Married With Teacher

Married With Teacher
Perkelahian Tiba-tiba


“Kita mau kemana, sih, Mas? Mau makan lagi? Kan udah. Masa belum kenyang, sih?" Ghea bertanya pada Pak Gery yang tengah melajukan motornya dengan sangat pelan. Ghea juga melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Pak Gery seraya menyimpan dagunya di atas bahu cowok itu. Sudah tidak canggung lagi bagi Ghea untuk melakukan hal yang sudah biasa baginya. Begitu pun dengan Pak Gery yang senang melihat Ghea memeluk dirinya dari belakang.


Rambut Ghea terbang ke belakang karena ia yang tidak memakai helm. “Mas. Diem aja, sih ditanya juga. Kita mau kemana?”


Pak Gery melirik wajah Ghea dari kaca spion motornya. “Keliling-keliling aja. Kenapa?” Kemudian Ghea dapat melihat sudut bibir Pak Gery yang tertarik karena cowok itu juga tidak menggunakan helmnya.


“Cuma nanya aja. Kenapa gak kasih tahu dulu?”


“Emangnya harus izin dulu ya kalau mau berduaan sama istri sendiri?” Pak Gery terkekeh seraya matanya itu melirik Ghea. Masih dari kaca spion motornya.


“Ya, gak juga, sih. Kenapa harus minta izin? Kan aku hak kamu Mas,” sahutnya membuat Ghea dapat merasakan bahu Pak Gery yang bergetar. Ghea yakin jika cowok itu tertawa.


Tidak ada acara atau hal yang spesial untuk keduanya malam ini, Pak Gery hanya ingin jalan berdua saja dengannya. Sangat jarang bukan Pak Gery mengajak Ghea jalan-jalan semacam malam ini?


Tidak ada juga hal yang serius yang dibicarakan saat motor itu melaju membelah jalan. Hanya memang sesekali Ghea maupun Pak Gery tertawa ketika membicarakan hal yang lucu menurut keduanya. Sebenarnya hal lucu yang tidak masuk akal dan tidak penting untuk dibahas juga. Seperti Pak Gery yang tiba-tiba berbicara tentang hal ranjang.


Uh dasar cowok itu. Masalah ranjang saja harus dibicarakan di luar kamar segala.


Ketika Pak Gery sedang santainya melajukan kendara dua ronda tersebut, dari arah depan dua motor sedang melaju sembari bersisian. Jalan aspal yang hanya cukup dilewati satu mobil itu membuat Pak Gery susah untuk menyalip, karena motor itu tepat berada di setiap sisi jalan. Sehingga tidak ada jalan lain untuk motor Pak Gery melewatinya. Lalu dengan sangat santainya Pak Gery melewati dua motor itu melalui celah jalan tengah yang kosong. Namun ketika itu, motor yang sedang melaju di sebelah kanan Pak Gery tiba-tiba saja menyenggol motor Pak Gery hingga membuatnya oleng dan jika saja Pak Gery tidak bisa menjaga keseimbangannya mungkin ia akan terjatuh bersama dengan Ghea.


“Woy, lo becus kagak, sih, bawa tuh motor?” umpat pengendara motor yang menyenggol motornya Pak Gery. Dia berhenti sejenak.


Pak Gery tidak menggubris umpatan kasar itu. Karena ia tahu, jika Pak Gery melayani pemuda macam mereka akan membuang-buang waktunya saja. Apalagi sekarang Pak Gery sedang membawa Ghea. Dan Pak Gery tidak ingin mengundang perkelahian. Lagi juga salah mereka bukan, berkendara bukannya pakai jalan yang sebelah, ini malah beriringan seperti itu. Jelas saja itu menghalangi pengendara lain yang akan lewat.


“Mas, itu gimana? Kayaknya itu orang marah, deh.” Sesaat, sebelum Ghea mengatakan hal itu ia sempat melirik ke belakang. Tepat ke arah pengendara tadi yang kini justru seperti mengejar motor Pak Gery dengan suara deru mesin yang sangat bising. Ghea juga merasa keadaan ini sangat tidaklah aman. Apalagi keadaan jalan yang lumayan sepi tidak ada pengendara lain. Hanya ada motor Pak Gery dan dua motor yang kini mengejarnya dari belakang.


Lalu Pak Gery melihat dari arah kaca spionnya. Benar saja, dua motor itu kini sedang mengejarnya. Membuat Pak Gery refleks menarik gas motornya kencang. Hampir dengan kecepatan yang tinggi. Pun dengan Ghea yang lebih mengeratkan lagi pelukannya pada perut Pak Gery.


