadi pusat perhatian.
“Bunda …, Ayah.” panggilan dari seorang anak kecil yang berlari ke arahnya membuat Pak Gery dan Ghea mengalihkan pandangannya pada anak perempuan itu.
“Wow, Bunda cantik banget,” pujinya Ajeng. Mendongakkan kepalanya agar dapat memandang wajah cantik dari wanita yang dia panggil Bunda itu.
“Ajeng juga cantik.” Dan jawilan pada hidungnya pun tidak lupa Ghea berikan.
“Wah … Bunda aja, nih, yang dapat pujian dari Ajeng? Kalau Ayah gak dibilang ganteng, nih?” Pak Geri kemudian melipat kedua tangannya di atas perut. Pura-pura ngambek.
Ajeng menolehkan matanya pada Pak Gery. Ia juga mengikuti Pak Gery melipat kedua tangannya. “Nggak!” Ajeng menggelengkan kepalanya. Menunjukan ekspresi wajah yang memberengut. “Aku gak mau puji Ayah ganteng,” katanya sambil menatap Pak Gery yang sekarang sedang mengerutkan keningnya. Pertanda jika cowok itu heran.
“Kenapa?” tanya Pak Gery akhirnya.
“Karena kalau Ajeng bilang Ayah ganteng di depan umum, nanti banyak cewek yang suka sama Ayah. Ajeng gak mau. Nanti Bunda cemburu!”
Ghea membulatkan kedua bola matanya ketika sederet kalimat itu keluar dari bibir mungil Ajeng. Sedangkan Pak Gery menoleh pada cewek di sampingnya sambil menguluum senyum. “Emang Ajeng tahu dari mana kalau Ayah dibilang ganteng, Bunda akan cemburu?” tanya Pak Gery lalu membungkukkan punggungnya. Memangku Ajeng lalu mendekap tubuh kecil itu di dalam gendongannya. Membuat Ajeng refleks melingkarkan kedua tangannya penuh pada leher cowok yang dia panggil Ayah itu.
“Kata Bunda,” jawab Ajeng jujur. Menundukan pandangannya pada Pak Gery tanpa mengurai lingkaran kedua tangannya di leher cowok itu.
“Bunda?” Pak Gery mengulang. Pun Ajeng mengangguk. “Emang Bunda bilang apa sama Ajeng?”
“Kata Bunda …, Bunda gak suka kalau lihat Ayah tampil ganteng di depan cewek-cewek. Bunda juga bilang kalau Bunda gak suka Ayah yang sering diliatin banyak cewek-cewek centil.”
“Terus?” Pak Gery semakin tertarik dengan celotehan anak perempuan yang sedang ia gendong itu.
“Ajeng kok gak bisa jaga rahasia Bunda, sih?” Ghea memelas. Lalu menunjukan wajah cemberut pada Ajeng. “Bunda marah, nih.”
“Ih, Bunda … jangan marah. Kan Ajeng jujur. Kata Mami sama Papi kan gak boleh belajar bohong, nanti hidungnya panjang kayak Pinokio. Ajeng gak mau lah hidung Ajeng jadi panjang kalau bohong sama Ayah.”
“Ajeng …” Mungkin jika tidak ada yang memanggilnya, anak perempuan itu akan terus berceloteh ria tanpa batas.
“Baru datang, Ger, Ghe?” Kemudian beralih bertanya pada pasangan tersebut.
“Iya.” Ghea yang menjawab. Sedangkan Pak Gery kembali memberikan pertanyaan pada Ajeng.
“Terus Bunda bilang apa lagi sama Ajeng?” tanya Pak Gery yang membuat kening Indah mengkerut.
“Bunda bilang kalau Ajeng gak lama lagi bakal punya--”
“Kalian berdua lama banget datangnya? Main di kamar dulu atau apa, sih? Si Ilham sama Si Dita dari tadi nanyain terus,” sahut Adi yang tiba-tiba datang menghentikan Ajeng yang ingin terus berbicara. “Ajeng bukannya tadi sama Mami? Kenapa sekarang digendong sama Ayah?” Kemudian beralih pada putri kecilnya sambil menggendong Ajeng. Menggantikan Pak Gery.
“Iya. Tadi Ajeng lihat Bunda sama Ayah datang. Terus Ajeng samperin deh,” jawab Ajeng dengan ekspresi wajah yang sangat menggemaskan.
