Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
138


Saat ini, Johan dan Salwa berada di kamar Putra mereka.


Kedua orang itu berusaha membujuk Andika agar mau meminta maaf kepada heriyani dan Dito supaya amarah Tuan besar Romania Bisa berkurang pada mereka.


Tetapi tentu saja Andika tidak mau menuruti ucapan Ayah dan Ibunya dan dia bersikeras bahwa dia sama sekali tidak bersalah.


Oleh sebab itu, Salwa hanya bisa menghela nafas sembari berjalan ke arah sofa dan duduk di sana dengan wajah frustasinya.


"Kakekmu akan sangat marah pada keluarga kita, kau sudah melukai Heryani dan Dito dan bahkan menghancurkan ruangan lantai 2," ucap Salwa langsung membuat Andika yang sudah dari tadi memunggungi ayah dan ibunya kini berbalik menatap ibunya.


"Keluarga ketiga itu hanya orang-orang rendahan, tidak Mungkinkah kakek akan lebih membela mereka!" Tegas Andika.


Johan benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi kekeras kepalaan Putra nya, padahal pria itu sendiri sudah melihat Bagaimana Tuan besar mulai memperhatikan keluarga ketiga, tetapi putranya masih belum menyadari bahwa posisi mereka sedang terancam.


Sementara Salwa, perempuan itu masih hendak berbicara ketika tiba-tiba saja pintu kamar diketuk oleh seseorang.


Tok tok tok...


Ketiga orang itu pun melihat ke arah pintu dengan Johan yang cepat berdiri lalu pergi membuka pintu.


Dilihatnya Dean berdiri di ambang pintu hingga membuat Johan menjadi cemas bahwa saat ini Dean mungkin datang untuk mengatakan sebuah perintah yang buruk untuk keluarga mereka.


Benar saja, Dean langsung berkata, "Tuan besar menyuruh saya untuk menyampaikan sesuatu pada Tuan muda."


"Masuklah," kata Johan mempersilakan Dean masuk ke kamar putranya.


Salwa juga langsung berdiri menatap Dean sambil berkata, "duduklah."


Dean melemparkan senyum ramahnya pada Salwa, "tidak perlu duduk, Saya hanya akan berbicara sebentar," ucap Dean sembari melihat ke arah Andika yang tampak menatapnya dengan tatapan tak sukanya.


Setelah berbicara, Dean langsung keluar dari kamar Andika dengan Andika beserta kedua orang tuanya berada dalam keterkejutan mereka.


Setelah pintu kamar ditutup oleh Dean, saat itu juga Salwa langsung runtuh dan terduduk di sofa dalam keadaan lemas.


"Apakah maksud asisten Dean bahwa jika sekali lagi Andika membuat masalah maka kita akan berakhir seperti keluarga ketiga?" Tanya Salwa pada suaminya.


Johan pun ikut duduk di samping istrinya, "itulah yang dikatakan oleh ayah," ucap Johan yang meski saat ini mereka sudah memiliki properti pribadi sehingga jikalau mereka diusir dari kediaman utama keluarga Romania mereka masih bisa tinggal di properti tersebut, dan menjalankan usaha kecil-kecilan yang masih mereka miliki.


Namun yang akan memalukan adalah pertemuan mereka dengan orang lain yang pasti akan menganggap enteng dan merendahkan mereka karena mereka yang diusir dan dikucilkan dari keluarga Romania.


Mendengar ucapan suaminya, maka Salwa dengan cepat menatap putranya sambil berkata, "kau sudah dengar apa yang dikatakan oleh asisten Dean bukan? Jadi sekarang juga cepatlah bersiap dan pergi ke desa atau seluruh keluarga kita akan dipermalukan di hadapan semua orang!!!"


Johan juga menatap putranya yang masih tampak berdiri kaku di tempatnya, Johan berkata, "apa yang dikatakan ibumu itu benar, kau tidak mau kan kalau sampai hak kita untuk setiap warisan keluarga Romania sampai dicabut sehingga kita akan ditertawakan oleh semua orang, dan terlebih keluarga pertama dan ketiga akan bersenang-senang karena mereka akan mendapatkan bagian kita!!!"


Andika sangat tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya, Tetapi dia tidak punya pilihan lain sehingga pria itu menggertakkan giginya dan masuk ke kamar mandi dengan pintu yang dibanting keras.


Brak!!!


Salwa hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan Putra nya, dan beberapa saat kemudian terdengar suara pecahan dari dalam kamar mandi.


Prannnkkk...


Hal itu membuat Salwa langsung berdiri dan hendak pergi ke kamar mandi untuk membujuk putranya ketika Johan menghentikannya.


"Dia butuh waktu untuk menenangkan diri, jadi biarkan dia melampiaskan amarahnya," ucap Johan segera menarik istrinya keluar dari kamar Andika.