
"Tapi karena kami berdua tidak punya tempat untuk memajang lukisan itu, maka kami memutuskan untuk memberikannya pada kakek, meski nilainya tidak seberapa tapi kami berharap kakek akan senang dengan hadiah itu," ucap Dito langsung membuat semua orang tak bisa lagi berkata apa-apa.
💌💌💌
"Apa katamu?" Niko Langsung tersenyum mengejek, "kau bilang itu hanya sebuah hadiah yang tidak bernilai? Apakah kau tidak tahu apa yang baru saja kau ucapkan itu? Artinya lukisan itu adalah lukisan palsu yang kau hadiahkan pada kakek?! Sangat memalukan!" Sindir Niko hingga mengejutkan Dito karena tidak menyangka bahwa ternyata lukisan yang mereka berikan pada kakek adalah lukisan palsu.
Oleh sebab itu, Dito pun menatap ke arah istrinya lalu menatap semua orang yang tampak memperhatikan mereka dengan tatapan mencibir.
Terakhir, Dito menatap Tuan besar Romania yang tampak diam di tempatnya Sebab tuan besar Romania juga berpikir sama dengan semua orang di tempat itu, bahwa lukisan itu adalah lukisan palsu hingga bisa diberikan begitu saja.
Dia merasa malu atas apa yang dilakukan oleh kedua cucunya, memberikannya hadiah palsu di hari ulang tahunnya di depan semua orang.
Namun di tengah keheningan itu, heriani tetap tersenyum sambil melirik ke arah Andika dan melihat pria itu tidak berkata apapun namun langsung membuang muka darinya.
Oleh sebab itu, heriyani kembali menoleh ke arah lukisan yang ada di dekat mereka, "lukisan ini adalah lukisan asli, temanku sendiri yang mengatakan padaku bahwa lukisannya adalah lukisan asli. Dia menyimpannya dengan sangat baik di rumahnya, Bahkan dia tidak pernah mengeluarkannya dari sana karena saking berharganya lukisan ini." Ucap heriyani kembali membuat Dito menatap heriani dengan semua orang pun kini menatap heriyani dengan tatapan mencibir mereka.
Tuan besar Romania juga tidak tahan untuk berbicara, katanya, "hadiah kalian memang sangat bagus, tapi lain kali tidak sopan kalau memberikan hadiah berupa barang palsu pada seseorang, namun Kakek sangat menyukai bingkai lukisan ini jadi kakek pasti akan menggunakannya. Kalian kembalilah duduk." Perintah Tuhan besar Romania yang ingin mengakhiri masalah itu sampai di situ saja, Sebab Dia sekarang sudah terlalu malu hingga tidak mau semakin banyak dan semakin lama menanggung malu karena cucu keenamnya dan cucu menantu keenamnya.
Heriani kembali mengukir sebuah senyuman di wajahnya, Sebab Dia tahu bahwa memang sulit untuk mempercayai bahwa lukisan itu adalah lukisan asli, sehingga heriyani pun berkata, "aku tahu kakek dan semua orang di sini tidak percaya bahwa lukisan ini adalah lukisan asli, seandainya di sini ada orang yang bisa mengecek keasliannya maka aku bisa menjamin lukisan ini benar-benar lukisan asli yang diberikan oleh temanku."
Melihat kegigihan heriyani, maka salah seorang yang duduk di dekat tuan besar Romania pun kini berkata, "Memangnya Siapa temanmu?"
Oleh sebab itu, heriani dengan tenang menjawab, katanya, "Aku berteman dengan Nyonya asmiati, Dan dari dialah aku mendapatkan lukisan ini."
Jawaban heriyani mengejutkan semua orang, tetapi tuan besar Romania juga tidak percaya bahwa menantunya heriyani yang tidak memiliki apapun dan hanya berasal dari desa malah bisa berteman dengan nyonya asmiati?
Oleh sebab itu, tuan besar Romania merasa begitu marah terhadap kebohongan yang dilakukan oleh cucu menantunya hingga pria itu tak bisa lagi berkata apa-apa.
Sementara semua orang, mereka menatap ke arah heriani dan mereka jelas tahu bahwa memang pemilik lukisan itu adalah nyonya asmiati.
Namun seseorang di antara orang-orang itu pun bertanya pada heriyani, katanya, "kau juga mengenal nyonya asmiati? Kalau begitu, kau seharusnya tahu bahwa dia adalah orang yang tidak pernah memberikan lukisannya pada orang lain, apalagi lukisan yang seharga 3 miliar itu!!!"
Dito yang mendengarkan harga lukisan itu kini tercengang di tempatnya, lalu dia menatap lukisan yang ada di sampingnya dan dia kesulitan untuk mempercayai bahwa harga lukisan itu mencapai 3 miliar!!!
Sementara heriyani, dia hendak berbicara ketika tiba-tiba saja seorang perempuan berkata, "biar aku dan suamiku yang memeriksa keaslian lukisannya."
Ucapan perempuan itu langsung membuat semua orang menatap ke arah sumber suara dengan heriani yang juga melihat bahwa yang berbicara adalah perempuan bernama eunike yang sempat diceritakan oleh suaminya sebagai seorang pelukis.