
Setelah meninggalkan kediaman Ibu mertuanya, heriani dan suaminya pun segera pergi ke apartemen.
Dalam perjalanan ke apartemen, heriani diam-diam mengirim pesan pada seseorang yang bertugas menyiapkan kejutan di apartemen mereka.
*Bagaimana persiapannya?* Ketik heriani lalu mengirim pesan itu.
Dia kemudian duduk beberapa saat sampai ponselnya kembali bergetar hingga heriyani memeriksanya dan perempuan itu tersenyum membaca pesan tersebut sebelum menutup layar ponselnya.
Maka, kedua orang itu pun berada dalam suasana tenang di mobil sampai akhirnya mobil berhenti di parkiran apartemen.
Keduanya pun keluar dari mobil lalu mereka segera pergi ke arah lift.
"Tempat ini sangat bagus," ucap Dito yang entah kenapa merasa tidak enak pada kakeknya karena mereka diberikan rumah yang begitu bagus.
Sementara heriani yang mendengarkan itu, dia merasa biasa-biasa saja, sebab rumah yang mereka tempati saat ini tidaklah ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekayaan keluarga Romania.
Oleh sebab itu, Heryani berkata, "tidak perlu khawatir, Ini hanya salah satu properti milik keluarga Romania."
Dito menatap istrinya, dan dia merasa heran melihat istrinya yang berkata 'hanya salah satu properti milik keluarga Romania', itu terdengar seperti istrinya biasa-biasa saja dengan apa yang mereka dapatkan.
"Ada apa?" Tanya heriyani ketika ia melihat tatapan suaminya begitu meniti.
"Ah,," Dito langsung memalingkan wajahnya dari istrinya, "tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja kita bisa memiliki rumah di tempat ini," ucap Dito.
Heriani masih memperhatikan suaminya dan dia tahu bahwa pria itu menyembunyikan sesuatu, tetapi karena mereka sudah sampai, maka dia tidak mengatakan apapun dan hanya melihat ke arah luar saat pintu lift terbuka.
Kedua orang itu pun keluar dari lift, lalu mereka berjalan ke arah apartemen yang diberikan oleh Tuan besar Romania.
"Kau akan terbiasa nanti," kata heriani sambil mengulurkan satu tangannya yang free lalu merangkul lengan suaminya hingga membuat Dito menatap ke arahnya.
"Kau berbicara seperti itu seolah-olah kau sudah terbiasa berada di tempat seperti ini," ucap Dito langsung membuat alis heriani terangkat dan dia tidak menduga bahwa suaminya akan menyadari hal itu.
Tetapi bukannya merasa cemas karena kecurigaan suaminya, heriyani malah merasa senang, yang artinya bahwa suaminya memiliki kemajuan yang bagus karena dia sudah bisa membaca situasi lewat apa yang dikatakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Oleh sebab itu, heriani tersenyum sambil berkata, "suamiku hebat, berkatmu kita bisa berada di tempat ini, jadi aku sangat senang sampai aku berbicara sesuka hati saja. Atau Tidak bisa kah aku berpura-pura seperti aku sudah terbiasa berada di tempat seperti ini??"
Dito yang mendengar ucapan istrinya dan melihat wajah manja perempuan itu, dia langsung menghentikan langkahnya dan menarik perempuan itu ke pelukannya.
Bahkan, dia sedikit mengangkat perempuan itu hingga kaki heriyani tidak lagi menapak di lantai.
Hal itu membuat heriani terkejut hingga ia melingkarkan tangannya di leher suaminya dan mendongak menatap suaminya, "sayang, punggungmu akan sakit kalau kau mengangkat beban berat sepertiku!!" Tegas Heryani.
"Apa?! Kau masih merasa berat? Berat badanmu sudah sangat turun, sekarang kau bahkan hanya 40-an kilo saja, Memangnya kau pikir itu berat? Aku jadi khawatir karena kau jadi sekurus ini," ucap Dito yang sebenarnya dari kemarin-kemarin ketika heriani merawatnya, dia bisa merasakan bahwa berat badan perempuan itu semakin turun sehingga membuatnya merasa sedih.
Tetapi selama beberapa waktu terakhir dia memang tidak pernah lagi mengomentari perubahan tubuh istrinya karena dia pikir kalau istrinya senang dengan tubuh kurus, maka dia tidak perlu menyuruh perempuan itu mempertahankan berat badannya.
Sementara heriani yang mendengarkan suaminya, perempuan itu langsung tersenyum malu-malu sambil berkata, "Aku berusaha keras untuk mendapatkan tubuh ideal seperti ini supaya bisa menyenangkan suamiku."
"Hm?! Kau bicara tentang apa? Dari dulu sampai sekarang kau tetap menyenangkanku, jadi tidak perlu ada yang berubah padamu untuk menyenangkan hatiku," Kata Dito sambil menundukkan kepalanya lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibir istrinya.
Kedua orang itu pun saling berciuman beberapa saat sampai akhirnya heriyani menarik suaminya menuju ke arah pintu apartemen mereka.