
...Di sini aku tegaskan dulu bahwa di cerita ini gak ada yang namanya pelakor ya mamen tersayang. So, enjoy aja!!!...
“Kenapa sih kok Cuma dilihatin doang makanannya?”
Tentu saja Indah sangat merasa heran dengan Adi yang sedari tadi hanya menatap makanan yang ada di hadapannya saja. Rendang dan sop iga adalah makanan kesukaan sang suami. Indah sengaja memasakan makanan itu hanya untuknya agar bisa makan malam bersama. Namun sepertinya Adi sedang tidak berselera menyantap masakan istrinya tersebut.
“Gak enak atau gimana?” Sedangkan Indah entah sudah yang keberapa kalinya ia menyuapkan nasi beserta lauk ke dalam mulutnya itu.
“Sejak kapan sih makanan yang kamu bikin itu gak enak? Hem"? Adi berseru untuk menyenangkan hati istrinya itu tentu saja. “Ini yang lagi gak enak feeling aku, Dah.” Lanjut cowok dengan kaos putih yang melekat di tubuhnya itu.
Mengguyar rambutnya yang panjang tergerai itu ke belakang, Indah kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya lalu mengerutkan dahi tanda jika cewek itu tidak mengerti sembari menatap pada suaminya itu.
“Gery.” Seolah tahu keterdiaman Indah, Adi lalu menyebutkan satu nama itu yang mampu membuat Indah merotasikan bola matanya jengah. Indah tahu betul bagaimana dengan sikap cowok yang bernama Gery itu.
“Kenapa lagi emang dia?” satu suap lagi nasi itu masuk ke dalam mulut Indah. Sepertinya Indah memang begitu menikmati hasil masakannya sendiri. Berbeda dengan Adi yang malah menggeserkan piring yang masih penuh itu ke samping siku sebelah kanan lalu ia melipat kedua tangannya di atas meja makan.
“Si Gery tuh bikin aku kesel mulu. Masa dia nyuruh aku buat ngerekrut sekretaris baru. Aneh banget gak sih, Dah? Soalnya kan kamu tahu sendiri, aku dari dulu nyuruh dia buat pake sekretaris lagi kan.” Indah mengangguk mendengarkan. “Tapi dia suka nolak gak perlu.” Adi menjeda kalimatnya. "Dan sekarang gak ada angin gak ada hujan malah nyuruh aku buat rekrut sekretaris. Gila emang cowok itu.”
“Kok bisa gitu?” tanya Indah sesaat setelah ia meneguk air mineral yang tersedia di atas meja. Sepertinya cewek itu sudah selesai dengan makannya. Terlihat saja dari piringnya yang sudah habis tak tersisa.
“Ya itu, aku juga gak ngerti.” Helaan nafas Adi terdengar begitu malas bagi Indah.
“Terus nih, ya, yang buat aku jengkel sama si kecoa itu." Panggilan Adi untuk Gery membuat Indah terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. Tapi ia tetap tidak tidak berseru. Indah tetap mendengarkan keluhan suaminya itu.
“Tuh calon sekretaris besok langsung interview. Gak lewat HRD dulu, Dah. Dan lebih parahnya harus aku yang interview langsung dia." Lanjut Adi kemudian.
“Kok gitu? Kayak bukan Gery banget sih. Dia kan biasanya detail banget kalau masalah karyawan. Apalagi ini mau jadi sekretaris, kan? Udah pasti gak bisa sembarangan.”
“Nah itu yang buat aku jengkel setengah mati sama si Gery ini. Bikin aku mules aja, Dah.”
“Kamu tahu siapa orang yang direkrut sama Gery buat jadi sekretaris barunya?”
“Gak ada bilang dia siapa. Tapi Gery kasih tahunya dia cewek.”
“Cewek?” tanya Indah memastikan.
Pun dengan Adi yang mengangguk mengiyakan.
Untuk beberapa detik ke depan sunyi mengambil alih ruang makan itu. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring saja yang memecah sunyi. Adi mulai menyantap makanan yang sama sekali belum tersentuh itu meski terlihatnya tidak begitu nafsu.
“Di,”
“Hem?” gumam Adi seraya mengunyah makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
“Gery gak mungkin punya cewek lain di luar sana selain Ghea, kan?”
Dan pertanyaan Indah barusan membuat Adi tersedak. Ia ingin sekali menyemburkan isi di dalam mulutnya jika saja ia tidak segera meneguk air mineral di depannya ini.
***
Di rumah Gery.
Entah sudah yang keberapa kalinya Ghea membuka gordeng kaca di ruang tamu. Melihat dengan perasaan was-was ke pelataran rumahnya. Cewek itu sedang menunggu suaminya tentu saja. Sudah jam delapan malam Gery belum juga
pulang. Dan yang membuat Ghea khawatir cowok itu sama sekali tidak memberinya kabar.
“Kemana sih kamu, Mas?” lirih Ghea sembari menautkan kesepuluh jarinya. Lalu ia kembali berjalan ke sofa yang ada di ruang tamu tersebut. Duduk dengan perasaan campur aduk, Antara khawatir dan takut secara bersamaan.
