
"Nomor Antrian 25!" Ucap seorang perawat langsung membuat heriyani berdiri karena itu adalah nomor antriannya, namun saat ini Dito belum datang juga sehingga membuat perempuan itu merasa agak cemas.
Tetapi ketika dia berjalan menuju sang suster, seorang pria datang di tempat itu sambil berlari dengan cepat hingga membuat heriani tersenyum karena suaminya datang tepat waktu.
"Maaf," ucap Dito merasa bersalah pada istrinya Sebab Dia sudah tidak menjemput perempuan itu dari kantor.
"Tidak apa-apa, ayo kita masuk," kata heriani langsung membuat Dito menganggukkan kepalanya lalu mereka pun masuk ke ruangan pemeriksaan disambut oleh salah seorang dokter yang ditemani oleh asistennya.
"Silakan duduk," kata Sang dokter dengan sopan mempersilahkan heriani dan Dito untuk duduk di dua buah kursi yang disediakan di sana.
Lalu setelah heriani dan Dito duduk, dokter pun berkata, "jadi penanganan kesehatan bagaimana yang kalian inginkan?"
"Baru saja Kemarin kami mengetahui bahwa saya sedang mengandung, jadi hari ini kami ingin memeriksakan kandungan," kata heriyani langsung membuat dokter di sana menganggukkan kepalanya.
Asisten dokter yang ada di sana juga langsung mengerti lalu dia menyiapkan pemeriksaan kesehatan untuk heriyani dan juga pemeriksaan USG tentunya untuk kandungan Heryani.
Sementara dokter yang bersama heriyani, dia kemudian bertanya, "terakhir kali saat Nyonya datang bulan, Apakah Nyonya masih mengingatnya?"
Heriyani menganggukkan kepalanya, "ya, itu sekitar satu bulan yang lalu." Jawab heriani langsung membuat sang dokter menganggukkan kepalanya lalu dia pun menulis informasi tersebut pada catatan yang ada di atas meja.
Setelah itu, dokter kemudian membimbing heriyani untuk naik ke ranjang yang ada di ruangan tersebut Lalu heriyani diperiksa, mulai dari pengambilan darah, tensi dan lain-lain nya.
"Sejauh ini, semuanya masih normal, Sekarang kita akan melihat keadaan janinnya," kata dokter sambil berputar untuk pergi ke layar monitor mengendalikan komputer yang ada di sana.
"Silakan berbaring," kata asisten dokter yang ada di sana langsung membuat Dito membantu istrinya berbaring lalu dokter pun melakukan USG pada kandungan heriani.
"Kalian bisa melihatnya di layar monitor yang ada di dinding," kata asisten dokter menunjuk ke arah layar monitor hingga heriyani dan Dito menatap ke sana lalu mereka pun melihat hasil USG yang memperlihatkan gumpalan kecil di dalam rahim heriani.
"Gumpalan kecil ini adalah bayinya, dan ukurannya normal, dia tumbuh dengan sehat, nanti saya akan memberikan resep vitamin dan obat untuk Nyonya konsumsi," kata dokter muda yang ada di sana sebelum dia mengakhiri pemeriksaannya.
Keduanya membayar di bagian kasir lalu pergi ke apotek untuk mendapatkan obat sesuai dengan resep yang diberikan oleh dokter.
Sementara mereka mengantri untuk mengambil resep, Dito terus merangkul istrinya sambil mengelus perut Heryani.
"Terima kasih sayang, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua," Kata Dito yang saya dari tadi sudah sangat bahagia namun dia tidak mengatakan apapun di ruangan dokter karena takut mengganggu konsentrasi sang dokter yang memeriksa istri dan anak dalam kandungan istrinya.
"Ya, Terima kasih juga suamiku," kata heriani.
"Makan malam ini, biar aku saja yang memasak, kau mau makan apa supaya nanti ku masakkan saat kita kembali ke rumah," tanya Dito langsung membuat heriani berpikir.
Setelah beberapa saat memikirkan makanan yang ingin ia makan, heriani pun memutuskan sesuatu sehingga dia berkata, "kau ingat makanan yang pernah kau belikan untukku saat di desa? Aku sangat ingin makan itu!!"
"Makanan yang mana itu?" Tanya Dito yang kini merasa khawatir, karena kemarin di desa dia memang sering membelikan makanan khas desa tersebut untuk istrinya, dan yang lebih parahnya lagi, dia tidak tahu cara memasak makanan-makanan tersebut.
"Itu lho,,, daging ayam yang berasal dari dalam bambu!! Aku ingin makan itu!" Tegas haryani langsung membuat Dito terpaku di tempatnya, tentu saja dia tidak bisa memasak makanan itu karena makanan tersebut menggunakan bumbu rahasia orang di kampung tersebut sehingga dia tidak akan mengetahui bumbu rahasia apa yang digunakan oleh mereka.
Lagipula, saat ini mereka tinggal di kota, jadi dari mana dia akan mendapatkan bambu untuk membuat masakan itu?
"Sayangku,, aku rasa sulit untuk menemukan makanan itu, atau bagaimana kalau aku akan menyuruh seseorang dari desa untuk membawakan makanan itu untukmu tapi tidak bisa malam ini, besok saja," ucap Dito langsung dijawab gelengan kepala heriani.
"Tidak! Aku mau makan hari ini, jadi usahakan untukku ya!!" Kata heriani dengan mata berbinar-binarnya menatap Dito hingga membuat Dito semakin kelimpungan menghadapi istrinya.
"Sayang,,, aku,, Kalau begitu akan ku usahakan, nanti aku akan berusaha mencarinya," ucap Dito sambil berdoa dalam hati supaya ada restoran atau warung makanan di ibukota yang menjual makanan tersebut.
"Terima kasih suamiku!!!" Kata heriyani langsung memeluk suaminya sambil mendaratkan sebuah ciuman di pipi Dito hingga membuat Dito merasa malu karena di situ sangatlah ramai dan banyak orang melihat mereka.
Meski begitu, ia tetap senang karena istrinya memeluknya dengan sangat erat dan dia merasa hangat dengan pelukan mereka.