
"A,, apa?!" Wasti sangat terkejut, "Jadi Ibu tidak memiliki uang lagi?" Tanya wasti yang kini tidak bisa membayangkan bagaimana nasib mereka kalau mereka tidak bisa membayar makanan yang saat ini sedang mereka nikmati.
Clarissa menghela nafas dengan berat sambil memijat kelilingnya yang terasa berdenyut, "entah sial apa yang dimiliki, semua putriku selalu membawa masalah untukku!!" Ucap Clarissa Kini menyadari bahwa segala masalah yang menimpa keluarga mereka berasal dari ide Putri mereka.
Tetapi Wasti yang mendengarkan ucapan ibunya, dia tidak dapat menerima ucapan tersebut sehingga dia berkata, "Ibu ini bagaimana? Aku tidak akan membawa masalah untuk ibu seandainya Ibu memiliki uang untuk membayar ini!! Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur dipesan dan tak akan bisa dikembalikan lagi, lebih baik makan saja dulu, nanti baru pikirkan masalah yang lain!"
Setelah berbicara, wasti tanpa ada rasa bersalah langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya hingga membuat Clarissa semakin kesal dengan putrinya.
Meski Clarissa sangat kesal, tetapi perempuan itu akhirnya harus tetap mengambil garpu dan sendoknya lalu dia pun mulai makan meski hatinya terasa tidak tenang.
Wasti pun tersenyum menatap ibunya, "Ibu tenang saja, nanti kita mencari bantuan pada siapapun supaya membayarkan kita," ucap wasti dengan penuh percaya diri hanya membuat Clarisa menggelengkan kepalanya.
Maka kedua perempuan itu pun terus makan sampai akhirnya mereka selesai makan lalu bergiliran untuk masuk kamar mandi.
Setelah selesai bersiap-siap untuk meninggalkan hotel, Clarissa pun hendak membuka pintu kamar mereka ketika wasti mencegahnya.
"Ibu ini bagaimana? Kita tidak punya uang untuk membayar tagihan hotelnya, jadi tidak bisa check out sekarang. Lagi pula kita menyewa kamar ini selama satu hari, jadi masih banyak waktu sampai besok sore. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya mendapat uang untuk membayar biaya tagihan kita di sini!!" Kata wasti pada ibunya.
Mendengar ucapan putrinya, maka Clarissa berpikir beberapa saat sebelum dia mengambil ponselnya, "aku akan menghubungi ayahmu untuk membayarkan kita tagihan ini!" Ucap Clarissa mencari kontak suaminya di dalam ponselnya ketika tiba-tiba saja ponselnya direbut oleh wasti.
"Ibu ini bagaimana?! Kalau ibu menghubungi ayah sekarang, Maka Ayah akan tahu kalau kita ada di ibukota, lalu apa yang akan terjadi? Bisa saja ayah menyuruh seseorang untuk menyeret kita kembali ke kota kecil itu, jadi sebaiknya hubungi saja Kakakku untuk meminta uang padanya. Dia tidak akan menolak kalau dia tahu kita terkurung di hotel karena kekurangan uang," ucap wasti kembali menyerahkan ponselnya pada Clarissa.
Clarissa menghela nafas dengan panjang, Tetapi dia tidak mengatakan apapun dan hanya menggerak-gerakkan jarinya di atas layar ponselnya lalu menghubungi putranya.
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
"Tidak aktif," kata Clarissa sambil menghela nafas dengan berat.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" Gerutu Wasti sambil berjalan ke arah ranjang lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dengan perasaan yang begitu kesal.
Sementara Clarissa, ia duduk di salah satu kursi kosong yang terletak di kamar tersebut sambil melihat-lihat layar ponselnya, "mungkin kakakmu akan aktif sebentar lagi, kita tunggu saja," ucap Clarissa yang berusaha berpikir positif meski saat itu dia juga merasa agak cemas.
Tetapi Wasti yang duduk di atas ranjang, ia menatap ibunya sambil berkata, "Lalu bagaimana kalau kakak tidak pernah aktif?! Atau Bagaimana jika ponselnya rusak sehingga tidak dapat dihubungi?!"
Ucapan putrinya membuat Clarisa akhirnya menatap perempuan itu, lalu dia menghela nafas sambil berdecak kesal.
"Ck! Ini semua karenamu, seandainya kau tidak memesan makanan-makanan itu, maka kita sudah bisa pergi dari sini sekarang, dan saat ini kita sudah berada di rumah kakakmu!! Sekarang kita tidak punya tempat untuk meminta bantuan," gerutu Clarissa.
Wasti tetap saja kesal karena dia kembali disalahkan oleh ibunya, tetapi perempuan itu tidak mengatakan apapun dan hanya duduk dengan diam tanpa memikirkan solusi untuk masalah mereka.
Sementara Clarissa, meski dia merasa marah pada putrinya, tetapi perempuan itu masih melihat-lihat layar ponselnya sampai dia menemukan kontak salah satu temannya yang bekerja di pembuatan kerajinan tangan.
"Putra nyonya Jessica bekerja di tempat peminjaman online, Bagaimana kalau kita meminjam ke sana? Cukup pinjam satu juta untuk membayar biaya hotel ini, setelah itu nanti ketika tiba di rumah kakakmu baru kita membayarnya," ucap Clarissa pada putrinya langsung membuat wasti menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja, kalau begitu cepat telepon mereka, kita harus cepat-cepat pergi menemui Kak Dito, jangan sampai dia dan istrinya sudah tidur saat kita tiba di rumah mereka!!!" Tegas Wasti akhirnya membuat Clarisa menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, ibu akan menghubunginya, tapi biasanya mereka memberikan bunga yang cukup tinggi, Apakah tidak masalah?" Tanya Clarissa pada putrinya yang kini dia masih merasa cemas Kalau nantinya Dito akan kembali memarahi mereka.
"Aduh, Ibu ini bagaimana? Ibu sudah tahu kalau Kak Dito tinggal di apartemen mewah, jadi tidak masalah kalau dia mengeluarkan uang yang banyak, bahkan 100 juta pun dia pasti sanggup karena Sekarang dia sudah menjadi CEO di sebuah perusahaan terkenal!!" Tegas wasti akhirnya membuat Clarisa menganggukkan kepalanya lalu tanpa ragu-ragu, perempuan itu segera menghubungi temannya
Setelah berbincang-bincang selama beberapa saat, akhirnya karena Clarissa bekerja di tempat pengrajin bersama dengan Nyonya Jessica, dan terlebih Nyonya Jessica mengetahui pekerjaan suami Clarissa di sebuah kantor yang cukup besar di kota mereka, Maka akhirnya Clarissa dengan mudah mendapatkan pinjaman online Setelah dia mengisi beberapa berkas secara online.
Oleh sebab itu, ketika uangnya selesai ditransfer, maka Clarissa bersama putrinya langsung check out dari hotel, lalu mereka menggunakan taksi untuk pergi ke kediaman Dito dan Heriani.