Ia meraih handphone yang tersimpan di samping tubuhnya. Mencoba mendial nomor sang suami namun ketika sudah terhubung hanya suara nada dering saja yang terdengar nyaring. Gery tidak mengangkat panggilan darinya. Mencoba lagi, dan tetap sama. Membuat Ghea dilanda kecemasan yang kentara.
Ia berdiri lagi untuk membuka gordeng, mengedarkan pandangan lalu setelahnya Ghea akan melirik pada lingkaran jam yang terpasang di dinding ruang tamunya. Sungguh, Ghea takut terjadi sesuatu dengannya. Karena tidak biasa Gery melakukan hal ini padanya. Ada pun terlambat, cowok itu pasti akan menghubungi Ghea lebih dulu.
Merasa kekhawatirannya tidak kunjung mereda, Ghea mengambil handhpone yang kini tersimpan di atas meja kaca. Mendial nomor yang diberinama Mas Adi untuk menanyakan kemana Gery sesungguhnya.
“Mas,” seru Ghea begitu panggilannya dijawab oleh makhluk di seberang sana.
“Kenapa, Ghe?”
“Dah, Mas Adinya kemana?”
Oh rupanya bukan sang pemilik yang menjawab panggilannya. Melainkan Indah istrinya.
"Ada. Lagi di kamar mandi dia. Ada yang penting? Nanti biar dipanggilin dulu Adinya.”
Terdengar suara kekehan kecil di ujung sana. Membuat Ghea ersenyum seakan Indah dapat melihat.
“Gak usah, Dah. Aku Cuma mau nanyain Mas Gery aja. Dia belum pulang soalnya. Siapa tahu Mas Adi tahu gitu kemana dulu itu Mas Gery. Tapi kalau Mas Adinya lagi mandi ya udah gak papa. Ntaran aja chat aku kalau dia tahu!”
“Oh ... Oke. Ntar aku suruh Adi buat chat kamu aja ya, Ghe.”
Ghea tentu tidak dapat melihat jika Indah kini tengah mengerutkan wajahnya. “Ya udah. Thanks ya, Dah. Aku tutup teleponnya.”
“Kamu kemana aja, sih, Mas? Khawatir aku tuh sama kamu." Seraya menghampiri Gery, cewek dengan baju rumahan selutut itu berhambur menubruk dada bidang sang suami yang langsung membuat Ghea merasa tenang dan nyaman. Walau kaki cowok itu belum sampai ke depan pintu tapi Ghea sudah lebih
dulu memberikan pelukan hangat untuknya.
Tentu saja Gery membalas pelukan tiba-tiba darinya itu. Dan aroma lemon menguar begitu Gery mengecup puncak rambutnya.
“Kamu nungguin aku?” tanya Gery sesaat setelah Ghea mengurai pelukan itu kemudian mendongakan kepalanya menatap cowok yang selalu membuat dirinya merasakan kerinduan yang tiada hentinya.
Tanpa melepaskan tatapan, Ghea mengangguk. “Kangen,” ungkap Ghea dengan suara yang begitu manja saat Gery mendengarnya.
Gery tersenyum. Cowok itu tidak bisa jika tidak menyatukan wajahnya dengan wajah Ghea. Kemudian tanpa tidak tahu tempat, kedua bibir itu saling bertautan dengan selalu memberikan sensasi aneh yang menjalar kesetiap detak nadi.
“Ih, Mas, apaan sih kamu?” semburat merah di wajah tidak dapat Ghea sembunyikan. Seraya menutup bibirnya dengan tangan, Ghea menubrukan dahinya pada dada bidang itu lagi untuk menyembunyikan rasa malu yang mungkin saja begitu kentara.
Gery terkekeh geli sembari mengusak belakang kepala Ghea “Lanjut di dalam aja yuk!” bisiknya tepat di telinga Ghea. Kedua tangan Ghea mendadak meremang. Bukan karena Ghea kedinginan dan tidak memakai cardigan, tetapi itu berasal dari embusan nafas Gery yang membuatnya demikian.
“Lanjut apa, sih?” pura-pura tidak mengerti sepertinya lebih baik.
Gery hanya bisa terkekeh gemas melihat wajah Ghea yang sudah seperti tomat itu. Lalu tangannya terayun untuk mengusap pipi yang sedang merona menggunakan jari jempol. “Ini diilangin dulu, deh! Ntar bisa-bisa aku
gak tahan lagi buat nyerang kamu di sini.” maksud Gery, merah di pipi Ghea itu.
Ghea menangkup kedua sisi wajahnya dengan tangan Gery yang sudah berada di sisi tubuh cowok itu. “Ih mana bisa, Mas?” ucapnya malu-malu sebelum kemudian Ghea membalikan tubunya untuk mendahului cowok itu masuk ke dalam rumah.
Lagi-lagi Gery terkekeh seraya gelengan kecil di kepalanya. Saat ia ingin melangkahkan kakinya untuk menyusul Ghea, cowok itu berbalik lagi. Membuka pintu mobil lalu setengah membungkukkan tubuh tangannya meraih sesuatu di jok kursi sebelah kemudi.
