Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 50


Satu kesalahan besar bagi Ghea meninggalkan Gery di hotel dan malah mengikuti Airin ketempat ini. Tempat terkutuk yang membuat matanya berdosa dan begitu menjijikan untuk Ghea lihat. Sekarang keterpaksaan malah membawa kakinya masuk ke dalam.


Ghea bukan sok baik. Atau lebih tepatnya malah mengkhawatirkan orang lain dari pada dirinya sendiri. Ia mengikuti insting sebagai manusia yang diciptakan Tuhan dan atas dasar nama kemanusiaan. Jika saja yang terjadi itu bukan di depan matanya, Ghea tidak akan pernah menginjakkan kaki ke tempat ini.


Begitu masuk, pandangannya langsung disuguhkan oleh kerlap-kerlip lampu redup yang membuat kepalanya pening. Banyak orang-orang yang sedang melakukan pesta. Entah itu pesta alkohol atau seseorang yang sekedar minum biasa, duduk sendiri di meja bundar.


Kaki jenjang itu berjalan penuh kehati-hatian. Mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Mencari sosok yang Ghea yakini telah dibawa ke dalam gedung ini. Ia harus berjalan zig-zag untuk menembus kerumunan orang-orang di lantai dansa. Sedang menari seolah tengah menikmati lagu yang diputar di sana. Padahal musik itu sangat tidak enak untuk didengar. Apalagi untuk menari. Mereka melakukan tarian demi tarian tidak masuk akal. Atau lebih kepada menggoda saja.


Seharusnya pula Ghea tidak usah susah-susah menanyakan pada sang batender yang berdiri di balik meka panjang. Di belakang punggung batender itu sebuah rak setinggi langi-langit terpajang dengan banyaknya minuman beralkohol disediakan. Ghea berdehem. Tidak duduk, meski matanya sempat pula melirik kursi bundar tinggi kosong di sampingnya.


Batender itu melirik ke arahnya sambil menuangkan minuman dari botol ke gelas kecil lalu diberikan pada seorang pria yang meminta.


Ghea melihat sang batender dengan angkuh. Perut besarnya tidak akan jadi penghalang untuk Ghea meski mereka memandang Ghea wanita yang aneh. Akan tetapi, Ghea tetap menunjukan seolah dirinya sebagian dari tamu pub itu. Tapi, siapa yang akan percaya? Sebelumnya mereka tidak pernah melihatnya, bukan?


Tangan kiri Ghea dilipat di atas meja panjang. Tubuhnya maju ke depan. Dagunya ia tarik ke atas. Menunjukan sikap keangkuh. “Saya mau cari seorang pria.” Tidak bisakah Ghea mengatakan hal yang lebih bodoh lagi? Ghea menggigit ujung lidahnya. Mengusap tengkuknya dengan tangan yang tadi ia tumpukan di atas meja. Seolah menyadari perkataan itu memanglah salah. Dan itu sungguh konyol.


Dikerutkan dahi sang batender. Tinta hitam mengintip di balik kaos putih ketat yang batender itu kenakan. Ghea tebak itu adalah sebuah tato yang sengaja menjadi mahakarya di lengannya yang berotot. “Seorang pria?” ulang batender itu. Tatapan bola mata hitamnya menyelidik.


Ghea menjilatii bibir. Menelan saliva yang mendadak kerongkongannya kering. “Eum … maksudnya dua orang pria,” kata Ghea lalu berkedip pelan. Melambaikan tangan dengan siku bertumpu pada meja, menyuruh agar batender itu mendekat.


Tanpa ragu dan wajah dingin, dimajukan wajah batender itu. Mendekat pada Ghea. Wangi khas langsung tercium dari parfum batender yang malah membuat Ghea mual. Tapi, ia harus menahannya. “Dua orang pria yang membawa seorang wanita. Kamu lihat mereka masuk ke sini nggak?” Bisik Ghea menahan nafas.


Ditarik kepala batender itu mundur. “Tidak,” katanya. Tetapi dengan tatapan yang tiba-tiba lepas dari Ghea. Dan Ghea tahu jika batender itu sedang berdusta.


“Kamu tahu siapa saya?” tanya Ghea. Diipertahankan Ghea dagunya agar tetap terangkat. Meski, jujur saja jantungnya seakan dipecut kuat beberapa kali oleh cambuk.


Ghea membuka cluth, merogoh sesuatu dari sana untuk kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama. “Kalau kamu bisa bantu saya—“ Tangannya menggeserkan sebuah kartu nama pada batender itu. “Saya akan memberikan kamu pekerjaan yang lebih baik dari sekedar menjadi seorang batender,” ujar wanita itu mengedikan bahu. Namun, tatapannya serius.


