Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
64


Kelas sudah berlangsung setengahnya, dan saat itu heriani yang duduk di samping perempuan bernama nyonya asmiati melukis dengan tenang sembari sesekali mendengarkan arahan perempuan itu.


Dia mengikuti apapun yang dikatakan oleh perempuan itu Dan akhirnya heriani hampir menyelesaikan lukisannya ketika tiba-tiba saja Nyonya asmiati mendekatinya dan memperhatikan lukisan heriyani.


"Ahhh,,, lukisan yang kau buat ini sangat bagus, mengingatkanku pada lukisan yang sudah kukoleksi lebih dari 10 tahun,, namanya 'roses in a glass vase'" ucap nyonya asmiati langsung membuat heriani memperlihatkan wajah terkejutnya.


"Itu,, lukisan itu ada di nyonya?" Tanya heriani dengan mata berbinar-binarnya menatap perempuan di depannya.


Nyonya asmiati dengan wajah angkuhnya menganggukkan kepalanya, "ya, lukisan itu ada padaku, dan aku menyimpannya dengan sangat baik karena lukisan itu lukisan yang tercantik yang pernah kumiliki dan juga memiliki sejarah yang panjang," ucap nyonya asmiati.


"Woah,, dari dulu saya ingin melihat lukisan itu, tetapi sampai sekarang belum kesampaian, ternyata lukisannya ada di nyonya, saya sangat beruntung masuk di kelas ini, bisa bertemu dengan nyonya dan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari Nyonya, bahkan bertemu langsung dengan pemilik lukisan yang sangat ingin saya lihat." Kata heriyani dengan penuh semangat menatap perempuan yang bersama-sama dengannya.


"Kalau kau mau, Aku bisa memperlihatkan fotonya padamu," kata perempuan itu benar-benar dijawab oleh anggukan heriyani yang begitu antusias.


Maka Nyonya asmiati juga mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan foto sebuah lukisan di mana perempuan itu berdiri di samping lukisan tersebut.


Heriyani dengan wajah terpesonanya menatap lukisan tersebut sambil berkata, "Wahh,,, benar-benar Indah, lukisan ini Kalau tidak salah senilai 7 miliar, dan--"


"Salah!" Sela nyonya asmiati langsung membuat heriani menatap perempuan itu dengan tatapan penasarannya.


"Kalau begitu, berapa harga aslinya?" Tanya heriani dengan penuh semangat untuk mengetahui informasi dari perempuan itu.


Hariani yang mendengarkan harga lukisan itu langsung memperlihatkan wajah terkejutnya meski sebenarnya dia sudah tahu menahu tentang lukisan itu.


"Woaahh,,, harganya benar seperti itu? Kalau begitu, informasi yang kudapatkan itu salah," ucap heriyani sembari menghembuskan nafasnya dengan raut wajah kesalnya.


Nyonya asmiati yang melihat itu segera berkata, "Hah,, zaman sekarang memang banyak sekali orang yang memalsukan informasi, dan sekarang orang-orang muda lebih menyukai hal-hal yang tidak benar daripada yang benar. Itu sebabnya, kau sebagai anak muda harus lebih mendengarkan orang yang tua, karena mereka jauh lebih berpengalaman daripada orang-orang muda yang sok tahu."


Heriani yang mendengarkan itu segera menganggukkan kepalanya, "kalau begitu, mohon kedepannya Nyonya asmiati membimbing saya," ucap Heriyani.


"Tentu!!! Kalau kau mau konsultasi, Kau bisa mengatakannya pada nenek, nenek tahu segala sesuatunya!!!" Kata Nyonya asmiati benar-benar membuat heriyani mengangguk dengan antusias.


"Kalau begitu, bolehkah saya menanyakan sesuatu?" Tanya Heriani.


"Ah, ya, Apa yang ingin kau tanyakan?" Dengan begitu bersemangat sebab biasanya Jika dia bersama-sama dengan orang muda maka orang muda Tidak terlalu senang mendengarkan ucapannya.


Mereka biasanya memalingkan wajah darinya, apalagi cucu-cucunya yang saat ini bersama-sama dengannya, mereka tidak terlalu peduli dengan nyonya asmiati, sebab perempuan itu sudah mulai pikun, dan terlebih, perempuan itu amat lah kolot sehingga orang muda tidak terlalu menyukainya.


Heriani yang melihat kesempatan langsung mengambil kertas dan menulis sesuatu di sana sebelum menunjukkannya pada nyonya asmiati.


Setelah nyonya asmiati membaca surat yang diberikan heriyani, maka perempuan itu mengganggukan kepalanya, "Ahhh,, kalau begitu, kita bisa membahasnya setelah kelas ini selesai," kata Nyonya asmiati segera di iyakan oleh heriani lalu mereka lanjut melukis.