Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
105


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Heriani merasa begitu lega ketika dia melihat panggilan telepon yang masuk ke ponselnya berasal dari suaminya.


Perempuan itu dengan cepat mengangkat panggilan telepon itu, "sayang, Kenapa kau baru menghubungiku sekarang? Dari kemarin aku sangat cemas karenamu!" Ucap heriani dengan kesal pada suaminya, karena sejak kemarin ketika pria itu pergi dari kediaman utama keluarga Romania, ponsel pria itu tak pernah aktif.


Dia sampai tidak tidur dengan nyenyak karena terus kepikiran akan suaminya, dia cemas pria itu mungkin akan dilukai oleh seseorang, apalagi Andika pergi bersama-sama dengan suaminya.


"Selamat pagi sayang, Maaf kemarin hp-ku lowbat jadi baru sekarang bisa menelponnya. Bagaimana kabarmu di situ?" Tanya Dito.


"Baik, Aku baru saja selesai sarapan dan sekarang mau keluar, ada ya seorang pria yang membuka usaha perhotelan akan bagus kalau kita bisa masuk persediaan daging ke sana," kata heriani yang saat itu sedang berada di depan meja rias.


"Baguslah, kalau begitu nikmati harimu dan bersenang-senanglah. Bagus kalau pria itu mau bekerjasama dengan peternakan kita, kalau begitu aku percayakan semuanya padamu, Sekarang aku mau berangkat ke peternakan, nanti di jam makan siang Aku akan menelponmu lagi," Kata Dito dari seberang telepon.


"Baiklah, tapi Bagaimana dengan Andika? Dia tidak mempersulitmu bukan?" Tanya Heryani yang sejak kemarin belum ada informasi tentang Andika, Apakah pria itu sampai di peternakan atau tidak.


"Dia belum datang juga, kemarin ketika di stasiun kereta api, dia tertahan di sana dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Hanya tasnya saja yang kubawa di sini," jawab Dito dari seberang telepon langsung membuat heriani mengerutkan keningnya.


"Kenapa tasnya ada di kau?" Tanya Heriani.


"Ahh,, kemarin di stasiun kereta api dia menyuruhku membawanya," jawab Dito benar-benar membuat heriani menghela nafas dengan kelakuan suaminya.


Meski begitu, heriani tidak marah pada pria itu dan hanya membiarkan masalah tersebut.


Mereka pun masih berbasa-basi sebentar sebelum mengakhiri panggilan telepon itu, lalu heriani keluar dari kamarnya untuk keluar berjalan-jalan.


Keduanya melangkah keluar rumah dengan tuan besar Romania bertanya pada Bayu katanya, "Apakah Andika dan Dito sudah sampai di perternakan?"


Bayu yang berjalan di belakang Tuan besar Romania pun menjawab, "ya Tuan, saat ini mereka mungkin sudah berada di peternakan untuk memulai pekerjaan mereka. Tuan muda kedua ingin menunjukkan bahwa dia bisa membuat peternakan menjadi jauh lebih baik meski dia hanya bekerja selama 3 hari saja," ucap Bayu.


Heriyani yang mendengar percakapan itu benar-benar kesal, sehingga dia pun menggertakkan giginya sambil mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan berjalan di seberang kedua orang itu sembari berpura-pura menelpon.


"Ya sayangku?"


"Kau sendirian? Bukankah kau di situ bersama dengan Andika?"


"Apa?! Bagaimana bisa kakak ipar tertahan di stasiun kereta api?"


"Jadi dia memang tidak pergi ke situ?"


"Ahh, sayang sekali, kalau tahu seperti itu, aku pasti akan menemanimu supaya kau tidak sendirian di peternakan."


Heriyani berpura-pura berteleponan dengan suara yang keras agar didengar oleh Tuan besar Romania hingga tuan besar Romania pun menghentikan langkahnya dan menatap ke arah heriyani.


Bayu yang saat itu berada di belakang tuan besar Romania juga menghentikan langkahnya dan dia mengepal kuat tangannya menatap ke arah heriani.


Dia tidak menyangka bahwa heriani juga akan berada di tempat itu dan berteleponan bersama-sama dengan suaminya hingga membahas tentang Andika.


Saat itu, tuan besar Romania sudah berbalik menatapnya, dan pria itu tampak memperlihatkan raut wajah kemarahannya, "kau bilang Andika Sudah ada di peternakan? Kenapa heriyani berteleponan dengan suaminya dan mengatakan bahwa dia tertahan di stasiun kereta api?!" Tanya tuan besar Romania dengan suara yang tegas mengandung kemarahan.


Kepalan tangan Bayu pun menjadi semakin lebih kuat, sekarang kebohongannya telah diketahui oleh Tuan besar Romania dan dia tidak tahu lagi harus berkata apa untuk membela diri.