Oh Tuhan, jika saja Gery melihat kelakuannya ini, dia pasti akan marah besar. Apalagi jika tahu bahwa ia telah masuk ke dalam sebuah pub.


Batender itu menatap Ghea dingin. Sedetik kemudian matanya lari menunduk melirik kartu yang digeserkan Ghea.


“Jangan khawatir soal bayaran. Saya akan membayar kamu mahal.” Uh serius sekali ucapannya itu. “Tapi, kamu harus bantu saya menemukan seorang wanita yang saya yakin dia dibawa kesini.” Kelewat bodoh memang. Harusnya Ghea tidak bertanya pada batender atau siapa pun soal Airin. Harusnya Ghea mencaritahunya sendiri. Seharusnya pula, lebih bagus lagi ia tidak menginjakkan kaki ke sini.


Ya Tuhan … bantu aku.


**


Sedangkan di sisi lain.


Di dalam mobil sedan. Adi yang terus memegangi hand phone Gery dan mengamati layarnya yang menunjukan jalur tempat keberadaan Ghea mengumpat histeris, “Anjiingggg …" Refleks wajah Gery menoleh. Bertanya kemudian. “Kenapa?”


“Nih lihat,” kata Adi sambil menunjukan hand phone pada Gery yang sedang mengemudi. Diangkat Gery kaki dari pedal gas sedikit. Memacu kecepatan laju mobil itu rendah. “Bini lo masuk pub. Masa … gak salah nih, Ger?” Adi meracau lagi. Dilihatnya kembali hand phone itu untuk lebih memastika jika matanya tidak salah melihat. “Iya. Bener. Ini pub, begoo. Ngapain Ghea di sana?”


Dicengkram kuat bundaran setir itu oleh kedua tangannya. Wajahnya mengencang dengan gigi bergemeletuk. Matanya berkilat merah. Benar dugaannya, jika yang menculik Airin adalah mantan bos wanita itu.


“Coba lo hubungi nomor Ghea lagi. Kali aja sekarang bisa! Lagian dari tadi lo mantengin tuh hp atau paan? Kaget lo parah banget.”


Lantas, tanpa disuruh dua kali pun Adi mendial nomor wanita yang dikhawatirkan Gery. “Masih gak bisa, Ger. Gak aktif nomornya,” ujar Adi menatapi wajah Gery dari samping begitu serius.


“Siaga satu, Di," ucap Gery memberi peringatan pada Adi.


Adi menganggukkan kepala dengan Gery yang kembali menambah laju kecepatan kendara besinya. Ia tidak memperdulikan sebagian pengendara yang mengumpat padanya dengan cara menyembunyikan klakson hingga memekik telinga. Malah Gery semakin menekan kakinya di atas pedal gas. Melampaui batas kecepatan maksimal di atas rata-rata.


Gery membanting setir. Menginjak rem sekaligus hingga suara decitan terdengar nyaring di depan gedung pub. “Cek lagi, Di!” kata Gery sembari membuka sabuk yang membelenggu pundaknya.


Adi tidak menjawab, hanya kepalanya saja mengangguk dengan hand phone masih menampilkan layar terang di sana. “Lokasinya bener, sih, Ger. Kita hanya perlu mencari Ghea ke dalam.”


“Astaga Ghe ... kenapa, sih, kamu harus ngebahayain diri kamu sendiri, sayang?" Entahlah Gery harus mendapat jawaban dari siapa. Karena Adi di sampingnya malah memutarkan bola mata. Menyerahkan benda canggih pada sang pemilik kemudian. Kedua cowok itu lalu keluar dari mobil. Melangkah dengan tidak menunjukan gelagat aneh ke dalam gedung pub. Seolah kedua cowok itu akan bersenang-senang di sana.


Hal pertama kali yang dilihatnya saat Gery dan Adi masuk adalah mereka yang sedang bersenang-senang. Mengumbar tawa yang terlihat dari luar untuk membebaskan tekanan dalam diri atas hidup atau dari pekerjaan, mungkin. Para wanita berpakaian minim dan aroma alkohol tentu saja menjadi hal utama mencuat di indra pencium kedua cowok tampan nan seksi itu.


“Gila, Ger. Baru kali ini gue masuk pub. Cewek-ceweknya cantik-cantik,” ujar Adi nyeleneh. Menyeringai dengan style sok cool.


