
Setelah lagu dansa selesai diputar, maka heriyani dan suaminya saling tertawa bersama-sama dengan pipi heriani yang menjadi sangat merah karena merasa malu serta penuh cinta pada suaminya.
Tak berbeda dengan Dito, dia jauh lebih malu dari istrinya Sebab di ruangan itu masih ada seorang fotografer yang saat ini masih sementara memotret mereka.
Fotografer mengambil beberapa gambar sebelum dia menghampiri kedua orang itu, "silakan naik ke lantai 2," kata fotografer tersebut.
Maka, dito pun menggenggam tangan istrinya lalu keduanya naik ke lantai 2.
Setelah tiba di lantai dua, heriani dan Dito melihat sebuah meja makan yang telah dihias dengan indah di depan sebuah jendela yang tirainya dibuka dengan penuh.
Hal itu membuat lantai 2 berbeda dengan lantai 1. Jika di lantai 1 ruangan disengaja dibuat gelap dan dipenuhi lilin maka di lantai 2 acara makan mereka sangatlah terang dengan dekorasi yang serba putih.
"Wah,,, suasana di sini berbeda dengan lantai 1," ucap heriani yang merasa begitu senang sambil menarik suaminya hingga kedua orang itu duduk di meja makan.
Keduanya pun makan bersama dengan Dito yang sesekali menyuapi Heryani.
Fotografer pun melaksanakan tugasnya, ia mengambil banyak gambar kedua orang itu sampai keduanya selesai makan bersama barulah fotografer pergi meninggalkan apartemen tersebut.
Sementara, Dito yang juga selesai makan, ia tiba-tiba merasa begitu panas dan aneh hingga membuat pria itu melonggarkan pakaian yang ia gunakan.
Melihat itu, heriani langsung tersenyum, 'sepertinya obatnya mulai bereaksi, tapi aku hanya memberikan dosis yang sedikit saja, jadi dia pasti bisa menguasainya,' ucap heriani yang merasa lucu melihat tingkah suaminya saat ini.
"Ayo kita pergi lihat kamarnya," ucap heriani langsung membuat Dito menatap istrinya.
Pria itu menelan air liurnya dan berusaha menenangkan dirinya sambil berdiri lalu menggandeng tangan istrinya.
"Ruangan yang kutempati tadi adalah kamar utama di rumah ini, di sana sangat bagus dan aku yakin kau pasti akan menyukainya," ucap Dito langsung membuat heriani menganggukkan kepalanya sembari mengulurkan sebelah tangannya yang tidak digenggam oleh suaminya dan memeluk lengan suaminya.
Istrinya yang sangat dekat padanya semakin membuat Dito menjadi kalang kabut karena dia kesulitan untuk menahan diri.
Wajah pria itu menjadi memerah, dan heriyani bisa melihat keringat juga keluar dari pori-pori kulit suaminya menandakan pria itu sangat kesulitan menahan diri.
'Padahal aku sudah menyuruh mereka memberikan dosis kecil, tapi kenapa dia begitu sulit menahannya?' pikir heriani dalam hati sembari terus melangkahkan kaki hingga mereka masuk ke dalam kamar utama yang ada di apartemen tersebut.
Begitu masuk ke kamar, heriani langsung melihat kamar tersebut dan dia merasa puas dengan kamar dari apartemen itu.
"Jangan-jangan kakek berbohong tentang harga apartemen ini, mana mungkin apartemen ini seharga 10 miliar saja?" Ucap heriyani yang merasa aneh dengan harga yang terlalu murah itu.
Tetapi kemudian heriani tidak terlalu memikirkannya dan hanya berbalik menatap suaminya yang tampak sudah melepaskan jasnya dan melemparkannya ke sofa.
Hal itu membuat heriani tersenyum hingga dia pun mendekati suaminya sambil berkata, "Apa kau kepanasan?"
Melihat itu, maka Heryani dengan cepat memeluk suaminya dengan tangan perempuan itu melingkar erat di leher Dito.
"Cium aku!" Perintah Heryani langsung membuat Dito mengulurkan tangannya merangkul pinggang Heryani dan menarik perempuan itu semakin rapat ke pelukannya.
Setelah itu, Dito pun menggunakan satu tangannya yang lain menahan kepala heriyani lalu menundukkan kepalanya mendaratkan ciuman di bibir istrinya.
Cup!
Heriani pun menyambut ciuman suaminya hingga kedua orang itu berciuman cukup dalam sebelum Dito mengangkat istrinya menuju ranjang.
"Sayang,," ucap Dito menatap istrinya kala ia sudah membaringkan perempuan itu dan dia sudah berada di atas istrinya.
Dorongan dari dirinya membuatnya sangat ingin semakin menyentuh perempuan itu lebih dari yang biasa mereka lakukan, tetapi akal sehatnya menyadarkannya bahwa istrinya akan memarahinya kalau sampai ia melewati batas.
"Ya?" Jawab heriani sambil memainkan telinga Dito hingga membuat Dito semakin gelagapan dengan tingkah istrinya.
"Aku,, Bisakah aku,,," Dito menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh memaksa istrinya sampai istrinya sendiri yang memintanya.
Tetapi heriani yang melihat tingkah suaminya, dia jelas paham apa yang membuat suaminya bertingkah seperti itu, sehingga dia dengan cepat menarik leher suaminya hingga kedua orang itu kembali berciuman.
Bahkan, heriani mengambil satu tangan suaminya dan meletakkannya di pinggulnya.
Hal itu membuat Dito semakin tidak tahan sehingga perlahan-lahan ia menggerakkan tangannya untuk menyentuh bagian tubuh istrinya.
Heriani pun dengan tidak sabaran menciumi suaminya sambil menarik gaunnya ke atas.
"Ng!" Dito menghentikan ciumannya ketika dia tersadar apa yang sudah ia lakukan, karena saat ini tangannya sudah menyentuh paha polos istrinya, padahal sebelumnya, dia tidak pernah menyentuh bagian tersebut.
Tetapi ia terkejut ketika heriyani malah mendorongnya ke samping hingga dia yang berada di bawah dan istrinya kini berada di atas.
"Biar aku yang memimpin!" Kata heriani sambil menarik resleting belakang gaunnya sehingga gaunnya pun tersingkap ke bawah memperlihatkan dada perempuan itu.
Hal itu membuat Dito menjadi kalang kabut, tetapi dia belum berkata apapun saat heriani sudah menundukkan tubuhnya lalu mencium suaminya dan menuntun tangan pria itu untuk menyentuhnya.
Cup cup cup...
"Ng!"