
Setelah pertemuan dengan Tuan besar Romania, maka Dito bersama heriyani dan juga Agus kini dalam perjalanan untuk kembali ke apartemen.
Saat itu, Dito yang meninggalkan ponselnya di mobil kini mengambil ponselnya, lalu dia melihat ponsel yang tadi ia charger di dalam mobil kini baterainya telah penuh, sehingga dia pun dengan cepat menyalakan telepon tersebut.
Baru saja Dito menyalakannya, ada begitu banyak notifikasi yang masuk ke ponselnya, mulai dari pesan yang berasal dari wasti dan ibunya, sampai panggilan tak terjawab dari kedua perempuan itu.
"Ada apa?" Tanya heriyani ketika ia melihat raut wajah suaminya tampak mengeryit melihat layar ponselnya.
"Wasti dan ibu berusaha menghubungiku," Kata Dito segera menekan tombol panggil untuk ibunya.
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Agus mengerutkan rekeningnya menatap putranya yang saat ini menunggu orang di seberang telepon mengangkat panggilan telepon itu, 'Kenapa mereka berdua menghubungi Dito? Apakah terjadi sesuatu?' ucap Agus dalam hati yang kini merasa cemas karena dia meninggalkan dua perempuan itu di kota tempat tinggal mereka.
Namun Agus tidak mengatakan apapun, pria itu hanya menunggu sampai akhirnya Dito berkata, "Ada apa Ibu menelponku berkali-kali?"
"Kapan kau akan kembali ke rumahmu?" Tanya Clarissa dari seberang telepon yang sudah merasa kesal Sebab Dia telah menunggu begitu lama dan dia sudah kelelahan harus duduk di lantai selama berjam-jam.
"Ah, saat ini aku sedang dalam perjalanan untuk kembali ke rumah, tapi kenapa ibu menanyakan hal itu?" Tanya Dito yang merasa heran dengan ibunya, sebab Ini pertama kalinya ibunya menanyakan tentang kapan ia kembali ke rumah.
"Ya Sudah, cepatlah kembali ke rumah!!!" Tegas perempuan dari seberang telepon ditutup nada suara panggilan telepon yang diakhiri.
Tut tut tut....
Nada suara itu langsung membuat Dito menurunkan ponselnya lalu dengan kebingungan Dia berkata, "Ibu tiba-tiba menyuruhku untuk pulang cepat ke rumah."
"Kenapa ibu melakukan itu?" Ucap heriyani dengan begitu heran.
"Aku juga tidak tahu, semoga semuanya bagi-bagi saja," Kata Dito sambil melihat keluar jendela.
Sementara Agus yang duduk di kursinya, pria itu malah berkata, "jangan-jangan mereka membuat ulah lagi?"
Dito yang saat ini meramas tangan istrinya sambil menatap di luar jendela, ia berbalik menatap ayahnya sambil berkata, "entahlah, tetapi terdengar Ibu hanya merasa kesal pada saja padaku, tidak ada hal-hal lain."
Heriani yang mendengarkan itu merasa bingung dengan alasan Clarissa tiba-tiba menelepon dan menyuruh Dito cepat-cepat kembali ke rumah. Tetapi dia tidak mengatakan apapun dan menunggu waktu yang memberitahukan padanya.
Saat berada dalam lift yang mengantar mereka menuju lantai apartemen, Dito kemudian berkata, "apa Kau lelah?"
Heriyani menggelengkan kepalanya dengan pelan, "tidak, aku baik-baik saja, lagi pula sebentar lagi kita tiba di apartemen, jadi aku bisa beristirahat," ucap heriyani sambil melemparkan senyumnya pada suaminya agar pria itu tidak khawatir padanya.
"Baguslah," jawab Dito bersamaan dengan pintu lift yang kini terbuka lalu mereka bertiga pun keluar dari lift dan berjalan menuju pintu apartemen.
Tetapi ketiganya menghentikan langkah mereka ketika melihat Clarissa dan wasti sedang terduduk di lantai di depan pintu apartemen mereka dengan kedua perempuan itu tertidur lelap saling menyandar satu sama lain.
Pemandangan itu membuat Agus sangat marah, sehingga dia kemudian melangkah cepat ke arah dua orang itu lalu membangunkan mereka dengan cara berteriak, "apa yang kalian lakukan di sini?!!"
Teriakan keras dari Agus akhirnya membuat dua perempuan yang sedang memejamkan mata mereka kini membuka mata dan terkejut melihat Agus sudah berdiri di hadapan mereka.
Keduanya lalu berdiri dan menatap Agus, dengan wasti yang sangat takut pada pria itu karena dia cemas ayahnya mungkin akan segera mengirim mereka kembali ke kota kecil.
"A,, ayah," ucap wasti dengan raut wajah yang sangat cemas.
Tetapi Clarissa yang ada di sana, dia tidak memperdulikan suaminya dan dia hanya berlari menghampiri putranya lalu merangkul lengan Dito sambil berkata, "Putraku, Ibu sangat merindukanmu sampai-sampai Ibu tidak tahan untuk datang kemari!"
Agus yang mendengarkan itu, ia berdiri sambil menggertakkan giginya sebelum dia berbalik menatap Dito dan Heryani sambil menahan amarahnya.
"Kalian berdua masuklah ke dalam apartemen, aku akan berbicara dengan 2 perempuan ini!" Perintah Agus yang tidak mau marah-marah di hadapan menantunya, sebab perempuan itu sedang mengandung dan tidak baik bagi heriani untuk melihat pertengkaran.
Tetapi Clarissa yang ada di sana, dia tidak mau membiarkan hal itu terjadi sehingga dia mempererat rangkulannya pada lengan putranya sambil berkata, "tidak, aku tidak akan berpisah dengan Putraku lagi, pokoknya mulai saat ini sampai selama-lamanya aku akan terus berada di sisi Putraku dan menjaga Putraku dengan baik!!!"
"Kau!!" Agus hendak memarahi perempuan itu, namun dia menahan diri ketika kembali ingat di sana sedang ada heriani.
Melihat ayahnya yang kesulitan, maka Dito kemudian berkata pada ibunya, "ibu, kita akan berbicara tapi biarkan istriku masuk lebih dulu ke dalam apartemen." Ucap Dito membuat Clarissa menatap ke arah heriani dengan tatapan tak sukanya, namun dia masih menahan diri sehingga dia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah," ucap Clarissa.
Mendengar itu, maka heriani pun berjalan ke arah pintu untuk membuka pintunya ketika wasti tiba-tiba saja berkata, "aku juga tidak ada urusan di sini, jadi aku akan masuk bersama dengan kakak ipar."
Setelah berbicara, Wasti mengambil kopernya untuk masuk ke dalam apartemen bersama dengan heriyani, tetapi dia malah ditahan oleh Agus.
"Jangan harap kau bisa pergi!" Tegas Agus pada putrinya lalu membiarkan heriyani masuk sendirian ke dalam apartemen hingga membuat wasti menggertakan giginya karena sangat kesal dengan ayahnya.