“Jangan lupain Indah yang udah kasih lo Ajeng!” Dengan kedua tangan tenggelam ke dalam saku celana formal mengkilat, Gery mengedarkan pandangan. Waspada.


“Iya, sih. Dadanya aja yang gede, panasnya gak kalah panas sama Indah di atas ranjang. Atau lebih hot Indah kali daripada mereka yang udah dicelupin sama banyak kecoa.”


“Lo waras, Di?" Gery malah meledek. Entah jenis ledekan seperti apa yang Gery berikan pada sepupu gilanya ini.


“Waras gue. Kenapa emang?” Adi menganggukan kepala dua kali. “Kalau gak waras gue gak bakal hornie juga kali lihat pinggul mereka tuh. Apalagi—“


“Gue telepon Indah, nih, ya!”


“Ngancem aja lo bisanya. Dasar kambing. Dah lah, fokus aja sama pencarian Ghea. Elah…”


“Bagus kalau lo nyadar tujuan kita kemari buat apa.”


Mungkin rencana Gery terlalu mengundang resiko besar dengan datang ketempat semacam ini. Seumur hidupnya, Gery baru pertama kali mengunjungi pub. Well, meski beberapa tahun tinggal di luar negeri, banyak kawannya yang selalu mengajak Gery untuk bersenang-senang. Tetapi selalu Gery tolak karena ia yang menjaga perasaannya untuk Ghea.


Dan malam ini Gery malah berada di sini. Lebih sialnya, seorang gadis dengan pakaian super minim menghampiri. Dengan penuh senyum menggoda, gadis bermake up glamor itu menggelayuti lengan Gery. Lalu disusul dengan gadis lain dengan bibir merah menyala, rambut pirang sebahu merangkul pundak Adi. Kedua gadis itu sama-sama


tersenyum sambil jari-jari tidak bisa diam. Menggerayapi dada bidang kedua cowok tampan yang sudah beristri.


“Hai …” Gadis yang menggelayuti lengan Gery menyapa. Bibir menyalanya itu menyunggingkan senyum.


“Kita berdua bisa kok, bikin kalian happy malam ini. Aku yakin, kalian berdua pasti bakalan puas kalau kami yang men-service,” ujar gadis berambut pirang yang merangkul pundak Adi. Mengedipkan satu matanya lalu tertawa menggoda. Dan sialnya, malah mulai menyentuh sisi tubuh Adi dengan jari-jari lentik penuh racun itu.


“Fine.” Suara itu milik Gery. Wajahnya menyeringai. “Sekarang, bisa tunjukin tempat VIP?! Karena gue gak mau tempat kelas rendahan.”


Demi Tuhan. Gery tidak bersungguh-sungguh. Dengan cara ini, Gery bisa mencari tahu Ghea dimana. Dan Airin … ah kepala Gery sudah tidak memikirkan wanita itu. Saat ini, tujuan Gery hanya wanitanya. Ghea harus selamat. Juga bayi mereka tentu saja.


“Bentar,” ucap Gery melepaskan tangan gadis dari melingkari lengan berototnya. Merogoh hand phone untuk kemudian melihat layar GPS yang masih terupdate. Posisi Ghea masih belum berubah. Dan harapan Gery, semoga ia bisa menemukan Ghea.


Dilangkahkan Gery serta Adi kakinya mengikuti kedua gadis yang berjalan di samping. Bahkan pula, belum sampai di tempat ruang tertutup, kedua gadis itu sudah lebih dulu menggoda. Memberikan sentuhan-sentuhan sensual jika saja tangan kedua gadis itu tidak Gery dan Adi tahan.


“Sabar!” ujar Gery menyeringai.


Dilewatinya lorong panjang dengan pintu di setiap sisi setelah satu gadis mendapatkan dua kamar VIP. Di sana sepi, tidak ada orang satu pun. Orang-orang di balik pintu itu mungkin sedang disibukan dengan peluh gairah. Atau suara-suara desaah yang tidak mampu Gery dengar.


Namun, di saat mereka melewati satu pintu—yang kebetulan tidak tertutup sempurna dan bercelah meski sedikit. Gery serta Adi mendengar suara seorang perempuan.


Suara familiar yang begitu Gery kenal di telinganya.


Suara Ghea—wanitanya.


“Kenapa berhenti?" tanya gadis yang bersama Gery. Sementara Gery menoleh lalu memberikan tatapan pada Adi.


“Eumm … Lady, begini—“ Adi nampak berfikir. Sepertinya kedua gadis itu tidak memperdulikan suara minta tolong dari orang di dalam sana. Seolah sudah terbiasa mereka mendengarnya. Mungkin asumsi kedua gadis itu hanya seorang wanita yang diperlakukan kasar oleh pria yang membawanya.


