
.
.
.
Melisa terduduk lemas mendengar perkataan ayahnya. Matanya kini sudah berkaca-kaca.
"Ayah...Melisa masih muda, Melisa masih sekolah, bagaimana Melisa dijodohkan? Ayahhh.... Melisa janji Melisa gak akan buat ayah kecewa lagi. Melisa janji melisa gak akan berulah lagi, tapi ayah.... ayah jangan jodohin Melisa yahh" pinta Melisa sambil terisak menangis.
Sebenarnya Harry tidak tega melihat putri nya menangis seperti itu. Tapi memang ia harus menjodohkan Melisa secepatnya dan menikahkannya karna ia tau usia nya tak banyak lagi. Ia sudah sakit-sakit an dan sepertinya ia akan menyusul istrinya.
Dan ia tak bisa pergi sebelum memastikan melihat Melisa di tinggal baik-baik saja. Ia ingin memastikan putri semata wayang nya tersebut ada yang menjaga, memiliki keluarga baru yang dapat membahagiakannya. Ia tak mau meninggalkan Melisa sendiri, sudah cukup ia melihat bagaimana kesepiannya Melisa selama ini tanpa kehadiran seorang ibu dalam hidupnya. Ia ingin putri nya kelak berada di keluarga yang baik dan mampu menjaga putri nya. Termelebih ia mempunyai impian ingin menikahkan sendiri Putri nya tersebut.
Dan ia tau pilihannya tepat. Keluarga rekan bisnis nya sekaligus sahabat nya tersebut memang baik dan sangat penuh kasih sayang. Sahabatnya memiliki seorang putra yang sangat tampan, baik, pintar dan sangat sopan. Membuat Harry yakin jika putri nya akan aman dan bahagia bersama putra sahabatnya itu. Dan lagi keluarga sahabatnya itupun sudah menyetujui nya. Mereka hanya tinggal mengatur janji temu malam ini untuk memperjelas semuanya.
"Ayah akan datang kesekolah mu besok, jika sempat. Dan sekarang mandi lah dan bersiap. Kau harus cantik karna malam ini yang datang adalah keluarga calon suami mu untuk membicarakan pernikahan" jelas Harry mencoba mengabaikan isak tangis Melisa yang semakin menjadi saat ia mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Pergi Melisa" geram Harry membuat Melisa mengangguk sambil terus terisak. Melisa melangkahkan kakinya nya lemas kearah pintu kemudian menuju kamarnya.
Ia sangat terkejut...luar biasa terkejut...
Hari ini begitu banyak hal tak terduga terjadi sekaligus dalam hidupnya.
Ia akan menikah? Di usia semuda ini? Lalu bagaimana sekolahnya? Apakah ia akan berhenti sekolah dan akan menjadi ibu rumah tangga? Mengapa ayahnya sangat berbeda kali ini? Apakah ayahnya sudah lelah mengurusnya? Tidak..tidak..tidakk... ayahnya sangat menyayanginya. Dan ayahnya pasti melakukan itu dengan alasan. Tapi apa alasannya Melisa tak mengerti.
Ia sangat sedih saat ini. Semua terjadi begitu saja. Fikirannya bisa kacau seketika. Arghhhhh..... ia ingin membantah perintah ayahnya tapi ia tak sanggup. Ia tak mampu melawan ayahnya. Bagaimanapun kehendak ayahnya akan terjadi padanya. Dan ia hanya harus bersabar menerimanaya kemudian menjalaninya dengan kesabaran. Melisa tak punya tujuan hidup lagi seketika saat tau ia akan menikah. Seperti apa lelaki yang akan menikahinya? Apakah ia sudah tua makanya harus menikah semendadak ini? Aishhhh... membayangkan itu membuatnya semakin tak sanggup. Lebih baik sekarang ia bergegas agar ayahnya tak semakin marah.
Pukul 19.00
Melisa dan ayahnya menyambut kedatangan keluarga rekan sahabat ayahnya di pintu. Dan mereka mempersilahkannya masuk kemudian menuju ke meja makan.
"Silahkan...silahkan..." ujar Harry menyambut tamunya yang di sambut dengan senyuman oleh mereka. Melisa dan Harry pun kemudian bergabung di duduk di kursi mereka.
Melisa melirik ke arah laki-laki yang kini duduk bersama kedua orang tuanya. Masih muda, sepertinya seumuran dengannya. Sepertinya dia masih sekolah.
"Apa dia yang akan dijodohkan denganku? Dia tampan dan tampak ramah" batin Melisa saat melihat pria itu yang kini tersenyum manis padanya.
