Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
227


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Dito baru saja pulang dari kantor dan saat ini dalam perjalanan menjemput istrinya, ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat ada panggilan telepon dari ibunya.


"Apa Ibu mau membahas tentang masalah pengacara?" Ucap Dito yang merasa agak kesal karena dua hari setelah Kesya ditangkap oleh Polisi, ibunya terus meneleponnya supaya mau berubah pikiran dan menyewakan pengacara untuk putrinya.


Tetapi itu tidak pernah mau melakukannya karena sudah ada pengacara umum yang disediakan untuk Kesya, jadi Dito merasa bahwa itu sudah cukup untuk menangani kasus Kesya.


Oleh sebab itu, Dito mengabaikan panggilan telepon dari ibunya dan memilih fokus mengendara.


Tetapi ketika dia tiba di kantor istrinya dan menunggu istrinya pulang bekerja, Dito mengerutkan keningnya ketika yang menelpon bukanlah ibunya lagi melainkan adik perempuannya.


Wasti tidak pernah menelponnya untuk mengatakan soal pengacara, jadi Dito berpikir bahwa mungkin saja ada sesuatu yang lain yang terjadi sehingga Dito akhirnya mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo," ucap Dito pada perempuan di seberang telepon.


"Kakak! Hisk,, hiks,, hiks,," isak Wasti dari seberang telepon membuat Dito sangat terkejut dan juga panik Mengapa adiknya tiba-tiba saja menangis.


"Ada apa?" Tanya Dito sambil melirik ke arah kantor, ia berharap supaya istrinya segera keluar agar mereka bisa pergi menemui adiknya.


"Kakak! Hiks, hiks, Kami sekarang diusir dari rumah!! Hiks,, hiks,, hiks,," isak Wasti membuat Dito mengerutkan keningnya.


"Bagaimana bisa kami kalian diusir?" Tanya Dito sembari berpikir, dan dia kini mengingat pembicaraannya dengan kakeknya sehingga Dito merasa bahwa kakeknya telah mengambil alih rumah tersebut dan mengusir ibu dan adiknya dari rumah.


"Kami tidak tahu, beberapa orang tiba-tiba saja datang mengusir kami Dan mereka bilang itu perintah dari kakek, juga sekarang ibu berusaha berbicara dengan orang-orang itu, tapi orang-orang itu tidak mendengar!!!" Ucap wasti yang saat ini menatap ibunya yang sedang berbicara dengan orang-orang yang telah menutupi mereka gerbang.


"Tunggulah di situ, Kakak akan ke situ sebentar lagi," ucap Dito sembari menjalankan kendaraannya menuju istrinya yang telah keluar dari gedung.


"Kakak harus cepat kemari!!!" Karena pada tetangga mereka telah menonton mereka sebab mendengar keributan.


Setelah heriani masuk ke dalam mobil, Dito menjalankan mobilnya meninggalkan tempat tersebut sambil berkata, "ibu dan wasti diusir dari rumah."


"Apa?! Mereka diusir?" Tanya heriani yang tidak mengerti mengapa kedua orang itu diusir dari rumah mereka sendiri.


"Dua hari yang lalu kakek menelponku, dan dia memang mengatakan bahwa dia akan mengambil alih rumah tersebut. Jadi mungkin saat ini mereka diusir karena kakek sudah menyuruh seseorang untuk mengambil rumahnya," ucap Dito.


"Tapi rumah itu sudah tercatat atas nama Ibu, jadi bagaimana bisa kembali lagi pada kakek?" Tanya Heryani.


"Aku juga tidak tahu, tetapi itulah yang dikatakan oleh kakek. Sekarang kita mau ke sana untuk menjemput mereka," kata Dito sambil meraih ponselnya selalu dia pun melakukan panggilan telepon pada ayahnya.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


"Ada apa?" Jawab Agus dari seberang telepon.


"Kakek sudah mengetahui tentang Kesya yang masuk ke penjara, dan kakek mengambil kembali rumah yang kemarin diberikan pada ibu. Saat ini juga, Ibu dan wasti diusir dari rumah," ucap Dito langsung menjelaskan semuanya pada ayah nya.


"Apa?! Hah,,, mereka bertiga memang selalu membuat masalah, Kalau begitu Kau langsung kirim mereka ke sini! Ayah akan mengirimkan alamatnya padamu," ucap pria dari seberang telepon yang mana dia sudah sangat kesal atas apa yang telah dilakukan oleh ketiga perempuan yang ia miliki dalam keluarganya.


Dito berkata, "Tapi ayah, wasti masih kuliah, Jadi dia masih perlu waktu untuk mengurus--"


"Masa bodoh dengan hal itu! Ayah sudah tidak peduli lagi, nanti biar kau saja yang menguruskannya! Pokoknya sore ini mereka harus datang ke tempat ini aku akan memberi mereka berdua pelajaran!" Tegas Agus dari seberang telepon sebelum panggilan telepon itu diakhiri secara sepihak dengan Dito yang segera meletakkan ponselnya.


Heriyani yang melihat wajah kacau suaminya kemudian berkata, "hah,,, kita tidak punya kesempatan lagi untuk menyelamatkan mereka di depan kakek, kakek sudah mengetahui semuanya. Tapi aku harap apa yang terjadi kali ini bisa menjadi pelajaran untuk mereka supaya mereka bisa menjalani kehidupan yang lebih baik, mungkin suatu saat nanti jika mereka benar-benar tulus untuk memperbaiki hidup, maka kakek akan memberikan perhatian lagi."


Dito menganggukkan kepalanya, "yang istriku katakan itu benar," ucap Dito.