Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
200


Kesya menghabiskan waktunya sepanjang hari berpindah dari satu hotel ke hotel yang lain. Dia bahkan tak perduli saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari ibunya, karena Yang penting dia bekerja dan mendapatkan uang.


Masalah Ibunya bisa ia selesaikan ketika dia kembali ke rumah.


Sampai pada tengah malam ketika dia kembali ke rumah, perempuan itu langsung tumbang di kasurnya Karena kelelahan sepanjang hari tidak tidur.


Namun di pagi hari, dia yang masih sangat mengantuk mengerutkan keningnya saat pintu kamarnya tiba-tiba digedor dari luar.


Dor dor dor.


"Kesya buka pintunya!!!" Teriak Clarissa dari seberang pintu.


Teriakan itu bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali dengan suara yang keras sehingga membuat Kesya sangat terganggu.


Pada akhirnya, Kesya memaksakan dirinya untuk bangun lalu menatap ke arah pintu dengan tatapan sayunya, "ada apa pagi-pagi begini?" Geram Kesya sambil turun dari tempat tidur lalu pergi membuka pintu kamarnya.


Begitu pintu terbuka, Kesya langsung melihat Clarissa dan wasti berdiri di depannya dengan 2 perempuan itu menunjukkan ekspresi yang berbeda.


Yang satu tampak dipenuhi rasa bersalah, sementara yang lain tampak sangat marah hingga membuat Kesya mengerutkan keningnya.


Tetapi, Kesya belum berkata apapun ketika Clarissa lebih dulu mendahuluinya berbicara.


"Akhirnya kau bangun juga!" Bentak Clarissa mengulurkan tangannya untuk memeriksa tubuh putrinya.


Tetapi, begitu tangan ke Clarissa menarik kerah baju putrinya, Kesya langsung menepis tangan Clarissa karena Kesya tidak mau ibunya melihat bekas ciuman yang ada di sekujur tubuhnya.


"Apa yang ibu lakukan?!" Bentak Kesya sambil merapatkan kembali pakaiannya.


Kesya pun sangat terkejut, "a,, apa?!" Kesya menatap Wasti dan terlihat perempuan itu langsung membuang muka sehingga Kesya jadi yakin kalau wasti telah mengkhianatinya.


Tetapi Kesya belum lanjut berbicara saat Clarissa kembali mendahuluinya berbicara.


"Kau ini!! Ibu sudah tahu semuanya! Heriyani, Kakak iparmu itu menelpon ibu dan mengatakan semuanya! Perempuan sialan itu telah mengetahuinya!!" Tegas Clarissa langsung membuat Kesya tercengang di tempatnya.


Dia tidak menyangka bahwa heriyani bisa mengetahui tentang apa yang ia lakukan, Padahal dia sangat berhati-hati dan tidak ada yang mengetahuinya selain Dia dan wasti.


Sementara Wasti yang melihat wajah terkejut Kesya, Dia hanya bisa menghela nafas panjang, "hahhh ayah akan marah besar kalau dia tahu tentang masalah ini! Apalagi kita tidak bisa mengendalikan heriyani, bahkan menyogok nya pun tak akan mempan meski kita menggunakan uang yang sangat banyak! Perempuan itu sangat licik!!" Tegas wasti.


Mendengar itu, maka Kesya langsung mundur ke dalam kamarnya lalu duduk di tepi ranjang dalam keadaan linglungnya.


Clarissa mengikuti putrinya, "berhentilah menjadi sugar baby dan jangan sampai kita kembali dimarahi ayahmu!" Ucap Clarissa yang ketakutan membayangkan kemarahan Agus jika pria itu sampai mengetahui masalah putrinya.


Tetapi Kesya yang mendengarkan ucapan ibunya, perempuan itu menatap ibunya dengan tatapan marahnya, "Ibu dengan mudah berkata seperti itu karena Ibu tidak tahu bagaimana rasanya aku yang dihina oleh semua teman-temanku karena aku tidak memiliki uang hanya untuk makan di restoran mewah! Tidak ada satupun orang yang mau bertemu dengan orang miskin! Lagi pula, Apa gunanya berasal dari keluarga Romania jika kita hidup miskin dan menderita?!


"Jadi ibu tidak perlu mengajariku Apa yang harus kulakukan dan apa yang tidak perlu kulakukan, kalau Ayah sampai mengetahui masalah ini dan dia membenciku, maka aku akan keluar dari rumah ini!! Aku punya banyak uang untuk membeli apartemen, Jadi Ibu tidak perlu khawatir dan urus saja urusan ibu!!!" Bentak Kesya sebelum perempuan itu berdiri lalu dia pun masuk ke kamar mandi membanting pintu kamar mandinya dengan keras.


Wasti yang melihat sikap adik perempuannya hanya bisa terdiam di tempatnya sebelum berbalik menatap Ibunya dan melihat Clarissa tampak kesulitan mengendalikan dirinya.


"Hah,,, kita dalam masalah besar!" Ucap Wasti sambil mengambil gelas berisi air putih di atas nafas lalu memberikannya pada ibunya.


"Minum dulu, Ibu harus tenang supaya bisa menghadapi Kesya!" Kata Wasti diangguki oleh Clarissa.