"Melisa, kau sangat cantik sayang. Tidak salah mama menyetujui mu jadi menantu mama" ujar wanita tua yang masih tampak cantik itu lembut. Melisa pun tersenyum tersipu mendengarnya.
"Makasih tante"
"Mama sayang... mulai hari ini kamu panggil mama yah, kan sebentar lagi kamu jadi menantu mama" ucap wanita itu begitu lembut. Melisa yakin ia wanita yang sangat penyayang. Melihat dari caranya memperlakukan Melisa orang baru dengan sangat baik.
"Ia ma..mama" lagi-lagi Melisa merasa gugup membuat mereka semua yang disana tertawa.
Kemudian pria itu berdiri membungkuk kearah Harry dan Melisa sebagai salam. Oh lihatlah betapa sopan dan ramahnya dia. Melisa tersenyum menanggapinya.
"Oh yah Reksa, Kall dimana?" Tanya Harry tiba-tiba membuat semua orang terdiam kecuali Melisa yang memincingkan alisnya heran. Siapa Kall?
"Siapa yah?" Tanya Melisa
"Calon suami kamu sayang" yang menjawab itu Rany. Melisa seketika terkejut, jadi pria tampan yang disana bukan calon suaminya, lalu si Kall-kal itu? Lalu dimana dia? Tidak sopan sekali dia tidak datang dipertemuan penting ini.
Sampai tiba-tiba sebuah suara berhasil menghentikan pemikiran Melisa dan juga semua orang yang disana.
"Maaf aku terlambat" ucap pria itu menunduk penuh penyesalan. Melisa berbalik melihat pria itu. Sepertinya keluarga mereka memang punya kebiasaan menunduk seperti orang korea. Oh lihat lah wajah Dirsya itu saja seperti orang korea.
Dan saat Kall kembali menegakkan tubuhnya betapa terkejutanya Melisa luar biasa terkejut hingga ia membelalak lebar saking tidak percaya nya dengan apa yang ia lihat.
Mengapa guru muka karet ketat itu ada disini? Mengapa dia.....
Astagahh Melisa baru sadar. Kall.. berarti maksudnya Keland?? Dan oh yah dia baru ingat... yang di depannya ini kan keluarga Werrick dan ia ingat gurunya itu memiliki nama belakang itu. Oh astagahhhh ada apa ini??
Mengapa hidup nya seperti ini? Mengapa bisa begini? Lalu... pria yang akan menikah dengannya itu tidak lain adalah Keland guru matematikanya itu?
Seketika Melisa lemas di tempat. Ia juga bisa melihat Keland tampak sedikit terkejut juga saat melihatnya. Namun pria itu segera menormalkan wajahnya kembali hingga wajah terkejutnya tidak tampak sama sekali.
Sementara Melisa yang memang tidak pintar mengatur ekspresi itu tidak percaya dan masih menampakkan keterkejutannya yang sangat nyata.
Hingga ia sadar pergerakan kursi di sampingnya. Menandakan guru gilaknya itu duduk di sampingnya. Oh astagah.....
Satu hari ini mengapa semua yang ia lakukan pada akhirnya akan terhubung dengan pria ini? Mengapa sampai segitunya takdir mempermaikannya?
"Maaf om saya terlambat" ujar Keland merasa bersalah pada Harry. Dan Harry menanggapinya dengan tersenyum makhlum. Ia tau Kalend sangat sibuk akhir-akhir ini. Pekerjaan pria itu menjadi dua kali lipat sejak ia memegang kendali perusahaan. Yah, perusahaan tempat ia bekerja adalah perusahaan Weerick.
Dan saat ini Keland mengambil alih tugas ayahnya. Di tambah lagi Keland sekarang sedang mengawasi pergerakan sekolah yang dibangun keluarga Werrick yaitu sekolah tempat putri nya sekarang menimba ilmu.
"Tidak papa Kall, tidak usah difikirkan. Kau pemeran utamanya malam ini. Jadi semuanya sebebas mu" jawab Harry sontak membuat semuanya tertawa kecuali Melisa yang masih tampak syok di tempatnya.
Menyadari Melisa yang tak berbicara lagi sedari tadi membuat mereka semua serempak menoleh ke arahnya dan menatapnya penuh tanya kecuali Keland tentunya.
"Melisa sayang ada apa?" Tanya Rany lembut.
"Ahhh...tidak ada tan..mam..mama" jawabnya kikuk.
"Sebaiknya sekarang kita makan sebelum makannya dingin, setelah itu kita akan berbincang-bincang lagi" saran Harry memecah suasana. Ia tau pasti Melisa masih tampak terkejut. Kemudian mereka pun memulai makan malam mereka karna semuanya sudah lengkap.
....