Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
232


Satu minggu kemudian, saat itu heriani dan suaminya sementara makan malam bersama ketika ponsel Heryani tiba-tiba saja berdering.


Ponsel itu diletakkan di ruang keluarga sehingga heriani segera berdiri sambil berkata, "aku akan lihat ponselku dulu."


Dito menganggukkan kepalanya lalu membiarkan istrinya pergi ke ruang keluarga.


Saat heriani mengambil ponselnya, perempuan itu mengerutkan keningnya ketika dia melihat nama pemanggil ternyata adalah Niko.


'pria ini menelponku lagi,' gerutu heriani dalam hati sambil mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo," ucap heriani pada pria di seberang telepon.


"Apakah kau masih tidak mau mengajariku tentang saham itu?!" Tanya Niko dari seberang telepon yang mana dari suaranya heriani bisa menduga bahwa pria itu sedang berusaha mati-matian menahan amarahnya.


Hal itu tidak membuat heriani terkejut, karena dia tahu dan yakin bahwa kesabaran Niko tidaklah setiap banyak yang dipikirkan oleh orang-orang.


Oleh sebab itu, Heryani berkata, "Bagaimana ya, tapi aku benar-benar tidak punya waktu untuk saat ini. Lagi pula, kau--"


"Perempuan jallang!! Berani sekali kau membohongiku?!! Lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang!!" Bentak Niko pada perempuan di seberang telepon karena dia sudah sangat kesal dengan Heryani yang terus mempermainkannya.


Maka tanpa menunggu jawaban Heriani, Niko langsung mematikan panggilan telepon itu lalu dia melemparkan ponselnya ke tempat tidur.


'Perempuan sial, perempuan jallang!! Lihat saja nanti, aku akan membalasnya berkali-kali lipat dari apa yang telah kau lakukan padaku!' Geram Niko dalam hati sambil berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


"Masuk!" Perintah Niko pada orang di seberang pintu membuat pintu akhirnya terbuka memperlihatkan Johan yang berdiri di depan pintu.


"Ayah," ucap Niko yang kini merasa khawatir bahwa ayahnya datang kemari untuk memarahinya karena sudah sangat lama dia tidak masuk ke kantor lebih dari waktu cuti yang ia ajukan pada ayahnya dan kakeknya.


Namun Johan tidak berkata apapun, pria itu hanya masuk ke dalam kamar lalu dia mengunci pintu kamar putranya sebelum berjalan ke arah sofa tunggal yang terletak di dalam ruangan.


Begitu duduk di sofa tunggal, Johan langsung menata putranya dan melihat pria itu tampak berada dalam rasa gugupnya.


"Seharusnya kau tahu apa yang membuat Ayah datang kemari menemuimu!" Tegas Johan dengan tatapan tajam melihat ke arah putranya.


"Aku belum bisa masuk ke kantor karena--"


"Diam!! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu ketika kakekmu sudah sangat marah?! Apa kau mau menyusul kakakmu pergi ke desa?!! Malam nanti sepupu pertamamu juga akan kembali dari luar negeri, Dia memutuskan untuk masuk ke perusahaan utama! Persaingan akan semakin ketat ke depannya, dan kau masih bermain-main seperti ini?!!" Bentak Johan yang tidak mengerti apa jalan pikiran putranya sehingga pria itu terus abai akan pekerjaannya, sedangkan saat ini situasi keluarga mereka sedang tidak baik.


"Itu,, Kenapa sepupu pertama tiba-tiba saja ingin kembali?" Tanya Niko yang kini merasa cemas.


Sepupu pertamanya adalah cucu kebanggaan keluarga mereka yang paling disayangi oleh kakek mereka, Jadi kalau pria itu kembali maka akan ada banyak perubahan di kantor.


"Tentu saja karena dia telah menyelesaikan masa magangnya di perusahaan luar negeri, dan kinerja yang ia cetak di luar negeri tidak lama main-main jadi kalau kau tidak mempersiapkan dirimu dengan baik maka tidak ada harapan bagi keluarga kita!!" Bentak Johan.


Niko menggertakkan giginya, "Baiklah, aku akan mulai kerja besok" ucap Niko yang kini sadar betul bahwa dia tidak boleh lagi bermain-main.