
Setelah meninggalkan kantor, Dito Langsung kembali ke rumah dan ketika dia tiba, dilihatnya istrinya langsung berlari keluar dari kamar menyambut kedatangannya.
"Sayang!!" Seru heriyani berlari kencang ke arah suaminya lalu berakhir di pelukan suaminya.
Perempuan itu tersenyum sangat lebar sambil mendongakkan kepalanya menatap suaminya, "dari tadi aku menunggumu!!" Kata Heryani.
"Maaf, tadi aku menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum kembali ke rumah, tapi kau terlihat sangat senang, Apakah ada sesuatu?" Tanya Dito sambil menundukkan kepalanya menggosokkan hidungnya dengan hidung istrinya.
Heriyani tersenyum lebar, "ya, Ayo ikut aku, akan beritahu padamu," kata heriani segera melepaskan pelukan mereka lalu menarik suaminya ke dalam kamar.
Saat tiba di kamar, heriyani teringat bahwa suaminya mungkin lelah dan perlu mandi air hangat sebelum berbincang dengannya, Oleh sebab itu ia menghentikan langkahnya dan berbalik melepaskan jas suaminya serta dasi suaminya.
"Nanti aku beritahu setelah makan malam, Sekarang pergilah mandi, aku sudah menyiapkan air hangat dan aromaterapi yang bisa membantu mu merilekskan diri," ucap heriani sambil mendorong suaminya ke dalam kamar mandi.
Dito merasa aneh, tapi pria itu tidak mengatakan apapun dan hanya masuk ke kamar mandi meninggalkan istrinya.
Pria itu cepat-cepat mandi sebelum pergi mengganti pakaiannya lalu mencari istrinya.
Dito mendapati heryani di meja makan hingga pria itu pun duduk bersama istrinya, "ada banyak makanan, Kenapa tiba-tiba kau masak banyak?" Tanya Dito yang biasanya di atas meja tidak banyak makanan tersedia karena istrinya sendiri yang menyiapkan makanan sebab perempuan itu selalu pulang lebih awal dari jam kantor yang biasanya.
"Hm, Hari ini aku menyuruh asisten untuk membantu memasak karena aku merasa sangat senang dan ingin merayakannya lewat makanan ini!" Kata heriyani dengan kebahagiaan yang terus-menerus terpancar dari wajahnya.
"Ya, kalau begitu selamat makan," ucap Dito yang sebenarnya penasaran Apa yang membuat istrinya begitu bahagia, Tetapi pria itu belum mau menanyakannya karena dia tahu, kalau istrinya sudah memutuskan sesuatu maka istrinya tidak akan pernah berubah pikiran.
Apalagi tentang mengatakan sebuah kabar, perempuan itu akan langsung mengatakannya jika dia mau memang mengatakannya, Tetapi kalau tidak, maka meskipun dipaksa, istrinya tidak akan pernah mengatakan nya.
Oleh sebab itu, Dito terus tenang menikmati makanannya sampai akhirnya mereka selesai makan lalu mereka kembali ke kamar.
Saat tiba di kamar, heriyani langsung mengambil sebuah kotak yang sudah ia siapkan lalu memberikannya pada suaminya.
Pria itu berusaha mengingat tentang hari apakah hari ini sampai istrinya menyiapkan hadiah untuknya, dan setelah beberapa saat dia merasa bahwa ini bukanlah hari yang spesial, ulang tahunnya masih lama, ulang tahun istrinya masih lama, dan hari ulang tahun pernikahan mereka juga masih lama.
Oleh sebab itu, pria itu menatap istrinya dengan wajah yang heran, "Kenapa istriku tiba-tiba menyiapkan hadiah untukku? Apakah ada sesuatu yang--"
"Sstt!!" Heriyani menyelah ucapan suaminya, "jangan banyak tanya, pokoknya buka saja hadiahnya!" Perintah Heryani yang merasa agak kesal pada suaminya yang banyak tanya.
Melihat istrinya yang sudah mulai kesal, maka Dito hanya bisa menganggukkan kepalanya lalu dia pun segera membuka hadiah yang ada di tangannya.
Sambil membuka hadiahnya, Dito sesekali menatap ke arah istrinya, dan dia merasa bersalah bahwa dia tidak menyiapkan hadiah apapun untuk istrinya sehingga dia berkata, "besok akan kubelikan sesuatu, katakan saja padaku jika kau menginginkan sesuatu."
"Baiklah, akan kukatakan kalau aku menginginkan sesuatu!" Kata heriani masih dengan sebuah senyuman indah di wajahnya.
Dito akhirnya menganggukkan kepalanya bersamaan dengan hadiah yang telah selesai dibuka hingga membuat pria itu terkejut saat melihat isinya adalah sebuah pita besar.
"Ini bagus sekali," Kata Dito langsung menarik pita itu dari dalam kotak dan dia merasa senang bahwa pita itu adalah pita terindah yang pernah dihadiahkan seseorang padanya.
"Tarik kedua sisinya supaya pitanya terbuka!" Perintah Heryani langsung membuat Dito menatap istrinya dengan raut wajah bingungnya.
"Kau menyuruhku merusak pitanya? Bagaimana bisa aku merusak pita pemberian istriku?" Kata Dito yang tidak setuju dengan perintah yang diberikan oleh istrinya.
"Pitanya bukan hadiahnya, ada sesuatu yang lain yang merupakan hadiahnya, jadi tarik saja kedua ujung sisi pitanya!!" Tegas heriani yang tidak sudah tidak sabar melihat ekspresi suaminya saat mengetahui hadiah apa yang diberikannya pada pria itu.
"Benarkah?" Tanya Dito memperhatikan pita di depannya, dan dia sungguh tidak tega merusak pintu itu, tetapi dia tetap memindahkan pegangan tangannya pada dua ujung pita yang ada di sana dan menatap istrinya untuk terakhir kalinya bertanya pada perempuan itu, "aku benar-benar harus membongkar pitanya?"
"Iya!" Tegas Heryani.