Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
58


"Jika ada yang kalian perlukan, tolong langsung beritahu pada pelayan yang ada di sini supaya mereka menyiapkannya untuk kalian," kata pelayan memberikan kunci pada heriani.


Heriani menerima kunci kamar dari sang pelayan, "Baiklah, Tolong bawakan dua jus jeruk ke kamar kami, Dan jangan lupa membawa teh herbal yang bisa membantu orang tidur dengan nyenyak. Ahh,, satu lagi, Tolong bawakan juga aromaterapi," perintah heryani benar-benar membuat sang pelayan senior yang ada di depannya sangat terkejut dengan ketidaktahumaluan perempuan itu.


Dikasih hati minta jantung, sudah diberikan kamar untuk tinggal di kediaman Romania, dan sekarang ternyata dengan tidak tahu malunya memberikan perintah dari mulutnya.


Heriani yang melihat perempuan di depannya tidak menjawab dan tampak sangat terkejut kini mencibir dalam hati sembari berkata, "Apakah kau tidak mendengar apa yang baru saja ku katakan?"


"Ah, tentu saja Nyonya, kami akan menyiapkannya untuk tuan muda dan nyonya muda," kata pelayan tersebut sembari membungkuk pada heriani lalu dia hendak pergi dari tempat itu ketika heriyani tiba-tiba teringat akan sesuatu.


"Ah, masih ada satu lagi," kata heriani langsung membuat sang pelayan senior menghentikan langkahnya lalu dia kembali menatap heriani.


Heriyani tersenyum melihat kelakuan pelayan itu, lalu dia pun berkata, "Aku mau pelayan bernama Anira dan Cindy datang ke kamarku, sekarang!"


Pelayan senior yang mendengarkan itu tidak mengerti Mengapa perempuan di depannya memanggil kedua pelayan itu, dan lagi Bagaimana bisa dia mengetahui namanya?


Tetapi dia tetap menganggukkan kepalanya, "baik Nyonya Muda," kata pelayan itu sebelum pamit meninggalkan haryani.


Dito yang melihat kelakuan istrinya langsung merangkul perempuan itu sembari menatap heriani, "Kau sangat bawel, nanti mereka menjadi marah dan memperlakukan kita dengan buruk," kata Dito yang jelas tahu bahwa para pelayan di rumah itu juga memiliki berbagai cara untuk mengerjai siapapun di rumah itu yang ingin mereka kerjai.


Tetapi Hariani tersenyum, "Aku kesal mereka memandang kita dengan sangat rendah, padahal jelas-jelas status kita berbeda. Bagaimana bisa para pelayan menganggap rendah Tuan dan nyonya mereka?" Ucap Heriani sembari membuka pintu kamar mereka.


Dito pun merasa terharu bahwa Setelah bertahun-tahun dia meninggalkan kabar tersebut, akhirnya dia bisa kembali lagi ke kamar itu, dan semuanya itu berkat istrinya.


Oleh sebab itu kamu saat ia melihat istrinya berjalan ke arah kasur, pria itu langsung melepaskan pegangannya pada koper yang ia bawa lalu berlari menghampiri perempuan itu dan memeluknya dari belakang.


"Hm,, berapa banyak lemak yang kau sentuh di tubuhku?" Ucap heriani yang selalu mengira sekesal setiap kali pria itu memeluknya secara tiba-tiba, Bukan karena apa Tetapi entah kenapa dia merasa tidak percaya diri dengan tubuhnya yang sekarang ini, penuh dengan tumpukan lemak dan donat di mana-mana melingkar di tubuhnya.


Tetapi dia yang mendengarkan ucapan perempuan itu, dia hanya mendaratkan sebuah ciuman di pipi istrinya sembari berkata, "kau ini, tidak pernah berhenti mengeluh tentang tubuhmu, padahal aku tidak pernah protes."


"Ya,, baiklah,,, Kau adalah laki-laki pertama yang kulihat menyukai perempuan yang menabung lemak di tubuhnya. Ahh,, tapi, tidakkah kau menjelaskan apa-apa saja yang ada di ruangan ini?" Tanya heriani sembari berbalik menatap suaminya.


Dito langsung menganggukan kepalanya, lalu pria itu pun membuka sebuah pintu yang ada di sana dan mengajak istrinya masuk ke sana, di tempat itu masih tersimpan barang-barangnya ketika dia masih muda dulu, semuanya tersusun dengan rapi dan tidak pernah disentuh oleh siapapun.


"Ini kamar gantiku," ucap Dito mengambil sebuah sepatu yang pernah ia kenakan ketika dia masih berkuliah.


"Oh,, waktu kau keluar dari sini kenapa kau tidak membawa barang-barangmu?" Tanya heriani sembari memperhatikan sepatu di tangan suaminya dan dia bisa menebak bahwa di zaman sepatu itu muncul, harga sepatu itu tidaklah main-main.


"Hm,, kami dilarang membawa apapun, bahkan saat itu kami keluar dari rumah ini hanya membawa pakaian yang ada di tubuh kami dan juga surat-surat penting," jawab Dito meletakkan kembali sepatunya lalu dia menghilang nafas memperhatikan ruangan tempat ia berada.


Ada banyak kenangan di tempat itu, dan sekarang dia sudah bisa kembali ke tempat itu lagi dan melihat semua kenangan-kenangan yang tertinggal di sana.