Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
273


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Telepon Dito yang berdering di ruang keluarga membuat heriyani menghampiri ponsel tersebut, dan melihat ibu mertuanya lah yang menelpon.


Karena saat itu Dito ada di kamar mandi, maka heriyani pun memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo Bu," ucap heriyani pada perempuan di seberang telepon.


"Kenapa kau yang mengangkat teleponnya?! Cepat berikan pada Putraku, Aku mau berbicara penting dengannya!!" Ucap Clarissa dari seberang telepon dengan nada suara yang begitu ketus hingga membuat heriyani merasa sangat kesal.


"Maaf ya Bu, tapi suamiku sedang sibuk, jadi tidak bisa diganggu," kata heriani sebelum dia merijek panggilan telepon tersebut Lalu memblokir nomor telepon ibunya.


"Hah,, punya ibu mertua seperti ini, benar-benar membuat pusing kepala! Akan ku blokir dia dan ku buka blokirannya nanti ketika acara Gender reveal sudah selesai," ucap heriani yang tidak mau kalau perempuan itu sampai membuat keributan.


Clarissa yang ada di seberang telepon yang melihat layar ponselnya telah berubah menjadi hitam, ia menggertakan giginya dengan kelakuan menantunya.


"Perempuan ini, berani-beraninya dia memperlakukan aku seperti ini!!!" Gerutu Clarissa sambil berbalik untuk bersiap-siap pergi ke rumah putranya ketika ia malah melihat wasti sedang merekamnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Clarissa yang merasa heran dengan kelakuan putrinya.


"Aku hanya merekam sekitar rumah ini, tapi Ibu kebetulan berdiri di jendela itu, jadi tentu saja ibu masuk ke dalam rekamannya!" Gerutu Wasti sambil memutar kameranya ke sisi lain di rumah tersebut hingga membuat Clarissa tidak terlalu memperdulikan rekaman yang diambil oleh putrinya.


Dia berjalan menuju kamarnya sambil berkata, "Ibu mau pergi ke rumah kakakmu, Apa kau mau ikut?"


Pertanyaan itu langsung membuat wasti bersemangat, "Tentu saja aku ikut!!!" Kata Wasti sambil berlari ke arah kamarnya untuk berganti pakaian.


Maka kedua perempuan itu segera bersiap-siap untuk pergi meninggalkan rumah. Mereka menghabiskan waktu selama 1 jam sampai keduanya akhirnya keluar dari rumah lalu menaiki sebuah taksi yang telah dipesan secara online dan meninggalkan rumah baru mereka.


Dalam perjalanan menuju apartemen Dito, wasti kemudian berkata, "Bagaimana kalau kakak tidak mengizinkan kita untuk masuk ke rumahnya?"


"Kau ini!! Kita hanya pergi sebentar ke sana, bukan untuk menginap, jadi Tentu saja dia akan mengizinkan kita ke masuk." Ucap clarissa yang Sebenarnya dia juga merasa penasaran bagaimana interior rumah putranya.


Maka mobil yang mereka tumpangi terus berjalan selama 1 jam lebih sampai akhirnya mereka tiba di apartemen Dito.


Ting!


Lift yang berhenti lalu pintu terbuka membuat kedua perempuan yang ada di dalam lift kini keluar dari sana lalu pergi ke arah depan apartemen Dito dan menekan bel apartemen yang tersedia di sana.


Ding dong!


Ding dong!


Keduanya menunggu selama 2 menit tetapi tidak ada yang membukakan pintu hingga membuat wasti kembali lagi mengulurkan tangannya lalu menekan bel apartemen.


Ding dong!


Ding dong!


Tetapi sama saja, bahkan ketika mereka menunggu selama 5 menit, tidak ada yang membuka pintu apartemen sehingga Clarissa pun langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi putranya.


Tetapi karena nomor Clarissa telah diblokir oleh heriyani, maka panggilan telepon itu tak pernah masuk hingga membuat clarissa menggertakan giginya dengan kesal.


"Bisa-bisanya mereka memperlakukan kita seperti ini?!" gerutu Clarissa yang tak menyangka bahwa dia sendiri dilarang hadir di acara gender reveal cucu kandungnya.


"Hah,,, sia-sia saja kita datang ke sini, sepertinya mereka sudah keluar karena tahu kita akan datang ke sini." Ucap wasti kembali mengingat Bagaimana ibunya menggerutu saat heriani mereject panggilan telepon pada perempuan itu sebagai pertanda bahwa Ibunya dan heriani baru saja bertengkar.


Sementara heriyani bukanlah perempuan yang mudah untuk ditipu dan diatur, perempuan itu adalah perempuan yang keras dan sangat teguh dalam pendiriannya.


"Ya sudah, kita turun saja ke lobi lalu menunggu mereka di sana sampai mereka datang!" Ucap Clarissa yang merasa yakin bahwa sebelum acaranya dimulai, setidaknya salah satu dari orang itu akan kembali ke apartemen.


Wasti juga tidak mengatakan apapun, dia hanya menuruti ibunya dengan turun ke lantai bawah bersama ibunya.