
Setelah mengendara cukup lama, akhirnya mobil yang ditumpangi Dito dan istrinya kini tiba di depan rumah tempat wasti dan Clarissa duduk bengong seperti orang gila.
"Kakak!" Seru wasti merasa sangat senang melihat kakaknya sudah datang.
Perempuan itu langsung menghampiri mobil kakaknya sambil menarik koper miliknya.
Clarissa juga tak tinggal diam, dia berjalan ke arah mobil putranya dan menyusul putrinya masuk ke dalam mobil.
Begitu masuk ke mobil, wasti merasa sangat lega karena sekarang mereka tidak lagi menjadi bahan tontonan orang-orang di situ.
"Akhirnya Kakak datang juga, aku sudah menahan malu sejak beberapa waktu yang lalu! Semua ini gara-gara kakek! Bisa-bisanya rumah yang telah dicatat atas nama Ibu diambil lagi?!! Memangnya hukum di negara kita sudah tidak berlaku lagi?" Kesal wasti sembari memperbaiki posisi duduknya dan mengenakan sabuk pengaman.
Clarissa yang duduk di samping putrinya langsung menganggukkan kepalanya, "wasti benar, sertifikatnya bahkan masih ada di sini, Ibu akan memposting kasus ini ke internet supaya orang-orang bisa membela ibu dan ibu mendapatkan keadilan!" Tegas Clarissa yang merasa sangat marah pada ayah mertuanya.
Meski begitu, Clarissa juga tahu bahwa dia tidak bisa melaporkan masalah itu ke polisi, sebab koneksi keluarga Romania sangat besar dan tentunya kepolisian akan membela Tuan Besar Romania ketimbang dia yang adalah korban.
Heriani dan Dito yang mendengar kekesalan 2 perempuan di belakang mereka, keduanya tidak mengatakan apapun, keduanya hanya diam saja dengan Dito yang fokus mengendara untuk mengantar dua orang itu menuju stasiun kereta api. .
Diamnya dua orang itu membuat Clarisa menjadi kesal sehingga dia tidak tahan untuk berkata, "kalian ini, tidak Bisakah kalian berbicara sedikit saja menghibur kami berdua?!"
Heriani menghela nafas, lalu dia berbalik menatap Ibu mertuanya, "ibu, bukannya kami tidak mau menghibur, tetapi aku rasa diam jauh lebih baik daripada bicara omong kosong," kata heriyani sebelum dia kembali menatap ke depan.
Hal itu membuat Clarissa menjadi lebih marah lagi sehingga dia dengan cepat berteriak keras, "menantu tidak tahu diri!! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu pada ibu mertuamu!? Tidak punya sopan santun!!!"
Clarissa kesal di bentak putranya, "Apa?! Kau suruh ibu diam?!! Kau--"
"Ibu!!!" Sela Dito, "tolong berhenti! Istriku sedang hamil!" Tegas Dito.
"Ha,, hamil?!" Tanya Wasti langsung menatap kakak iparnya.
"Ya," jawab Dito dengan singkat.
Clarissa mengerutkan keningnya memikirkan kehamilan heriyani, lalu beberapa saat kemudian perempuan itu berkata, "kalau begitu anak yang dia kandung adalah cicit pertama keluarga Romania! Dia bisa mengangkat derajat keluarga kita kembali seperti dulu!!"
Wasti sangat senang mendengarkan ucapan ibunya, dia menganggukkan kepalanya dan hendak berbicara ketika Dita mendahuluinya berbicara.
"Aku tidak mau memanfaatkan anakku untuk kepentingan orang dewasa, jadi Jangan berpikir macam-macam!" Tegas Dito.
"Apa?! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Ibu bukannya mau memanfaatkannya, ini hanya sebuah tradisi saja, setiap generasi pertama dalam suatu keluarga maka dia akan menjadi yang paling penting dalam keluarga itu, dan jika anakmu adalah laki-laki, dia bisa mendapat warisan yang besar dari kakekmu!!" Ucap Clarissa merasa sangat senang.
Namun saat itu, Dito telah menghentikan mobilnya lalu dia berbalik menatap ibunya dengan kesal, "kalian sudah sampai, aku sudah mengirim tiket online ke ponsel wasti, jadi gunakan tiket itu untuk menyusul Ayah ke luar kota!" Tegas Dito yang tak tahan lagi mendengar ocehan ibunya, apalagi sekarang perempuan itu berupaya memanfaatkan anaknya yang belum lahir untuk mendapatkan keinginannya.
Sementara Wasti dan Clarissa yang mendengarkan ucapan Dito, keduanya sangat terkejut karena tak menyangka Dito akan membawa mereka ke stasiun kereta api dan menyuruh mereka untuk pergi ke luar kota.