Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
90


Pada pagi harinya, ketika heriani dan Dito selesai sarapan di kediaman utama keluarga Romania, kedua orang itu pun menaiki taksi dan pergi ke Rumah sakit tempat Clarissa dirawat.


Sebelum tiba di rumah sakit, keduanya singgah di sebuah restoran dan mereka membeli makanan untuk semua orang yang ada di rumah sakit.


Setelah meninggalkan restoran, barulah keduanya melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit hingga mereka tiba di kamar Clarissa.


Clek!


Begitu pintu terbuka, heriyani langsung melihat dua perempuan yang ada di dalam sana tampak berbaring di ranjang penunggu pasien sembari bermain HP.


Sementara Clarissa yang melihat kedatangan mereka, perempuan itu langsung bersemangat, "akhirnya kalian datang juga, Ibu sudah sangat lapar!!!" Kata perempuan itu berusaha untuk duduk.


Mendengar suara Ibu mereka, Maka wasti dan Kesya pun ikut duduk, dan menatap ke tangan Kakak laki-laki mereka yang memegang sesuatu.


"Wahh,, akhirnya makanan kita datang juga!!" Seru Kesya dengan cepat melompat ke arah kakaknya dan mengambil bungkusan yang dibawa oleh pria itu.


"Kenapa Ibu lapar? Bukankah sudah lewat sarapan untuk pasien?" Tanya Dito sembari membantu perempuan itu memperbaiki posisinya di ranjang.


"Ah, makanan di rumah sakit sangat tidak enak, jadi ibu tidak memakannya," kata Clarissa sembari menoleh ke arah Kesya yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka bertiga.


"Makanan apa yang kau bawa?" Tanya Clarissa dengan tatapan terus melekat pada putrinya yang membuka bungkusan makanan.


"Aku membeli makanan kesukaan ibu, tapi, di mana Ayah?" Tanya Dito sembari mengambilkan kursi untuk istrinya.


"Dia pergi lagi bekerja, katanya dia tidak bisa bolos-bolos karena dia berharap tahun ini kakekmu akan berbaik hati padanya dan menaikkan jabatannya," kata Clarissa.


Dito hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia duduk di samping istrinya menatap Kesya yang sudah memberikan makanan pada Clarissa lalu ketiga perempuan itu pun makan bersama-sama.


Heriani yang mendengarkan pertanyaan Ibu mertuanya langsung menatap Dito dan dia tahu apa yang dipikiran pria itu sehingga dia mengulurkan tangannya menggenggam erat tangan suaminya.


Dia berharap genggaman tangannya bisa membuat pria itu lebih tenang, sebab sebuah emosi tidak akan bisa menyelesaikan masalah.


Dito pun menatap istrinya, lalu dia tersenyum pada perempuan itu sebelum berbalik menatap ibunya untuk berbicara, "kakek tidak pernah keluar dari ruang kerjanya, dan juga asisten kakek tidak memberitahuku apapun tentang kediaman kalian. Mungkin saja dia akan memberitahuku nanti, tapi untuk saat ini belum ada informasi dari kakek," ucap Dito.


"Apa?!! Bagaimana bisa itu terjadi? Kami sudah lelah berada di sini, tidur harus berbagi ranjang yang kecil. Apakah tidak ada bantuan dari dinas sosial?" Tanya Kesya yang jelas tahu bahwa jika seseorang mengalami bencana, maka dinas sosial akan memberikan mereka bantuan berupa sandang pangan dan uang yang bisa meringankan korban bencana.


Heriani yang mendengarkan ucapan kesya benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak, mereka sendiri yang membakar rumah mereka, jadi kenapa pemerintah harus turun tangan untuk membantu mereka?


Benar-benar kekonyolan yang hakiki!!


Clarissa ikut menganggukan kepalanya lalu dia pun menimpali ucapan putrinya, katanya, "benar, juga, sebentar lagi Ibu mau keluar saja dari rumah sakit, di sini tidak nyaman dan juga sangat membosankan. Jadi kakekmu memang seharusnya memberikan kami tempat untuk tinggal, kalau perlu kami masuk ke kediaman utama sebab Sudah lama kami tidak berada di sana, padahal itu hak kami juga karena kami bagian dari keluarga Romania." Ucap Clarissa dengan penuh percaya diri benar-benar membuat Dito semakin emosi dengan ibunya.


Pria itu hendak meneriaki ibunya ketika tangan heriyani lebih dulu menyentuh dadanya sehingga dia menahan emosinya dengan menghela nafas dengan kasar.


"Ibu, aku akan datang lagi nanti, nanti aku katakan pada ibu jika sudah ada informasi dari kakek," Kata Dito segera berdiri menarik istrinya lalu kedua orang itu pun keluar dari kamar.


Tiga perempuan yang ditinggalkan di dalam kamar langsung menatap ke arah pintu dengan tatapan bingung mereka, "Kenapa Kakak terlihat sangat marah?" Ucap wasti yang meski kakaknya tidak sempat marah, namun dia jelas melihat bagaimana ekspresi pria itu menahan kemarahannya.


"Mungkin saja ada sesuatu yang terjadi di rumah, jangan-jangan kakek tidak mau memberi kita rumah sehingga Kakak menjadi sangat marah?" Ucap Kesya yang kini merasa was-was bahwa kakek mereka mungkin tidak bersimpati terhadap kemalangan yang mereka alami.