Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 28


Airin terbangun sendirian. Memangnya, apa lagi yang harus Airin harapkan ketika pertama kali membuka mata? Berharap melihat seseorang terbaring di sampingnya? Atau berharap ada sebuah tangan besar melingkari perutnya? Untuk sekarang ini, itu terdengar mustahil.


Cahaya pagi hari yang pucat menerobos masuk melalui tirai dan menyoroti seprai yang sedikit kusut. Ia berbaring di sana tanpa suara, kemudian tangan kanannya terangkat untuk memegangi pelipis yang terasa berkedut, Airin bangkit bertumpu pada satu siku. Ia duduk bersandar pada heardboad. Dan kepalanya semakin terasa berat, tetapi pagi ini Airin harus melakukan sesuatu sebagaimana biasanya. Bekerja dengan benar, itu adalah satu-satunya cara agar ia tidak selalu mendapat remehan dari orang-orang.


“Rin, sudah bangun?”


Airin mengangkat pandangan ketika pintu terbuka bersama suara merdu yang setiap pagi selalu Airin dengar.


Ibu Nana masuk lalu duduk di atas kasur. “Ibu buatin teh anget buat kamu.”


“Makasih, Bu." Airin menyambut secangkir teh yang Ibu bawakan. Menghirup aroma sebelum menyecapnya. Dan pening di kepala Airin sedikit mereda.


“Kamu sakit, Rin?" tanya Ibu saat matanya turun pada bibir Airin yang sedikit pucat. Digelengkan Airin kepalanya sambil mengukir senyum. “Ng—nggak kok, Bu. Airin merasa baik," katanya sedikit gugup. Karena sampai hari ini Airin belum memberitahu pada Ibu jika di dalam perutnya ada kehidupan lain.


Dan Airin tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Airin takut Ibu akan kecewa dan marah.


“Ya, udah. Kamu kerja kan hari ini?”


Dianggukkan Airin kepalanya lagi. Dan Ibu tersenyum sambil menangkup sisi wajah Airin.


“Rin…” Ibu Nana sudah di ambang pintu ketika suaranya kembali Airin dengar. Wanita itu kemudian mengangkat lagi pandangannya. Kali ini sambil membereskan tempat tidurnya. “Kenapa, Bu?”


“Gimana kamu sama Nak Gery?”


Tentu saja pertanyaan Ibunya itu mengundang kernyitan di dahi Airin seraya mendekap satu sisi selimut yang akan ia lipat. “Maksud Ibu …, gimana apanya?”


“Ibu lihat kalian berdua cocok kok.”


Ada tusukan tak biasa di dalam hati Airin saat mendengar sederet kalimat yang keluar dari mulut Ibu.


Tidak bisa Airin pungkiri, pada malam pertama ia bertemu dengan Gery, kemudian cowok itu menolongnya, ada rasa yang tidak biasa yang Airin rasa. Mata abu-abunya begitu menghipnotis. Paras wajahnya yang bagaikan Dewa Yunani. Jujur, Airin begitu mengagumi sosok itu. Bagaimana cara Gery berkelahi dan suaranya yang penuh intimidasi. Airin suka itu. Dan sempat ada perasaan Airin untuk memiliki. Tetapi, itu tidak mungkin.


Dan selamanya tidak akan pernah mungkin.


Airin melanjutkan melipat selimut. Berjalan sedikit untuk mengambil handuk. Sampai di ambang pintu wanita itu menyentuh bahu sang Ibu dengan lembut. “Pak Gery sudah menikah, Bu,” kata Airin sambil berlalu. Tidak lupa senyum gentir ia berikan pada Ibu.


“Masa, sih, Rin?" Ibu mengikuti Airin yang berjalan ke arah kamar mandi. Kemudian Airin membuka pintunya. “Iya, Bu.”


Dapat Airin lihat wajah Ibu yang berubah. Matanya berkilat kecewa.


“Airin mandi dulu, ya,” ujarnya sambil menutup pintu kamar mandi. Barulah dadanya merasa terhimpit dan tenggorokannya tercekat oleh bongkahan yang tidak kasat mata. Airin mengasihani dirinya sendiri lewat cermin.


Di depan sana, dirinya terlihat nyata. Wajah yang pucat pasi menggambarkan jelas jika Airin telah dibodohi oleh perasaannya.


Demi Tuhan! Ia tidak boleh lebih dalam lagi masuk ke dalam perangkap kebaikan seorang pria yang wajahnya bak Dewa Yunani itu.


Airin duduk di atas closet dengan pandangan nanar. Tangannya menyentuh perut sambil merenungkan nasib dirinya dan janin di dalam rahimnya. Bagaimana nanti kehidupannya?


Bagaimana nanti pandangan orang-orang terhadap dirinya yang awalnya mereka mengira Airin buruk, dan mungkin sekarang akan berpandangan lebih buruk lagi saat melihat perutnya semakin membesar nanti.


“Apa yang harus aku lakukan?” lirih Airin yang diam-diam menangis.


**


Hari ini Bandung cukup redup. Awan sedang senang-senangnya bergelayut, membuat orang-orang yang bernafas di bawahnya begitu sangat ingin bermalas-malasan. Jika saja bisa, mereka lebih memilih untuk berada di bawah selimut dari pada harus melakoni rutinitas yang setiap harinya mereka kerjakan.


Pun dengan Ghea yang masih duduk di samping ranjang Papa. Menutup Al-qur’an, kemudian menciumnya. Ia baru saja selesai membaca ayat-ayat suci yang penuh makna itu sebelum pintu ruang ICU terbuka dari luar. Alvin masuk yang diikuti dua perawat lain di belakangnya.