“Ya, udah, gue sama Ghea ke Ilham dulu, deh,” pamit Pak Gery sebelum berlalu untuk menemui Ilham dan Dita yang malam ini menjadi pemeran utamanya.
ya. Malam ini adalah malam pertunangan kedua sahabat Pak Gery itu. Setelah sekian lama Pak Gery terus meyakinkan Ilham jika tidak baik terus mengejar apalagi berharap pada cewek yang jelas-jelas tidak ingin menerimanya. Lantas Pak Gery menyarankan sahabatnya itu untuk kenapa tidak mencoba menjalin hubungan dengan Dita saja. Cewek yang sudah dikenalnya dan cewek yang selalu dibelanya.
Setelah kecelakaan yang menyebabkan Ghea koma itu, Chacha yang merasa gagal menjadi seorang bodyguard dan merasa telah gagal menjaga orang yang seharusnya ia jaga. Cewek itu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Dan ketika Ilham terus mendesak perasaannya pun, Chacha tidak bisa berbuat apa-apa karena cewek itu yang tidak mau mengecewakan siapapun lagi. Termasuk cowok yang mengejarnya. Kemudian dengan semua alasan itu Chacha memilih pergi dari sana. Terutama dari kehidupan Pak Gery dan Ghea juga Ilham dan Jakarta tentu saja. Cewek itu memutuskan untuk tinggal di Bandung. Memilih untuk menjadi seorang pengajar bela diri di sebuah padepokan terkenal di Kota Kembang tersebut.
“Wesss … akhirnya, lo bisa move on juga.” Pak Gery menghampiri Ilham dan Dita yang sedang menyalami beberapa tamu yang turut diundang. Lalu setelah tamu-tamu itu berlalu, Pak Gery menepuk bahu Ilham pelan bersama kekehan kecil keluar dari mulutnya.
“Harusnya dong.” Ilham menjawab sambil melirik Dita yang ada di sampingnya.
Jadi saat Dita sudah tiba di Bandara, Ilham meminta bantuan pada Pak Gery agar menjemput sang calon tunangan karena cowok itu sibuk mengurus segalanya untuk pesta yang malam ini akan digelar.
Juga dengan Dita yang marah-marah karena Pak Gery yang telat menjemputnya dikarenakan Dita yang harus fitting gaun untuk acara malam ini.
“Selamat, ya, Mas Ilham, Dita.” ucapan itu Ghea berikan dengan tulus. Menyalami keduanya lalu memberikan pelukan pada Dita yang terlihat cantik malam ini.
“Makasih, ya, Ghe,” katanya tersenyum. “Maaf, ya, selalu ngerepotin kamu sama Gery.”
“Gak papa. Udah seharusnya, bukan?”
Acara pertukaran cincin itu berjalan dengan lancar. Sampai pada Ghea dan Pak Gery pulang kembali ke rumah ketika acara sudah selesai.
Ghea senang karena Dita ternyata mendapatkan pasangan yang baik seperti Ilham. Cowok yang sudah banyak membantunya untuk sembuh dari ketidak warasan akal sehatnya.
Begitupun dengan Pak Gery yang tidak menyangka akan takdir Tuhan yang ternyata sangat indah ini. Dari Adi dan Indah yang kini sudah memiliki Ajeng. Putri yang sangat cantik dan lucu. Juga Ilham dan Dita yang berhasil Pak Gery yakinkan jika mereka bisa mengubah status sahabat menjadi pasangan hidup. Dan kini apa kabar dengan dirinya?
“Mas, apa kabar, ya, sama Chacha?” Ghea bertanya pada Pak Gery yang sedang memandangnya lewat pantulan cermin.
Saat ini keduanya sudah siap untuk tidur setelah pulang dari acara pertunangan Ilham dan Dita.
Ghea yang bersandar di hearboad menarik selimut yang terlipat di ujung kakinya yang selonjoran. “Jadi kangen Chacha, Masa?” katanya dengan wajah yang sendu. Membayangkan kenangan dirinya empat tahun lalu ketika Chacha masih menjadi bodyguardnya.
Ada tarikan nafas yang Pak Gery keluarkan sebelum tubuhnya berbalik lalu berjalan menghampiri Ghea. “Kamu kan bisa telepon, Ghe!” Cowok itu mengusap puncak kepala Ghea dengan penuh perasaan.
Oke. Ghea tidak ingin membahasnya lagi. Karena ada hal penting yang harus ia bahas. Kemudian kepalanya mengangguk sebagai bentuk jawaban. “Iya, Nanti aku telpon aja besok.”
“Ya, udah, sekarang istirahat, ya! Udah malam. Aku mau ke ruang kerja dulu. Ada kerjaan kantor yang harus selesai besok.” Dikecuplah kening Ghea lama. Menyalurkan rasa yang semakin membuncah saja setiap harinya pada cewek itu. Lalu Pak Gery berdiri. Namun tangannya ditahan cepat oleh tangan Ghea. “Mas,” panggilannya yang membuat Pak Gery mengurungkan niatnya. “Hem?”