“Ah, ya … kita belum bawa minuman, kan ya? Mending kalian pesan aja dulu, terus bawa ke kamar. Okay! Gimana? Anw, sini kunci kamarnya, biar kita masuk lebih dulu.” Sebisa mungkin Adi bersikap biasa saja. Dan beruntung kedua gadis itu tidak curiga. Padahal jika dipikir minuman bisa diantar ke dalam kamar setelah memesannya.


Setelah menghilangnya kedua gadis yang penuh cobaan untuk Gery serta Adi itu. Dianggukkan Adi kepala setelah melihat tatap bola mata abu Gery yang berkilat-kilat.


Ketidaksabaran yang menuntun Gery untuk mendorong pintu tersebut. Menyentaknya hingga membuat suara gaduh.


“Ghea!”


Dada Gery bergemuruh hebat. Matanya memancarkan kilatan amarah luar biasa. Secepat kilat menyambar, ia menendang punggung seorang pria yang sedang menarik-narik pergelangan Ghea. Wanita itu berbaring menyamping di atas lantai keras. Pria itu terjungkal kemudian.


“Mas.” Dengan susah payah Ghea mencoba berdiri bersama bantuan kedua tangan bertumpu pada lantai. Ghea terisak. Air mata meleleh membasahi wajah.


“You okay? Mana yang sakit?” Demi semesta! Gery panik. Ia menarik punggung Ghea dalam dekapan hangat setelah sebelumnya kedua tangan besar Gery membantu Ghea berdiri. Mengusap belakang kepala lalu mengecupi dahi setelah mengurai pelukan. Tapi hanya sesaat. Karena setelah Gery memastikan tidak ada luka serius pada tubuh serta wajah Ghea, cowok itu menariknya lagi dalam dekapan. Bedanya sekarang lebih erat.


“Maafin aku, Mas." Isak Ghea penuh sesal.


“It’s okay. Gak papa. Kamu udah aman sama aku, sayang.” Dikecup lagi puncak kepala Ghea beberapa kali.


“Tapi … Airin, Mas. Kamu harus tolong dia!”


Dan bunyi hantaman kuat terdengar di kamar itu. Pria yang tadi menarik-narik Ghea terjatuh ke lantai. Pelipisnya mengeluarkan darah karena menghantam ujung meja nakas samping ranjang.


“Siapa, sih, bos lo? Bilang buruan. Mereka bawa Airin kemana?” Adi menarik keras kaos pria itu. Pria yang berpura-pura menjadi batender. Padahal dia adalah anak buah sang pemilik pub.


“Gak tahu,” jawab sang batender gadungan.


BUGGHH …


Suara adu kulit dengan kulit itu terdengar mengerikan. Adi menghantam rahang sang batender gadungan itu hingga kepalanya terjatuh ke lantai. Darah sudah mengalir deras dari pelipisnya. Rahangnya membiru dan sudut bibirnya robek.


“Buruan bilang! Atau gue cokel mata lo sekalian. Mau? Heuh?!” Adi hanya menggertak tentu saja. Ia tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Sudah seperti seorang mafia saja dirinya.


“Tadi aku denger Nandan akan membawa Airin ke lantai tiga, Mas.”


Sungguh! Gery terkejut. Wajahnya mengeras. Kedua alisnya tertaut. “Nandan?”


“Iya, Mas. Dia yang culik Airin. Dia juga yang punya tempat ini.”


Sebuah kejutan besar untuk Gery tentunya.


.


.


To be continued...


Dear kamu.


Aku tahu kamu capek. Sama aku juga. Tapi bedanya aku harus bertahan demi selesainya cerita ini. Aku malu sebenarnya.


Karena kamu sudah lama menunggu. Aku malu karena tidak update terlalu lama. Jujur saja, kemarin aku udah ada naskah. Tinggal aku up. Tapi, pas aku baca ulang dan udah tinggal edit. Feel itu gak berasa. Hampa, kosong dan seperti tidak bernyawa.


Akhirnya aku ketik ulang lagi. Butuh emosi dulu untuk memulai. Ah lucu memang. Atau sebut saja aneh. Kenapa?


Karena di saat penulis hebat lainnya jika akan melanjutkan sebuah cerita tinggal ketik lalu dituangkan. Aku harus membuat diriku membaik dulu.


Thanks for me. Karena sudah selalu semangat. Thanks for you. Karena sudah memberi aku semangat. ILY