“Ghe,” panggil Alvin saat sudah dekat dengan ranjang Papa. Cowok itu tersenyum, “Mau cek kondisi Pak Jordan dulu, ya.”


Ghea bangkit dari duduknya untuk memberikan ruang pada Alvin dan dua perawat lainnya. Setelahnya dapat Ghea lihat Alvin yang mengecek semua alat yang menempel pada tubuh Papa untuk kemudian satu perawat di antara yang dua itu mencatat apa yang telah Alvin sampaikan. Dan sialnya semua kalimat yang keluar dari mulut Alvin tidak dapat Ghea pahami.


“Gimana, Vin, kondisi Papa?” tanya Ghea setelahnya dua perawat itu ke luar dari ICU dan meninggalkan Alvin juga Ghea yang masih berada di sana.


“Untuk saat ini, sih, detak jantung dan oksigennya masih bisa dibilang normal. Tapi—“


“Tapi apa, Vin?" secepat Alvin akan mengatakan, secepat itu pula Ghea menyela. Sudah dikatakan sebelumnya bukan, jika Ghea tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kondisi Papa. Wajahnya yang tegang bersama semua jari yang saling tertaut gugup di depan kedua pahanya saling merapat.


“Darah Pak Jordan masih belum stabil dan semakin turun, Ghe.” Dengan terpaksa sebagai seorang dokter Alvin harus mengatakan kondisi pasien baik atau pun buruknya. Karena itu memang yang harus dilakukan.


Kedua bahu Ghea merosot. Lemas. Tidak tahu apa lagi yang harus Ghea utarakan dalam do’anya agar kondisi Papa bisa stabil lagi. Secepatnya.


“Lo sabar, ya, Ghe. Jangan banyak berfikir negatif dulu! Kita bakal berusaha sebisa kita buat Papa lo.” Sambil mengatakannya, tangan cowok itu berada di atas bahu Ghea dengan satu tangan tenggelam dalam saku jas putihnya.


Dianggukkan Ghea kepala sambil kedua tangan yang terlipat di atas perut. “Thank’s, Vin," sahutnya sambil mengukir senyuman.


“Gue harus cek pasien yang lain dulu, Ghe. Lo mending istirahat aja, kasihan juga baby lo, kan. Semalaman lo pasti gak bisa tidur.”


Ghea mengerutkan dahi sambil memundurkan kepalanya samar. “Kok lo bisa tahu?” Ghea terkekeh malas. “Jangan-jangan lo ngintipin gue lagi.”


Alvin tertawa. “Pede banget, sih.” Lalu jari telunjuk cowok itu mengarah pada wajah Ghea. “Tuh lihat, mata lo kek panda. Mana bawah mata lo bengkak lagi.”


Refleks saja Ghea menyentuh kedua bawah matanya. “Pasti jelek banget nih gue.”


“Bukan jelek lagi. Pak Gery kalau lihat mata lo kek gitu tuh pasti bakalan kabur. Kompres aja ntar pake handuk anget!” saran Alvin sambil berlalu bersama tawa kecil dan gelengan kepala lucu. Namun, sampainya cowok itu di ambang pintu yang sudah terbuka, ia kembali berbalik. “Ghe,” panggilnya pelan.


Ghea menoleh. “Ya?”


“Lo udah sarapan?”


“Belum… Eum ... tapi, Mama tadi lagi balik ke rumah dulu buat ambil baju ganti. Sama Bi May yang udah masak katanya. Mungkin bentaran lagi ke sini,” ujar Ghea terasa kikuk. Tanpa ia sadari tangannya menggaruk pelipis yang tentu saja tidak terasa gatal.


Dianggukkan Alvin kepalanya. Tanpa mengucapkan satu kata lagi, cowok itu menutup pintu ruang ICU. Berlalu dari hadapan Ghea.


Ah, ngomong-ngomong, ketika tadi Alvin bicara ‘Pak Gery’ Ghea jadi merindukan suaminya itu. Bagaimana kabarnya? Apa dia bisa makan sendiri tanpa ditemani oleh Ghea? Tidur sendiri dan menyiapkan pakaian kerjanya sendiri setelah sekian lama Ghea yang selalu melakukan kebutuhannya itu, dan baru kali ini juga mereka


berjauhan seperti ini.


Ghea membalikan tumit. Berjalan ke arah nakas dan mengambil hand phone di dalam tas. Ghea mendesah frustasi. Dari Ghea masuk ruang ICU untuk jaga Papa, ia lupa mengabari suaminya. Dan sekarang, saat Ghea keluar dari ruang yang di dominasi suara alat-alat yang terdengar mengerikan itu, hand phonenya tidak bisa menyala. Ghea kembali masuk ke ruang ICU, menggeledah tasnya dan sial, benda yang ia cari tidak ada di sana. “Astaga, kenapa bisa lupa bawa charger, sih?” Hela nafasnya penuh dengan tekanan.


Note Seizy ;


Gak ada note apa-apa sih. cuma satu aja. Sorry and thanks, karena sudah menunggu terlalu lama. Maklumi aja, aku penulis amatiran yang setiap harinya selalu riweh. Hihiii


Btw, aku lagi urus-urus acara 40 harinya Papa aku, jadi kalau telat up lagi maaf, ya, mamen.


Buat kamu semua makasih udah selalu kasih semangat. Aku gak bisa sebut satu satu, tapi makasih banget udah kasih komentar yang bisa buat aku lupa sesaat akan kenyataan hidup yang pahitnya bagaikan menelan kopi tanpa gula ini. Hihiii


Ig : Seizyll_koerniawan


follow untuk tahu visualisa Mas Ger dan Ghea.