“Ghe, jangan kenceng-kenceng peluknya! Perut aku sesak ini. Nanti aja deh kalau lagi di atas kasur kamu peluk aku kencangnya, ya!”


Astaga Pak Gery … keadaan lagi tegang begini malah ngajak Ghea bercanda lagi. Refleks dong Ghea melepaskan satu tangannya lalu memukul bahu Pak Gery. “Ih, Mas Gery, apaan, sih? Di situasi kayak gini kamu masih bisa bercanda? Yang benar sasa, Mas?” kata Ghea dengan jantung yang berdegup kencang. sungguh Ghea merasa takut dan panik dalam waktu bersamaan.


Pak Gery terkekeh. “Biar gak terlalu tegang, Ghe.”


“Gak terlalu tegang gimana maksudnya, Mas? Ini aku bukan tegang lagi. Tapi takut tahu.”


“Gak usah takut! Kan ada aku. Sekali-kali lah, Ghe, biar kaya di film-film action gitu.”


Ghea hanya bisa menghela nafasnya sesak. “Kamu sih, tadi pakai nyalip motor mereka segala.”


“Tapi bukan aku yang salah loh, ya, disini. Salah mereka aja yang ngejalani motornya kayak gitu. Emang mereka pikir jalan ini punya mereka apa?”


Di tengah-tengah perdebatan Ghea dan Pak Gery. Satu motor sudah tepat berada di sampingnya sedangkan motor yang lain berada di belakang motornya Pak Gery.


“Woy, berhenti, lo!” Sergah pengendara yang melaju di samping Pak Gery. Namun, seperti tadi, Pak Gery tidak menggubrisnya. Cowok itu menulikan pendengarannya. Sedangkan Ghea di belakang Pak Gery sudah mengeluarkan keringat dingin. Dia takut. Sungguh takut.


Mencengkram t-shirt Pak Gery yang sengaja cowok itu tidak menutup resleting jaket parasutnya. “Mas,” lirih Ghea dengan suara bergetar.


Pak Gery tidak menjawab, namun satu tangan cowok itu melepaskan stang motor lalu beralih merengkuh punggung tangan Ghea. Seolah Pak Gery berkata ‘jangan takut’ padanya.


“Eh lo budeg apa gimana? Berhenti gak lo?” semakin menunjukan wajah tidak sukanya, pengendara itu kemudian menendang motor Pak Gery dari samping. Sehingga Pak Gery dan Ghea jatuh ke atas sisi jalan aspal bersama motornya yang auto menindih kaki Ghea dan kakinya. “Makanya kalau dibilang berhenti itu, ya, berhenti!” katanya seraya menurunkan standar motor matic berwarna merah miliknya. Yang juga diikuti pengendara yang satunya. Kemudian menghampiri Pak Gery yang tengah membangunkan motornya.


“Kamu gak papa? Kaki kamu sakit?” tanya Pak Gery pada Ghea seraya membantu cewek itu untuk berdiri. Lalu pandangannya menusuk tajam pada kedua pengendara itu.


Sudah Pak Gery katakan belum, sih, jika siapa saja yang menyakiti Ghea, orang itu harus membayarnya dua kali lipat lebih dari yang mereka buat?


“Apa lo liat-liat? Berani lo lawan kita berdua? Heuh?”


“Mas, udah jangan diladeni. Kita pulang aja, yuk!” Ghea menarik tangan kanan Pak Gery agar cowok itu tidak usah ribut dengan kedua cowok yang tengah bersedekap sombong di depannya ini.


“Hahaha … eh cewek. Lo kayaknya masih anak sekolahan, ya, kan. Kenapa harus jalan sama Omnya? Sini jalan aja sama abang aja. Nanti abang ajak makan ke warteg,” kata cowok itu dengan tidak tahu malunya, sambil menaik turunkan kedua alisnya lalu menyisir rambut sampingnya dengan jari.


Ghea meneguk salivanya kelat. Bukan takut lagi, namun Ghea jijik, rasanya ingin menceburkan cowok petakilan itu ke dalam sumur saja.


“Gaya elu mau ngajak anak orang makan. Eh makan di warteg. Kagak bermodal banget dah lo.” cibir temannya itu sembari menoyor pelipisnya dengan kasar sampai kepalanya terhuyung ke samping.


“Diem dah, lo. Sirik amat!”


