
Saat Kesya kembali ke kamar ibunya, ia bingung melihat dua orang yang ada di sana kini duduk dengan mata yang sembab.
"Ada apa? Apakah ibu baru saja menangis?" Tanya Kesya dengan wajah herannya menatap Clarissa, karena dia tidak pernah melihat ibunya pernah menangis, bahkan ketika neneknya meninggal, perempuan itu tampak biasa-biasa saja.
Wasti pun melihat ke arah Ibunya, dan tampak sekali bahwa Clarissa sedang berada dalam suasana hati yang buruk sehingga wasti lah yang berkata, "ini semua gara-gara ayah!"
Kesya terkejut, "Ayah? Memangnya Ayah kenapa? Lalu di mana Ayah?" Tanya Kesya sembari menatap ke arah tempat dia meletakkan tas ayahnya, namun dia tidak mendapati tas pria itu di sana.
Wasti menghela nafas, "Kakak dan istrinya baru saja mendapat rumah dari kakek, dan--"
"Apa?!! Mereka berdua mendapatkan rumah dari kakek? Kenapa bisa? Lalu, Lalu apakah kita juga mendapat rumah?" Tanya Kesya dengan penuh harap mendapat jawaban yang bagus dari Wasti.
Tetapi pasti malah menghela nafas, "hah,,,, justru itulah yang membuat Ibu menangis, mereka berdua mendapatkan rumah, tapi kita yang tidak memiliki rumah tidak mendapatkan rumah dan bahkan Ayah tidak setuju jika kita mengambil rumah itu!!!" Ucap Wasti yang kini kembali kesal mengingat apa yang terjadi.
"Apa?!! Kita tidak mendapat rumah? lalu Kenapa kau bilang Ayah tidak mau memberikan kita rumah itu?" Tanya Kesya yang tidak mengerti.
Wasti pun menjelaskan semuanya pada Kesya hingga membuat Keisha ternganga di tempatnya dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya.
Melihat Keisha terdiam di tempatnya, maka Wasti pun kembali berkata, "kau terkejutkan? Aku dan ibu juga sangat terkejut, bahkan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh ayah. Padahal, Kak Dito dan istrinya itu tidak penting untuk mendapatkan rumah, mereka bisa tinggal di kediaman utama, Tapi bagaimana dengan kita?"
Kesya menganggukan kepalanya, "kalau begitu, kenapa kita tidak merebut surat itu dari ayah?" Tanya Kesya.
Dua orang yang bersama-sama dengan Keisya pun langsung menatap Kesya sembari berpikir.
Beberapa saat kemudian Wasti pun menoleh ke arah ibunya, "apa yang dikatakan Kesya itu benar, kalau ayah tidak mau mengurus surat itu menjadi milik kita, maka kita saja yang melakukannya!" Tegas Wasti.
Clarissa mengganggukan kepalanya, "benar, kalau begitu kalian pergilah ke musholla rumah sakit dan diam-diam ambil berkas itu, ayah kalian pasti tidur di sana." Ucap Clarissa.
"Tentu!!!"
Kesya dan wasti secara bersamaan menjawab lalu kedua orang itu pun keluar dari ruang perawatan Ibu mereka dan pergi ke mushola.
Saat tiba di mushola keduanya langsung mencari ayah mereka, namun mereka tidak mendapatinya di sana sehingga mereka pun pergi ke seberang mushola di mana terdapat Vihara.
Mereka mendapati Agus sedang berdoa di sana sehingga keduanya pun pergi ke tempat penyimpanan barang dan melihat tas ayah mereka berada di salah satu loket.
"Ayo ambil," ucap Wasti hendak mengambil tas milik ayahnya ketika tiba-tiba saja penjaga yang ada di sana menghampiri mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya penjaga itu langsung membuat Kesya dan Wasti menatap sang penjaga.
"Yang di sana berdoa itu adalah Ayah kami, Dia membawa surat pemeriksaan ibuku di rumah sakit dan sekarang kami harus mengambilnya karena akan digunakan," ucap Kesya.
"Benarkah?" Tanya sang penjaga merasa curiga.
Maka Kesya dengan sigap mengambil ponselnya, lalu dia pun memperlihatkan foto keluarga mereka, "ini adalah foto keluarga kami," ucap Kesya langsung dianguki oleh sang penjaga lalu pria itu pun membiarkan Kesya dan wasti mengambil map coklat dari dalam tas milik Agus.
Setelah selesai, Wasti meletakkan tas itu sesuai dengan posisinya semula sebelum meninggalkan vihara untuk kembali ke kamar.
Dalam perjalanan, wasti berkata, "Bagaimana kalau Ayah menyadari surat ini hilang?"
"Ayah tidak akan menyadarinya, dia baru akan memeriksa tasnya ketika dia tiba di kantor besok pagi. Paling-paling malam ini dia akan tidur di tempat ibadah," ucap Kesya percaya diri.
Wasti mengganggu kan kepalanya dan dia tidak mengatakan apapun lagi sampai mereka tiba di kamar.