
"Baiklah, kalau begitu Ayah tutup dulu teleponnya, kalian baik-baiklah di situ, nanti akan Ayah hubungi kalau ayah akan berangkat ke situ," kata agus pada putranya.
"Baik ayah," jawab Dito dari seberang telepon sebelum panggilan telepon itu diakhiri.
Maka Agus pun menyimpan ponselnya ke dalam sakunya bertepatan dengan Clarissa yang masuk ke dalam kamar.
"Kenapa ayah mertua mau bertemu denganmu? Dan kapan acara Gender reveal cucuku dilakukan?" Tanya Clarissa yang sedari tadi menguping pembicaraan suaminya.
Ia sangat bersemangat untuk menghadiri acara itu, karena itu akan menjadi sebuah kesempatan besar baginya untuk kembali ke ibukota dan melepaskan diri dari kota kecil yang saat ini mereka tempati.
Agus mengerutkan keningnya menatap istrinya, karena dia tak menyangka bahwa sifat istrinya masih sama saja seperti dulu, suka menguping pembicaraan orang lain.
Oleh sebab itu, Agus menatap istrinya sambil berkata, "kau masih belum merubah sikapmu, dari dulu kau mah masih suka mendengarkan pembicaraan orang lain!"
Setelah berbicara, Agus langsung meninggalkan istrinya hingga membuat Clarissa menggertakan giginya.
"Dasar suami tidak berguna, dia membiarkan anaknya terus berada dalam penjara dan membawa anaknya yang lain serta istrinya ke sebuah kotak kecil dan harus menderita setiap hari di sini. Sekarang juga terus menyembunyikan segala sesuatu dari istrinya, memangnya aku tidak punya hak untuk mengetahui semuanya ketika yang dibicarakan adalah cucuku sendiri?" Gerutu Clarissa Sambil menghela nafas lalu berjalan memasuki kamar dan duduk di depan meja rias tua.
Perempuan itu masih terus berpikir selama beberapa saat ketika putrinya tiba-tiba saja datang menghampirinya.
"Ibu!! Aku lapar, buatkan makanan enak untukku!!" Teriak Wasti pada ibunya sebelum perempuan itu berlari memasuki kamarnya untuk mengganti pakaian terlebih dahulu sebelum makan malam.
Meski begitu, Clarissa tetap berdiri dan pergi ke arah dapur, Sebab Dia cemas suaminya mungkin akan memarahinya kalau dia tidak memasak sehingga pria itu akan kembali mengancam untuk menceraikannya.
Padahal, kalau dia diceraikan oleh pria itu, dia tidak memiliki apapun untuk bertahan hidup, bahkan pekerjaannya yang saat ini bergabung dengan komunitas ibu-ibu pengrajin, juga tidak cukup untuk dia gunakan membeli bedak.
Selain itu, dia tidak tahu di mana kediaman putranya sehingga dia tidak bisa memaksa pria itu untuk menampungnya di rumahnya. Jadi dia tidak punya pilihan lain selain terus bertahan menghadapi suaminya yang selalu menekannya.
Tetapi ketika Clarissa tiba di dapur, ia melihat suaminya sedang duduk di meja makan yang terletak di tengah-tengah dapur sambil memainkan ponselnya.
"Hah," Clarissa menghela nafas dengan kesal, Sebab Dia bisa melihat suaminya bersantai-santai dan memainkan ponsel, sementara dia setelah pulang bekerja dari tempat membuat kerajinan, masih harus berkutat di dapur.
Agus yang mendengar istrinya menghela nafas, ia langsung menatap istrinya dengan tatapan tak sukanya, "Kenapa kau menghela nafas seperti itu?!" Tanya Agus yang mana Dia paling tidak suka mendengar seseorang mengeluh saat berada di dekatnya.
Tetapi, Clarissa yang mengambil makanan dari dalam lemari, ia menatap seminya dengan tatapan kasarnya sebelum dia berjalan ke meja makan lalu menatap makanan di atas meja.
"Aku hanya merasa lelah saja, jadi aku menghela nafas untuk melepaskan rasa lelahku," kata Clarissa yang tentunya tidak berani mengomel pada suaminya sebab selama mereka berada di kota tersebut, suaminya sudah banyak berubah, pria itu tak pernah lagi mendengarkan apa yang ia katakan, seolah-olah segala sesuatu yang keluar dari mulutnya tidak memiliki arti untuk didengarkan.
"Kau ini, seperti hanya kau saja yang lelah, semua orang juga lelah dengan aktivitas mereka masing-masing!!" Ucap Agus tanpa melihat istrinya hingga membuat Clarissa sangat kesal, Tetapi dia hanya bisa menahan diri dan menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga.