Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
132


Ting!


Lft berhenti di lantai 3 kediaman utama keluarga Romania.


Heriyani bersama suaminya pun keluar dari lift lalu melangkah menuju ruang kerja tuan besar Romania.


Saat sedang berjalan, Dito teringat akan undangan makan malam yang diucapkan oleh ibunya hingga pria itu pun menatap istrinya.


"Malam nanti Ibu mengundang kita untuk pergi ke rumah makan malam, katanya dia juga menyiapkan hadiah untuk kita," langsung membuat heriyani mengangkat sebelah alisnya.


Dia tidak percaya kalau Clarissa mengundang mereka untuk makan malam dan bahkan menyiapkan hadiah jika hal itu tidak dilandasi dengan suatu hal di belakang sikap manis tersebut.


Oleh sebab itu, Heryani berkata, "menurutmu Ibu mengundang kita untuk makan malam karena dia benar-benar tulus ataukah jangan-jangan ada sesuatu yang diinginkan olehnya?"


Pertanyaan istrinya langsung membuat Dito berpikir lalu beberapa saat, pria itu menghentikan langkahnya hingga heriani pun ikut menghentikan langkahnya lalu kedua orang itu saling bertatapan.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya heriani memperhatikan suaminya sebab Ia ingin mengetahui bagaimana sudut pandang suaminya.


"Ya,, aku, entah kenapa aku juga merasa kalau apa yang kau katakan itu benar, aku rasa selama ini Ibu dan kedua saudaraku memang melakukan segala sesuatu karena ada yang melatarbelakanginya. Bahkan mereka tega membakar rumah tempat tinggal mereka hanya demi mendapatkan rumah yang baru dan mengambil rumah kita selalu sekarang, entah apalagi yang mereka inginkan hingga mereka tiba-tiba mengundang kita untuk makan malam. Meski begitu, Aku tidak bisa menolaknya, Ayah mempercayakan mereka bertiga padaku, jadi aku tidak bisa mengabaikan mereka." Ucap Dito langsung dijawab anggukan heriani.


Heriani benar-benar mengerti bahwa pria di depannya adalah pria dengan hati yang begitu lembut dan tentunya tidak bisa mengabaikan keluarganya begitu saja, sehingga dia tidak masalah jika dia harus berusaha keras untuk membuat suaminya satu paham dengannya.


"Aku mengerti, nanti malam kita akan menghadiri makan malamnya, sekarang ayo kita pergi temui kakek," ucap Heryani.


Dito mengiyakan ucapan istrinya hingga kedua orang itu melanjutkan langkah mereka ke depan pintu ruang kerja tuan besar Romania.


Dean langsung menyambut kedua orang itu, "Tuan besar sudah menunggu kalian," ucap Dean segera membukakan pintu lalu membiarkan dua orang tersebut masuk ke dalam ruangan.


Sementara di dalam ruangan, heriyani dan Dito sudah duduk di sofa sembari menatap ke arah tuan besar Romania yang juga sudah duduk sambil menikmati secangkir teh.


"Kalian bangun pagi-pagi sekali, aku pikir kalian akan datang satu jam lagi," ucap Tuan besar Romania sembari mengukir sebuah senyuman hangat di wajahnya, Sebab Dia menyukai dua orang di depannya.


"Kami tidak mungkin membuat kakek menunggu," ucap heriyani diangguki oleh Dito.


"Iya, orang muda juga harus bangun cepat," kata Dito.


"Ya, apa yang kalian katakan itu benar, kakek senang mendengar nya. Oh ya kakek sudah melihat jelas lukisan yang kalian berikan, lukisan benar-benar luar biasa dan kaki yang merasa sangat senang. Tapi apa yang sudah kalian lakukan membantu perusahaan Nyonya asmiati sampai Nyonya asmiati mau memberikan lukisan berharga itu pada kalian?" Tanya tuan besar Romania yang merasa penasaran dengan hal tersebut, Namun kemarin dia tidak sempat menanyakannya.


Dito segera menatap istrinya, sementara heriani juga segera mengukir sebuah senyum tipis di wajahnya, "aku hanya memberikan bantuan kecil, mereka mengalami sedikit masalah pada sistem perusahaan mereka, jadi aku membantu menyelesaikannya." Ucap Heryani.


"Itu,,, jangan-jangan masalah yang kau maksud itu adalah masalah yang diberitakan tempo hari tentang kerusakan sistem hingga membuat kerugian besar pada perusahaan Nyonya Asmiati?" Tanya tuan besar Romania langsung dijawab anggukan heriani.


"Ya, itu yang aku bantu, tapi aku tidak memberikan kontribusi yang terlalu besar hanya sedikit saja dan yang lainnya dikerjakan oleh staf perusahaan nyonya asmiati," ucap Heryani.


"Benarkah?!!" Tuan besar Romania sangat terkejut, dan dia tidak percaya bahwa menantunya hanya memberikan kontribusi kecil sampai akhirnya bisa mendapatkan lukisan senilai 3 miliar.


Apalagi, dia melihat bahwa menantu yang ia dapatkan dari desa ialah menantu yang sangat rendah hati dan tidak suka mencari muka di depan orang lain, Jadi dia sangat yakin bahwa heriyani hanya berusaha merendah diri di depannya.


"Ya," kembali jawab Heriani sembari mempererat genggaman tangannya pada suaminya, sebab dia yakin Tuan besar Romania pasti bisa membaca Apa yang sebenarnya terjadi.


"Baiklah, itu hanya kontribusi kecil, tapi kakek sudah menyiapkan hadiah untuk kalian," ucap Tuan besar Romania sembari mengambil sala satu dokumen yang diletakkan di atas meja.


Mata Heriani langsung menyipit kala ia melihat dokumen tersebut, dan dia sangat penasaran tentang isi dari dokumen itu.