
Heriani yang sendirian di apartemen, ia melihat CCTV rumah mertuanya, dan dia menutup mulutnya dengan kedua tangan saat menyaksikan kejadian yang terjadi di kediaman Ibu mertuanya.
"Itu baru satu orang, tunggulah sebentar lagi dua yang lainnya pasti akan segera menyusul!" Ucap heriyani merasa begitu puas.
Tetapi ketika dia terus menunggu dan melihat Kesha meninggalkan rumah sambil menarik koper, heriani mengerutkan keningnya.
"Dia mau pergi?" Kata Heriyani langsung mengubah layar komputernya memperlihatkan map perjalanan Kesya yang mana ponsel perempuan itu telah Ia bajak sehingga bisa dengan mudah mengetahui lokasi kesya.
Setelah beberapa menit, heriyani mengerutkan keningnya saat ternyata ponsel Kesya berhenti di sebuah hotel bintang 5.
"Apakah dia sedang janjian untuk bertemu seseorang di sana?" Ucap heriyani sambil menggerak-gerakkan jarinya di atas keyboard untuk memeriksa log panggilan dan pesan masuk di ponsel Kesya demi mengetahui informasi tentang perempuan itu.
Tetapi karena tidak ada hal yang menjelaskan mengenai kepergian Kesya ke hotel bintang 5, maka seriani hanya menduga bahwa Keisha hanya mau bermalam di sana.
Oleh sebab itu, heriyani pun menutup komputernya dan dia segera pergi ke ruang tamu untuk menunggu kedatangan suaminya.
Heriani menunggu selama beberapa menit sampai akhirnya ia mendengar suara pintu apartemen yang dibuka sehingga heriyani berlari ke arah pintu apartemen.
"Sayang!!" Kata heriyani dengan senang menyambut suaminya dan dia terkejut melihat bahwa suaminya datang membawa sebuket bunga untuknya.
"Hadiah untukmu," ucap Dito memberikan buket bunga pada istrinya sebelum dia memeluk istrinya dengan hangat dan mencium bibir perempuan itu.
Meski saat itu heriyani bisa mencium aroma parfum wanita dari tubuh suaminya, Tetapi dia tidak mengatakan apapun karena aroma parfum itu ialah aroma parfum khas perempuan tua.
Jadi heriyani meyakini bahwa bau parfum yang menempel pada tubuh suaminya berasal dari perempuan paruh baya yang datang ke kediaman Ibu mertuanya mencari Kesya.
"Baiklah, Apakah kau sudah makan malam?" Tanya Dito.
"Nanti setelah kau mandi baru kita makan malam bersama," ucap heriyani yang sebenarnya tadi telah memakan cemilan sehingga membuatnya merasa agak kenyang, tetapi Tentu saja dia masih harus makan untuk memenuhi nutrisi yang ia butuhkan.
"Baiklah," ucap Dito seraya berjalan ke kamar lalu terus ke kamar mandi.
Heriani pun mengatur bunga-bunga segar ke dalam vas bunga yang ada di apartemen tersebut sebelum ia meletakkannya di meja makan, di nakas tempat tidur dan juga di meja ruang tamu dan ruang keluarga.
Setelah selesai, heriani kembali ke dalam kamar lalu dia menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Heriani menunggu selama beberapa menit sampai akhirnya suaminya selesai mandi dan berganti pakaian, lalu mereka pergi ke meja makan untuk makan bersama.
"Bagaimana pertemuanmu dengan Kesya?" Tanya heriyani berpura-pura belum tahu apa-apa tentang segala sesuatu yang terjadi di rumah Ibu mertuanya.
Dito yang mendengarkan pertanyaan istrinya langsung menghela nafas dengan berat, "hah,,, Aku tidak tahu, Kesya terlalu keras kepala, dia tidak mau mendengarkan siapapun, bahkan sudah diberitahu tentang konsekuensi yang akan ia hadapi ketika dia masih terus-meneruskan pekerjaannya, dia masih belum mengerti dan malah membantah." Ucap Dito yang merasa kesal lagi karena mengingat kembali apa yang terjadi di kediaman ibunya.
"Jadi kau akan membiarkannya saja?" Tanya Heryani.
"Tidak ada jalan lain, untuk menyadarkannya, maka dia harus menerima konsekuensinya terlebih dahulu," ucap Dito.
Mendengar ucapan suaminya, maka heriyani pun merasa senang bahwa saat ini suaminya sudah bisa berpikir dengan bijak, "Apa yang kau putuskan itu sudah benar, jika kita tidak bisa mengajarinya, maka biarkan pengalamannya yang mengajarinya!" Ucap Heryani.
"Istriku benar, mungkin dia baru akan sadar setelah merasakan jeruji besi," ucap Dito yang merasa bahwa dia tidak bisa lagi menyelamatkan perempuan itu karena Kesya sudah sangat keterlaluan.