Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
87


"Pokoknya kau harus memilih satu lukisan di lantai 3, atau kalau tidak, maka aku mungkin akan mati sebelum waktunya Karena hutang Budi yang tidak bisa kubalas," kata Nyonya Asmiati.


🏚️🏚️🏚️


Dia memegang tangan perempuan itu dengan hangat sembari menatap nyonya asmiati.


"Nyonya tidak boleh berkata seperti itu, kalau begitu saya akan mengikuti apapun yang Nyonya inginkan," ucap Heriyani.


"Bagus!! Kalau begitu, katakan padaku lukisan seperti apa yang kau inginkan?" Tanya nyonya asmiati.


"Itu,," heriyani menghela nafas dengan berat sebagai pertanda bahwa dia tidak enak mengatakannya.


Hal itu membuat Nyonya asmiati pun memindahkan tangannya dari tangannya yang semula dipegang oleh heriyani menjadi tangannya yang menggenggam tangan perempuan itu.


"Apakah kau mau aku mati sebelum waktunya sehingga kau begitu kesulitan menjawab tentang lukisan yang ingin kau ambil?" Tanya Nyonya asmiati langsung membuat heriyani menggelengkan kepalanya.


"Tidak!! Tentu saja tidak seperti itu." Jawab Heriani.


"Kalau begitu katakan, lukisan mana yang tadi kau lihat yang menurutmu ingin kau miliki," kata Nyonya Asmiati.


"Ah,,, aku tidak bisa mengoleksi barang yang terlalu mahal, tapi kakekku sebentar lagi akan berulang tahun, dan dia menginginkan sebuah lukisan yang tadi aku lihat ada di ruangan lantai 3 itu. Jadi biarkan lukisannya untuk kakekku saja," kata heriani.


"Ahh,, Kau sungguh cucu yang sangat berbakti, kakekmu pasti senang sekali memiliki seorang cucu sepertimu," ucap Nyonya asmiati memuji perempuan di depannya.


", pujian Nyonya selalu saja berlebihan, aku jadi tidak enak," ucap heriyani dengan raut wajah yang malu-malu.


Nyonya asmiati tersenyum menatap perempuan di depannya, lalu mereka pun membicarakan tentang lukisan yang diinginkan oleh kakek heriani sampai akhirnya kedua perempuan itu berpisah.


Ketika meninggalkan perusahaan Nyonya asmiati, heriyani barulah mengaktifkan ponselnya yang sudah tadi ia matikan karena tidak mau pertemuannya dengan dunia asmiati diganggu oleh siapapun.


Maka tanpa menunda waktu sedikit pun, heriyani langsung menekan tombol panggil balik pada suaminya lalu mendekatkan ponselnya ke telinganya.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


"Sayang, akhirnya kau menelponku. Apa kau baik-baik saja?" Suara cemas Dito dari seberang telepon langsung membuat heriani tersenyum dengan tingkah pria itu.


"Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Tapi Maaf, tadi ponselku ternyata tidak sengaja tertekan sehingga tidak aktif, sekarang aku dalam perjalanan untuk kembali ke rumah, kau ada di mana?" Tanya heriani.


"Baguslah,,, sekarang Aku sudah di rumah, aku menunggumu di depan rumah," jawab sang pria dari seberang telepon.


"Kenapa kau menunggu di depan rumah? Padahal cuaca hari ini tidak terlalu bagus, kalau kau sakit, Bagaimana aku akan menghadapimu?" Kesel heriani.


"Aku tidak apa-apa, aku memakai jaket yang tebal Jadi tidak apa-apa, Kau sudah di mana?" Tanya suami heriani.


"Ahh,, aku sebentar lagi tiba, Sekarang aku sudah melihat pagar rumah," ucap heriyani langsung membuat Dito yang menunggu istrinya segera berlari menuju pagar dan melihat sebuah taksi berhenti di depan rumah.


Pintu taksi langsung terbuka, lalu seorang perempuan turun dari atas mobil langsung membuat Dito mengerutkan keningnya menatap pakaian istrinya yang tipis.


Maka Dito langsung melepaskan jaketnya dan menghampiri istrinya, lalu memakaikan jaket tersebut pada istrinya.


"Kenapa kau keluar tanpa memakai jaket?" Tanya Dito langsung membuat heriani teringat akan jaketnya yang tertinggal di kediaman Nyonya asmiati Sebab mereka meninggalkan kediaman perempuan itu secara terburu-buru hingga tidak sempat lagi mengambil jaketnya.


"Ahh,, maaf, jaketku tertinggal di kediaman nyonya asmiati," ucap Heriyani.


"Pikirkan jaketnya nanti saja, h ayo kita masuk," ucap Dito langsung merangkul istrinya memasuki kediaman utama keluarga Romania.