Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
171


"Aplikasi ini bernama 'Next Digital Creative', aplikasi ini akan siap diluncurkan dalam beberapa hari kedepan, tapi kita akan bekerja sama dengan salah satu perusahaan keluarga Romania untuk proyek ini." Ucap heriani yang sebelumnya telah melakukan panggilan telepon pada Dean agar mengurus masalah tersebut.


😜😜😜


Seorang pria yang merasa kesal mendengarkan omong kosong heriyani kini berdiri dengan rasa kesalnya, pria itu menatap Heryani dengan tatapan tak sukanya.


"Lulusan SMA sepertimu tidak cocok menjadi seorang pemimpin di perusahaan ini, dan hentikan juga omong kosongmu karena akan tidak akan pernah mempercayaimu! Sok-sokan mau mengajak perusahaan besar untuk bekerjasama, Memangnya Apa yang kau miliki untuk bisa melakukan hal tersebut?!" Kesal pria itu sebelum berjalan ke arah meja kerjanya lalu mendapatkan tasnya dan berjalan keluar dari tempat tersebut dengan perasaan kesal.


Semua orang yang ada di meja rapat menatap kepergian pria itu, dan saat ini mereka semua merasa bahwa apa yang dikatakan oleh pria itu memang benar.


Heriani hanya lulusan SMA, Jadi tidak mungkin mengelola sebuah perusahaan dan terlebih mengatakan omong kosong bahwa dia bisa bekerja sama dengan perusahaan dari keluarga Romania.


Tetapi, heriani yang ada di sana, ia menatap semua orang sambil berkata, "kalau ada yang mau pergi silakan pergi, tetapi jangan menyesali jika nanti kalian melihat perusahaan ini telah sukses namun kalian sudah membuat keputusan yang akan kalian sesali nanti!!"


Semua orang berpandangan satu sama lain, dan beberapa orang sudah berdiri untuk pergi hingga membuat heriani tersenyum.


Salah seorang pria yang duduk tak jauh dari heriyani kini merasa dilema juga untuk pergi atau tetap tinggal, Namun karena dia masih penasaran, pria itu pun menatap heriani sambil berkata, "aku akan tetap tinggal di sini untuk bekerja bersama-sama denganmu kalau kau bisa membuktikan perusahaan Romania mau bekerja sama dengan kita."


Semua orang yang masih tinggal di tempat tersebut menatap ke arah haryani, dan tentunya mereka masih mau tinggal untuk melihat bagaimana jawaban dari heriani.


"Baiklah, jika itu yang kalian inginkan," kata heriyani mengambil ponselnya lalu dia pun melakukan panggilan telepon pada Dean.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


"Apa yang kau bicarakan denganmu tadi siang, Apakah kau sudah mengurusnya?" Tanya heriani sambil memasukkan panggilan telepon tersebut ke mode speaker.


"Ah, tentu saja, semuanya sudah saya atur, sebentar lagi akan ada perwakilan yang datang ke alamat yang Nyonya muda kirimkan pada saya, cukup bicarakan semuanya dengannya," jawab Dean dari seberang telepon.


"Baiklah, terima kasih sudah mengurusnya untukku," ucap heriyani sebelum dia mematikan panggilan telepon tersebut.


Setelah panggilan teleponnya dimatikan, heriani pun menatap semua orang yang juga menatapnya, "kalian bersabarlah, orang yang dimaksud akan tiba dalam beberapa saat lagi." Ucap heriyani.


Semua orang tampak tenang di tempat mereka, tetapi tentunya mereka juga agak risih karena merasa bahwa mereka mungkin dibodoh-bodohi oleh seorang orang yang hanya lulus SMA, sementara mereka yang ada di sana Hanya beberapa saja Yang lulusan SMA dan yang lainnya ialah sarjana.


Tetapi, saat mereka masih berada dalam kegelisahan dan kedilemahan mereka, tiga orang yang disuruh untuk pergi membeli makanan dan juga hadiah untuk semua orang kini telah kembali dengan beberapa petugas membantu mereka membawa barang-barang tersebut.


"Kami sudah kembali!!" Seru salah seorang perempuan sambil membawa bungkusan ke arah meja lalu meletakkannya di atas meja.


Semua orang menatap bungkusan tersebut, dan karena dari pagi mereka belum meninggalkan kantor, maka mereka semua merasa begitu lapar.


"Makanlah, kita akan menunggu sampai pria itu tiba, kalau dalam 10 menit dia tidak datang, kalian boleh pergi," kata heriani sambil berdiri lalu perempuan itu pun berjalan menuju toilet dengan ponselnya ditinggalkan di atas meja.


Ketika heriani tiba di toilet, perempuan itu memasang earphone miliknya lalu mendengarkan percakapan yang direkam melalui ponsel yang ditinggalkan di atas meja.