“Mas, tadi aku coba-coba bikin brownis.” Setelah sempat menghindari Gery, Ghea masuk menuju meja makan. Tangannya dengan cekatan memotong brownies yang tadi siang dibuatnya. “Kamu mau coba gak? Tapi aku gak tahu ini gimana rasanya, belum aku—“ kalimat Ghea terhenti. Kedua rahangnya terbuka lebar serta mata yang memancarkan penuh binar ketika sesuatu terjulur dari sebuah tangan di belakang punggungnya.
“Mas,” serunya menutup mulut yang terbuka itu lalu berbalik menghadap Gery yang sudah berdiri di belakangnya.
“suka gak?” tanyanya cowok itu menatap Ghea penuh dengan cinta. Lalu tangan Ghea terayun untuk menerima sebuket bunga mawar dengan tiga warna yang suaminya bawakan itu.
“Dalam rangka apa nih kamu kasih aku bunga gini? Perasaan gak ada acara apa-apa kan?” pasalnya tumben-tumbenan cowok itu pulang kerja membawakan Ghea sebuket bunga mawar berwarna putih, merah dan kuning.
“Ck. Emangnya kalau mau kasih sesuatu sama istri harus selalu ada acara dulu apa?” Nada bicara Gery seperti sedang merajuk. Cowok itu
menarik kursi makan lalu duduk di sana setelah menyimpan tas kerjanya di atas meja makan tersebut.
“Ya bukan gitu. Tumben aja,” kata Ghea setengah membungkukkan tubuhnya dengan kepala miring menghadap Gery. Sejurus kemudian cowok itu mengecup bibir Ghea singkat. “Tuh pasti ini ada maunya kan?" setelah Gery mencuri bibirnya. Ghea lalu kembali menegakkan tubuhnya. Namun senyum merona itu tidak lepas dari wajahnya sembari menciumi wangi segar dari bunga
yang dibawakan oleh suaminya itu.
“Ini bisa gak kalau gak suudzon mulu sama suami sendiri?" Tangan Gery menarik tangan Ghea pelan untuk ia dudukkan di pangkuannya.
“Emang selalu gitu kan? Kamu kalau bawa sesuatu buat aku, ya pasti ada maunya. Kalau bukan itu apa coba?” sedangkan dengan Ghea, cewek itu melingkarkan satu tangannya ke leher Gery dengan satu tangan masih menggenggam buket bunga.
“Iya deh, iya.”
“Kan, ngaku juga kan?”
“Kangen aku tuh, Ghe.”
Posisi Ghea yang duduk miring dipangkuannya memudahkan Gery untuk kembali mencuri bibir cewek itu. Dengan penuh perasaan bibir cowok itu menyecap rasa yang selalu manis dari bibir bawahnya. Pun dengan kedua tangannya yang tidak tinggal diam. Menekan tengkuk Ghea untuk lebih memperdalam penyatuan itu bersama satu tangan yang lain
mengusap naik turun punggung Ghea.
Merasa tidak ada balasan dari pemilik sang bibir manis, Gery menggigit kecil bibir bawah itu hingga membuat sang pemilik memekik tertahan auto bibir itu terbuka. Gery lalu melesatkan lidahnya untuk mengekspos seluruh rongga di dalam sana.
Perlahan tapi pasti, tangan yang sedari menggenggam buket pun kini sudah melingkar sempurna pada leher cowok itu. Menyusupkan jari-jemari lentik ke sela-sela rambut Gery sembari menekan belakang kepalanya.
“Eemmhhh …” Dan erangan penuh gairah itu pun lolos begitu lidah Gery saling membelit dengan lidahnya. Memberikan sensasi lebih liar bersama debaran yang berasal dari jantung Ghea. Seakan detak nadinya akan berhenti ketika sebuah tangan besar menaikan ujung dres rumahan Ghea lalu dengan sangat nakalnya jari jempol cowok itu menekan inti Ghea dengan cara memutar.
...To be continued .......
Note seizy :
Aku mau minta maaf karena ini updatenya lama banget. So, sorry mamen. Aku tuh lagi sakit gigi. Nyut-nyutan mulu kalau dipaksain buat ngetik. Ini alhamdulillah udah agak mendingan. Udah bisa mangap. Tapi belum bisa ngunyah. Sedih gak gengsss? Sedih dong karena aku gak bisa makan bakso. Huhuuu
Ucapan makasih buat kamu semua yang udah nunggu. Yang di IG udah doain aku juga makasih banget. Pokoknya ILY buat mamen semuanya.
Anw, aku mau tegasin lagi jika di sini gak ada yang namanya pelakor ya mamen. Paling krikil krikil kecil aja gitu ya. Gak papa kan?
Oke biar tahu aku kapan update lagi follow instagram aku aja. Seizy_koerniawan. Atau cari nama aku ya mamen.
Udah ah gitu aja aku nyerocosnya.
Love seizy..
Kang ngetik amatiran yang lagi sakit gigi.