Married With Teacher

Married With Teacher
Gempa Bumi


"Pokoknya hal ini jangan sampai bocor, ya, Pak!"


Sayup-sayup Ghea mendengar suaminya itu sedang bicara lewat telepon di balkon. Menghadap ke halaman rumahnya. Tapi Ghea tidak mau kepo dia bicara dengan siapa.


Ghea baru saja keluar dari kamar mandi. Kali ini sudah rapi. Karena Ghea mengganti bajunya di dalam sana. Mencari aman. Takut-takut nanti Pak Gery menyerangnya lagi. Sakit yang semalam saja masih terasa. Apalagi kalau Pak Gery melakukannya kembali. Oh tidak-tidak.


Berdiri di depan cermin meja rias, Ghea mengeringkan rambut dengan handuk. Lalu mengambil sisir di atas meja. Niatnya Ghea akan menyisir rambutnya sendiri. Namun tangan seseorang dengan cepat mengambil sisir yang sudah menyentuh rambutnya itu.


"Aku aja." Ternyata Pak Gery sudah ada di sampingnya. Sejak kapan cowok itu selesai bicara?


"Eum … gak usah. Aku aja." Ish, kenapa Ghea merasa canggung gini, sih? Ya ampun wajahnya juga mendadak bersemu.


Tak menggubris, Pak Gery mengambil sisir dari tangan Ghea. Kemudian membalikkan tubuhnya untuk menghadap cermin lagi sebelum cowok itu mulai menyisir rambutnya.


"Ngomong-ngomong itu masih sakit gak?" Pak Gery bertanya. Tangannya bergerak naik turun menyisir rambut Ghea.


"Sedikit," jawab Ghea malu-malu.


"Nanti siang kita ke dokter, ya. Konsul sama dokter buat mencegah kehamilan yang aman bagaimana."


Ghea mengangguk. Iya, hanya itu yang bisa ia lakukan. Bicara saja seolah tak mampu. Mulutnya seperti terkunci rapat. Ghea mendadak jadi pendiam. Jiwa bar-barnya seolah menghilang begitu saja.


"Semalam kamu indah banget." Membisikan kalimat itu tepat pada telinganya.


Tuh kan, Pak Gery malah membahasnya. Kan Ghea jadi malu lagi. Udah, ah, mending Ghea kabur aja, dari pada nanti bahaya datang lagi.


"Aku lapar," sahut Ghea gak nyambung. Lalu buru-buru cewek itu membuka pintu. Keluar dari dalam sana.


Serius, bahaya banget kalau nanti Pak Gery lihat wajahnya yang udah kaya tomat itu.


Pak Gery terkekeh gemas seraya melipat kedua tangannya sebelum menyusul Ghea ke bawah untuk sarapan.


**


Pas Pak Gery sampai ke meja makan. Ia sudah melihat Ghea duduk di salah satu kursi makan dengan wajah yang menunduk.


Di sana juga sudah ada kedua Papa dan kedua Mama. Untung saja si Bibi ART Papa gak pulang. Jadi bisa bantu-bantu buat beresin rumah Pak Gery nantinya.


Sarapannya juga gak mewah-mewah banget kaya biasanya. Hanya sandwich sama susu aja. Itu juga si Bibi pagi tadi beli di warung toserba komplek dekat rumah Pak Gery.


"Selamat pagi," sapa Pak Gery. Ia menarik kursi samping Ghea. Sengaja, karena pengen aja duduk sebelahan sama sang istri.


"Ekhem … pagi, Ger." Itu Papa Dika. Yang tak lama dijawab juga oleh yang lain.


"Ngomong-ngomong semalam kaya ada gempa bumi, ya, Pa. Mbak sama Mas ngerasain gak getarannya? Hebat banget itu. Sampai saya gak bisa bangun dari kasur. Takut …, takut goyangan gempanya makin dahsyat."


Mama Dian apa-apaan, sih? Gak ngerti, deh, ngomong apa. Mana ekspresi wajahnya dibuat dramatis lagi. Membuat Ghea, Pak Gery dan yang lainnya terheran-heran.


"Masa, sih, Mbak ada gempa? Saya gak ngerasain, tuh," sahut Mama Sora. "Papa semalam ngerasa gak gitu ada gempa? Sepertinya gak, deh, ya, Pa?" Bingung. Mama Sora sampai terdiam, seolah sedang berpikir. Mengingat-ngingat apa iya semalam ada gempa?


"Papa ngerasain gak, ada gempa?" Kemudian Mama Dian bertanya pada Papa Dika.


"Ngerasain, Ma. Mungkin nanti siang, atau sore bakal ada gempa susulan lagi." Papa Dika menjawab. Raut wajahnya dramatis banget. Lalu dengan santainya meneguk susu yang ada di samping piring sarapannya. Mungkin di sini hanya Papa Dika seorang yang mengerti arti 'gempa' itu apa.


"Iya, Mbak. Di rumah aja. Tapi di rumah kita aja! Jangan di sini! Takut nanti kalau di sini gempanya bakal kerasa banget. Apalagi nanti kalau ada suara-suara seramnya, Mbak." Mama Dian kembali berceloteh. Namun dengan gestur yang seperti memberi kode pada Mama Sora dan kedua alisnya bergerak naik turun bersama senyum mengejeknya.


Kini Mama Sora mengerti arti wajah Mama Dian. Lalu terkekeh pelan.


"Eum … memang semalam ada gempa gitu, Ma?" Suara itu pelan. Walau malu Ghea coba bertanya. Penasaran juga kan. Karena semalam Ghea tidak merasakan getaran gempa bumi apa pun. Malah ia justru merasakan gempa itu seperti di tempat tidurnya.


"Kamu gak ngerasain, Ghe? Padahal Mama yakin di kamar kamu gempanya paling sangat kerasa," ujar Mama Dian. Itu Mama mertua seneng banget apa, ya, buat Ghea mati penasaran? Ya ampun.


"Masa, sih? Aku gak ngerasa, tuh, Ma." Ghea menjawab bersama wajahnya yang polos. Satu suap sandwich masuk kedalam mulutnya. Yang justru membuat orang yang ada di meja makan itu tidak bisa menahan gelak tawanya lagi.


Heran dong Ghea. Ada apa, sih? Apanya yang lucu coba? Kan Ghea cuma bertanya.


Sedangkan Pak Gery. Ya ampun, cowok itu hanya diam. Ia sibuk memakan sarapannya sendiri. Santai banget, serius.


Saat Ghea menoleh pada wajah Pak Gery - yang sedang memasukan sandwich ke mulutnya. Mama Dian berceloteh lagi.


"Mama bukan hanya ngerasain gempa, Pa. Tapi juga di sini sepertinya ada yang jadi macan tutul dadakan."


Ukhuk ukhuk ukhuk


Pak Gery tidak bisa jika ia tidak tersedak sandwichnya. Itu maksud Mama Dian macan tutul jadi-jadian apa? Sedetik kemudian Pak Gery menoleh masih dengan tersedaknya.


Astaga, kaget dong cowok itu. Pak Gery semakin tersedak saja. Melihat tanda-tanda merah hasil mahakaryanya sangat jelas di leher putih nan jenjang Ghea. Lagi pula Ghea gak lihat apa? Kenapa rambut pake dikuncir segala? Oh ya ampun.


"Gak usah so kaget gitu, lah, Ger! Pake batuk-batuk segala. Tau, Mama, tau, Ger." Ledek Mama Dian dengan wajah tanpa dosanya.


"Nih. Gak papa?" Refleks Ghea menyodorkan segelas susu pada Pak Gery.


Pak Gery masih terbatuk. Kepalan tangan tersimpan di atas bibirnya. Mendongak sebentar ke arah Ghea, kemudian pada segelas susu yang disodorkannya. Ngapain pake dikasih minum susu, sih?


"Kenapa? Ini minum dulu!" Ghea bertanya. Menautkan kedua alis. Heran aja kenapa Pak Gery tidak menerima segelas susu dari tangannya itu.


Ghea ini. Astaga naga drama korea. Keselek kok dikasih susu, sih? Kalau dikasih susunya dia, auto mau lah. Ini susu sapi, kan. Manis. Yang ada malah tambah keselek, tuh, tenggorokan Pak Gery.


"Ghe, kasih air putih dong! Masa orang keselek dikasih minum susu. Semalam emang si Gery belum kenyang minum susunya?" Adalah Papa Dika. Ya ampun, ini Ghea sebenarnya lagi tersesat di dunia mana, sih? Kenapa Mama sama Papa mertuanya itu nyeleneh banget?


"Heuh?" Gumam Ghea dengan alis yang semakin tertaut. Maksud Papa Dika 'minum susu semalam' Ghea paham karena sebelumnya Mama Sora dan Papa Jordan pernah bercanda soal itu. Lantas cewek itu menjepit bibirnya bersama wajahnya yang menunduk. Malu.


Karena Ghea tidak juga memberikan Pak Gery air mineral, cowok itu menuangkan air dari teko ke gelas sendiri. Lalu meneguknya hingga habis. Barulah batuk-batuknya mereda.


"Mama sama Papa kapan pulangnya?" Pak Gery bertanya. Bahaya juga jika para orang tua itu masih di rumahnya. Bisa habis diledek sama mereka entar.


"Kamu ngusir kami, Ger?" tanya Mama Dian. "Ck, gak sopan kamu, tuh, sama Mama, Papa mertua kamu." Lanjut Mama Dian kemudian.


Pak Gery tidak menggubris. Ia malah bangkit memundurkan kursinya. "Saya ke atas dulu." Lah malah kabur cowok itu.


Kabur bersama wajahnya yang bersemu merah. Punya malu juga, tuh, Pak Gery ternyata.


TBC


Gimana-gimana? Gempa susulannya nanti ada lagi ya guys. Ramein dong ....