Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
271


Setelah heriani masuk ke dalam apartemen, barulah Agus menatap sangat tajam ke arah istrinya sambil berteriak keras, "Perempuan tak tahu diri, Kenapa kau datang kemari ketika aku memberitahumu untuk tetap tinggal di rumah?!!"


Clarissa sangat takut dengan teriakan suaminya sehingga dia bersembunyi di belakang putranya sambil berkata, "Putraku, Kau harus menyelamatkan Ibu dari pria ini, dia sudah menyiksa Ibu selama ibu berada di kota kecil itu, dan bahkan tidak mengizinkan ibu untuk datang menemuimu!! Ibu tidak punya tempat tinggal lain selain berada di rumahmu, jadi biarkan Ibu tetap tinggal di rumah ini agar ibu bisa menjagamu dan merawatmu sepanjang waktu!!"


Dito tidak mengatakan apapun, tetapi Agus lah yang kembali berteriak, "Perempuan tak tahu malu!! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu ketika putramu telah menikah?!! Dia sudah memiliki seorang istri untuk merawatnya, jadi jangan melakukan hal-hal bodoh di sini dan sekarang juga kembali ke rumah bersamaku!!!"


Agus mengulurkan tangannya untuk mendapatkan istrinya ketika Clarissa dengan cepat menghindar dari pria itu dan memeluk putranya sambil terisak, "hiks,, hiks,, Putraku, kau harus menyelamatkanku!! Ibumu sangat menderita tinggal di kota kecil itu, Ibu tidak mau lagi kembali ke sana!!!" Ucap Clarisa memohon-mohon pada putranya.


Tetapi Clarissa sangat terkejut ketika putranya malah berkata, "ibu, ibu sudah menikah dengan ayah, jadi ibu harus patuh pada ayah dan mendengarkan apa katanya. Lagi pula, aku telah menikah, dan saat ini aku juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga istriku, jadi tidak bisa menjaga perempuan lain lagi, apalagi perempuan yang masih memiliki seorang suami."


"A,, apa?! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu pada ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu selama bertahun-tahun?!!" Teriak Clarissa sambil mendongak menata putranya dengan rasa tak percayanya.


"Ibu, orang yang telah menikah memiliki tanggung jawab mereka masing-masing, haruskah aku mengajarkan itu pada ibu?" Tanya Dito pada ibunya yang mana dia benar-benar tidak mengerti mengapa ibunya tidak paham akan hal itu.


"Kau,, kalau begitu, ibu akan menceraikan ayahmu!! Dengan begitu, tidak ada lagi yang bisa menjaga Ibu selain dirimu!!" Tegas Clarissa yang sungguh tak tahan Jika dia harus terus hidup bersama dengan suaminya.


"Ha ha ha..." Agus tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapan Clarissa, "bagus sekali kau membahas perceraian hari ini, kalau begitu Besok aku akan langsung mengurus perceraian kita!!!" Kata agus dengan nada suara yang begitu marah sebelum dia pergi meninggalkan tempat itu dengan memasuki apartemen menyusul menantunya.


Wasti yang ada di sana kebingungan harus melakukan apa, Tetapi dia masih bisa berpikir jernih sehingga dia berkata, "kalau ayah dan ibu bercerai, aku akan ikut dengan ayah!!! Jadi, Bisakah Kakak membukakan pintu ini untukku?"


Melihat wajah memelas adiknya, maka Dito menghela nafas sambil berkata, "kukatakan padamu dan juga Ibu, istriku sedang hamil dan Dia sangat sensitif dengan keributan, jadi aku tidak ingin kalian masuk ke dalam rumah lalu bertengkar dengan ayah di dalam hingga mengganggu istriku."


Wasti terkejut, "Kau,, kakak!! Kenapa Kakak tega sekali padaku?!! Aku janji, aku tidak akan membuat keributan!! Aku akan patuh pada Kakak dan juga kakak ipar!!" Tegas Wasti.


Dito menatap ibunya, "Sudah kubilang aku tidak bisa. Sekarang aku sudah menikah, dan istriku adalah prioritas utamaku. Lalu ibu tahu sendiri, ibu selalu bertengkar dengan istriku, jadi tentu saja Ibu tidak bisa tinggal dengan kami di sini. Kami punya rumah yang baru saja istriku beli untuk membuka sebuah perusahaan baru di bagian selatan ibukota, ibu dan Clarissa bisa pergi ke sana untuk tinggal di sana." Kata Dito membuatku Clarissa dan wasti sangat terkejut.


"Kau,, Jadi kau lebih memilih membiarkan ayahmu tinggal di sini ketimbang ibumu?!" Tanya Clarissa pada Putranya.


Dito menghela nafas dengan berat, "hah,, Ibu lihat sendiri bagaimana hubungan Ayah Dengan istriku, mereka sangat akur dan tidak pernah bertengkar. Jadi Tentu saja aku membiarkan Ayah menginap di rumah ini, tetapi Bagaimana dengan ibu? Tadi saja ketika baru melihat istriku, Ibu langsung melemparkan tatapan tidak sukai Ibu, jadi bagaimana bisa ibu tinggal di sini?


"Kau juga Wasti, kalau kau tinggal bersama denganku, Lalu siapa yang akan menjaga ibu? Kau harus tetap tinggal bersama dengan ibu sampai kau menikah, itu adalah ikrar seorang anak untuk bersama-sama dengan orang tuanya sampai dia menikah!!!" Tegas Dito pada dua perempuan yang ada di sana.


"Kau,,," Clarissa menggerakkan giginya sambil berpikir selama beberapa saat, dan dia tahu bahwa dia tidak akan bisa tinggal bersama heriyani sebab perempuan itu pasti akan terus menyiksanya, dan putranya tidak akan pernah mendengarkan Jika dia yang berbicara, selalu saja pria itu berpihak pada istrinya sehingga Clarissa mau tak mau menganggukkan kepalanya, "Baiklah, kalau begitu ibu akan pergi ke rumah yang kau maksudkan itu! Tapi Ibu membutuhkan uang, jadi berikan Ibu uang!!" Tegas Wasti sambil mengulurkan telapak tangannya untuk mendapatkan uang dari putranya.


Mau tak mau, Dito akhirnya merogo sakunya lalu mendapatkan dompet dari sana Sebelum mengeluarkan uang senilai 2.000.000 dari dompetnya lalu memberikannya pada ibunya.


"Aku akan mengirimkan alamatnya ke ponsel Wasti, dan kunci rumah itu ada di pot berwarna ungu nomor 3 dari kolam. Sekarang, pergilah dari sini sebelum terjadi keributan yang lebih besar lagi, karena Ayah sangat marah pada ibu!" Tegas Dito langsung membuat Clarissa mengganggukan kepalanya lalu dia pun meraih kopernya.


"Uang 2.000.000 ini tidak akan cukup bagi ibu, besok kirimkan uang yang lebih banyak lagi!!" Tegas Clarissa.


"Uang dua juta itu untuk 2 minggu, terserah kalian mau menghemat atau tidak, tetapi aku akan mengirimkan uang 2.000.000 lagi di dua minggu berikutnya!!" Tegas Dito sebelum dia membuka pintu rumahnya lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan dua perempuan yang ada di sana.


Wasti yang melihat itu hanya bisa menghela nafas, sebelum dia berbalik menatap ibunya sambil berkata, "setidaknya sekarang kita punya rumah di ibukota, jadi tidak perlu kembali ke rumah kecil itu."