
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Dito mengerutkan keningnya ketika dia melihat ponsel istrinya terus berdering, tetapi perempuan yang sedang memasak di dapur itu tidak memperdulikan ponselnya.
"Sayang, Mengapa kau tidak mengangkat ponselmu?" Tanya Dito sembari meletakkan berkas peternakan yang sedang ia periksa lalu pria itu pun mengambil ponsel istrinya dan membawanya ke dapur.
Heriani yang melihat kedatangan suaminya pun tersenyum pada pria itu, "Aku akan mengangkatnya nanti, kau letakkan saja di atas meja," jawab heriyani yang jelas tahu bahwa penelponnya adalah nyonya asmiati.
"Baiklah," jawab Dito sembari memeluk perempuan itu dari belakang dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi heriani sebelum meninggalkan perempuan itu.
Heriani yang merasakan itu hanya tersenyum, dan pipinya sedikit merona dengan kelakuan suaminya yang tiba-tiba seperti itu.
Meski sudah cukup lama mereka bersama-sama dan pria itu kadang-kadang melakukan hal seperti itu, namun dia tetap saja tidak bisa mengontrol dirinya setiap kali mendapat kejutan seperti itu dari suaminya.
Setelah selesai memasak, heriani kembali menata ponselnya dan saat itu panggilan dari Nyonya asmiati sudah tidak ada lagi, sehingga dia pun membawa ponselnya mendekati suaminya.
"Apa yang kau baca?" Tanya heriyani memperhatikan berkas yang sedang diperhatikan oleh Dito.
"Hm,, aku mencocokkan laporan keuangan dengan persediaan bahan di gudang," jawab Dito sembari mencoret-coret laporan di tangannya menggunakan pulpen.
"Ahh,," heriyani mengganggukan kepalanya lalu perempuan itu pun memeluk suaminya sembari menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dengan Dito yang terus mencoret-coret berkas di hadapannya.
Tiba-tiba saja, ponsel heriani yang telah diletakkan di atas meja di depan kedua orang itu berdering sehingga heriani pun melepaskan pelukannya pada suaminya.
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Maka tanpa membuang-buang waktu, heriani segera mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo," jawab heriyani pada orang di seberang telepon sembari berjalan menjauhi suaminya Sebab Dia tidak ingin suaranya mengganggu pria yang sedang konsentrasi mengerjakan tugasnya.
Walaupun begitu, Andi masih bisa mendengar suara perempuan itu meski tidak terlalu jelas.
"Aku menelponmu dari tadi, apakah kau sedang sibuk?" Tanya Nyonya asmiati dari seberang telepon.
"Ah,, maaf sekali, aku tinggal di desa dan tadi aku sedang ke luar rumah dan meninggalkan ponselku di rumah, Jadi tidak melihat panggilan telepon dari nyonya," kata heriyani dengan nada suara yang merasa bersalah pada perempuan di seberang telepon.
Dito yang mendengarkan itu mengerutkan keningnya menatap ke arah istrinya yang berteleponan di teras rumah, dan dia tidak menyangka bahwa istrinya akan berbohong seperti itu.
Meski begitu, dia tidak mengatakan apapun dan hanya tersenyum dengan kelakuan istrinya lalu pria itu kembali mengerjakan berkas-berkas yang ada di hadapannya.
Sekitar 30 menit dia mengerjakan kertas di tangannya, barulah Heriyani kembali menghampirinya.
"Beberapa hari ini kau terus berteleponan dengan Nyonya asmiati itu, Apakah dia teman barumu?" Tanya Dito yang agak penasaran dengan sosok Nyonya Asmiati Sebab Dia seringkali melihat istrinya berteleponan dengan perempuan itu.
"Ya,, dia teman baruku," jawab Heriyani.
"Begitu ya, bagus juga kalau kau punya teman, jadi tidak bosan saat sendirian berada di rumah," kata Dito sembari mengulurkan tangannya memperbaiki rambut istrinya, dan pria itu menghela nafas ketika dia melihat bahwa istrinya tampak semakin kurus.
"Ada apa?" Tanya Heri ani yang merasa heran melihat suaminya tampak tidak suka menatapnya.
"Hm,, aku hanya merasa khawatir, kau jadi semakin kurus, aku takut kau bisa jatuh sakit kalau berat badanmu terus turun," jawab Dito.
"Ahh,," heriyani mengganggu kan kepalanya, dan dia memang sadar betul bahwa selama 3 minggu ini berat badannya telah menurun sampai belasan kilo, "jangan khawatir, nanti aku akan menurunkan berat badanku pelan-pelan. Kalau terlalu cepat juga tidak bagus, kulitku akan kendur," ucap heryani sembari mencubit kulitnya sendiri.
"Hm,, aku hanya ingin kau sehat-sehat saja, aku tidak peduli kau seperti apa, karena aku menyukaimu." Kata Dito mencubit pipi perempuan itu yang tampak menggemaskan.