Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 21


Gery baru saja duduk di kursi kerja. Ia baru menyelesaikan pertemuan dengan menejer perusahaan dan beberapa stap lainnya. Ia akan membuka ponsel untuk mengirim pesan pada Ghea sebelum pintu ruangannya itu terbuka dari luar. Dan menampilkan sosok cinta pertama.


"Mama." Gery menyapa. Alis cowok itu tertaut. Dan sedikit terkejut melihat Mamanya muncul di ruang kerjanya. Ini tidak biasa. Atau sebut saja hal langka jika Mamanya hari ini datang ke perusahaan.


“Dasar anak bandel. Kamu tuh, kapan berubahnya sih, Ger? Mama udah capek ya harus ingetin kamu terus. Mama, tuh, udah kayak ngomong sama patung tahu gak, sih? Gak pernah didengerin. Setiap Mama ingetin kamu, masuk kuping kanan keluar kuping kiri.”


“Mama ada apa, sih? Kok datang-datang marah-marah gitu?” Gery menghampiri Mama Dian untuk kemudian ia gapai tangannya. Menariknya pelan lalu duduk di sofa panjang. “Lagi tumben-tumbenan Mama dateng ke kantor?" tanya cowok itu sambil menuangkan air putih ke dalam gelas lalu disuguhkannya pada Mama.


“Mama gak haus," sahut Mama Dian mendorong gelas yang Gery berikan. Dan cowok itu tidak memaksa. Menyimpan kembali gelas itu di atas meja kaca.


“Kamu, tuh, ya, Ger.” Mama memiringkan duduknya. Menghadap Gery sambil memukul paha cowok itu.


“Sakit, Ma.” Cowok itu meringis. Mengusap paha yang tadi dipukul Mama dengan tangannya.


“Kamu, tuh, bisa diem dulu gak, Ger?” Mama kembali memukul paha cowok itu. kali ini dengan pelototan tajam di kedua mata Mama. Dan Gery langsung terdiam. Hanya kembali meringis dalam diam karena pukulan Mama begitu keras.


“Kenapa kamu biarin Ghea periksa kandungannya sendiri? Heuh? Mama kan udah sering ingetin kamu, Gery,” Mama menekan nama anaknya itu sembari mendesis. “Mama sepertinya udah malas jadi Mama kamu, deh, Ger.”


Eh kok Mama ngomong gitu?


“Eh kok gitu, Ma?" tanya cowok itu bersama wajahnya yang polos-polos seperti tidak punya dosa saja.


Mama mendelik gemas. “Ya kamu pikir aja sendiri. Kenapa kamu biarin Ghea Check up sendiri sih? Kayaknya kalau Mama ngomong sama kamu, tuh, masuk kuping kanan ke luar kuping kiri. Iya kan?”


“Mama tahu dari mana hari ini ada jadwal check up Ghea?”


“Ck. Tahu lah. Mama selalu tahu jadwal check up cucu Mama. Oma yang baik kan Mama ini? Gak kayak kamu, Bapaknya.”


“Gak gitu, Ma. Aku ada meeting.”


“Jadi kamu lebih mentingin meeting kamu. Dari pada nemenin istri periksa kandungan?” Mama kembali mendesis. “Itu anak kamu bukan, sih, Ger?”


“Ya anak aku lah, Ma. Emangnya anak siapa lagi?”


“Ya statusnya emang anak kamu sih. Tapi yang selalu antar Ghea check up itu kok Adi? Mending jadi anak Adi aja sekalian.”


“Eh… gak bisa gitu dong, Ma. Enak aja.”


“Ya makannya kamu, tuh, harus kasih perhatian sama Ghea—“


“Aku suami perhatian kok, Ma—“


“Perhatian dari mananya kamu? Kasih Ghea Perhatian yang lebih, Ger! Itu Ghea hamil juga karena kamu, kan? Bikin sama-sama. Enak sama-sama. Kok ini yang kerepotan malah Ghea sendiri?”


Eh kok Mama bisa-bisanya bicara seprontal itu sama anaknya sendiri, sih?


Gery memutar matanya meski tahu itu tidak sopan.


“Pengennya enak sendiri aja kamu, Ger. Kamu, tuh, harus kayak Papa kamu. Dulu waktu Mama hamil, Papa protektif banget. Kerja ini itu gak dibolehin. Pas check up gak pernah absen buat antar Mama.” Mama Dian tersenyum mengingat hal romantis itu. “Tapi kamu …, kamu mirip siapa sih, Ger?”


Mama menoleh lalu memukul paha cowok itu lagi. “Kamu dengerin Mama gak, sih, Ger?”


Gery mengangkat pandangannya dari hand phone lalu memasukan benda canggih itu ke dalam saku jasnya. “Dengerin kok, Ma. Dengerin.”


“Terus kenapa kamu gak minta Adi lagi aja buat antar Ghea? Kalau kamu gak bisa? Heuh?”


Ah kembali lagi pada topik awal. Gery memerosotkan kedua bahunya. “Lagi survai lokasi pembangunan di Bogor, Ma.”


Mama mengangguk. Tidak bertanya lagi mengenai Adi lebih lanjut.


“Oh, ya, Ghea kenapa tiba-tiba mau ke Bandung, Ger?”


Ketika tadi, sebelum Mama mendatangi kantor, Mama sempat menelepon Ghea. Menanyakan apa dia check up ditemani Gery atau tidak. Lalu mendengar penjelasan dari Ghea sendiri membuat Mama tidak percaya dengan itu. Gery seperti lebih mementingkan meetingnya. Dengan itu Mama langsung mendatangi Gery ke kantornya. Ghea juga pamit jika hari ini, setelah selesai check up ia akan ke Bandung.


“Papa Jordan sakit.”


Namun, ketika Ghea ingin mengatakan hal itu di telepon dengan Mama, beliau memutuskan sambungan telepon dengan alasan dipanggil Papa yang belum berangkat bekerja.


Menganggukkan kepala kecil, Mama menekan bibirnya menjadi satu garis. “Terus kenapa gak kamu bilangin buat nanti aja berangkatnya. Biar kamu yang antar?”


“Nah, kalau itu Mama mending tanya Gheanya langsung. Karena aku sudah berusaha bilang sama dia buat besok aja berangkatnya biar sama aku. Tapi Gheanya tetep gak mau.”


“Dan kamu biarin Ghea nyetir sendiri, Ger? Kamu gak khawatir sama Ghea? Sama anak kamu?” Yang masih di dalam kamdungannya.


“Aku sudah bilang buat Pak Rusdi aja yang antar. Tapi tetep gak mau, Ma. Bilangin deh ntar kalau menantu Mama pulang, jangan jadi kepala batu gitu.” Entah sudah berapa kali Mama memukul paha itu. “Katanya kasian sama Mama kalau mau ke mana-mana gak ada Pak Rusdi.”


“Oh manis banget, sih, Ghea,” kata Mama sambil menangkup kedua tangannya di depan dada. Menantunya itu dari dulu memang tidak berubah. Selalu tidak ingin orang lain merepoting.


“Makanya, Ger, Mama ingetin kamu terus, biar kamu sadar kalau Ghea itu baik. Baaiikkkk banget. Selain itu juga pengertiannya gak nanggung-nanggung.” Kali ini Gery melihat sorot mata Mama yang berubah serius. Sambil mengelus tangan cowok itu.


“Mama minta kamu jaga Ghea! Jangan sekali-kali kamu punya niat buat nyakitin hatinya. Apalagi buat Ghea kecewa!” Seulas senyum Mama berikan pada Gery. “Kamu harus inget gimana kamu dulu waktu kuliah. Ngerekek terus tiap hari bilang kangen sama Ghea.” Mama tertawa kecil. “Kalau anak orang lain bilangnya kangen sama Mama, sama Papanya. Ini tiap hari selalu bilang kangen Ghea. Minta Mama buat sengaja main ke rumahnya, minta vedio call Mama di sana hanya untuk kamu yang pengen lihat wajah Ghea.”


Ya, Gery mengingat hal itu.


Sementara dengan wanita yang menjadi bahan pembicaraan Mama dan Gery, tengah berbaring di atas tempat tidur pemeriksaan dengan ujung baju yang tersingkap ke atas. mengekspos perutnya yang putih dan terlihat sedikit sudah membuncic. Dengan dokter yang menempelkan alat USG—transduser di atas perutnya itu.


“Nah, lihat, Bunda. Dedenya sehat ya, di dalam sana. coba kasih senyum tulusnya buat dede, Bunda!” kata Dokter sambil terus menggeserkan alat transduser itu. lalu, kernyitan pun terlihat di dahi dokter ketika alat itu bergerak dan tidak sengaja menemukan sesuatu di dalam dinding rahim Ghea. Namun, dokter tidak mengatakan apa pun. Atau tepatnya belum.


Ghea tersenyum. Menatap layar monitor di samping kepalanya. melihat benih cintanya itu tumbuh dengan sangat baik di dalam sana. jantungnya selalu berpukul kuat. berdebar tidak biasanya tatkala mendengar suara detak jantung yang nyaring di ruangan itu. Detak jantung bayinya. Dan Ghea selalu merasakan jika itu selalu membuatnya begitu merasakan sebuah keberuntungan. Juga menentramkan perasaanya.


Sungguh luar biasa Kuasa-Mu Ya Robb.


Note Seizy ;


Kalau ada typo atau apa pun itu kasih tahu aku, ya. Nanti aku revisi lagi.