“Temenin aku dulu boleh?” Tatapan Ghea mendongak penuh harap.
“Boleh.” Sesuai yang Ghea harapkan. Pak Gery memenuhi permintaan.
Ghea beringsut ke samping. Memberikan ruang untuk suaminya itu. Menjadikan lengan kekarnya sebagai sandaran belakang kepala. Sedangkan tangan kekar yang satunya cowok itu terus saja memberikan usapan lembut pada kening lalu ditarik sampai puncak kepala Ghea.
“Mas?” gumam Ghea sedikit mendongakan matanya karena kepala Pak Gery yang bersandar pada sandaran ranjang. Hingga kening cewek itu terlihat berlapis beberapa bagian.
“Hem? Kenapa?” tanya Pak Gery tanpa menghentikan gerakan tangannya mengusap kepala Ghea.
“Ada yang mau aku tunjukin sama kamu.”
Mata Pak Gery yang awalnya berpusat ke depan kini menunduk untuk melihat wajah Ghea dengan ekspresi kebingungan. “Nunjukin apa?” Kemudian usapan itu berhenti tatkala kepala Ghea menoleh ke belakang tepat bantal yang tersimpan rapi di samping kepalanya. Tangannya terjulur pada bawah bantal tersebut untuk mengambil sesuatu dari sana.
Pak Gery memperhatikan setiap gerak-gerik Ghea sampai cewek itu kembali menatapnya dengan benda kecil yang ia genggam lalu ditunjukan pada cowok itu.
Dahi Pak Gery terlipat semakin dalam. “Ini apa?” Lalu diambilah benda kecil dari tangannya. Melihat sesuatu yang aneh pada benda yang bergaris dua dengan warna merah di sana. Pak Gery tatap lamat-lamat benda kecil panjang tersebut.
Ghea bangun dari setengah baringnya. Ia duduk bersila seraya menghadap suaminya. “Aku positif hamil, Mas.” Langsung saja pada intinya karena Ghea tidak ingin lebih lama lagi memberikan kabar tersebut padanya. Jika dirinya dan Pak Gery sebentar lagi akan menjadi orang tua.
Pak Gery terkekeh. Ada kristal bening yang tiba-tiba saja menggenang di pelupuk mata. Cowok itu tidak percaya. Benarkah? Jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ayah? Rasanya tidak percaya. “Kamu hamil? Beneran hamil, Ghe?”
Kepala Ghea mengangguk antusias. Ada tarikan halus di kedua sudut bibirnya, juga setetes kristal bening yang keluar dari sudut matanya tanpa dia minta. Tanda jika kristal itu adalah kebahagiaannya. “Iya, Mas. Aku hamil,” sahut Ghea kembali yang secara refleks mendapat pelukan hangat dari Pak Gery.
Lalu Ghea menangis haru di dalam dekapan itu.
“Makasih, Ghe. Aku seneng banget.” Kemudian dikecuplah seluruh wajah cewek itu tanpa ada yang terlewati seraya kedua tangan menangkup sisi wajahnya.
...Selesai...
Note Seizy :
Pada akhirnya aku bisa nyelesein cerita sederhana ini. Alhamdulillah ya. Semoga sesuai dengan apa yang kamu pikirkan.
Terimakasih sudah menjadi penyemangat aku dikala aku ngetik. Terimakasih juga sudah menemani aku dalam menuntaskan cerita ini. Terimakasih saja mungkin tidak cukup. Namun, hanya itu yang bisa aku lakukan dan aku ungkapkan.
Andai saja bisa bertatap wajah dan bisa saling cerita berbagi semua asa. Mungkin akan sangat bahagia buat aku.
Untuk yang tanya bakal ada S2 nya apa nggak. Aku belum tahu. Tapi mudah-mudahan ada, ya, dengan judul yang berbeda atau mungkin bisa jadi di judul yang sama. Aku belum tahu karena aku ada niatan buat lanjut squel cerita aku di aplikasi si kuning.
Aku hanya minta doanya saja semoga aku bisa terus lanjut berkarya. Walau ceritanya jauh dari kata sempurna.
ANW, jangan unfav dulu ya cerita ini. Mungkin saja nanti bakal ada notipikasi S2 nya Pak Gery dan Ghea. Hihiii
Seizy
Kang ngetik amatiran yang mengucapkan selamat menjelang ibadah puasa ya bagi yang menjalankannya. Semoga selalu dalam keadaan sehat. Walau masih beberapa hari juga tapi kang ngetik ini mau ucapin dari sekarang aja. Hihiiii
9 April 2021