
"Bukankah di samping juga ada sepeda? Kalian disuruh memakai sepeda itu bukan?!!" Ucap Dito langsung membuat Clarissa dan wasti tak mampu berkata apa-apa.
🌾🌾🌾
Melihat kedua orang di depannya tak bisa berkata-kata, maka Heryani tersenyum puas sambil menarik kursi untuk dirinya sendiri lalu duduk di sana.
"Sepertinya Ibu mau menipu kita lagi untuk mendapatkan uang, itu sebabnya dia sengaja berkata bahwa di rumah ini tidak ada bahan-bahan makanan." Ucap heriani langsung membuat Dito menghela nafas selalu pria itu pun duduk di samping istrinya.
Meski Dita tidak mengatakan apapun, tetapi wasti dan Clarissa bisa melihat wajah kecewa pria itu hingga Mereka pun hanya bisa ikut duduk di depan dua ornag itu.
Setelah duduk, Clarissa memperhatikan Putra dan menantunya, keduanya makan dengan lahap tanpa memperdulikan mereka hingga membuatnya sangat kesal.
Clarissa tak tahan untuk tetap diam sehingga dia berkata, "kami benar-benar tidak punya uang, terakhir ketika kami mengajak kalian makan malam dan memberikan kalian hadiah, semuanya menghabiskan semua uang yang ditinggalkan oleh ayah kalian, jadi sekarang ini kami tidak punya apa-apa lagi!"
Wasti mengganggu kan kepalanya, "benar sekali, kemarin ibu ingin meminta maaf pada kalian sehingga dia menggunakan semua uang untuk menjamu kalian, Tapi malah kalian tidak datang sehingga--"
"Sehingga kalian tidak punya uang lagi untuk dibelanjakan bukan?!" Sela Heryani, "kalau kalian tahu bahwa uang 2.000.000 itu sudah diperhitungkan untuk 1 bulan, maka seharusnya kalian bisa lebih berhemat dan bukannya menggunakan uang itu untuk menjamu kami dan membelikan hadiah untuk kami!" Ucap heriani sambil menoleh ke arah suaminya yang sedang makan, "Sayang, kalau kita terus memanjakan mereka Maka selamanya mereka tidak akan pernah mandiri dan akan terus melakukan berbagai hal untuk menjadi alasan meminta uang. Jadi kali ini, biarkan mereka berusaha sendiri memikirkan cara mereka untuk hidup selama beberapa minggu lagi sampai Ayah mengirimkan uang untuk mereka!"
Dito menatap istrinya dan Dia merasa bahwa apa yang dikatakan istrinya itu memang benar, karena ibunya dan kedua adiknya juga sengaja membuat uang itu di hura-hurakan sehingga mereka harus bertanggung jawab untuk masalah itu.
"Apa?!! Bagaimana bisa kalian berkata seperti itu?! Kedua adikmu sedang kuliah dan ibu juga tidak punya pekerjaan Jadi bagaimana bisa kami mendapatkan uang untuk bertahan selama beberapa minggu ke depan?!!" Kesal wasti memandangi 2 orang yang ada di hadapannya.
Heriyani kembali mengukir sebuah senyum mengejek di wajahnya karena saat itu suaminya tidak menatapnya. Senyuman itu langsung membuat Clarissa dan wasti sangat kesal, tetapi mereka belum berkata apa-apa saat heriyani lebih dulu berbicara.
"Tadi ketika kami lewat dari sana, dibutuhkan pekerja paruh waktu di toko di sana, Mengapa tidak mencoba untuk bekerja di toko? dengan begitu, selain mendapatkan pengalaman kalian juga mendapatkan uang untuk bertahan hidup bukan?!!" Ucap heriyani.
"A,, apa?!! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?!! Aku punya Putraku yang bisa membiayaiku, jadi kenapa aku harus pergi berlelah-lelah untuk bekerja?!!" Ucap Clarissa dengan kesal, karena dia sangat malu jika dia harus berakhir menjadi penjaga toko, apa kata orang-orang kalau melihat dirinya bekerja paruh waktu di sebuah toko?!!
"Hah,, sepertinya Ibu baru mengerti juga," Dito meletakkan sendok dan garpunya lalu dia dengan tatapan yang serius menatap ibunya, "kalau Ibu tidak mau bekerja, maka pikirkan cara lain untuk bertahan hidup selama 3 minggu ke depan! Ibu juga bisa menghubungi ayah untuk mengirimkan uang pada ibu. Tetapi kalau aku, aku tidak bisa membuat kalian terus hidup dalam kemanjaan!!" Tegas Dito.
Clarissa sudah tidak bisa berkata apapun lagi, sebab putranya benar-benar tidak mau membantu mereka dan tidak mungkin juga mereka menghubungi suaminya, karena saat mereka menghubungi mereka Maka bukannya diberikan uang tetapi malah akan disuruh untuk segera menyusul ke kota tempat suaminya berada.
Siapa yang mau tinggal di rumah yang kecil dan kumuh?! Tidak ada!