“Mas, udah yuk biarin aja mereka berantem kaya gitu. Kita mending pulang aja, ya!” Ghea kembali berkata pada Pak Gery. Cowok itu mengangguk. Menyetujui. “Ya, udah. Gak guna juga kita malah nontonin mereka.” Pak Gery mengusap pipi Ghea lembut. “Tapi itu kaki kamu beneran gak papa kan?”


Ghea menggelengkan kepalanya. “Gak kok. Sakitnya cuma sedikit doang.”


Ghea dan Pak Gery sedikit berjalan ke arah motor trail Pak Gery. Namun, saat Pak Gery akan menaikinya tiba-tiba saja tangan kiri Ghea ditarik oleh cowok petakilan tadi. Dan satu temannya itu menarik jaket Pak Gery. Langsung memberikan tinjuan pada rahang tegas cowok itu. Membuat Pak Gery yang tidak bersiap diri limbung dan sedikit rasa ngilu pada rahangnya tentu saja.


“Bangsat!” umpat Pak Gery mengepalkan kedua tangannya ketika melihat tangan Ghea yang ditarik kasar.


Duh, lupakah cowok itu jika dirinya adalah seorang guru? Bisa-bisanya Pak Gery mengeluarkan kata kasar. Tetapi wajar bukan, melihat tangan sang istri yang ditarik kasar seperti itu, siapa yang akan menerimanya? Tentu saja tidak akan ada. Begitu juga dengan Pak Gery. Cowok itu maju ke arah Ghea dan langsung menyentak tangan sialan cowok yang menariknya, seraya berkata, “jangan pernah sentuh istri gue, sialan!” berang Pak Gery menajamkan matanya.


Kedua cowok itu terkekeh seolah mengejek Pak Gery. “Haah, istri?” Pura-pura terkejut sambil saling bertukar pandang. Menyebalkan.


“Masa, sih, istrinya? Bukan Omnya ternyata, ya?” cibir cowok yang tadi menarik tangan Ghea.


“Banyak ngomong! Sini lo berdua maju!” hardik Pak Gery dengan santai, namun kedua kaki dan tangannya sudah siap untuk melakukan perlawanan.


“Halah … Om-om, emang berani sama yang muda-muda? Ntar pinggangnya encok lagi, Om. Gak bisa main kuda-kudaan lagi ntar sama bininya. Hahaha … benar gak, cung?” ledek cowok itu lagi pada temannya yang tadi meninju rahang Pak Gery.


Kedua cowok itu kembali terkekeh. Sedangkan Ghea membolakan kedua matanya tidak percaya. Sudah mah dikatakan Om-om, eh sekarang suaminya itu malah diledek habis-habisan lagi. Ya, salam.


Kedua cowok itu langsung berlari ke arah Pak Gery seraya memberikan serangan lewat tangannya. Namun, secepat itu pula Pak Gery bisa menghindar dari setiap serangan kedua cowok yang sama sekali tidak mereka kenal itu.


Saat Pak Gery melawan satu serangan dari cowok yang menggunakan motor matic, saat itu pula cowok yang satunya kembali menarik tangan Ghea. Membuat Ghea semakin ketakutan dan akhirnya ia berteriak meminta tolong.


“Eh, jangan teriak minta tolong napa!’ titah cowok itu sambil terus menarik tangan Ghea.


“Eh, onta! Jelas saja gue teriak minta tolong. Orang lo narik-narik tangan gue. Lepasin! Sakit, nih,” sahut Ghea yang sudah tidak bisa menahan rasa nyeri di pergelangan tangannya. Sedangkan Pak Gery belum bisa menolong Ghea karena cowok itu terus menghajar cowok yang satunya.


“Cantik-cantik galak amat. Udah kayak macan aja, elah …” ujar cowok itu seraya terus tidak melepaskan tangannya.


“Tolong …, tolong!” Ghea terus berteriak meminta tolong. Tidak menjawab sama sekali ocehan cowok itu. Berharap ada orang yang datang lalu membantunya. “Mas!” Ghea memanggil Pak Gery yang terus saja meninju cowok yang kini sudah tidak berdaya di bawah kungkungan Pak Gery.


“Eh onta, lu ngapain masih tarik gue? Itu bantuin temen elu yang udah babak belur! Jangan sampai mampuus di tangan suami gue, begoo!”


Saat Ghea berucap demikian, bersamaan dengan itu pula dua orang datang dan langsung menarik tubuh Pak Gery. Sedangkan satu orang lagi memberikan tinjuan pada cowok yang masih menarik pergelangan tangan Ghea.


...TBC...


Di bab ini aku gak bakal ngomong apa-apa.


Seizy


Kang ngetik amatiran